Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 45


__ADS_3

"Bun, dia bisa mengerjakan segalanya. Memasak, bersih-bersih, apapun pekerjaan rumah tangga" jawab Laura.


Salah satu sepupu El tersenyum miring, ia mulai mengatakan jika Asya bisa melakukan segalanya, pastilah gadis itu berasal dari keluarga tidak mampu.


Kini giliran Adhitama yang menjawab pertanyaan itu, "Ayah, Bunda. Asya ini putri bungsu Dirga"


Sontak saja Kakek dan Nenek El membelalakkan matanya tak percaya. Sebab sebenarnya Asya pernah bertemu mereka kala gadis itu masih seumuran Aqilla.


Dirga membawa putri kecilnya untuk dikenalkan pada Kakek dan Nenek El. Itu juga adalah pertama kalinya Asya bertemu dengan El dan Farel.


Kakek El kembali mengingat kenangan lama itu. Ketika Asya marah pada El karena telah meletuskan balon kesayangannya. Saat masih kanak-kanak, Asya sangat menyukai balon, kemanapun ia pergi, balon itu akan selalu menemani. Tapi El dan Farel yang jail, terus berusaha memecahkan balon milik Asya. Walau Syam dan Galen mencoba melindungi adiknya, El selalu memiliki cara licik untuk bisa membuat Asya menangis.


"El dulu selalu membuatmu menangis, apakah sekarang dia membuatmu bahagia?" Tanya Kakek El sembari menepuk-nepuk tangan Asya.


Senyuman Asya tampak sedikit bergetar, ia menoleh dan memandangi suaminya. Ingin sekali hati Asya berkata jika El masih saja membuatnya menangis. Tapi itu tidak mungkin, apalagi saat ini ia tengah berada diantara keluarga besar suaminya.


"Aku masih membuatnya menangis" sahut El.


Bahkan hanya dengan perkataan saja, mata Asya sudah mulai berkaca-kaca. Hal itu membuat Ipar El sekali lagi mencoba menunjukkan kekurangan gadis itu.


El sudah bosan mendengar ocehan disana, ia lalu mengajak istrinya untuk pergi ke kamar El. Sudah lama sekali ia tak pernah memasuki kamar tersebut. Tak ada yang berubah, semua barang-barang El masih tertata rapi, juga kamarnya terlihat bersih.


"Sayang, aaahh" ujar El sembari membaringkan tubuh istrinya diatas kasur.


Asya kembali bangun dan melihat-lihat kamar El, foto kecil suaminya terlihat sangat menggemaskan.


"Mas El ingat gak kalau kita pernah ketemu dulu?"


"Awalnya gak ingat, setelah Kakek cerita, hm.... Aku ingat kamu nangis sampai ingusan, sekarang juga gitu"


"Hm... Aku gak suka Mas El"


El terkekeh mendengar jawaban istrinya. Ia memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Sembari menatap foto yang Asya pegang, foto dirinya dan Farel saat masih kecil.

__ADS_1


Asya menatap suaminya yang terlihat begitu akur dengan Farel. Tapi kini, seolah ada jarak diantara keduanya.


"Mas"


"Sayang"


"Mas El sama Mas Farel kenapa? Sepertinya kalian tidak akur"


"Sayang Sya, sayang"


El memeluk istrinya lebih erat. Ia tidak ingin membicarakan hubungannya dengan Farel yang kini telah merenggang. Asya sebenarnya ingin tahu, tapi ia tak ingin El marah hanya karena masalah seperti ini.


Setelah berbincang singkat, El dan Asya kembali keluar kamar. El hendak menonton pertandingan sepak bola bersama yang lainnya. Sedangkan Asya, ia bermain bersama para ponakan kecilnya.


Asya merasa sangat senang, karena ada begitu anak kecil. Ia tak hanya memiliki keponakan kecil, bahkan ponakannya ada yang sudah duduk di kelas satu SMA.


"Kakak Asya, tahu ini gak?" Tanya keponakannya yang paling besar.


"Bukan Kakak sayang, Imo, panggil Imo ya" jawab Asya dengan senyuman. Ia kembali memperhatikan apa yang lelaki remaja itu jelaskan, mengenai permainan yang kini digandrungi banyak khalayak muda.


"Sya, buatkan aku kopi" perintah El.


