
"Pinggang Mas sakit lagi?"
"Dikit"
Asya bangun dari tidurnya dan mengambil minyak gosok. Ia memijat perlahan pinggang dan punggung suaminya. Bagi El, Asya adalah seorang istri yang sempurna. Apapun bisa ia lakukan, hal inilah yang membuat El berubah dan tidak lagi mencoba bermain dengan wanita lain walau jauh dari Asya. Ia adalah seorang pengusaha, tentu tak akan menyia-nyiakan berlian hanya demi kepingan besi.
"Sya, makan malam berdua yuk"
"Boleh, aku pingin makan di Lounge In the sky"
"Di Jakarta? Gak mau ke Maldives aja? Kan kita waktu itu gak jadi honeymoon disana"
"Jangan dong, kasihan anak-anak kalau pergi jauh"
"Anak-anak kita titipkan saja, hanya kita berdua"
Asya mencium pipi suaminya, mencoba membuat El mengerti jika kedua putra mereka masih sangat kecil. Masih membutuhkan El dan Asya untuk tumbuh besar. Asya berharap anak-anak mereka cepat besar agar mereka berdua bisa menikmati waktu bersama lagi. Tapi ia juga belum siap bila harus jauh dari Kai dan Key. Perasaan seorang Ibu memang membingungkan.
"Mas, gemes aku sama badannya Mas El, gak berubah tetap seksi" ujar Asya seraya meraba perut dan dada suaminya.
"Kau juga tak berubah, masih mesum"
"Hei, hahaha itu udah lama banget. Sekarang kita udah punya dua anak, mereka mirip banget sama kamu Mas"
Asya kembali menceritakan tentang perkembangan si kembar. Mereka bercita-cita menjadi seseorang yang berguna untuk masyarakat. Ingin membantu banyak orang. Kai ingin menjadi seorang pemadam kebakaran, ia ingin menolong orang-orang yang disakiti oleh api katanya. Sedangkan si kecil Key, ia ingin menjadi Tim SAR, menolong banyak orang yang terkena bahaya. Cita-cita si kembar membuat Asya menghela napasnya, ia tentu tak akan membiarkan si kembar mewujudkan hal itu.
Walau cita-cita itu mulia, tapi bagi seorang Ibu, tak akan rela jika anaknya terlibat dalam bahaya. Asya menghembuskan napasnya panjang, ia ingin si kembar hidup biasa saja sebagai pegawai kantoran. Ia tak masalah bahkan jika mendapat gaji tak seberapa, El sudah sangat kaya. Mereka tak perlu bekerja susah payah untuk mencari uang lagi.
"Sayang, putra kita harus bekerja keras, mereka harus membuat istri mereka bahagia kelak. Seperti aku menjadikanmu seorang Ratu"
"Tapi tidak dengan membahayakan diri mereka kan Mas?"
"Asya, biarkan mereka menjadi apapun yang mereka inginkan. Hanya dengan begitu mereka akan merasa bahagia"
__ADS_1
"Ih Mas El mah gak ngerti, tau ah aku mau tidur aja"
"Kau terlalu khawatir, aku tidak akan membiarkan mereka terluka sayang. Sudah hm.. kelak kau harus melepas mereka untuk wanita lain"
"Ih masih lama, gak mau ah. Mereka gak boleh cepat dewasa, aku sayang mereka. Oh iya Mas, tentang orang jahat itu, apakah semuanya sudah selesai?"
"Aku menangkap beberapa musuh, tapi musuh lain kembali muncul. Prioritas ku adalah keselamatan kalian"
Asya sejenak menatap mata suaminya, pasti El juga lelah memikirkan semua ini. Ia elus perlahan pipi El dengan penuh kasih sayang. El adalah nyawa Asya dan kedua putranya. El tak boleh terluka atau Asya dan si kembar juga akan terluka. Tak pernah sekalipun terbayang dalam benak Asya, El pergi jauh darinya untuk waktu yang lama. Kehadiran El adalah kekuatan dan semangat Asya untuk hidup bahagia.
