Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 77


__ADS_3

Selepas makan malam, Asya langsung pergi ke kamarnya. Suasana canggung, bahkan makan malam pun mereka tak bersuara. Asya hanya bisa diam dan sesekali tertawa membalas perkataan Laura.


El tengah duduk diatas ranjang sambil menonton pertandingan sepak bola. Asya yang baru saja keluar kamar mandi, langsung berjalan menghampiri sang suami. Ia duduk dipangkuan El dan bermanja-manja disana.


"Mas" panggil Asya lirih.


"Hm..." El hanya berdehem sembari menatap mata istrinya.


Sepersekian detik berlalu, Asya langsung melu mat bibir suaminya. Tak ingin melewatkan kesempatan, El membalasnya dengan lebih bersemangat. Pergulatan kecil diatas ranjang ditemani suara sorakan dari pertandingan sepak bola.


Napas keduanya sudah terengah-engah karena permainan kecil itu. Asya tersenyum kecil melihat wajah suaminya ada dihadapannya.


"Tumben sayang, ada apa?" Tanya El. Tangannya masih sibuk melepas pakaian Asya.


"Karena aku sayang Mas El"


"Ada apa Asya?"


"Aku gak suka kalau ada orang yang jelek-jelekin Mas El. Padahal kan suamiku gantengnya pakai banget"


El tertawa mendengar pujian istrinya. Tapi itu bukan alasan untuk menghentikan sesuatu yang sudah Asya mulai. El sudah bersiap, dan mereka melakukan adegan cinta itu.


Beberapa waktu berlalu...


"Masih kuat kamu sayang?" Bisik El ditelinga istrinya. Ia memeluk Asya yang masih bisa membuka mata sambil tersenyum ke arah El.


"Apa sih Mas" rengek Asya kesal.


"Biasanya kamu langsung tidur, tumben banget masih bisa buka mata"


"Mas El rese' deh"


Setelah perdebatan kecil, mereka pun tertidur.


...≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Esok hari tiba..


Laura tak mengijinkan Asya untuk membantunya di dapur ataupun bersih-bersih. Ia bilang, ingin memanjangkan menantu bungsunya itu. Karena itu Asya hanya duduk-duduk dikamar sambil memandangi El yang bersiap untuk berangkat kerja.


"Kasihan istriku, bosen ya" goda El.


"Ehm... Mas El kenapa sih kerja mulu, duitnya kan udah banyak"


"Sebelum aku nikah sama kamu, kerja itu hobi ku sayang"

__ADS_1


"Hm ...."


"Kamu mau liburan? Kalau buat kamu, aku free kapan saja, mau kemana hm?"


"Aku cuma mau menghabiskan waktu berdua bersama Mas El, nanti kalau kita punya anak, aku pasti gak bosen walau gak ada Mas El"


"Eh, gak usah punya anak kalau gitu. Daripada bosen, mending kamu belanja sana, habisin uang aku"


Asya hanya berdehem kemudian pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama. Ia memang suka belanja, tapi jika harus melakukannya setiap hari, itu terdengar membosankan bahkan hanya untuk dibayangkan.


"Sya, kapan masuk kuliah lagi?" Tanya Adhitama.


"Aku udah gak kuliah Yah, mau berhenti aja"


"Kenapa? El yang nyuruh? Atau Dirga?"


"Mau jadi istri yang baik aja Yah, mau fokus bikin baby El, iya kan Mas"


El terbatuk-batuk mendengar jawaban istrinya. Ia tertawa canggung dengan wajah memerah. Asya bergegas menuangkan minum dan memberikannya pada El. Tetapi pemuda itu menghentikan Asya dan menatap istrinya.


"Sya, aku punya hadiah buat kamu"


"Hm...."


"El ngapain kamu Sya? Biar Bunda pukul ini anak" sahut Laura seraya menjewer telinga putra bungsunya. El yang merasa ini tak adil, ia juga menarik telinga Asya. Jadilah mereka bertiga saling menjewer.


Adhitama meminta El untuk melepaskan, tapi pemuda itu tak mau, dan akan melepaskannya jika Laura melakukan hal yang sama. Mau tak mau, Laura melepaskan jeweran telinganya.


"Susah Yah musuh perempuan, udah ah aku berangkat kerja aja. Bye sayang, Aqilla makan yang banyak ya" ucap El sambil mencium kening istrinya.


