Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 34


__ADS_3

Setelah El keluar kamar, Asya menutup pintu kamar tamu. Ia menyenderkan tubuhnya di balik pintu.


"Kenapa hatiku rasanya sakit, bukankah sudah sewajarnya Mas El menyentuh ku? Setiap kali aku mengingat malam itu, aku kembali mengingat bayangan wanita lain" lirih Asya. Air matanya kembali tumpah tanpa ijin darinya.


"Aku tidak pernah tahu, jika ini lebih menyakitkan dari apa yang aku bayangkan. Aku pikir akan mudah membagi hati jika aku menerima semuanya"


"Sejauh apa Papa akan menyakiti aku? Tidak Asya, jangan salahkan Papa. Aku hanya perlu menerima semuanya, tahan, aku pasti bisa"


Asya masih terus mencoba meyakinkan dirinya. Jika pilihan Papa mungkin adalah yang terbaik untuknya. Asya tak ingin membuat Papa semakin kecewa dan membenci kehadirannya. Karena itu, ia mencoba melapangkan hati untuk menerima semua yang datang, walau berakhir menyakitkan.


El menggerakkan gagang pintu, mencoba masuk ke kamar tamu untuk menemui Asya. Gadis itu terkejut dan tersadar dari lamunannya. Ia segera menyeka air matanya dan menyalakan mode ceria di wajah.


"Ayo berangkat Nyonya El" ajak El sembari menarik tangan Asya.


"Mas gak mau makan dulu?" Tanya Asya.


"Gak laper, kamu laper? Yaudah nanti mampir makan dulu, Ipah udah pulang, dia gak masak hari ini"


Asya menatap suaminya dengan senyum kikuk. Ia rupanya masih belum bisa menyembunyikan rasa sakit itu. Asya memeluk suaminya, mengeluarkan semua air mata yang telah ia bendung.


"Ada apa Asya?" Ujar El seraya mengelus kepala istrinya.


"Tidak apa-apa Mas. Aku hanya merasa takut bertemu dengan Papa" jawab Asya dalam isak tangisnya.


El mengecup pucuk kepala istrinya, meyakinkan Asya jika semuanya akan baik-baik saja. Dan El berjanji, tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Asya, bahkan jika itu Papa mertuanya sekalipun.


"Asya, ingusmu menempel di bajuku" celetuk El.


Asya sontak tertawa dan mengelap ingusnya. Ia meninju pelan perut suaminya yang nakal itu.


"Ayo berangkat, Mama pasti udah nungguin" ajak El. Asya mengangguk dan mengikuti suaminya masuk kedalam mobil.


El melajukan mobilnya pergi, di perjalanan mereka hanya diam tak ada perbincangan. Asya hanya menatap ke ke samping, memandangi setiap orang yang mereka lewati begitu saja.


"Sya, kamu udah selesai ujian?" Tanya El memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Udah Mas. Sekarang tinggal nunggu hasilnya aja. Kenapa Mas?"


"Sebentar lagi semester empat ya? Hm, masih lama lulusnya"


"Ada apa sih Mas? Mas El mau punya anak?" Celetuk Asya melantur setelah melihat anak kecil di pinggir jalan.


El dengan tegas menolak pemikiran itu. Ia mengatakan pada Asya jika tidak ingin memiliki anak, sampai kapanpun, ia tidak akan mau.


"Kok gitu Mas? Ya jangan dong Mas" ucap Asya.


"Turun Sya, kita beli buah buat Mama" jawab El lalu turun dari mobil.


Asya turun dari mobil dengan perasaan kesal, karena El tak menjawab dan malah mengalihkan pembicaraan. Walau begitu, ia hanya bisa diam dan mengikuti kemana suaminya pergi.


"Sya, kamu beli sendiri ya, aku mau angkat telepon dulu" ujar El lalu pergi menjauh dari keramaian.


"Huh, katanya libur, tapi masih aja terima telepon. Pasti kerjaan lagi, kan Mas El yang mau beli buah, kenapa jadi aku? Dasar cowok aneh" gerutu Asya kesal.


Asya masuk kedalam supermarket dan menuju area dimana buah-buahan dijual. Ia memilah-milah buah kesukaan Mamanya. Sembari sesekali berbincang dengan pegawai supermarket disana.


