
Di Mall...
El berjalan di belakang sang istri yang menggandeng kedua putranya. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang Asya pikirkan. Ia ingin meminta Zio mencari tahu, tapi tak enak sebab pemuda itu tengah sibuk dengan pernikahan nya.
"Sayang"
"Hm..."
El menarik bahu Asya dan menggiringnya pergi ke arah yang berlawanan. Keyakinan El semakin kuat, Asya tengah tak fokus hari ini. Ia pun mengambil alih kedua putranya dan meminta Asya untuk memegangi pakaian El agar mereka tak terpisah.
Sampai di tempat penjual mobil-mobilan, Kai dan Key langsung saja melesat melihat-lihat mobil yang ada disana. Karena pilihan keduanya berbeda, Kai bersama dengan El dan Key bersama dengan Asya.
Keduanya mencoba menaiki satu persatu mobil yang ada disana. Sembari memilah mana yang akan mereka pilih. El terlihat kewalahan mengikuti Kai, tetapi tidak dengan Asya yang sudah terbiasa karena kedua putranya memang suka bergerak.
Setelah cukup lama keduanya melihat-lihat, pilihan Kai jatuh pada mobil Jeep berwarna kuning, sedangkan Key memilih mobil Porsche berwarna hijau.
"Ayah, mau itu juga" ucap Kai seraya menunjuk mobil-mobilan yang berbentuk seperti kereta.
"Iya boleh sayang" jawab El. Ia meminta pada karyawan disana untuk mengirimkan semua yang kedua putranya inginkan.
Setelah belanja yang cukup menguras waktu, El mengajak keluarganya untuk makan sebelum mereka pulang kerumah. Ia mengajak keluarganya makan di salah satu kafe yang sangat ramai pengunjung. Kafe itu terlihat modern dengan banyaknya pelanggan remaja. Desain interior dan eksterior nya sangat kekinian.
"Sayang, bisa tolong pesankan aku kopi? Aku akan menyuapi anak-anak" pinta El.
Asya mengangguk lalu pergi menuju meja kasir. Sembari menunggu antrian, Asya menatap sekitarnya, melihat pemandangan kafe yang benar-benar ramai pengunjung.
"Asyaaa...." teriak seseorang.
Karena merasa namanya dipanggil, Asya mengedarkan pandangannya. Ia mendapati para teman kuliahnya dulu tengah berkumpul disana. Bahkan disitu juga ada Surya, Angga, Eci dan juga Jihan. Senyum Asya mengembang, ia bergegas menghampiri para teman-teman nya itu.
"Duduk Sya" ucap Surya mempersilahkan.
"Sama siapa kamu? Pak El sudah cerita ya tentang kafe ini? Aku nungguin kamu datang kesini" jelas Jihan panjang lebar.
"Kafe ini? Maksudnya gimana?"
__ADS_1
"Loh loe gak tahu Sya? Ini kan kafe loe, Jihan jadi wakil direktur disini Bu bos. Kita sering banget nongkrong disini, biasanya reuni juga disini Sya" jawab Surya.
Asya sejenak terdiam, ia menoleh ke arah suaminya. El masih sibuk mengurus si kembar yang makan dengan belepotan. Tawa kecil Asya kembali terdengar, hal itu sukses membuat para teman Asya keheranan.
Mereka memuji betapa beruntungnya Asya, menikah muda dengan seorang Presdir tampan yang kaya, baik dan juga romantis. Mereka yakin, hari-hari Asya pasti berjalan dengan begitu indah. Mengingat kini mereka mempunyai dua putra yang tampan-tampan.
"Enaknya jadi Asya, loe sekarang benar-benar menjadi seorang putri. Hahaha, andai suami gue kayak suami loe, Sya" celetuk salah seorang teman Asya.
"Apa? Kamu sudah menikah?"
"Yes beb, kita semua sudah menikah, kecuali Jihan, Angga dan Surya. Hahah, loe gak sadar nih badan gue melar gini. So sad, suami gue minta gue ngurusin nih badan, hm..." sahut teman Asya yang lainnya.
Satu persatu teman Asya menceritakan tentang pernikahan mereka. Padahal pernikahan mereka belum selama Asya, tapi ada begitu banyak masalah ini dan itu. Terlebih ketika mereka memiliki anak, para suami mereka semakin menuntut banyak hal. Mungkin tuntutan itu bisa di penuhi jika sang suami memanjakan istri mereka seperti El.
