Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
S2 - 125


__ADS_3

Asya tengah mengompres dahi suaminya. Sambil sesekali mengelus dan menciumnya.


"Sya"


"Hm..."


"Kamu masih ingin aku mencari tahu tentang Papa?"


"Tidak, aku tidak mau terluka lagi Mas. Aku cukup bahagia dengan semua ini"


El menarik istrinya agar tidur dalam dekapannya. Ia mengelus pipi Asya dan memainkan rambutnya.


"Sayang, kamu tau gak. Jika kita ingin mendapatkan hasil yang memuaskan, pasti akan ada sesuatu yang harus dikorbankan"


"Contohnya?"


"Aku bisa menjadi seorang pengusaha sebesar ini, karena saat muda aku menghabiskan waktuku untuk bergulat dengan usahaku"


"Karena itu Mas El jarang pulang kerumah dan gila kerja? Itu tidak baik untuk kesehatan Mas"


"Tapi itu baik untuk masa depanku sayang. Sekarang lihat, aku bisa berlibur kapanpun aku mau demi istriku dan putra kita" jelas El seraya mencium kening istrinya.


Hangat, Asya merasakan hawa panas dari tubuh suaminya. Ia mematikan AC lalu kembali memeluk El.


"Aku juga Mas, aku menahan semua rasa sakit dan hari ini aku adalah seorang Ratu. Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau, rasa sakit adalah bagian dari proses"


El tertawa, ia melepas kaosnya lalu melepas pakaian atas istrinya. El kembali memeluk Asya, pasti istrinya merasakan rasa hangat itu kela memeluk El. Merekapun terlelap dalam tidur sambil berpelukan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Esok menjelang...


"Udah turun demamnya, ganteng banget sih suamiku jadi males bagi-bagi" gumam Asya seraya menciumi pipi suaminya.


"Kamu juga cantik banget" bisik El yang terbangun karena perlakuan manis istrinya. Ia menarik Asya agar semakin dekat, lalu menggelitik leher istrinya dengan bibirnya.


"Mmh... ah"


"Kamu mau anak cewek kan Sya?"


"Emh... Ma..mas, ma..mau"


"Yuk bikin"


"Tapi kalau nanti jadinya gak cewek gimana Mas?"


"Ya bikin lagi sampai dapat cewek"


Asya membelalakkan matanya lebar, ia berusaha lari dari El yang terlihat seperti hewan buas kelaparan. Dengan cepat Asya menggeleng, ia mengatakan lebih baik memiliki Kai dan Key saja. Ia tak ingin anak lagi.

__ADS_1


"Aku mau mandi Mas" ujar Asya berusaha lepas dari genggaman sang suami.


"Uhuk-uhuk"


Suara batuk El membuat Asya kembali mendekati nya. Asya langsung memeriksa kembali suhu badan sang suami.


"Tau gak kenapa aku kasih pengawalan ketat buat kamu dan anak-anak?"


"Kenapa Mas? Karena kamu takut aku selingkuh kan?"


"Bukan. Karena ada banyak orang yang mengincarmu. Asya, aku berjanji pada Papa akan menjaga keselamatan putrinya. Karena itu aku akan selalu memastikan kau aman"


"Memangnya aku punya musuh Mas?"


"Mana ada orang yang musuhan sama bidadari secantik kamu sayang. Iih dada kamu gemes deh. Masih kenyal aja, jadi pingin minum susu"


El menarik tubuh istrinya sekali lagi, ia memainkan dada Asya dengan bibirnya. Masih sama, tak berubah sama sekali rasanya.


"Mas, jawab dulu. Kenapa ada yang mau nyakitin aku?"


"Karena kamu istriku, pengusaha muda sukses. Dan menantu dari keluarga Winarso"


"Mas, terus aku harus apa?"


"Gak perlu ngapa-ngapain, cukup susui aku saja"


"Ah, cowok mesum. Serius dong"


Asya kembali mencoba menarik dirinya, tapi El semakin ganas memainkan dadanya. Erangan Asya membuat El semakin menikmati permainannya. Cukup lama El bermain disana, hingga Asya tak bisa lagi menahannya. Ia semakin menikmati sentuhan sang suami.


"Bundaa, Bundaaa" teriak Kai dari HT.


Asya refleks memukul kepala suaminya dan mengalihkan El dari tubuhnya.