El berjalan menuju luar rumah. Asya tak peduli, ia masih duduk di meja makan meneruskan sarapannya. Tak berselang lama, ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari El yang memintanya untuk pergi ke kamar. Dengan acuh tak acuh, Asya melangkahkan kakinya masuk ke kamar.


Ia edarkan pandangannya, tak ada sesuatu yang mirip hadiah dimanapun. Langkahnya semakin masuk kedalam, masih tak bisa Asya lihat dimanapun hadiah yang El katakan. Hingga saat ia duduk di atas ranjang, ada dua buah pasport, tiket pesawat, dan sebuah brosur.


"Maldives? Grand Park Kodhipparu?"


Setelah membaca tujuannya, Asya segera mencaritahu tempat seperti apa itu. Matanya terbelalak melihat betapa indahnya tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bibirnya menarik senyuman, ini kejutan yang menyenangkan.


Asya berlari keluar kamar, berharap El masih berada disekitar rumah. Saat ia sudah sampai didepan tangga, El sudah menunggunya dengan merentangkan tangan. Gadis itu berlari dan langsung menabrakkan dirinya dalam pelukan El. Raut wajah gembira Asya membuat El juga merasa senang.


"Suka gak?"


"Aaahhh Mas El, kok bisa kepikiran mau kesini sih? Mas El kan sibuk kerja"


"Mhm... Maaf ya, aku cari waktu luang biar bisa ajak kamu honeymoon. Tapi selalu gagal, but kali ini, Nyonya El adalah prioritas" ujar El seraya mengecup pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Aahh sayang Mas El. Makasih ya, sayang" bisik Asya kemudian mencium pipi El.


Adhitama dan Laura tersenyum senang, melihat keluarga kecil putra bungsunya yang tampak bahagia bersama. Kekhawatiran mereka sirna, El perlahan mulai berubah. Mereka tahu benar, seberapa besar rasa sakit yang El berikan untuk Asya. Tapi sekarang, pemuda nakal itu, berusaha menyenangkan istrinya dengan sebaik mungkin.


Asya mengantar El keluar rumah, tak rela sebenarnya melepas El ke kantor. Tapi besok mereka sudah pergi untuk berbulan madu. Melepas sejenak itu tidak masalah, lagipula Asya juga harus ke kampus untuk memberikan surat pengunduran dirinya.


"Mas, hari ini aku mau ke kampus, mau kasih suratnya"


"Oke, bodyguard harus tetap ikut ya"


"Tapi Mas, kan aku cuma..."


"Perintah"


Gadis itu mengangguk, sulit untuk menentang jika El sudah memberikan perintah. Ia melambaikan tangannya pada mobil El yang berjalan menjauh.


Asya kemudian masuk kedalam dan menyelesaikan surat pengunduran dirinya sebagai seorang mahasiswa.


"Bunda, aku pergi dulu ya"


"Iya sayang, hati-hati ya" sahut Laura.


"Mbak Adel, kalau ada apa-apa hubungi aku. Jangan capek-capek. Aqilla, jangan buat Bunda capek ya, Imo pergi dulu"


Akhirnya Asya pergi ke kampus bersama dengan Agus dan dua orang bodyguardnya.


Sampai di kampus....


Jihan dan Gita sudah menunggunya dikantin seperti biasa. Mereka terlihat sangat sedih dengan keputusan Asya ini.


"Asyaaaaa" teriak Gita merengek.


"Apa'an sih kalian, malu dilihatin"


Jihan maupun Gita tak kuasa menahan tangisnya. Mereka memeluk Asya dengan sangat erat atas keputusan besar ini. Padahal baru saja Asya mengatakan akan membantu Jihan dekat dengan Nando, tapi dirinya malah pergi menjauh. Bukan ini cara yang Jihan harapkan, kehilangan sosok sahabat terbaiknya.


"Asya, bisa kita bicara sebentar?" Sela Nando ditengah tangis ketiga sahabat itu.


Jihan mendorong Asya agar pergi bersama Nando. Sebab jika saja Asya tahu, Nando terus saja mencari kehadiran Asya. Bahkan beberapa kali pemuda itu kerap kerumah Asya hanya demi melihatnya. Asya menuruti permintaan Jihan dan pergi bersama dengan Nando.


Nando tampak gusar dengan raut wajah yang sedikit kacau balau. Karena bantuan Jihan dan Gita, bodyguard Asya akhirnya menjauh dari gadis itu.


"Kamu kenapa Ndo? Kucel gini, hahaha" goda Asya mencoba mencairkan suasana.


"Kamu beneran mau berhenti kuliah?"

__ADS_1


__ADS_2