
Selepas makan dan bersiap, El pergi bersama keluarganya menuju dokter gigi.
Key terus duduk dipangkuan sang Bunda sambil memeluk erat Asya. Sedangkan Kai duduk seorang diri dibangku belakang. Putra pertama El memang pemberani.
Di rumah sakit..
Mereka duduk sambil menunggu giliran. Key masih tak ingin turun dari gendongan Asya.
"Key, Ayah gendong ya, kasihan Bunda sayang" ucap El mencoba mengambil alih Key.
Pemuda kecil itu menolak, ia menggeleng dan kembali memeluk Asya erat. Kai mengatakan pada Ayahnya untuk membiarkan si kecil. Karena Key selalu seperti itu saat sedang sakit, tak ingin lepas dari Asya.
"Elvin?" Sapa seseorang mendekati El.
"Riko, hai. Sudah lama sekali tidak bertemu, kau benar-benar menjadi seorang dokter sekarang" ucap El seraya mengulurkan tangannya.
"Kau masih ingat mimpiku El? Bagaimana denganmu? Apa kau menjadi pengusaha yang hebat Tuan Elvin Adhitama? Hahaha"
Elvin dan Riko saling berpelukan singkat untuk bertukar sapa. Mereka tampak bahagia setelah sekian lama tak pernah bertemu. Keduanya adalah teman SMP, karena kesibukan El jarang bertukar kabar dengan para kawan lamanya.
"Oh iya, perkenalkan anak dan istri. Asya ini Riko, teman SMP ku dulu"
Asya berdiri dan tersenyum ramah, ia menerima uluran tangan Riko.
Riko memperhatikan Asya sesaat, lalu kembali menatap El dengan senyuman.
"Elvin, mengapa kau ingat cita-cita ku dulu? Tidak cocok dengan sifatmu"
"Begitukah? Memang sifatnya bagaimana?"
El dan Riko duduk disamping Asya sambil berbincang mengenang masalalu. Kai yang bosan menunggu, terus berlarian kesana kemari membuat Asya tak bisa tak memperhatikannya.
Kala El dan Riko asik berbincang, Asya kewalahan menenangkan Kai yang terus berlarian kesana kemari.
Brukk...
"Kai, kau tidak apa-apa?" Tanya seorang pemuda membantu Kai berdiri.
"Aku mau pipis" jawab Kai. Ia kembali berlari mencari toilet.
__ADS_1
"Kai, tunggu Bunda" teriak Asya. Ia mengikuti Kai dengan terus berlari.
"Bunda, jangan masuk. Cowok" ucap Kai menunjuk papan toilet.
"Biar aku yang temani dia Asya"
Asya menoleh, ia menatap Nando yang sudah berdiri di sampingnya. Nando langsung masuk mengikuti Kai tanpa menunggu jawaban dari Asya. Beberapa menit berlalu akhirnya mereka keluar kamar mandi.
"Terimakasih Om" ucap Kai.
"Iya, kamu pinter banget si Kai. Pasti Bunda kamu ya yang ajarkan"
Kai mengangguk lalu menghampiri Asya.
Nando menatap Asya yang tengah memandangi putra kecilnya. Perasaan itu kembali muncul, Nando masih mengharapkan tempat di hati Asya. Ia masih berharap jika wanita yang ia cintai akan membuka hati untuknya.
"Boleh aku tanya sesuatu Asya?"
"Apa?"
Nando berjongkok dan menutup telinga Kai.
"Aku tidak punya jawaban"
"Kenapa? Apa tidak pernah sekali saja ada perasaan suka untukku Asya? Setelah semuanya, kita melewati hari dengan canda dan tawa. Sedikit saja, apakah tidak ada?" Tanya Nando seraya mendongakkan kepalanya.
Asya diam tak menjawab. Tidak, ia takut untuk menyadari kebenaran itu.
"Kau diam, artinya pernah ada perasaan itu. Asya, tolong ingat, kau juga berhak bahagia. Jangan paksakan kebahagiaan itu hanya karena tak ingin menyakiti orang lain. Kamu berhak bahagia bersama orang yang bisa menghargai kamu"
"Kai, jaga Bunda mu ya. Om Nando pergi dulu, sampai jumpa" ujar Nando mengakhiri perkataan nya. Ia menepuk kepala Kai lalu pergi menjauh dari Asya yang masih terdiam di tempat.