"Manis Mbak, semanis saya. Hehehe" jawab pegawai tersebut. Ia membantu Asya memilih jeruk yang segar dan manis.


"Hahaha, Masnya bisa aja. Pasti ceweknya sering di gombalin deh"


"Belum punya pacar saya Mbak, masih jomblo"


"Terus kenapa kalau masih jomblo?" Sela seseorang dengan nada dingin.


Asya dan pegawai itu sontak menoleh ke asal suara. El terlihat berdiri dengan tatapan kesalnya. Memandangi pegawai itu, seolah ingin menerkamnya.


"Kalau udah selesai belanjanya, ayo pergi" imbuh El ketus.


Asya bergegas memberikan semua buah yang telah ia pilih, lalu membayarnya dan pergi. Tak lupa ia juga meminta maaf pada pegawai itu atas perlakuan suaminya.


Dalam perjalanan menuju mobil, El bahkan tak menatap Asya. Ia membiarkan Asya membawa buah-buahan itu dan berjalan dibelakangnya. Gadis itu juga tak mengatakan apapun, ia hanya diam mengikuti suaminya.

__ADS_1


"Pak El, haiii" sapa seseorang berjalan mendekati Asya dan El.


El terlihat membuka tangannya, seolah menyambut kehadiran wanita itu. Dengan gayanya yang centil, wanita itu berjalan dan memeluk El dengan sangat mesra. Begitu juga dengan El, yang membalas pelukan itu.


Mereka berdua berbincang singkat, diselingi tangan El yang tak lepas dari pinggang sang wanita.


Asya hanya bisa menatap mereka, dan menahan beratnya buah-buahan yang ia beli. Gadis itu tak penasaran dengan apa yang suaminya perbincangkan, tetapi tangan nakal suaminya itu mengusik pemandangan Asya. Bagaimana tidak, El mencoba mengelus tubuh wanita lain dihadapan Asya, tepat dihadapan istrinya.


"Tahan Asya, biarkan saja suamimu berbuat semaunya" gumam Asya lalu pergi masuk kedalam mobil.


"Oh, cewek barunya Pak El ya? Tumben gak seksi seperti biasa" celetuk wanita itu kala memandang Asya yang masuk kedalam mobil El.


"Saya harus pergi, salam untuk Papamu" ujar El lalu kembali memeluk wanita itu sebelum masuk ke dalam mobil.


Setelah El masuk, ia langsung melajukan mobilnya. Suasana menjadi sangat canggung di dalam mobil. Bahkan Asya memilih memejamkan matanya dan menyenderkan tubuhnya pada pintu mobil.


"Kamu kenapa pakai ngobrol sama pegawai itu? Pakai segala bahas-bahas pacar. Emang kamu punya pacar?" Oceh El dengan amarahnya.


"Apa sih Mas? Harusnya aku yang marah, didepanku Mas El pegang-pegang wanita lain. Huh lucu" jawab Asya ketus.


"Kamu marah? Cemburu?"


"Gak, lakukan apapun yang Mas El suka. Aku tidak peduli"


El menepikan mobilnya, didepan rumah Mama. Ia tak turun dari mobil, melainkan mendekatkan tubuhnya ke Asya. El menarik perlahan dagu istrinya, memulai ciuman singkat dengan sang istri.


"Aku tidak menyukai siapapun yang berusaha mendekatimu, karena kamu hanyalah milikku Asya" ujar El lalu kembali melu mat bibir mungil istrinya.


Asya mendorong El menjauh, ia menatap mata suaminya. "Terus Mas El bukan hanya milikku? Apa aku harus rela berbagi suami dengan banyak wanita? Itu yang Mas inginkan?"


El mengelus pipi istrinya, membuat Asya merasa geli karenanya. Ia kembali mengecup bibir Asya beberapa kali. Sebelum memulai ciuman singkat sepihak yang hanya dilakukan oleh El.


Cukup lama, hingga akhirnya El menyerah karena tak ada respon apapun dari Asya.


"Asya, sebanyak apapun wanita yang datang dalam hidupku. Hanya kamu yang akan dikenal oleh semua orang sebagai istriku, Nyonya El" bisik El lalu mengecup singkat pipi Asya.

__ADS_1


__ADS_2