
Asya sudah mencoba untuk tidur, tetapi ia tak bisa. Ia baringkan tubuhnya menghadap El yang tengah memejamkan mata. Tangan Asya mulai mengelus rambut suaminya. Sikap aneh El benar-benar mengusik pikiran Asya.
Cup...
Sebuah kecupan sukses mendarat di kening El. Asya masih mengelus lembut rambut suaminya.
"Mas El kenapa sih? Udah gak sayang aku ya? Kalau Mas El gak sayang aku, siapa yang akan manjain aku lagi?" Gumam Asya sedih. Ia memeluk suaminya yang tertidur, walau El sering menyakitinya, tapi El juga yang selalu membuat Asya bahagia.
Asya membuang napasnya kasar, ia hendak pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Percuma saja semua ini, El bahkan tak ingin menatapnya.
Langkahnya terhenti tepat didepan cermin, Asya menatap dirinya dengan seksama. Memperhatikan tubuhnya yang terbuka karena lingerie nya.
"Hihihi, aku terlihat seperti para istri di drama" puji Asya pada dirinya sendiri. Ia membolak-balikkan badannya, walau terlalu seksi, tapi Asya menyukai pakaian yang dikenakannya.
Asya masih berbicara sendiri didepan cermin, mengoceh tiada akhir. Ia bahkan mempertanyakan perubahan pada sikap El. Hingga pikirannya menjalar kemana-mana, berpikir jika ada wanita lain yang hadir dalam hidup El.
"Apa Mas El mencintai wanita lain?"
"Konyol, apa yang kau lakukan disana. Cepat kemari" sahut El.
Asya sedikit terkejut, tetapi ia berjalan kembali menuju ranjangnya. Berbaring tepat dihadapan El yang memiringkan tubuhnya. Matanya menatap mata El yang juga sedang memandangi dirinya. Hanya sejenak, sebelum Asya merubah posisi memunggungi suaminya.
"Apa Papa tidak mengajarimu? Seorang istri tidak boleh tidur memunggungi suaminya"
Mendengar hal itu, masih dengan posisi yang sama, Asya mendekati El. Setelah menyentuh suaminya, ia segera membalikkan badan tanpa menatap El sama sekali.
El mendekap istrinya, mengelus lembut rambut Asya. Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap El yang sedang memejamkan mata. Asya kembali dibuat bingung dengan sikap El, padahal tadi ia sangat cuek, tapi sekarang El kembali seperti dulu.
"Asya, apa kau akan baik-baik saja tanpa kehadiran ku suatu hari nanti?"
"Mas El mau pergi? Meninggalkan ku sendiri?"
"Tidak sayang, aku hanya bertanya"
Asya tak bergeming sama sekali, ia tak ingin menjawab pertanyaan konyol suaminya. Pertanyaan yang bahkan tak pernah Asya pikirkan sebelumnya. Apa yang akan terjadi bila El pergi, saat Asya merasa jika hanya El yang menyayangi dan memperhatikannya.
"Jangan tanya aku, tapi aku yakin Mas El akan baik-baik saja tanpaku"
"Sya, mau minta apa? Apapun akan aku turuti. Jalan-jalan ke Korea?"
"Mau baby El"
"Kecuali itu"
"Gak ada hal lain selain itu"
Setelah perdebatan singkat itu, Asya dan El memilih tidur karena hari sudah sangat larut.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Esok hari....
Harusnya Asya dan El pulang hari ini, tetapi El membatalkan rencananya. Ia akan menginap dua hari lagi dirumah Kakek. Kali ini, El meminta istrinya untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarga besar El lainnya.
"Mas El ih, aku tahu Mas El sudah bangun kan" gerutu Asya kesal. Ia hendak bangun dari tidurnya, tetapi tangan El masih saja mengunci tubuh Asya dengan erat.
Asya mencubit hidung mancung suaminya, membuat El terkekeh karena kehabisan napas.
"I love you Sya"
El yang nakal, ia tahu cara agar istrinya tak jadi pergi darinya. Belum sempat Asya pergi jauh, ia kembali menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Dengan senyum kecil ia mencoba menatap suaminya yang kini telah memunggungi dirinya.
Asya menggelitik tubuh suaminya, ia ingin El mengatakannya sekali lagi. Tetapi pemuda itu tak ingin melakukannya.
Ttokkkk.... Ttokkk...Ttok....
Terdengar suara pintu di ketuk, Asya hendak bangkit untuk membuka pintu, tetapi El melarangnya dan langsung menyelimuti tubuh istrinya. El tak ingin ada orang lain melihat Asya mengenakan lingerie selain dirinya.