"Aku punya hadiah buat kamu, bentar"
"Mas, besok aja kan bisa"
"Tapi kan aku mau kasih sekarang sayang"
"Mas El kan lagi gak pakai baju, jangan jalan-jalan, udah tidur aja"
"Dih, kamu doang kan yang lihat. Iya-iya, manja banget sih gak mau ditinggal" ucap El setelah melihat wajah cemberut istrinya. Ia kecup bibir istrinya singkat dan memeluknya erat. Menghabiskan malam sembari mengenang masalalu. Jika dulu El bahkan tak peduli pada perasaan Asya, kini dirinya tak pernah menolak apapun yang istrinya inginkan.
Pagi menjelang..
Asya bangun dari tidurnya seperti biasa, tapi kali ini ia merasakan sakit pada tubuhnya. Walau begitu ia tetap menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Bersiap-siap membuat sarapan untuk suami dan kedua putranya.
"Mau kemana sayang?"
"Buat sarapan"
"Tidak perlu, biarkan para koki yang memasak. Kau hanya perlu menemani aku disini"
"Nakal ya, aku mau ke kamar anak-anak. Mereka pasti sebentar lagi akan bangun"
"Aku dulu dong sayang"
__ADS_1
"Bareng aja, Mas El kan gak pernah mandi bareng mereka. Aku bawa mereka kesini ya, mereka pasti seneng mandi di bathtub besar hihihi"
"Asya, Asya, hei sayang"
Asya dengan riang berjalan menuju kamar Kai dan Key. Benar saja, kedua putranya sudah bangun dari tidurnya. Anak pintar, mereka berdua bangun dan tidak menangis. Wajah mereka menjadi ceria kala melihat Asya memasuki kamar mereka.
Tanpa basa-basi, Asya membantu si kembar untuk turun dari tempat tidur. Ia membawa putranya menuju kamar mandi di kamarnya. El sudah berada di sana, dengan bathtub yang penuh air dan busa. Asya melepaskan pakaian Kai dan Key secara bergantian, lalu memasukkan keduanya kedalam bathtub.
El menarik si kembar untuk duduk di pangkuan nya.
"Anak Ayah pintar ya, bisa bangun pagi, bagus"
"Ayah Ayah aku bisa berenang" ucap Kai seraya menunjukkan gaya renang. Key bertepuk tangan melihat Kakaknya bisa berenang dengan hebat.
"Hebat sekali, dulu Ayah atlet renang loh. Key bagaimana? Bisa berenang juga?"
Key mengangguk pasti, ia segera mencontohkan gaya renangnya. El bangga pada kedua putra kembarnya, begitu juga dengan Asya yang hanya melihat dari luar bathtub.
"Kenapa Bunda kalian tidak belajar berenang juga?"
"Hahaha, Bunda sangat penakut Ayah" jawab Kai.
"Bunda memang penakut" sela Asya lirih. Ia tersenyum menyembunyikan kenyataan yang membuatnya sedih, ia memang seorang penakut. Banyak hal yang ia takuti di dunia ini.
"Tidak apa-apa Bunda, aku ada disini. Aku akan melindungi Bunda" hibur Kai menghampiri Asya. Ia memeluk Bundanya dan mencium pipinya.
"Aku juga akan menjaga Bunda sampai aku besar nanti" sela Key yang masih sibuk bermain dengan air.
El menghampiri Asya, ia kecup kening istrinya sambil berbisik betapa ia sangat mencintai Asya.
"Asya, mandikan aku, aku ingin dimandikan" rengek El manja. Hal itu sukses membuat Kau dan Key tertawa, mereka beranggapan Ayah mereka seperti anak kecil. Ayah mereka lebih cocok menjadi si kecil daripada si bungsu Key.
"Enak aja, mandi sendiri, Mas El mandikan anak-anak juga ya. Aku mau siram tanaman, kangen banget siram tanaman sebanyak ini" ucap Asya kemudian pergi setelah memberikan kecupan pada pipi El.
__ADS_1
"Asya, sayang, hei, heiii"