
Asya sedang dalam perjalanan pulang setelah berbelanja beberapa bahan tambahan. Disaat seperti ini, bodyguard nya sangat berguna untuk membantu mengangkat belanjaannya.
"Bu RT, Ibu-ibu maaf ya saya lama" ucap Asya turun dari mobil. Ia meminta para bodyguard yang ada didepan rumahnya membantu menurunkan belanjaannya.
"Wah, makin banyak aja sekarang masaknya" ucap Bu RT.
"Iya Bu, suami saya yang membelanjakan"
"Assyaaa" panggil seorang gadis menghampiri dan memeluknya.
Spontan pengawal Asya bergerak, hendak menarik gadis itu menjauh dari Nyonya nya. Tapi Asya menghentikan mereka dan membalas pelukan temannya itu. Icha, anak Bapak dan Ibu RT yang pernah diceritakan oleh Pak RT pada El. Akhirnya Asya dan Icha bertemu juga.
Asya sangat senang, ia meminta semua tamunya untuk masuk kedalam. Pertama kalinya para Ibu-ibu itu masuk kedalam rumah El, padahal pemuda itu sudah lama tinggal disana. Tapi memang El tak pernah bersahabat dengan para tetangganya.
Mereka memuji betapa cantik dan rapinya rumah Asya. Ditambah dengan taman belakang rumah Asya yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang cantik.
"Rumah kamu bagus sekali Asya" puji salah seorang Ibu-ibu.
"Terimakasih Bu, eh Mbak Ipah kesini?" Ucap Asya terkejut kala menatap Ipah yang memasuki rumah.
"Iya Nya, disuruh Tuan El"
Asya berlari dan memeluk Ipah dengan girang. Harusnya Asya membicarakan ini dari lama pada El, sebab suaminya pasti akan membantu Asya. Hanya saja perasaan takut El akan marah itu terus menghantui Asya. Ia menata semua tamunya, tapi tidak menemukan Kinan disana. Padahal Kinan bilang ingin ikut serta juga.
Gadis itu menyiapkan semua bahan dan peralatan, lalu membiarkan para Ibu-ibu memulai lebih dahulu. Sebab ia ingin pergi dan menjemput Kinan bersama dengan Icha.
"Mbak Kinan"
Ttokkkk... Ttokkkk.... Ttokkkk.....
Asya terus mengetuk pintu dan memanggil nama Kinan. Selang beberapa saat, pintu terbuka. Terlihat Kinan menyambut keduanya dengan senyuman lebar.
"Asya, Icha, ada apa?"
"Mbak Kinan gak mau ikut kita masak-masak? Buat acara sosial Asya mbak"
Kinan sejenak menatap Asya yang tersenyum, ia tampak sedikit ragu disana. Sebenarnya ia ingin sekali ikut, tetapi suaminya melarang Kinan untuk dekat dengan Asya. Dan sebagai seorang istri yang baik, Kinan menuruti perkataan suaminya walau ia tak tahu alasan yang jelas.
__ADS_1
"Maaf ya, aku gak bisa ikut" jawab Kinan lalu menutup pintu rumahnya kembali.
Asya dan Icha saling berpandangan, mereka kemudian berbalik badan. Pemandangan ini, para Ibu-ibu itu tengah menatap ke arah rumah Kinan. Sesaat setelah menyadari Asya dan Icha hendak kembali, mereka bergegas kembali ke tempat masing-masing, melanjutkan pekerjaannya.
"Asya, biarkan saja. Dia memang seperti itu, kau melihat suaminya jalan dengan wanita lain ya?" Tanya salah seorang Ibu-ibu.
Asya yang awalnya ragu lalu mengangguk membenarkan. Itu sudah biasa, saat Dimas tahu jika para Ibu-ibu itu melihatnya, ia juga meminta Kinan untuk menjauhi Ibu-ibu itu. Kinan yang selalu didalam rumah, tak pernah bergaul dengan tetangga karena suaminya sedikit tidak waras. Padahal menjadi Ibu rumah tangga bukan berarti selalu berada di rumah.
Gadis itu menepis sejenak perasaan sedihnya, ia kembali melanjutkan acara memasaknya. Pekerjaan terasa begitu ringan dan sangat cepat kala para Ibu-ibu tetangga, juga para ART mereka ikut membantu memasak.
Setelah makanan siap, Asya menghubungi seseorang. Beberapa menit kemudian, para tamunya berdatangan. Asya sudah menggelar tikar, menata minuman dan camilan disana. Anak-anak kecil mulai berlarian datang dan menyambar camilan tersebut.
