
Setelah sampai dirumah, Asya membersihkan tangan dan kakinya sebelum mulai memasak. Dengan percaya diri ia mulai menyiapkan bahan dan memotongnya dengan rapi. Asya menyiapkan pasta untuk dua porsi, El dan Zio.
Selain pasta ia juga membuat salmon panggang, tak lupa dengan jus semangka agar El tidak dehidrasi karena lupa minum. Asya mengemas semua makanan dengan rapi dan indah.
"Pak, ke kantor Mas El ya" pinta Asya pada Agus yang masih menunggunya.
Agus mengangguk dan mengantarkan Asya menuju kantor sang suami.
Saat sampai di kantor El, Asya langsung berjalan menuju lift. Ia menunggu didepan lift bersama karyawan lainnya yang berdiri dibelakang Asya.
Tring.....
Saat lift terbuka, Asya segera masuk, namun para karyawan yang ada dibelakangnya malah diam dan menunduk memberi hormat pada Asya.
"Maaf, kalian gak naik?" Tanya Asya hati-hati.
"Tidak Bu, Ibu duluan saja" ucap salah seorang karyawan.
Asya tentu heran dan bertanya mengapa mereka tak ingin satu lift dengannya. Dan jawaban mengejutkan dari mereka, karena El memberi peraturan untuk membiarkan istrinya berada di lift seorang diri, tak ada yang boleh satu lift dengan sang istri. Bukan tanpa sebab, El tak ingin istrinya kembali teringat akan kenangan buruknya didalam lift kantor El.
"Tidak apa-apa, ayo naik, saya yang minta" ajak Asya pada para karyawan.
Para karyawan itu saling melempar pandangan, ragu mengikuti perintah Asya atau tidak. Karena mereka berpikir terlalu lama, Asya berjalan keluar lift lagi, menghampiri karyawan suaminya.
"Kalau gitu saya naik tangga saja" ucap Asya tanpa ragu.
"Ja..jangan Bu, kami akan naik bersama Ibu" ujar karyawan itu.
Untung saja lift masih terbuka, Asya dan para karyawan segera masuk kedalamnya. Mereka membiarkan Asya berdiri didepan, sedangkan mereka berdiri berhimpitan karena ingin memberikan Asya ruang yang luas. Gadis itu hanya bisa menggeleng tak percaya.
Asya berjalan menuju ruangan El, setiap karyawan yang ia lewati sangat menghormati Asya. Mereka menunduk, memberi salam pada Asya.
Bruukkk....
"Duh, punya mata gak sih loe?" Sentak seorang wanita.
Ponsel Asya terjatuh karena wanita itu menabraknya. Padahal ini salah wanita itu, yang berjalan sambil memandangi ponselnya. Ia malah marah-marah kepada Asya, memaki dan menghinanya tanpa memfilter setiap kata yang ia lontarkan.
__ADS_1
"Punya mata itu dipakai, jangan dibuat pajangan. Kalau gak butuh, sana kasih yang lebih membutuhkan" ucap wanita itu dengan kasar.
Asya hanya diam dan menunduk. Ia menurunkan tubuhnya hendak mengambil ponselnya yang terjatuh. Namun wanita itu malah menginjak ponsel Asya hingga layarnya pecah.
"Kok hp aku di rusak?" Tanya Asya polos.
"Balasan buat loe yang gak tahu diri. Loe itu siapa sih? Kucel gini, anak magang ya? Mau gue bilangin ke dosen loe biar dapet nilai jelek" ancam wanita itu.
"Ada apa ini?" Sela El yang terusik dengan pertengkaran mereka.
"Pak El, lihat deh, dia nabrak aku, sakit nih. Anak magang ini mending dikeluarkan aja, gak tau diri gini" rengek wanita itu seraya merangkul manja lengan El.
Hm, jadi dia salah satu wanitanya Mas El ya, batin Asya.
El menghempaskan wanita itu dari dirinya. Lalu menamparnya tanpa ragu, ia sangat kesal mendengar wanita itu menghina istrinya dengan kasar.
"Beraninya kamu hina istri saya, sekarang mending kamu pergi sebelum saya memukulmu lagi" bentak El penuh amarah.
