
"Pa, aku akan menjaga Asya dan kedua putraku. Papa jangan khawatir, pikirkan kesehatan Papa dan jangan lagi menyakiti Mama. Asya juga terluka Pa"
"El, aku merasa jika hidupku hanya menghitung hari. Papaku pernah menggila mencari Asya saat ia masih kecil, saat itulah aku berlari menemui Adhitama dan meminta perlindungan Tuan Winarso"
El benar-benar merasa aneh dengan keluarga mertuanya. Apakah mereka begitu mempercayai takhayul seperti itu? Mana mungkin keturunan perempuan pembawa sial padahal mereka lahir dari rahim seorang perempuan. Keluarga Dirga benar-benar keras, tapi didikan keras Dirga pada Asya tak mengecewakan. Asya selalu menjadi kesayangan dan kebanggaan semua orang.
"Ketahuilah ini El, Asya tau cara menjadi Ibu yang baik. Ia akan mengajarkan banyak hal yang dilakukan oleh seorang Ibu atau Ayah pada anaknya"
"Maksud Papa apa?"
"Asya bisa menjadi Ayah dan Ibu sekaligus. Jadi kau jangan coba-coba mengkhianati nya, sebab kau yang akan rugi. Dia adalah pembawa keberuntungan El, setiap kali aku membawanya bertemu kolegaku, aku tak pernah kalah tender satupun"
El pikir hanya ia yang mengetahui hal itu, rupanya Dirga sudah lebih dulu merasakannya. Tapi El tak langsung percaya begitu saja. Untuk saat ini ia memilih diam dan mempercayai nya. Walau sebenarnya, ia kembali meminta Zio untuk menyelidiki tentang keluarga besar Dirga.
"Papa, Mas El, kita makan diluar yuk, anak-anak pingin king crab nih" ucap Asya menghampiri El dan Dirga.
"Iya boleh, aku reservasi tempat dulu ya" jawab El.
"Papa mau bermain sebentar dengan cucu Papa" ujar Dirga kemudian pergi.
Asya memandangi suaminya, ia bertanya-tanya apa perbincangan yang terjadi diantara mereka. Tapi El dengan tawa mengatakan jika itu adalah urusan laki-laki. El membuatnya istrinya kesal, Asya pun berjalan pergi untuk mengabari semua orang agar bersiap-siap.
El kembali berjalan mendekati Dirga, ia masih punya pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya.
"Papa"
"Iya El, ada apa?"
"Semua hal yang Papa minta dariku, apakah sungguh untuk usaha Papa?"
"Tanyakan itu pada Kakekmu. Aku tidak mengerti El, kenapa ada pertengkaran diantara kalian. Aku tidak mengambilnya sepeserpun, perusahaan ku masih baik-baik saja"
"Apa Kakek memanfaatkan Papa? Agar aku mengeluh dan meminta bantuannya?"
Dirga hanya tersenyum lalu menghardikkan bahunya. Ia tak tahu pasti apa rencana Winarso, tapi Dirga selalu mengikuti apa perintahnya. Padahal mereka berdua sangat mirip, seorang pekerja keras. Permusuhan antara cucu dan Kakek yang sangat aneh. Walau Dirga mencari tahu pun, Adhitama saja tak mengerti dengan pertengkaran sengit itu.
__ADS_1
"Pa, jangan lewat Asya. Dia akan membenci Papa"
"El, ini permintaan Kakekmu, mana mungkin Papa menolak. Lagipula, Asya tidak akan bisa membenciku El, tidak akan pernah bisa"
Senyuman bangga seorang Papa yang menatap putrinya dengan yakin. Ia sangat yakin jika Asya adalah anaknya yang paling bisa dibanggakan dalam segala hal. Sekeras apapun Dirga mendidiknya, hati Asya masihlah hati paling lembut seorang wanita.
"Kakek, bisa tolong bukakan ini" pinta Aqilla pada Dirga.
"Kau sangat mirip dengan Asya saat masih kecil. Jangan minum terlalu banyak ya, nanti sakit perut sayang" ujar Dirga seraya memberikan minuman itu pada Aqilla.
El tercengang, ia tak menyangka jika Dirga dan Aqilla bisa sedekat ini. Mungkin karena El jarang berkumpul bersama keluarganya. Setelah mereka semua siap, mereka pun pergi menuju restoran menggunakan dua mobil.
