Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 97


__ADS_3

"Mmh.. ini masakan Bunda kalian kan? Kenapa dia memasak, ada banyak koki disini" ucap El seraya menyantap makanannya.


Para koki yang mendengar hal itu saling berpandangan, mereka terkejut sebab Tuannya bisa mengetahui jika itu adalah masakan Asya.


"Ayah tahu rasa masakan Bunda?" Tanya Kai penasaran.


"Tentu saja, Ayah tahu semua tentang Bunda kalian. Semuanya" jawab El sembari menatap Asya.


Gadis itu tak peduli sama sekali, ia hanya fokus membantu Key yang belepotan saat makan. Berbeda dengan Kai yang sangat rapi, Key sedikit berantakan.


El menatap kepala koki, menggerakkan kepalanya meminta mereka semua untuk pergi meninggalkan ruang makan. El tentunya tak ingin di ganggu ketika sedang menghabiskan waktu bersama keluarganya.


Selepas makan, si kembar kembali menuju ruang keluarga melanjutkan menonton televisi. Asya meminta El untuk mandi kemudian berkumpul bersama dengan si kembar.


"Bunda, bagaimana Ayah bisa tahu jika itu masakan Bunda? Semua masakan sama-sama enak" Tanya Kai yang masih penasaran. Ia duduk bersandar di tubuh Asya, menatap Bundanya dengan penuh tanda tanya.


Asya tampak berpikir, ia mengatakan pada Kai untuk menayangkan hal itu pada sang Ayah, sebab hanya El yang tahu jawabannya. Setelah belajar cukup lama, si kembar mengantuk dan meminta Asya mengantar mereka masuk kedalam kamar.


"Bunda, tidurlah bersama dengan Ayah. Aku akan menjaga si kecil" ucap Kai seraya memeluk adiknya.


"Kalian tidak ingin tidur bersama Bunda?"


Mendengar pertanyaan itu, Key bangun dari tidurnya dan langsung memeluk Asya. Tentu saja mereka ingin tidur bersama dengan Bunda mereka. Tapi jika ada El, biasanya Asya akan tidur bersamanya. Karena itulah si kembar sudah terbiasa dengan hal itu.


"Ayah boleh masuk?" Celetuk El yang berdiri di pintu.


"Ayahhh" teriak Key kegirangan. Ia berdiri dari pelukan Asya dan melompat-lompat melihat El yang datang.


"Boleh Ayah tidur bersama kalian?"


Kai dan Key saling berpandangan, keduanya mengangguk dan menarik El agar duduk diatas ranjang bersama mereka. Key tampak berpikir sejenak, ia sedang memilih ingin tidur di samping Ayah atau Bunda nya. Asya melirik ke arah Kai yang sedari tadi memandangi Ayahnya, seperti si sulung sudah memutuskan dengan siapa ia ingin tidur. Tak ingin hilang kesempatan, Asya menarik si bungsu dalam pelukannya.


"Kau tidak akan bisa tidur jika Bunda tidak berada di sampingmu" ucap Asya seraya mendekap Key dan menghujaninya dengan ciuman.

__ADS_1


El tertawa melihat istri dan anak bungsunya, ia kemudian menoleh ke arah Kai yang tampak ragu mendekati dirinya. Entah kenapa kedua pria itu terlihat canggung ketika bersama-sama.


"Apa kalian tahu, saat kalian belum bisa berjalan, kalian selalu merengek meminta gendong pada Ayah kalian. Saat Bunda menggendong kalian, kalian akan menangis dan terus memanggil Ayah kalian"


"Benarkah Bunda? Itu tidak mungkin, aku sayang Bunda, aku suka bersama Bunda" jawab Key menggemaskan.


"Itu semua benar, terutama Kai, ia tak pernah mau pergi dari pangkuan Ayah" sela El sembari menarik Kau agar tidur di dekatnya.


Key tertawa kecil, ia mengejek Kai yang bertingkah seperti anak kecil. Padahal nyatanya mereka berdua masih sama-sama anak kecil. Si kembar dengan tenang mulai memejamkan matanya karena kantuk. Asya menepuk pelan tubuh si kembar secara bergantian. Sambil El mendongeng tentang seorang pangeran yang bertemu dengan putri raja. Kisah yang El ceritakan adalah kisah cintanya dengan Asya, dengan bahasa aneh dan kakunya sukses membuat Asya tertawa kecil karenanya.