"Ada apa Kai?"


"Bunda, apa Ayah sudah pulang?"


"Ada apa Kai? Ayah sedang minum susu Bunda. Kamu tidur lagi saja, bangun agak siang ya sayang" teriak El menyela.


Pletakk....


Sekali lagi Asya menjitak kepala suaminya.


"Aku boleh tidur lagi Bunda? Aku masih mengantuk"


"Boleh sayang tidur lagi, nanti Ayah bangunkan"


Asya menatap El dengan kesal. Ia menaruh HT nya dan bersiap menghampiri si kembar. Tapi El sekali lagi menahannya, ia masih tak rela melepaskan Asya pergi.

__ADS_1


"Kamu sayang aku kan Sya?"


"Jangan mulai deh, udah ah aku mau ke anak-anak dulu Mas" jawab Asya lalu bergegas pergi secepat kilat usai membenarkan pakaian nya.


Asya masuk kedalam kamar si kembar, kedua putranya masih terlelap. Sepertinya Kau benar-benar masih mengantuk. Ia pun pergi keluar kamar si kembar, tapi El menghalangi jalannya.


"Sya, janji kita gak akan bertengkar lagi kan?"


"Bukan aku, harusnya kamu. Mas El kan suka marah-marah gak jelas karena cemburu. Aneh"


El ******* bibir istrinya dengan agresif. Asya terdorong masuk kembali ke kamar si kembar. Ia takut kedua putranya akan melihat, tapi El juga tak bisa dihentikan. Satu-satunya cara adalah, Asya menendang milik suaminya lalu berlari pergi.


"Nak nakal" gerutu El sembari memegangi miliknya. Ia ikut mengerjai Asya keluar kamar, mencari keberadaan istrinya. Mereka seperti anak kecil terus berlarian di dalam rumah. Bahkan para pelayan yang melihat hanya bisa ikut tersenyum melihat keromantisan pasangan itu.


"Kena kamu" ucap El menangkap istrinya. Ia menggendong Asya dan berputar-putar seperti anak kecil.


"Mas, mas, pusing tau. Lepasin ah"


"Aku bahagia Sya, hidup bersamamu. Hanya dengan hal sederhana, membuatmu tertawa. Aku pun ikut merasakan bahagia karenanya"


"Aku juga Mas, tapi..."


"Tapi apa sayang?"


"Iler kamu tuh jorok ahahaha. Iuuu" teriak Asya kembali melarikan diri.


Sekali lagi mereka bermain kejar-kejaran hingga membuat si kembar terbangun. Kai dan Key ikut bermain mengejar Asya, tentu saja mereka ada dipihak sang Ayah.


"Eh curang, kok kalian belain Ayah sih. Gak ada yang sayang Bunda ya?" Rengek Asya seperti anak kecil.


Kai dan Key malah tertawa, mereka masih berusaha menangkap Asya. Hingga Asya menyerah dan membiarkan ketiga pria itu menangkap nya. Mereka menghujani Asya dengan ciuman dan pelukan.


Bahagia itu sederhana, pikir Asya dalam benaknya. Ia berganti menghujani kedua putranya dengan ciuman.


"Ayahnya belum dicium nih" celeteku El dengan wajah sedihnya.


"Ayo cium Ayah" seru Asya memulai. Kai dan Key pun ikut menghujani sang Ayah dengan senyuman.


Aku yakin, Asya bahagia hidup bersamaku. Kami adalah keluarga, terlepas dari masalalu dan masalah lainnya. Aku dan Asya adalah pasangan yang bahagia. Aku sangat yakin akan hal itu. Nando, Asya milikku, kau ataupun pria lain tak berhak atas dia. Karena kebahagiaan Asya adalah aku dan putra kami.


El mendekap istri dan anaknya. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil ngos-ngosan kelelahan.


"Aku sayang Ayah dan Bunda" ucap Key seraya memeluk leher Asya dengan erat.


"Aku juga sayang Ayah dan Bunda" ujar Kai memeluk Asya dan Kei.


Asya terdorong dan jatuh dalam dekapan suaminya.


"Tapi Bunda kalian cuma sayang Ayah" goda El seraya menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Aayyaaahhh" rengek si kembar bersamaan.


...°****TaMaT°****...


__ADS_2