Para anak-anak bersama dengan Kakek nenek, sedangkan El dan istrinya bersama Farel serta istrinya.
"Bunda, sudah menerima Aqilla?" Celetuk Asya membuka perbincangan.
"Sudah Sya" jawab Farel dengan senyuman ramah.
"Bagus deh kalau semuanya baik-baik aja"
"Tapi, Bunda masih terkadang mengacuhkan Adelia"
Pletakk....
El menjitak kepala istrinya, bisa-bisanya Asya memuji Kakak iparnya padahal ada sang suami di sampingnya.
"Eellll" teriak Farel kala melihat sebuah mobil melaju kencang ke arah mereka.
El langsung menghindari dengan begitu lihai, jalanan sepi pasti membuat beberapa orang berkendara seenaknya.
"Sayang kamu gak apa-apa kan? Kalian juga gak apa-apa kan?" Tanya El khawatir.
"Mas El sih, hati-hati dong. Jangan main-main!!!" Sentak Asya kesal.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, El kembali melajukan mobilnya perlahan. Ia sesekali menatap ke arah spion, memandangi mobil hitam yang hampir bertabrakan dengannya berhenti dipinggir jalan. Ada sesuatu yang membuat El menjadi curiga, jika El Sarah, harusnya pengemudi itu turun dan marah-marah. Padahal El berhenti cukup lama, namun tak ada yang keluar dari dalam mobil itu.
__ADS_1
Di restoran....
Semua keluarga sudah berkumpul di tempat yang El booking. Sedangkan pemuda itu tak langsung masuk, melainkan menelepon Zio untuk pekerjaan penting.
Para anak-anak sudah kegirangan menunggu king crab yang mereka inginkan. Bahkan si kembar tak bisa diam dan terus berdiri melihat ke arah dapur. Asya sudah meminta keduanya untuk duduk, tapi mereka tetap tak mau dengar.
"Kai, Key, duduk. Tidak dengar Bunda bilang apa?" Sentak El dengan nada sedikit tinggi.
Si kembar langsung duduk dan diam dengan raut wajah sedihnya. Kini giliran Asya yang kesal pada sang suami karena merusak kebahagiaan kedua putra mereka.
"Gimana kalau kita pesan..." ucapan Asya terhenti kala melihat wajah suaminya yang tampak lesuh. Padahal baru saja El membentak putranya, tapi sekarang pemuda itu terlihat sangat lelah.
"Bunda, aku mau es krim" pinta Kai membuyarkan lamunan Asya.
"Sini sama Nenek, Nenek ajak kalian lihat es krimnya. Ayo anak-anak" seru Airin. Laura juga ikut bersamanya membawa semua cucu mereka untuk melihat es krim.
Asya menggeser tempat duduknya lebih dekat dengan sang suami.
"Ada masalah apa Mas?"
"Tidak Sya, tidak ada masalah"
"Aku istri Mas El apa bukan sih? Kenapa bohong?"
"Tidak apa-apa sayang, sungguh"
Asya menggenggam tangan suaminya, ia menyenderkan kepala El pada pundaknya.
"Mas, bagilah beban mu padaku. Aku tidak suka jika Mas El selalu membahagiakan aku tanpa membagi duka itu. Seolah Mas El tak percaya padaku"
"Baiklah Nyonya El, kau tau benar cara merubah hati seseorang. Kita bicarakan saat dirumah saja ya, nikmati makanan mu"
Kini giliran El yang mendekap istrinya dengan erat. Mana mungkin ia bisa membagi duka yang nantinya akan menyakiti sang istri. Ia tak ingin Asya khawatir, El bisa mengatasi semuanya. Hati istrinya terlalu lembut dan mudah percaya, perempuan yang sangat naif.
"Elvin, kau masih punya Ayah dan Kakak. Kau juga masih punya Kakekmu bukan, kenapa kau berlagak sok pahlawan ingin melindungi Asya dan kedua putramu sendiri? Berhentilah keras kepala!!" Sela Adhitama. Ia sudah berkali-kali memperingatkan El jika pemuda itu masih memiliki keluarga besar. Tapi harga diri El seolah tak tertembus apapun.
__ADS_1
"Ayah, jangan marahi dia. Mas El pasti punya alasan, sudah jangan ribut nanti anak-anak dengar" ucap Asya menengahi keduanya.
El masih tak peduli dengan apa yang Ayahnya katakan, keras kepala itu masih menyelimuti pemikirannya.