Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 85


__ADS_3

Asya begitu antusias menunggu Jihan di parkiran kampus. Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela agar bisa melihat suasana kampus. Rindu, Asya merindukan ia berjalan dan bercanda di disana bersama para sahabatnya.


"Jihaaannn" teriak Asya kala melihat Jihan berjalan dengan beberapa teman wanitanya.


Gadis itu bergegas keluar mobil dan memeluk Jihan dengan sangat erat. Beberapa teman mereka juga antusias melihat kehadiran Asya. Para wanita itu langsung saja berbincang dengan berbagai topik disana. Hingga Asya lupa tujuan awalnya.


"Asya" panggil Gita yang berdiri tak jauh dari mereka. Nando juga terlihat disana, sepertinya berita tentang hubungan Gita dan Nando telah tersebar. Sebab teman-teman Asya segera menjauh, mencari tempat lain untuk mereka berbincang.


"Hai Git, oh iya, ini buat adik kamu" ucap Asya seraya memberikan bingkisan yang ada ditangannya.


"Hai Sya, kamu..."


"Tidak, jangan mendekati ku Nando. Suamiku melihat, aku tidak ingin dia salah paham lagi"


Jihan dan yang lain mengajak Asya pergi menjauh dari Gita. Mereka penasaran ingin melihat seperti apa sosok suami Asya itu. Asya menoleh ke arah mobil suaminya, rupanya El berada di luar mobil dan tengah berbincang dengan salah satu dosen Asya.


"Itu suami loe Sya? Ganteng banget"


"Iya wah, tapi wajahnya familiar, kayak pernah lihat deh"


"Oh oh, kalian ingat gak waktu kelas, Pak Rupdi kan pernah nunjukkin beberapa pebisnis yang beliau akui pekerjaannya. Dia, Pak Elvin Adhitama kan?"


Setelah penjelasan salah seorang teman Asya, mereka baru mengingatnya. Bahkan Asya yang sudah lama hidup dengan suaminya pun tak mengingat hal itu. Rupanya El memang sangat terkenal di kalangan pebisnis dan para pecinta bisnis.


Asya segera mengajak Jihan pergi setelah El memanggilnya. Mereka tidak memiliki banyak waktu lagi sebelum malam tiba. Bahkan mereka juga belum belanja pakaian untuk ke pesta nanti malam.


"Kok Mas El disini?" Tanya Asya kala mendapati suaminya yang duduk di bangku belakang.


El mengedipkan matanya dan menggerakkan dagunya agar Asya cepat naik ke mobil. Asya mengerti dan membukakan pintu untuk Jihan, mungkin ini ide El untuk mendekatkan Zio dan Jihan.


"Sya, nyokap gue buat puding kesukaan loe"


"Aaah suka, makasih ya buat Tante. Oh iya Adik Ipar ku juga suka puding loh"


"Adik Ipar?"


"Hm... Panggil aja Mas Zio, dia belum punya istri, pacar, apalagi anak"


Jihan tersenyum dan mengangguk sambil menatap Zio. Asya sangat bersemangat melihat kedua sahabat baiknya menjadi dekat dalam waktu singkat. El memperhatikan istrinya yang tertawa sendiri sambil membuka bungkusan dari Jihan.


"Sya, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa Mas?"

__ADS_1


"Gita. Apa kau yakin yang dikandungnya adalah anak Nando?"


"Mas El mau bicara apa? Jangan bertele-tele"


"Hm... Aku sering melihatnya di bar, bahkan sebelum aku bertemu denganmu. Zio juga melihatnya, dia sering datang dengan laki-laki yang berbeda"


"Mas..."


"Aku tahu, aku hanya merasa kasihan jika sebenarnya itu bukan anak Nando"


Asya mengehentikan memakan pudding nya. Ia menghembuskan napasnya perlahan dan menatap ke jendela luar. Mungkin apa yang El pikirkan benar, tapi tetap saja mereka berdua pernah melakukannya. Asya sangat kecewa.


"Adiknya Gita, itu adalah putrinya kan?"


"Mas El cukup. Mas mau apa sih? Biarkan saj itu urusan mereka. Aku tidak mau ikut campur"


"Anaknya Gita? Maaf Pak El, apa maksud anda?" Sela Jihan.


"Kau tidak tahu Jihan? Gita tidak memberitahumu? Dia bilang, dia sudah memberitahu kebenaran itu padamu" sahut Asya bingung.


Terlihat jelas jika Jihan tidak tahu apapun tentang kehidupan Gita. Kebenaran besar dibalik siapa orang tua asli adik perempuan Gita. Asya telah mengetahuinya, sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Karena Gita yang tiba-tiba tidak masuk sekolah selama beberapa hari.


