Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 74


__ADS_3

Asya, Adelia dan Aqilla sedang berdiri didepan rumah Kinan. Mereka ingin menjenguk Kinan dan membawakan beberapa bingkisan. Beberapa kali ketukan pintu, akhirnya Kinan membuka rumahnya untuk Asya.


"Asya"


"Mbak Kinan, selamat ya, mau lihat baby"


Kinan tersenyum dan meminta Asya masuk kedalam rumahnya. Dimas terlihat tengah menggendong putri nya. Asya sedikit terkejut, ia merasa ragu untuk mendekat. Tetapi Dimas terlihat sangat ramah, ia bahkan meminta Asya untuk menggendong putrinya.


"Imo, adik cantik ya" ujar Aqilla.


Asya mengangguk dengan senyuman lebar. Ia terlihat sangat bahagia bisa menggendong bayi Kinan. Ia bahkan berfoto dengannya dan mengirimkan pada El.


"Mas Dimas gak kerja?" Tanya Asya.


"Belum dapat kerjaan lagi. Asya, maaf jika saya pernah kasar padamu. Tapi bisakah kau meminta suamimu untuk membantu saya?"


"Mas El? Bantuan apa Mas? Akan aku sampaikan padanya"


"Ceritakan saja seperti apa yang saya katakan padamu"


Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. Ia terus memuji betapa cantiknya putri kecil Kinan. Ingin rasanya Asya berlama-lama disana.


"Nyonya, Nyonya" teriak bodyguard Asya yang menggedor pintu rumah Kinan.


"Ada apa?"


"Kita pulang, ini perintah Tuan"


Tak ada yang bisa Asya lakukan, bodyguard nya memaksa dirinya kembali kerumah bersama Adelia dan Aqilla. Bodohnya Asya, harusnya ia tak mengirimkan foto pada El.


Adelia yang penasaran, mulai membuka pembicaraan. Menanyakan alasan dibalik ketatnya penjagaan Asya. Tetapi gadis itu memilih diam dan tak mengatakan apapun, ia malah mencari topik lain. Merekomendasikan drama baru pada Adelia, agar mereka bisa menontonnya bersama.


"Gila emang suaminya" celetuk Asya kesal.


"Iya parah ini Sya"


Mereka berdua larut dalam menonton drama tersebut. Karena alurnya mengenai perselingkuhan. Kedua istri itu terus saja mengoceh tanpa henti. Mereka terus memaki pelakor itu tanpa henti. Drama yang sangat menguras energi.


Tetapi terkadang Asya terkesan dengan bagaimana adegan panas antara pelakor dengan suami orang itu. Ia ingin bisa bermain seperti itu dengan El tentunya.


Hari sudah sore, tetapi Asya masih betah menonton drama itu. Adelia sedang sibuk mandi dan memandikan Aqilla bersamanya. Tak berselang lama, Farel pun tiba dan bergabung bersama Asya diruang tamu.


"Kenapa kau marah? Apa yang sedang kau lihat?"


"Oh Mas Farel? Kapan pulang?"


"Asya, Asya kau terlalu fokus pada tontonan mu"


"Ya, habisnya suaminya nyebelin. Padahal istrinya juga cantik, tapi pelakor itu hm... dia sangat licik"


Ceklek....

__ADS_1


El baru saja masuk dan langsung disambut oleh tatapan Asya yang penuh curiga. Gadis itu menarik El dan mendudukkannya di sofa. Ia mulai mengendus-endus pakaian suaminya, jika saja ada parfum lain yang menempel disana.


Farel hanya bisa tertawa melihat kejadian menarik didepan matanya.


"Ada apa sayang?"


"Mas El habis ketemu cewek ya? Kok bau parfumnya campur-campur sih?"


"Kan dari kantor Sya, ada banyak orang" sela Farel yang masih tertawa.


Asya mengangguk setuju, ia kemudian meminta kedua ponsel El. Memeriksa setiap pesan dan history telepon suaminya. Tak ada yang aneh, bahkan setiap nama di kontak El, Asya periksa dengan seksama.


"Kamu ngapain sih sayang?"


"Awas aja kalau Mas El selingkuh"


"Ngaco deh, ayo mandi gerah nih. Kamu juga belum mandi kan?"


"Kok Mas El tau?"


"Kecut soalnya" goda El seraya menggelitik tubuh istrinya.