Bibir Asya tertarik naik secara spontan, ia ingin mengeluh tapi sekali lagi dunia membuktikan nya. Semua yang Asya anggap tak bisa ia lalui, justru takdir menunjukkan hal yang lebih mengejutkan dari apa yang Asya alami.
Dan hal yang paling membuat Asya tak mengerti, selama lima tahun hidup bersama suaminya. Tak pernah sekalipun terbesit kata perceraian. Tapi kini dihadapannya, kehidupan singkat pernikahan temannya masih diselingi pertikaian dan kata yang buruk itu.
Cinta? Cinta seperti apa yang membangun dua hubungan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan? Jika pada akhirnya, akan ada pertikaian hanya karena masalah kecil.
Papa, ini adalah kebahagiaan terbesar yang Papa berikan untukku, batin Asya.
"Sya, kok bengong?" Ucap Angga sembari menarik rambut Asya pelan.
"Papa aku galak ya, tapi suami pilihan Papaku yang terbaik"
"Asya..." lirih teman-teman Asya. Mereka menatap Asya yang tengah menyeka air matanya. Mereka masih ingat jelas, betapa kasar dan kejamnya Dirga pada putrinya. Tapi Asya masih begitu menyayangi Papanya.
"Bunda" panggil Kai yang sudah berada di samping Asya.
"Anak loe ganteng banget Sya, sini sama Om Surya nak" panggil Surya gemas. Ia menyambar Kai dan langsung mendudukkan nya di pangkuan. Putra Asya memang selalu mencuri perhatian dimanapun mereka berada.
"Kai kau juga disini? Dimana Key?" Tanya Jihan.
Kai menunjuk ke arah dimana Ayahnya dan Key tengah duduk memandangi mereka semua. Teman-teman Asya tersenyum menyapa, mereka juga memanggil Key untuk datang menemui mereka semua.
__ADS_1
"Ayah aku tidak mau" ucap Key santai. Ia malah melanjutkan memakan makanannya.
El yang tak bisa menahan tawa, langsung menggendong Key berjalan menuju Asya dan teman-temannya. Ini memang niat El sedari awal, mempertemukan Asya dengan temannya. Ia pikir, sang istri tengah jenuh dan butuh suasana baru. Beruntung nya rencana El, sebab ada banyak teman Asya disana.
"Ini Key ya? Lucunya" puji salah seorang teman wanita Asya. Mereka semua bergantian mencubit pipi putra kembar Asya.
"Mas, mau kemana?"
"Aku memintamu memesan kopi, tapi kau tak kunjung kembali"
"Maaf Mas, aku lupa"
"Pak Elvin, saya akan memesan kan untuk anda" sela Jihan.
El menolak, ia lebih memilih untuk memesannya sendiri. Tak lupa dirinya menitipkan Asya dan putranya pada Jihan serta yang lainnya. Asya hanya bisa tersenyum lebar dan kembali melanjutkan obrolannya bersama dengan teman lama.
"Bundaaa, sakit, aku tidak mau disini. Ayo kita pulang" rengek Key dalam tangisnya.
"Aku juga mau pulang Bunda, mereka nakal" timpal Kai.
Si kembar menjulurkan tangan mereka ke arah Asya. Kedua putra Asya sudah tak tahan sebab para teman Bundanya memperlakukan mereka seperti boneka. Sakit rasanya saat pipi mereka dicubit dan dicium berkali-kali.
"Apa yang kalian lakukan pada putraku? Lihatlah wajah mereka menjadi merah, astaga kalian ini" oceh Asya sedikit kesal. Ia tak menyangka teman-temannya begitu menyukai si kembar.
Kai dan Key langsung memeluk Asya erat, mereka bahkan tak mau menoleh ke arah teman-teman Bundanya.
"Ayah, gendong aku" pinta Kai kala El datang.
"Putra Ayah menjadi kesayangan semua orang"
"Tidak, bukan, mereka nakal, Ayah" sahut Key.
"Sakit pipiku" imbuh Kai.
El mengambil keduanya dari pangkuan Asya dan membawa mereka kembali ke tempat duduk mereka semula. Untuk pertama kalinya, si kembar tak ingin berada di dekat Asya sebab teman-teman sang Bunda sangat nakal dimata mereka.
__ADS_1