Asya meminta ijin pada para keponakannya untuk pergi ke dapur. Ia mulai membuat kopi untuk El, hanya untuk suaminya. Sebab El sudah mewanti-wanti dirinya, untuk tidak berinisiatif apapun, dan hanya fokus melayani El saja. Karena Nenek El sudah memberi peraturan, hanya istri yang boleh menyiapkan apapun keinginan suaminya selama mereka berada di sana.


Tak berselang lama, Asya kembali dengan secangkir kopi untuk El.


"Mas El, ini kopinya" ujarnya seraya memberikan kopi tersebut pada El.


Cukup lama Asya menunggu, tetapi El seolah tak mendengar panggilan Asya. Ia mulai memanggil suaminya beberapa kali, hingga membuat yang lain menoleh. Namun El masih tetap bersikap seolah tak mendengar panggilan sang istri.


"Sayang, ini kopinya" ucap Asya lagi.


"Udah jadi ya? Makasih ya sayang" jawab El dengan senyum nakalnya.

__ADS_1


Asya menggelengkan kepala melihat sikap konyol El. Dia seperti anak ABG yang marah pada kekasihnya, sangat kekanakan. Saat ia hendak pergi, El kembali menariknya, meminta Asya untuk duduk disampingnya.


Sebenarnya gadis itu tidak ingin, ia lebih menyukai bermain dengan para ponakannya. Tapi jika El tidak dituruti, pasti akan ada keributan.


Setelah Asya duduk di sofa, El berpindah duduk dibawah, agar sang istri bisa memijat kepalanya.


"Imo, katanya pergi sebentar, malah disini sama Om" gerutu keponakan Asya yang paling tua.


"Maaf ya Rendi, duduk sini aja, kamu gak mau nonton bola?" Sahut Asya.


Rendi menggeleng dan pergi setelah ia mengatakan jika dirinya lebih menyukai basket ketimbang sepak bola. Selepas Rendi, satu persatu keponakan kecil Asya berdatangan dan bergantian memanggil dirinya untuk bermain. Tetapi, Asya tidak bisa bermain karena harus memijat kepala suaminya.


"El, biarkan istrimu pergi. Mereka suka berada didekatnya" pinta Kakek El.


"Tidak, dia milikku Kek. Aku tidak mau mereka menghabiskan waktu lebih banyak dengan Asya ketimbang aku" jawab El. Ia sungguh kekanakan, padahal sudah memiliki banyak keponakan.


Nenek tidak peduli dengan apa yang El katakan, beliau menarik Asya agar bisa bermain dengan para cicitnya. Tapi sekali lagi El malah mengancam, "Ayah, Bunda, katakan pada mereka, jika dia berusaha menyentuh Asya. Aku akan pergi bersama istriku dan tak akan kembali lagi"


Asya pikir, suaminya sudah sangat keterlaluan, ia pun berbisik meminta waktu untuk berbincang dengan El sebentar. Merekapun pergi kedalam kamar El untuk berbincang.


"Mas, jangan seperti itu. Mas El beruntung, Kakek dan Nenek Mas masih ada. Aku juga merindukan Kakek Nenek ku"


"Kau tidak ingat mereka merendahkanmu?"


"Mas, orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anak mereka. Kakek dan Nenek hanya ingin mengenalku, mereka ingin yang terbaik untuk Mas El"


El membuang napasnya kasar, ia tidak mengerti dengan jalan pikir istrinya. Jelas mereka semua berusaha merendahkan Asya, tapi gadis itu malah berpikir yang sebaliknya. El tak suka jika ada seseorang atau siapapun itu berusaha menghina istrinya. Karena jika mereka menghina Asya, maka mereka juga menghina El. Itulah yang El pikirkan.


"Yasudah, kita disini saja, kita habiskan malam berdua saja" bisik El. Ia mulai menggendong istrinya dan menidurkannya diatas ranjang.


Malam itu sangat dingin, karena mereka berada jauh dari kota. Bahkan tak ada satupun suara bising kendaraan, sangat sunyi.


El mulai mengecup bibir istrinya beberapa kali, kemudian tidur disamping Asya.

__ADS_1


"Sayang, aku tidak suka ketika mereka menghinamu. Karena kau dan aku adalah satu Asya" bisik El ketika mendekap istrinya dengan erat.


__ADS_2