Beberapakali si kembar bahkan berceletuk jika sang pangeran sangatlah jahat dan kejam. Tapi El lalu menunjukkan sifat baik sang pangeran, tapi tetap imej kejamnya tak bisa hilang dari pikiran Kai dan Key.


El menarik selimut untuk menyelimuti mereka, ia juga menarik tangan Asya.


"Mas, ih, ada anak-anak loh"


"Gak lihat juga, gak tahan sayang" rengek El manja. Ia memaksakan tangan Asya untuk masuk kedalam celana El. Untuk menciptakan kenikmatan yang El inginkan.


"Auh, oh iya, kalian besok ikut Ayah ya"


"Kemana Yah?" Tanya Kai.


"Kerja. Ayah mau jadikan kalian ambasador di butik kita"


"Mas El punya butik? Mas El membuka banyak usaha dan tidak memberitahu ku. Memangnya aku ini apa Mas?"


"Bukan gitu sayang, baru jalan setahun kok. Ternyata ramai, aku udah punya tiga cabang di kota ini dan satu lagi diluar kota"


Asya hanya berdehem, ia menarik tangannya dan memilih memejamkan mata. Kai dan Key juga melakukan hal yang sama, meninggalkan El yang hanya bisa meminta maaf karena tak bercerita kepada sang istri. Asya memang kecewa, tapi disisi lain ia sangat bangga, suaminya semakin sukses.


El kembali membujuk sang istri dan anaknya untuk pergi esok hari, ia memang harus berdiskusi dengan kepala cabang untuk menentukan ambasador butik mereka. Juga meresmikan brand mereka yang kini sudah memiliki hak paten.


"Aku juga ikut jadi ambasador nya Mas?"

__ADS_1


"Tidak, hanya anak-anak saja. Aku tidak mau kau wajah cantikmu bisa dilihat oleh dunia. Hanya aku yang boleh melihatnya"


"Hm......"


"Iya besok aku beliin kamu baju baru, dress kesukaan kamu. Oke?"


"Oke, sekarang bintang besar kita harus tidur ya. Besok kalian akan difoto, em... Bunda gak sabar, kalian pasti kelihatan ganteng banget"


El menyela, mengatakan jika si kembar tentu akan terlihat tampan karena dirinya juga yang tertampan. Asya mengakui nya, begitu juga dengan si kembar yang tertawa mendengar sang Ayah memuji dirinya sendiri.


Beberapa menit berlalu, si kembar sudah terlelap dalam tidur mereka. Asya juga mulai mengantuk, ia mencoba memejamkan matanya, namun sang suami tak ingin melepaskannya begitu saja. El mengganggu Asya, menarik rambut wanita itu dengan sedikit bertenaga.


"Ada apa Mas?" Tanya Asya berbisik.


"Ayo, gantian, aku juga mau bobo sama kamu" jawab El berbisik juga.


"Tadi katanya mau tidur sama anak-anak?"


"Tapi kan mereka sudah tidur sayang, ayo ah, kalau kamu gak mau aku pergi loh ya"


El bangun dari tidurnya, begitu juga dengan Asya. Tetapi pemuda itu tak berjalan keluar kamar, melainkan pergi menghampiri sang istri. Ia menggendong Asya menuju kamar mereka, masih saja pria yang romantis. Ia baringkan tubuh istrinya perlahan, mengelus pipi Asya dan mencubitnya perlahan.


"Asya, apa kau ingin pergi ke suatu tempat? Berlibur atau apapun itu, hal yang tidak bisa kau lakukan saat masih remaja"


"Berhenti menyalahkan dirimu Mas, ini juga keinginan ku. Aku bahagia memiliki putra kembar yang tampan seperti Ayahnya, aku sangat beruntung"


"Maafkan aku Asya, aku selalu menyesal setiap kali aku mengingat. Seandainya kita tak memiliki anak lebih awal, kau pasti sudah menghabiskan masa remajaku dengan banyak hal menyenangkan"


"Tidak seperti Mas El yang sudah menonton film dewasa saat masih berusia dua belas tahun. Jangan ajarkan itu pada anak kita ya"


El memeluk erat tubuh istrinya. Seandainya waktu dapat di ulang, ia tak akan menyentuh Asya sesering itu. Ia sedikit menyesal sebab sang istri menghabiskan masa remajanya untuk mengurus dua orang anak sekaligus.


Padahal Asya tak keberatan sama sekali, ia bahagia dengan hidupnya. Hidup yang membuatnya seperti layaknya seorang Ratu.

__ADS_1


__ADS_2