
El pergi keluar ruangan menemui Zio.
"Ini ulahmu kan? Berapa banyak dia minum?" Tanya El langsung ke intinya.
"Hanya satu gelas kecil ini, apa tidak berpengaruh?"
"Dia pingsan. Kerjamu sangat bagus, aku akan membawanya pulang sekarang"
"Kau tidak jadi pergi minum kan?"
"Tidak Tuan. Kosongkan jadwalku untuk besok, aku ingin bersama Asya seharian, karena besok ia tak ada kelas"
Zio mengangguk, ia segera mengatur ulang jadwal El. Sedangkan El kembali masuk ke dalam ruangan dan menguncinya lagi. Sangat disayangkan jika permainan El harus terhenti seperti ini. Ia kembali duduk di sofa, memandangi istrinya yang terbaring dengan mata terpejam.
"Ah tidak, kita lanjutkan di rumah saja" gumam El sembari merapikan kembali pakaian istrinya.
El membuka pintu dan meminta bantuan Zio agar menaruh Asya dipunggungnya. Setelah mengemas semua barangnya, El membawa Asya pulang ke rumah.
"Aku antar El?" Tanya Zio selagi membantu memasukkan barang-barang El dan Asya.
"Tidak perlu, kau pulanglah. Sampai jumpa" jawab El lalu masuk kedalam mobilnya.
El melajukan mobilnya menuju rumah, jalanan tidak terlalu macet malam itu. Namun sayangnya hujan turun begitu saja. El harus mengemudikan mobilnya perlahan karena hujan turun lumayan lebat.
Saat sampai dirumah, El membaringkan tubuh Asya di atas ranjang. Kemudian ia pergi untuk membersihkan diri. Hujan masih turun dengan sangat lebat, hawa dingin kembali menyeruak menusuk tulang.
Dinginnya hujan membuat Asya terbangun dari tidurnya. Ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing. "Aku ada dirumah? Bukannya tadi...aaahh tadi aku ngapain ya? Mmh... malu bangettt" gumam Asya yang mengingat samar perbuatannya pada El.
Drrrttt ..... Drrrt .....
Ponsel Asya berdering. Asya merogoh tasnya mengambil ponsel miliknya.
"Papa" lirih Asya setelah melihat nama Papa dilayar ponsel. Ia pun menerima panggilan masuk dari Papa nya.
Asya : "Ha..halo Pa"
Papa : "Mama kamu sakit, besok datanglah kerumah. Dia sangat merindukanmu"
__ADS_1
Asya : "Mama sakit apa Pa?"
Papa : "Tidak usah banyak tanya, Mama mu sakit itu karena memikirkan putrinya yang tak tahu malu dan keras kepala. Kau sudah menikah, berhenti membuat Papa dan Mama kecewa"
Papa lalu menutup teleponnya. Asya kembali menitihkan air matanya, Papa selalu saja menyalahkan Asya atas semua hal buruk yang terjadi.
"Apa aku ini pembawa sial?" Gumam Asya sedih.
"Itu tidak mungkin Nyonya El. Buktinya aku memenangkan banyak tender setelah menikah denganmu. Sudah jangan menangis lagi, kita bermain saja" sahut El.
El menarik Asya dalam pelukannya, mengelus lembut rambut panjang istrinya.
"Aku benci hujan" ucap Asya menahan kesedihannya.
El menarik Asya menjauh dari tubuhnya, menyeka pipi istrinya yang basah karena air mata. "Aku akan membuatmu menyukai hujan" bisik El lalu mulai mencium bibir Asya.
El sudah tidak bisa menahan keinginannya lagi, istrinya terlalu menggoda dan nafsunya sudah tak terbendung. Ia mulai menggerayangi tubuh Asya, melepas satu persatu pakaian yang Asya kenakan. Asya juga ikut larut didalamnya, mungkin efek minuman itu belum sepenuhnya hilang.
Diiringi oleh suara rintikan hujan dan hembusan angin malam. Membuat El semakin bergairah untuk bermain mesra dengan sang istri.
"Aaahh" des*h Asya terkejut.
Hingga beberapa menit berlalu sudah. El memeluk Asya dalam pelukannya. Pemuda itu menyelimuti tubuh telanjang istrinya, sembari mendekapnya dengan penuh cinta.