Asya masih mencoba mencerna perkataan Nando. Apa yang Nando ketahui tentang hidup Asya? Bahagia? Itu benar-benar rasa bahagia atau Asya mencuci otaknya sendiri mempercayai jika semua itu adalah kebahagiaan?
"Bunda, ayo kita pergi" kata Kai menarik tangan Bundanya.
Asya mengikuti Kai kembali ke tempat semula. Baru saja beberapa langkah, ia terkejut karena melihat El dan Key yang berdiri di balik tembok. El menatap Asya dengan senyuman. Entah kenapa senyuman ikut membuat hati Asya terasa sesak.
"Bundaa" rengek Key merentangkan tangannya pada Asya.
__ADS_1
"Kamu memang manja Key" goda Kai.
Key semakin merengek sedangkan Kai tertawa. Mereka kembali ketempat sebelumnya, menunggu giliran Key dipanggil. Sesekali Asya menatap El yang tengah menemani Kai bermain-main. Walau mata mereka sering bertemu, tapi keduanya memilih diam tak ada pembicaraan.
Selepas Key diperiksa, ia langsung tertidur pulas di gendongan Asya. Kai masih begitu asik mengobrol dengan Ayahnya. Semakin dilihat, sikap dan sifat Kai cenderung pada El. Key masih begitu manja seperti anak kecil lainnya.
"Kai, mau makan junk food atau Bunda masakin di rumah?"
"Mau pizza Bunda"
Asya menatap Key yang terus bergerak dalam tidurnya.
"Dia sangat mirip seperti mu Asya, saat tidur dan sakit. Kau tidak bisa tidur dengan nyaman, selalu bergerak dan meminta pelukan" goda El.
Kai tertawa dan ikut mengatakan jika sang Bunda sangat manja. El membelokkan mobilnya menuju restoran pizza. Ia meminta Asya dan anak-anak menunggu dimobil sedangkan dirinya pergi membeli pizza kesukaan Kai.
Setelah beberapa saat akhirnya El kembali. Kai begitu antusias membuka pizza kesukaan nya. Mobil El kembali melaju menuju rumah mereka. Selama perjalanan, Kai memiliki banyak energi untuk terus berbicara sambil makan. Asya juga menyuapi suaminya yang terus membalas ocehan Kai.
Di rumah El....
Kai yang kekenyangan akhirnya tertidur selama perjalanan. El menggendong kedua putranya dan masuk kedalam rumah. Asya menyimpan sisa pizza di ruang makan lalu menyusul suaminya.
"Sya, aku mau ke kantor sebentar. Ada beberapa dokumen yang harus aku bahas dengan Zio" ucap El melengos pergi tanpa menatap Asya.
Perasaan Asya dibuat tak tenang, apakah akhirnya akan seperti ini? Hubungannya dengan sang suami yang telah sekian lama ia pertahankan? Tak masalah jika dulu selalu banyak luka, tapi El berkomitmen untuk berubah. Asya sudah menerima semuanya, ia ingin menjalani masa depan dengan suaminya dan kedua anak mereka.
"Mas, bisa kita bicara sebentar?" Ucap Asya menahan kepergian sang suami.
"Nanti ya, aku benar-benar haru ke kantor" jawab El tanpa memalingkan wajahnya. Ia menepis tangan Asya lalu pergi keluar rumah. Hatinya seolah tak siap menatap wajah sang istri.
Mobil El kembali melaju meninggalkan rumahnya menuju kantor. Ia tengah gusar dan bimbang dengan perasaannya. Setelah mendengarkan apa yang Nando katakan pada istrinya. El juga yakin, pasti ada rasa suka walau itu sedikit dalam diri Asya pada Nando.
Semua hal besar selalu dimulai dengan hal kecil. Bagaimana jika nanti Asya mengingat masalalu, kenangannya bersama dengan Nando. Terlebih El menyadari sesuatu, kedua sahabat Asya bahkan jatuh pada pesona Nando.
"Apa aku sanggup melepas Asya? Apakah perasaan ku ini egois? Tapi Asya istriku, aku ingin mempertahankan pernikahan ini" gumam El gusar.
Kini El merasakan sesak di dadanya, ia menyeka air matanya yang jatuh.
"Aku pikir aku pantas mendapatkannya. Maafkan aku Asya, kau banyak terluka karena aku"
__ADS_1