Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 28


__ADS_3

"Sangat mengecewakan Asya, padahal aku memperlakukanmu sebagai istri ku. Aku berusaha yang terbaik untukmu" jelas El lalu pergi dari hadapan Asya.


Asya mengejar suaminya, mengikuti El yang pergi menuju kamar mereka. Asya terus meminta maaf, ia memang salah mengartikan kebaikan El.


Malam itu, saat El mengatakan ingin tidur sembari memeluk Asya, Asya mendapat telepon dari Zio. Telepon itu masuk pada pukul dua pagi. Awalnya Asya pikir Zio salah sambung, namun setelah Asya mengangkatnya, terdengar suara Zio begitu lirih dan bergetar, seolah ia baru saja menangis.


Semalaman Zio meminta maaf pada Asya, dalam isak tangisnya, ia merasa begitu bersalah. Karena perkataan Zio, Asya hampir saja kehilangan nyawanya.


Zio memberitahu Asya, betapa El sangat menyayangi Asya. Semua yang El lakukan untuk Asya, Zio sebutkan demi mengembalikan kepercayaan Asya pada suaminya. Ada banyak pertanyaan yang terlontar dari bibir Asya, ini dan itu, bahkan ia mengatakan pada Zio bagaimana perasaannya saat El memperlakukannya dengan sangat baik.


Dari sanalah Zio tahu, sikap dingin Asya karena hatinya masih ragu. Sebab hatinya masih mempertanyakan posisinya dalam hidup El. Namun dengan tenang, Zio mencoba membuat Asya mengerti. Jika sampai kapanpun, hanya Asya yang akan dikenal sebagai istri El. Zio sangat yakin akan hal tersebut.


Setelah perbincangan singkat dengan Zio, Asya kembali memikirkan semuanya. Ia menatap suaminya yang masih tertidur pulas. Mengelus pipi El lalu mengecupnya singkat. "Maafkan aku Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan pernah pergi dari Mas El" bisik Asya.


Asya telah menyadari semua kesalahannya, ia juga sudah meminta maaf pada suaminya. Namun El tentu saja terluka, jika kebaikannya hanya dipandang sebelah mata.


"Mas, aku kan udah minta maaf. Aku gak akan ngulangin lagi kok, janji deh" rengek Asya sembari menggoyang-goyangkan lengan El.


El yang hendak mengambil baju, memalingkan tubuhnya menatap Asya. Menatap istrinya dengan tatapan tajam dan dingin. Asya yang melihat segera menunduk ketakutan, ia lalu mundur memberi jarak antara dirinya dan El. Berpikir jika El mungkin marah karena sikap kekanakannya.


"Ehm Mas El" kata Asya terkejut kala El menarik pinggangnya mendekat.


"Aku maafin, tapi layani aku malam ini ya" bisik El pelan.


Ah, sungguh suara El terdengar begitu seksi di telinga Asya. Hingga membuat gadis itu memeluk El saking senangnya. Entah apa yang membuat Asya bahagia, El memaafkan dirinya atau permintaan yang tak terduga itu.


"Aku mandi di bawah ya, kamu juga mandi gih. Terus buatin aku makan, laper, dari tadi kan yang makan cuma kamu" goda El sembari memperagakan seolah perutnya buncit.


Asya tersenyum dan mengangguk, ia mengambil bajunya dan bergegas untuk mandi. Seperti biasa, Asya sangat suka bermain air, ia mandi cukup lama hingga El hampir saja tertidur karena menunggunya.


Ceklek....

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka, Asya keluar dengan balutan handuk putih ditubuhnya. Dengan langkah kecil, ia berlari menuju lemari, dan memilih pakaian yang hendak ia kenakan.


"Aaahh" Asya tersentak kaget ketika tubuhnya berputar karena El menarik handuk yang ia pakai.


"Aaaahhh, Mas El mesuuum" teriak Asya sembari mencoba menutupi tubuhnya. El melihat Asya dengan senyuman kecil diwajah, pemandangan yang ia sukai.


El menarik Asya dalam dekapannya, Asya terlihat sangat menggoda hanya dengan pakaian d*lam berwarna merah muda dengan bintik-bintik putih. El tak bisa menahan senyumannya, istrinya terlihat sangat lucu bagi El.


"Aku kan suamimu, dan kamu milikku, jadi..." ucapan El terpotong ketika mendengar suara pintu terbuka.


