Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 99


__ADS_3

Asya tengah menyirami tanaman di halaman depan rumahnya. Di temani oleh beberapa tukang kebun dan pengawal tentunya. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu dengan istri Tuannya.


"Nyonya, bunga apa yang anda suka? Saya akan menanam nya" tanya salah seorang tukang kebun.


"Apapun, aku menyukai semua bunga. Em.. apakah kita bisa menanam sayuran dan buah disini?"


"Tentu Nyonya, Tuan memiliki kebun buah dan sayur di bangunan lain. Apa Nyonya ingin melihat?"


"Bukankah Tuan kalian aneh, dia bahkan tidak pernah menatap tanaman. Tapi lihatlah betapa banyak yang ia tanam"


Para tukang kebun itu hanya bisa tersenyum, mereka juga heran pada awalnya. Tapi kini semua terjawab, sebab istri Tuan mereka sangat menyukai tanaman. Bahkan sebelum Asya meminta, El sudah lebih dulu menyiapkan semuanya.


"Kakak Ipar, selamat pagi" sapa Zio memasuki halaman.


"Pagi, kau datang pagi sekali. Apakah ada pekerjaan penting?"


"Tidak, aku akan meminta ijin untuk libur, mengurus sisa kebutuhan pernikahan ku"


"Kau mengurusnya sendiri? Biar aku menemanimu, aku ingin jalan-jalan"


"Kaka Ipar temani Jihan saja untuk memilih gaunnya. Aku akan mengurus yang lain bersama El, dimana dia?"


Asya meminta Zio untuk masuk kedalam kamarnya. Sebab El dan si kembar pasti masih di dalam kamar mandi. Ia juga berpesan pada Zio untuk memakaikan pakaian yang telah Asya siapkan di atas tempat tidur.


Beberapa menit kemudian..


"Asyaa"


"Bundaa"


"Ada apa?" Tanya Asya menoleh ke arah kamarnya. Terlihat El dan si kembar yang berada di balkon kamar Asya hanya dengan handuk menutupi bagian bawah ketiganya.


"Kenapa kau mengirim pria bodoh ini untuk mengurus kami?"


"Aku tidak mau dengannya Bunda, dia bodoh" imbuh Kai.


"Aku juga tida mau dengan Om bodoh" timpal Key.


"Apa Bunda mengajarkan kalian untuk berkata kasar seperti itu?" Teriak Asya kesal.


El, Kai dan Key saling berpandangan. Mereka tiba-tiba saja berubah pikiran, dan meminta Asya untuk tidak datang ke kamar. Terlanjur kesal, Asya menghentikan aktivitasnya dan menuju kamar. Bisa-bisanya si kembar mengatakan hal menyakitkan seperti itu.


"Dimana mereka?" Tanya Asya seraya melihat sekitar. Tak ada siapapun disana, kecuali El yang duduk diatas ranjang tanpa mengenakan apapun. Asya tak peduli pada suaminya, ia hendak keluar lagi tapi El malah merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


"Hm.. kau akan meninggalkan ku seperti ini?"


"Kau memang sangat nakal" ucap Asya lalu menutup pintu kamar mereka dan menguncinya. Ia menghampiri El, kemudian menjewer telinga suaminya dengan sekuat tenaga.


"Sakit sayang"


"Jangan pernah ajarkan hal kasar pada mereka, atau aku benar-benar akan menjauhi Mas El"


El menarik Asya dalam pangkuannya, ia berjanji tidak akan mengatakan hal kasar lagi di depan kedua putranya. Selagi mereka hanya berdua, El mulai nakal lagi. Tapi Asya menghentikannya dan meminta sang suami untuk segera memakai pakaiannya. Sebab Zio dan El harus segera pergi untuk mengurus acara pernikahan Zio.


El lebih dulu turun ke meja makan, sedangkan Asya mengganti pakaiannya.


"Astaga, apa yang kau lakukan pada kedua putraku Zio?" Tanya El kala melihat kedua putranya yang memakai baju tak karuan.


"El, aku belum pernah mengurus anak kecil"


"Aku tidak ikut campur, Asya pasti akan menelanmu melihat semua ini"


Tak lama, Asya pun turun dengan gaun selutut kesukaannya. Ia mengenakan gaun berwarna senada dengan kemeja suaminya, kuning yang cerah.


"Ha? Adik ipar, kau apakan putraku?"