"El, mana menantuku?" Tanya Laura yang mencoba masuk ke kamar.
El dengan sigap menahan Laura, tetapi Laura lebih dulu menatap Asya yang tengah duduk berbalut selimut. Beliau terkekeh kecil dan mencubit perut putranya. El nampak merona dan menyuruh Bundanya untuk segera masuk agar pintu dapat ditutup.
Laura menghampiri Asya yang menatapnya dengan senyuman.
"Gak kok Bund"
"Terus kenapa pakai selimut?"
"Gak tahu, Mas El aneh" jawab Asya lalu membuka selimutnya.
Segera setelah itu mata Laura terbelalak lebar melihat apa yang Asya kenakan. Putranya itu memang sangat nakal. Tapi satu hal yang Laura yakini, putranya pasti sangat menyukai Asya.
Laura masih tak bisa menahan tawanya, ia berpesan pada El untuk turun dan sarapan, itupun jika mereka memiliki waktu luang.
"Bunda mah, udah sana" ujar El.
Setelah puas menggoda putranya, Laura pergi meninggalkan kamar El.
Kini giliran El yang memandangi istrinya, penyesalan karena begitu naif tak ingin menyentuh Asya semalam.
"Eits tunggu, bikin baby El yuk"
"Bohong banget"
El terkekeh karena istrinya mengetahui tipu muslihat El. Jika semalam tak bisa, pagi hari pun tak kalah nikmat menikmati waktu bersama sang istri. Ia segera memeluk Asya yang hendak masuk kedalam kamar mandi. Ia gendong dan baringkan diatas tempat tidur.
__ADS_1
Tak butuh ijin, El segera melu mat bibir istrinya dengan mesra. Setelah bibir, ia mulai bermain dengan leher jenjang sang istri.
"Mas, bilang dulu"
"Apa?"
"Yang tadi, ayo Mas"
Pemuda itu tak menghiraukan perkataan Asya, ia kembali menciumi seluruh wajah istrinya. Bahkan tangan nakalnya kini telah berada di paha sang istri, mengelusnya dengan lembut lembut.
El tahu benar bagaimana cara membangkitkan hasrat Asya.
"Udah ah males main" ucap El menghentikan permainannya.
"Kok gitu sih Mas?"
"Kenapa?"
"Pingin"
El memang menyebalkan, bisa-bisanya ia menghentikan permainannya saat Asya sudah ingin melakukannya. Pemuda itu masih kekeh untuk tidak melanjutkan permainannya, tetapi Asya terus merengek, El sialan.
Sekali lagi El menarik istrinya saat hendak pergi, ia senang sekali menggoda Asya. Ia baringkan tubuh Asya diatas kasur dan mulai menanggalkan pakaian istrinya.
"I love you" ucap El. Ia langsung melu mat bibir Asya sebelum gadis itu mulai berbicara.
Kini Asya lebih menikmati sentuhan suaminya, jantungnya kembali berdebar kencang. Sama seperti saat pertama kali ia mulai bercinta dengan El. Bahkan El pun merasakan hal yang sama, jantungnya pun juga berdebar dengan kencang.
Permainan El semakin lembut tapi selalu bisa memuaskan Asya. Suara ******* sang istri adalah musik yang paling El sukai. Asya mencengkram pundak El, dengan napas yang terengah-engah, ia menunjukkan senyuman kecil.
Melihat Asya yang menatapnya, El kembali bermain dengan bibir sang istri. Mengecupnya berkali-kali sembari sesekali menggigit lembut bibir itu.
"I love you too Mas, aah" Asya kembali men desa h ketika El bermain dengan dua gunung kembar miliknya. Pemuda nakal itu, menghisap dan sesekali menggigitnya.
Ada sedikit rasa geli, hingga Asya tak kuasa menahannya dan menjambak rambut sang suami. Jambakan itu justru membuat nafsu El semakin liar, ia segera berguling dan bertukar posisi dengan sang istri.
Asya menggoyangkan tubuhnya, mencoba memuaskan sang suami. Tetapi lagi-lagi perlakuan itu malah membuat El tertawa geli.
"Gak puas nih, cari yang lain ah"
"Iiih, Mas El jahat deh"
El menarik tubuh mungil istrinya, mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Mas El beneran cinta sama aku kan?"
"Bohongan Sya"
__ADS_1
"Bohongan kok wajahnya merah, konyol"