El menggendong istrinya naik ke atas kamar. Farel sudah terbiasa melihatnya, ia hanya bisa tertawa kecil melihat itu semua.


Setelah mandi, Asya turun lebih dulu. Ia bergegas memasak untuk makan malam. Diruang tamu, terlihat Farel dan Aqilla yang sedang asik menonton televisi bersama. Adelia membantu Asya memasak didapur.


Tak berselang lama, El turun dan duduk disamping Kakaknya. Mereka terlihat sangat manis ketika bersama.


"Jangan sebut namanya dirumah ini"


"Mas, kasihan loh Mbak Kinan, mereka kan baru punya anak Mas"


"Asya diam"


Walau sudah diperingatkan, Asya masih terus memohon pada El. Hati Asya tak tega melihat orang lain kesusahan, terlebih jika semua itu karena ulah suaminya. Farel yang mendengar, menyela pembicaraan mereka. Menawarkan pekerjaan pada Dimas agar bekerja di perusahaannya.


Tapi sekali lagi El melarang, dia sangat tegas menentang keputusan Kakak nya.


"Biarkan saja El, istrimu ingin membantu"


"Mas, pria brengsek itu udah dua kali nyakitin Asya"


"Apa? Nyakitin gimana?"


"Dia nampar Asya"


Setelah mendengarkan penjelasan El, Farel berubah pikiran. Amarahnya muncul kala mengetahui adik iparnya disakiti oleh orang asing. Penawaran itu batal, Farel justru memarahi Asya. Sikap El ini untuk melindunginya, tapi gadis itu malah mencoba mencari cara lain.


Asya menghembuskan napasnya kasar, jelas saja Kaka adik ini pasti memiliki pemikiran yang sama. Ia hanya bisa menatap Adelia dengan sedih. Sedangkan Adelia, menepuk punggung Asya, memintanya bersabar.


Makan malam telah siap, kini mereka semua duduk dimeja makan.

__ADS_1


"Om El, gak marah lagi kan sama Imo?"


"Kenapa Om El marah sayang? Dia itu memang seperti anak kecil, ngambek gak jelas kalau gak dikasih permen"


"Ahahhah, lucu ya Imo"


"Kamu juga lucu banget, gemes deh" ucap Asya seraya menciumi pipi Aqilla.


Selepas makan, El mengajak Farel ke kamarnya, membicarakan masalah diantara mereka. Asya juga ikut bergabung, meninggalkan Adelia dan Aqilla yang sedang menonton televisi diruang tamu.


"Kita beritahu Ayah dan Bunda" ucap El.


"El, itu tidak mungkin"


"Perusahaan Mas Farel akan bangkrut jika terus mengalirkan dana pada bajingan itu"


El sangat marah setelah mengetahui semua kebenaran. Farel yang beralasan dikejar seseorang, rupanya mereka adalah rentenir. Dan rumah Farel pun harus disita karena melunasi hutang keluarga Adelia. El hanya ingin Kakaknya tahu, jika keluarga mereka pasti akan membantu.


"Mas Farel, Mas El benar, mereka pasti akan mengerti"


"Tapi Asya, ini bukan masalah kecil"


"Pikirkan anak yang ada dalam kandungan Mbak Adel juga Mas"


"Adel hamil? Ap..apa yang..." Farel segera keluar kamar dan bergegas turun menemui Adel.


Kabar gembira yang tak bisa Farel sembunyikan mengenai perasaannya ini. Asya memeluk suaminya dengan sangat erat. Ia bangga memiliki El disampingnya. Pria yang sangat mengagumkan.


"Sekarang apa?"


"Makasih ya Mas, Mas El memang suami yang hebat"


"Hanya itu?"


"I love you" ucap Asya kemudian mendekap suaminya lagi dengan sangat erat.


"Aku melakukannya untuk keluarga ku"


"Keluarga kita Mas, emangnya aku bukan keluarganya Mas El?"


"Kau yang terpenting sayang"


Setelah merenungkan cukup lama, El akhirnya mengambil keputusan. Perkataan Asya memang benar, jika El tak segera melupakan masalalu, semua akan lebih buruk pada akhirnya.


"Mas El, aku bakal punya ponakan lagi"


"Hm..."


"Berjanjilah akan menyayangi Aqilla, kumohon Mas"


"Sesuai permintaan mu, Nyonya El"

__ADS_1


__ADS_2