"Capek ya sayang" bisik El. Asya tak menjawab, ia sudah terlelap dalam tidurnya. Hari yang sangat melelahkan untuk Asya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi menjelang...
Asya mulai terbangun dari tidurnya. Kamarnya masih gelap karena tirai yang tertutup rapat. Ia mencoba menggapai ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Namun Asya masih enggan untuk bangun.
Gadis itu memaksa dirinya untuk bangun, meregangkan otot-otot tubuhnya. Asya merasakan hal aneh pagi itu, ia merasa jika dirinya tak memakai pakaian sehelai pun. Ia mencoba mengintip ke balik selimut, dan "Aaaaaaahhh" teriaknya terkejut.
"Asya ada apa?" Tanya El yang langsung terperanjat dari tidurnya.
"Mas, aku kok gak pakai baju, bajuku kemana?" Ucap Asya sembari menatap El yang masih setengah sadar.
__ADS_1
El menggeleng dan kembali melanjutkan tidurnya, membiarkan Asya mencoba mengingat kejadian semalam. Gadis itu berpikir dengan keras, mencoba mengingat apa yang terjadi setelah mendapat telepon dari Papa.
"Oh" lirik Asya seraya menatap suaminya. Ia mengingat semuanya, malam yang penuh cinta dan gairah. Malam pertama El dan Asya setelah sekian lama tertunda.
"Udah ingat ya, sini tidur lagi" celetuk El sembari menarik Asya dalam dekapannya.
"Mas, udah pagi, aku mau mandi"
"Kamu kan gak ada kelas hari ini"
"Mau kerumah Mama, Mama kan lagi sakit"
El berdehem membiarkan Asya pergi untuk mandi. Asya berjalan perlahan menuju kamar dengan selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya. Hal itu membuat El tertawa, tingkah konyol istrinya dipagi hari.
"Ini belum berakhir sayang" gumam El lalu bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan mendekati Asya dan menggendong istrinya menuju kamar mandi. Sekali lagi mereka bercinta dipagi hari ditemani rintikan air.
Setelah cukup lama didalam kamar mandi, Asya keluar dengan hanya balutan handuk ditubuhnya. Ia berusaha lari dari sang suami yang sudah kehilangan akal. Pasalnya, El tak ingin membiarkan Asya pergi darinya, ia terus saja ingin bersama Asya.
"Mas El cukup, aku capek" pinta Asya saat sang suami mulai mendekatinya lagi.
El menatap Asya, ia benar-benar lupa jika Asya bukan wanita yang biasa ia temui untuk menghabiskan malam yang penuh cinta. Namun tak bisa pemuda itu pungkiri, jika dirinya telah tergoda oleh istrinya.
Satu malam bersama Asya terus terngiang dalam benak El. Ia tak ingin kenangan itu hilang, terlebih wajah polos istrinya yang sedang mendes*h, terlihat begitu menyenangkan untuk El lihat.
"Maaf ya" ujar El sembari menarik Asya dalam peluknya.
El meminta Asya untuk segera berganti pakaian, ia juga melakukan hal yang sama. Tak perlu waktu lama untuk El berganti pakaian, setelah usai, ia segera turun kebawah.
"Ipah, habis bersih-bersih kamu pulang aja. Tidak usah masak, saya dan Asya mau pergi ke rumah orang tua Asya" pinta El lalu berjalan menuju kamar tamu.
Pemuda itu membuka leptopnya, tetapi detik kemudian ia menutupnya kembali. Ia lupa jika hari ini tak ada jadwal apapun, karena harusnya hari ini El menghabiskan waktu bersama dengan Asya.
"Mas El gak kerja?" Tanya Asya masuk kedalam kamar tamu.
"Gak, aku ikut kamu kerumah Mama. Ayo" jawab El.
"Ganti baju dulu Mas, massa Mas El mau ke Mama bajunya gini? Gak sopan namanya" pinta Asya.
__ADS_1
El hanya bisa berdehem dan berjalan dengan malas menuju kamarnya untuk berganti pakaian yang lebih rapi. Sesuai permintaan sang istri.