Wanita itu terkejut bukan main, melihat kemarahan El, dia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
"Kamu gak apa-apa kan? Nanti aku belikan hp baru ya" ujar El seraya memungut ponsel Asya yang sudah hancur.
Ponsel itu adalah hadiah dari Papa di ulang tahun Asya yang ke - 17 tahun. Walau ponsel itu sudah berkali-kali jatuh dan rusak, Asya tak berniat menggantinya, karena itu adalah hadiah dari Papanya.
"Mm, nanti kita coba benerin ya. Kamu kok gak kasih tau aku sih kalau udah datang, kan bisa aku jemput" ucap El seraya merangkul bahu istrinya. Ia membimbing Asya untuk masuk kedalam ruangannya.
"Adik Ipar, ayo makan siang dulu" ajak Asya saat melewati ruangan Zio.
"Gak usah Kakak Ipar, aku nanti makan diluar aja" tolak Zio halus.
"Loh kok gitu, kan aku udah masakin nih" sahut Asya sembari memanyunkan bibirnya.
El menatap Zio dengan mata melotot, memberi kode pada pemuda itu agar mengikuti apa yang Asya mau. Zio pun akhirnya mengikuti permintaan Asya sesuai perintah El.
El dan Zio duduk berhadapan, dan Asya membukakan kotak bekal untuk mereka.
"Wah, kamu beneran bisa masak pasta" puji El melihat makanan yang Asya hidangkan.
__ADS_1
"Di meja Mas El kok gak ada air minum, kan aku udah bilang semalem" ucap Asya setelah menatap meja kantor sang suami dengan seksama.
"Eh, iya nanti aku minta OB buat bawain minum ya. Ini makannya gimana ini?" Tanya El seraya memandangi masakan didepannya. Berbeda dengan Zio yang sudah lahap memakan makanannya.
"Kayak biasa lah Mas, gini nih" jawab Asya seraya menyendok pasta.
Melihat Asya menyendok pasta, El menatap Asya sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Ternyata ia ingin Asya menyuapi dirinya.
"Gitu dong ketawa, ketawa kamu itu bikin orang jadi sayang" goda El. Asya semakin tersipu malu karena perkataan suaminya.
"Mas nanti malam mau dimasakin apa?" Sahut Asya mengalihkan pembicaraan.
"Terserah kamu aja, nanti aku pulang malam lagi, jadi ya makan diluar" jawab El singkat.
"Mas El mau minum lagi?" Ujar Asya spontan. El mengangguk, ia akan bertemu salah satu koleganya, pastilah mereka akan mengobrol sambil minum tentunya.
Sebenarnya Asya tak ingin jika El minum, namun dirinya siapa berani melarang sang suami. Ia pun berpamitan pergi karena masih ada kelas setelah jam makan siang.
"Kakak Ipar aku antar ya?" Tawar Zio. Asya tentu menolak karena Agus menunggu dirinya di parkiran, walau Zio terus memaksa akan mengantarkan dirinya.
Asya menyuruh Zio untuk menghabiskan makan siangnya saja karena dirinya sudah harus pergi. Dan tak lupa mengingatkan keduanya untuk minum air putih yang banyak.
Sebelum Asya pergi, El menariknya dan memberikan salah satu ponsel El pada Asya.
"Kamu pakai ini dulu ya, nanti hp kamu aku bawa ke tukang service. Kamu yakin gak mau hp baru aja?" Tanya El mencoba membujuk Asya.
"Bukannya gak mau Mas, tapi ini kan hadiah dari Papa" jawab Asya.
"Iya tapi kan ini udah tiga tahun yang lalu Sya, kita cari yang lebih bagus gimana? Pasti ini suka ngehang kan?" balas El.
"Iya Kakak Ipar beli baru aja, sekalian jalan-jalan. Nanti malem aja, biar aku yang gantiin El ketemu klien" sela Zio. Zio menatap Asya penuh harap, sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Asya berpikir sejenak sebelum ia menyetujui saran itu. Mungkin ini cara yang bagus agar sang suami tidak minum-minum lagi malam ini.
......***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Because I'm Ratu.........
...Terimakasih sudah membaca......
__ADS_1
...lope lope Kakak...🥰🥰***...