"Kalian harus berdiri disini ya?" Tanya Asya pada para bodyguard nya.
"Iya Nyonya, kami harus mematikan anda baik-baik saja"
"Tapi kalian nakutin tamu saya, masuk kerumah aja deh"
"Tidak bisa Nyonya"
Asya hanya bisa menggeleng, mereka sama keras kepalanya dengan suami Asya. Padahal itu memang tugas mereka, Asya saja yang tidak mengerti.
Setelah selesai makan, Asya juga memberikan bungkusan makanan juga amplop berisi uang. Ini benar-benar adalah kemauan El, sebelumnya Asya tak pernah memberi uang karena takut suaminya curiga. Tapi ini, ia berkata jika suaminya memberi sedikit bantuan.
"Terimakasih banyak nak, semoga kamu dan suami segera diberi momongan"
Harapan dan doa itu, membuat Asya tersenyum lebar. Secara tak langsung, kebahagiaan ini datang karena El. Selalu saja, suaminya itu ada dibalik setiap kebahagiaan Asya.
"Wah, lain kali ajak kami lagi ya Sya"
"Siap Bu RT, terimakasih ya semuanya"
Para Ibu-ibu itu berpamitan pergi. Kini tinggal Asya, Ipah dan para bodyguard Asya. Gadis itu meminta Ipah menyiapkan makanan untuk para bodyguard nya. Dengan paksaan, ia akhirnya bisa membujuk para bodyguard itu untuk makan.
Hari menjelang sore, sebentar lagi El pasti pulang kantor. Asya nampak duduk diluar berbincang dengan Ipah dan para bodyguard.
Sesekali ia melirik ke arah rumah Kinan yang sepi itu. Rasa khawatir masih menyelimuti perasaan Asya.
__ADS_1
Pyaarrr.....
Terdengar suara pecahan dari rumah Kinan. Tanpa pikir panjang, Asya berlari dan menggedor-nggedor pintu rumahnya. Hingga membuat beberapa tetangga keluar rumah dan ikut berteriak bersama Asya.
Beberapa detik berlalu cukup lama, namun pintu tak kunjung dibuka. Asya mencoba masuk, tapi pintu terkunci. Karena tak ada jawaban, dengan ijin Pak RT, para bodyguard Asya mendobrak pintu.
Setelah pintu terbuka, Asya dan Pak RT sebagai perwakilan masuk kedalam rumah Kinan. Rupanya wanita itu sudah tergeletak pingsan disamping pecahan gelas. Tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi dengan Kinan.
Para pengawal Asya kembali dipanggil, untuk membantu membawa Kinan ke rumah sakit. Sayangnya Agus telah pergi, tidak ada mobil siap pakai yang terlihat.
"Mas El, Mass" teriak Asya kala melihat mobil suaminya mendekat.
El bergegas turun dan menghampiri istrinya. Ia menatap Asya dengan bingung. Sejenak setelah itu, ia memandangi area rumah tetangganya yang dipenuhi oleh warga.
"Mas, anterin Mbak Kinan ayo Mas cepet"
"Bawa masuk"
Setelah mendengar perintah El, para bodyguard Asya membawa Kinan masuk kedalam mobil. Tetapi bukan El yang menyetir, ia memberikan kunci mobil pada salah satu bodyguard istrinya.
"Jangan ikut, kau disini saja" ucap El menarik tangan istrinya yang hendak masuk kedalam mobil.
"Mbak Ipah, ikut Mbak" pinta Asya.
Ipah mengangguk dan segera masuk kedalam mobil. Kinan pergi bersama dengan bodyguard Asya, Ipah, dan Bapak Ibu RT.
Para warga lalu kembali kerumah masing-masing, begitu juga dengan Asya yang harus menemani suaminya.
Wajah Asya tampak sangat khawatir, ia tak henti-hentinya bergumam dan menunggu telepon dari Ipah. El yang menatap istrinya merasa kesal, karena Asya masih saja memedulikan istri seseorang yang sudah menampar nya tanpa alasan.
"Sayang, duduk dan dengarkan aku" ujar El.
Asya mengikuti perkataan suaminya dan duduk disamping El.
"Sya, jangan dekat-dekat dengan dia kau mengerti. Ini terakhir kalinya"
"Tapi Mas El"
__ADS_1
"Ini perintah"
Asya hanya bisa mengangguk menerima perintah dari suaminya.