"A...anu Kakak ipar, beg..begini"


Asya mulai merapikan pakaian si kembar yang compang-camping. Si kembar juga memakai kemeja berwarna kuning cerah. Kai dengan setelan jas seperti sang Ayah, dan Key dengan pakaian suspender yang lucu. Kai ingin terlihat berwibawa seperti Ayahnya.


"Bunda, apakah kita hari ini akan pergi?" Tanya Key penasaran.


"Apa kau lupa? Ayah mengajak kita untuk bekerja" jawab Kai.


"Ahhaha, Ayah lupa, kita tidak jadi bekerja hari ini"


Kai menatap Ayahnya dengan marah. Sebelum sang anak merengek, El lebih dulu menjelaskan situasinya. Mereka akan tetap pergi, tetapi untuk mengurus semua persiapan pernikahan Zio dan Jihan. Juga membeli mobil-mobilan untuk si kembar.


"El, kau tau benar cara mengendalikan anakmu sekarang" ejek Zio.


"Sial.... ah tentu, haha kau, hahaha" ucap El terbata-bata sebab Asya memandangi dirinya dengan mata melotot.


Asya kembali mengurus kedua putranya. Membantu keduanya untuk makan dengan rapi agar tak mengotori pakaian mereka.


Setelah makan, mereka semua pergi ke rumah Jihan. Zio dengan mobilnya dan El bersama keluarga kecilnya. Si kembar sangat bahagia bisa berkeliling kota hari itu. Mereka sangat bosan berada di rumah.


Di rumah Jihan...

__ADS_1


Ini adalah pertama kalinya Asya bertemu dengan Jihan lagi dan keluarganya setelah lima tahun. Mereka menyambut Asya dan putra kembarnya dengan sangat ramah. Dan tentu saja, pernikahan Jihan menambah kisah diantara kedua sahabat karib itu.


"Asya, anak-anak kamu ganteng banget. Lucu, gemesin" ucap Jihan seraya menepuk pelan pipi si kembar.


"Terimakasih Tante Jihan" ucap si kembar bersamaan.


"Aaah lucu, jadi pingin"


"Adik ipar, di kode tuh" sahut Asya sembari mengedipkan matanya.


"Nakal ya kedip-kedip ke cowok lain" sela El. Ia menutup mata Asya dengan tangannya.


Orang tua Jihan sangat ramah, mereka menyuguhkan banyak camilan, tapi sayangnya mereka semua harus pergi. Asya berjanji akan bermain ke rumah Jihan lagi bersama dengan si kembar. Hanya dengan itu kedua orang tua Jihan merelakan mereka pergi.


Jalanan kota sangat macet pagi ini, mereka terjebak selama berjam-jam. Demi menuju pusat perbelanjaan besar di kota. El sudah menyarankan untuk membeli di butik tempatnya dan Asya membeli baju dulu, tapi Jihan memiliki pilihannya sendiri. Dan sebagai calon suami nya, Zio tentu menuruti sang istri.


"Bunda, mau pipis" celetuk Kai ditengah kemacetan.


"Tahan ya sayang, nanti Ayah Carikan hotel terdekat" jawab El menenangkan.


Asya tentu tak tinggal diam, ia berpindah ke kursi belakang, mengambil botol dan membantu si kecil untuk buang air kecil. Setelah itu, Asya membersihkannya dengan tisu basah.


El mencuri-curi pandang apa yang di lakukan istrinya. Setelah Asya kembali duduk di depan ia menatap istrinya dengan penuh harapan.


"Apa Mas?"


"Mau pipis juga"


"Nih"


"Bantuin dong"


Asya mencubit paha suaminya setelah tersadar maksud El sebenarnya. Ia melirik ke arah si kembar yang kembali tertidur di belakang. El selesai buang air kecil, dan Asya membantu sang suami yang manja membersihkan dengan tisu basah. Wajah suaminya sangat menggemaskan.


"Sya, kita jadi gak bisa berduaan ya. Kangen deh kayak dulu"


"Bisa Mas, si kembar lagi tidur"


El sontak menoleh kebelakang, kemudian menatap Asya dengan senyuman nakalnya. Langsung saja ia melepas sabuk pengaman Asya dan ditariknya sang istri dalam pangkuannya.


"Mas, gak gini juga sayang"


"Sekali-kali gak apa-apa" jawab El yang langsung memulai ciuman manis dengan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2