Syam terengah-engah didepan pintu, ia berlari secepat mungkin setelah mendengar teriakkan Asya. El segera membalut tubuh Asya dengan handuk dan menyembunyikan gadis itu dibelakang tubuhnya.


"Mas, aku dengar Asya teriak" ucap Syam yang masih terengah-engah.


"Aku gak apa-apa kok Mas, Mas Syam keluar aja" jawab Asya sembari menunjukkan wajahnya pada Syam.


Syam masih tak percaya, ia mencoba berjalan masuk kedalam kamar.


Syam berhenti dan sejenak berpikir, lalu ia pergi dengan tawa kecil setelah menatap wajah El yang telah memerah. Pemuda itu menatap Syam dengan senyuman kaku, kegugupannya jelas terlihat seolah dirinya tertangkap basah melakukan hal yang salah.


El meminta Asya untuk segera memakai baju dan turun, sedang El lebih dulu keluar kamar untuk berbincang dengan Syam.


"Syam, ada masalah apa?" Tanya El menghampiri Syam yang sedang duduk diruang tamu.


"Biasa Mas, Papa. Aku kalah tender, dia marah-marah, pusing aku Mas" curhat Syam.


"Panggil El aja, aku kan sekarang adik iparmu. Santai saja jika berbicara denganku" balas El. Ia menepuk pundak Syam, dan mengatakan jika kalah tender adalah hal biasa. El juga memberi Syam beberapa kiat mengenai bisnis.


Bisnis adalah topik yang sangat pas untuk mendekatkan kedua saudara ipar ini. Mereka begitu santai dengan obrolan dan memahami satu sama lain.


"Mas Syam mau makan apa? Aku masakin ya, pasti lapar" sela Asya.

__ADS_1


"Wah, suka ya disini. Papa gak akan bisa larang kamu ini dan itu. El baik kan sama kamu, dia pasti manjain kamu. Hehehe" goda Syam pada Asya.


Selama dirumah, Asya tak pernah sekali saja berbuat semaunya, Papa memberi Asya peraturan yang begitu ketat. Bahkan mengenai pakaian yang ia kenakan. Kini Syam bisa melihat Asya begitu nyaman, bahagia hanya karena mengenakan pakaian yang ia sukai.


Asya berjalan melewati El dan duduk dipangkuan Syam. Ia memeluk dan mencium pipi Syam. "Aku sayang Mas Syam, jangan minum lagi ya. Gak baik buat kesehatan" oceh Asya sembari mencubit gemas pipi Kakaknya.


El menarik tangan istrinya, membuat Asya duduk dipangkuannya. "Kamu sudah bukan milik keluargamu lagi, sekarang kamu milikku" ujar El seraya mencium tangan Asya.


Perlakuan El lagi-lagi membuat Asya tersipu malu, ia segera berdiri dan berjalan menuju dapur.


Asya menata semua belanjaannya, sebagian ia masukkan kedalam kulkas dan yang lainnya ia masukkan ke dalam wadah setiap bumbu.


"Cantik" bisik seseorang sambil menggendong Asya. Ia mendudukkan Asya di atas meja dapur.


"Mas El, nanti Mas Syam lihat loh" ujar Asya pelan.


"Aku suruh dia mandi diatas" ucap El.


Asya menoleh, diruang tamu memang tak ada siapapun, hanya televisi yang menyala. El kembali melangkah mendekatkan jarak diantara mereka, membuat Asya lagi-lagi tersipu malu karenanya.


El menaruh kedua tangan Asya dipundaknya, lalu ia memegang pinggang istrinya. Tangan nakal El mulai ia masukkan kedalam kaos yang Asya kenakan, meraba punggung halus itu.


El hendak melepas kaitan pakaian d*lam Asya, namun matanya tak sengaja bertatapan dengan Syam yang baru saja turun.


"Aku ganggu lagi ya" celetuk Syam seraya menutup mata dengan kedua tangannya.


Asya segera menoleh dan menatap Syam, "Gak kok Mas, kita gak ngapa-ngapain"


"Gagal lagi deh" bisik El dengan wajah lesuhnya.


Asya menatap wajah suaminya, El terlihat sangat menggemaskan. Asya mencium singkat pucuk hidung El dan turun dari atas meja. Ia kembali menata belanjaannya, sedangkan El juga kembali menuju ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2