Awalnya Asya percaya jika Gita sedang sakit, namun ia memergoki Gita yang tengah menyusui adiknya. Asya juga kecewa setelah mengetahui semuanya, namun Gita berdalih jika dia dilecehkan dan hanya Asya dan Jihan yang mengetahuinya.


"Baiklah Nona-nona sepertinya kalian tidak ingin ikut campur urusan mereka. Jika kalian berubah pikiran, hubungi saja aku. Aku akan mencari kebenarannya" ujar Zio. Ia mencoba menenangkan kedua gadis yang tengah marah itu. Perkataan El tak tahu waktu dan tempat.


Perjalanan mereka cukup jauh, bahkan Asya dan Jihan tertidur selama perjalanan. Tapi untungnya mereka sampai sebelum hari menjelang malam. Mereka memesan tiga kamar hotel, tentu Asya dan El harus sekamar.


"Jihan, bersiaplah, pegawai di kamarmu akan membantumu berdandan. Kau harus tampil cantik sebagai pasangan Zio"


"P..pasangan?"


"Ah, Asya mengajakmu agar bisa menemani adik iparnya. Ia juga khawatir padamu"


"Terimakasih Pak Elvin, maaf merepotkan"


"Sebagai gantinya, turuti saja kemauan sahabatmu ini. Lihat, dia masih tertidur pulas" ujar El seraya menatap Asya yang berada di gendongan nya.


Jihan tersenyum dan mengangguk, tentu ia tak akan menolak permintaan Asya. Sebab gadis itu begitu baik padanya. Setelah sampai di kamar masing-masing, El menidurkan istrinya diatas kasur. Ia mulai menciumi pipi Asya agar terbangun. Walau butuh waktu beberapa menit, akhirnya Asya pun bangun.


"Mas El? Kita udah sampai?"


"Kamu tidur mulu, yuk mandi, yang lain udah siap-siap"

__ADS_1


"Mandi sama Mas El? Gak mau ah, mau mandi sendiri"


El yang tidak menerima penolakan, langsung menggendong istrinya masuk kedalam kamar mandi.


"Mandi sama suaminya sendiri kok gak mau sih?"


"Bukan gak mau, tapi Mas El..ih tuh kan"


Tentu saja, El dengan semua tingkah nakalnya. Asya hanya bisa menurut karena mereka sudah terlanjur didalam kamar mandi.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Selepas mandi, Asya juga bersiap dibantu oleh seorang sttaf yang El pesan. Dengan gaun cantik dan riasan ringan, Asya terlihat seperti seorang istri Presdir. Anggun dan mengesankan, tubuhnya dibalut dengan gaun biru yang memperlihatkan lekuk tubuh Asya.


"Cantiknya Nyonya El" puji El seraya mengecup kening istrinya.


"Mas, Jihan dan Adik Ipar bagaimana?"


"Sesuai permintaan Nyonya El, mereka seperti pasangan tentunya"


Asya yang telah selesai berdandan, bergegas keluar kamarnya menuju kamar Jihan. Sahabatnya sedang dirias, gaun merah marun itu sangat cocok untuk Jihan.


"Jihan, cantik bangeett"


"Asya? Loe..m.. kamu juga cantik"


"Eh, kok ngomong nya formal banget"


"Biar gak keceplosan nanti, pasti ada banyak pengusaha kan? Pak Elvin menjelaskan segalanya"


"Pak Elvin? Mas El tidak memperbolehkan mu memanggilnya Mas ya?"


"Hanya Nyonya El yang boleh. Lagipula, sulit memanggilnya seperti itu, kami tidak sedekat itu Asya"


Asya tertawa terbahak-bahak, jawaban Jihan cukup masuk akal. Ia meminta staff itu bekerja dengan cepat, karena pasti para lelaki sudah menunggu mereka.


Mereka berempat terlihat seperti dua pasangan serasi. El dan Asya mengenakan pakaian berwarna biru. Sedangkan Zio dan Jihan mengenakan pakaian berwarna merah marun.


"Jihan, kau tidak keberatan kan? Maaf ya aku membuatmu berada disini" bisik Asya pada Jihan.


"Oh ayolah Asya, baru sekarang loe minta maaf? Bercanda, gue seneng bisa kesini, butuh suasana baru"


Keduanya sangat asik berbisik-bisik, hingga melupakan kedua pria mereka yang sudah berjalan jauh di depan.

__ADS_1


__ADS_2