Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 89


__ADS_3

Asya tertawa kecil melihat suaminya dimarahi seperti anak kecil. Ia kemudian bangun dan duduk di sofa yang berhadapan dengan suaminya.


Melihat hal itu, El berjalan dan tidur dipangkuan sang istri.


"Aku tidak menyukai Bunda sebesar aku menyayangimu Asya"


"Kau bilang apa El?" Sahut Laura.


Pemuda itu memalingkan wajahnya, ia memeluk sang istri dengan sangat manja. Asya mengelus rambut suaminya, entah mengapa perasaannya terasa aneh pagi itu. Perasaan tak menentu, ingin marah, gelisah atau apapun itu.


"Sya, apa kau tahu menantu Mbak Sulis? Hm... kalau tidak salah namanya Via" celetuk Laura membuka percakapan.


"Iya tahu Bund. Anaknya Bu Sulis KDRT kan? Dia ketahuan selingkuh, eh malah istrinya dimarahin, laki-laki aneh"


"Eh, kau sudah tahu? Bunda baru mengetahuinya, Bunda juga lihat memar ditubuh Via pagi tadi"


"Benarkah? Apakah mereka tidak bercerai? Kalian tahu kan, jika seorang pria sudah melayangkan tangannya, ia pasti akan mengulangi lagi" sela Nenek El.


Asya menatap ke arah suaminya, El terus menarik tangan Asya mencari perhatian. Laura yang melihat hal itu mencubit lengan El hingga pemuda itu kesakitan.


"Kayaknya aku masuk angin deh Bund. Perutku rasanya kembung, mual gitu"


"Apa?" Ujar Laura dan Nenek bersamaan. Keduanya segera menarik El dari pangkuan Asya, lalu mulai memperhatikan gadis itu dengan seksama. Laura mengusulkan agar mereka membawa Asya ke dokter. Ada harapan besar di benak kedua wanita tersebut.


El sempat menolak, tapi Laura dan Nenek terus bersikukuh mengantar Asya ke rumah sakit. Pada akhirnya Asya pergi kerumah sakit dengan Laura, Nenek El dan juga suaminya. Mereka berharap apa yang ada dalam pikiran mereka menjadi kenyataan.


Diruang pemeriksaan...


Dokter sedang memeriksa keadaan Asya, beliau melakukan beberapa pemeriksaan untuk Asya sesuai dengan permintaan Laura. Setelah banyak pemeriksaan akhirnya Asya bisa duduk dan mendengarkan penjelasan dari dokter.


"Bagaimana Bu? Apakah putri saya sedang mengandung?" Tanya Laura antusias.


"Selamat ya Bu, putri Ibu sedang mengandung. Usianya kandungannya sudah satu Minggu, tolong jaga kesehatan dan jangan sampai kelelahan"


"Uwaaa Bundaaa, Asya hamilll" seru Luar memeluk Ibu mertuanya. Mereka berdua tampak sangat bahagia.

__ADS_1


Asya juga tersenyum lebar mendengar hal itu, ia memeluk El dengan sangat erat. Kebahagiaan yang Asya tunggu-tunggu selama ini. El tampak biasa saja, ia keluar ruangan lebih dulu.


Selama perjalanan pulang pun, El masih tetap diam. Asya khawatir dengan suaminya, ia tahu El tidak ingin mereka memiliki anak secepat ini. Tapi, takdir menuliskan alur cerita lain.


Keluarga besar dirumah menyambut Asya dengan sangat bahagia. Mereka sudah mulai memperhatikan Asya dengan seksama. Sedangkan El, langsung saja pergi kedalam kamarnya.


"Mas" lirih Asya memanggil suaminya yang tengah tiduran di kamar.


Tak ada jawaban, El masih diam tak bergeming. Asya memutuskan untuk menghampiri sang suami dan duduk disampingnya. Ia mengelus wajah El dengan lembut.


"Maafkan aku Sya, gara-gara aku kamu jadi hamil secepat ini"


"Mas, aku bahagia ada baby El. Itu impianku, Mas El jangan seperti ini. Mas El mau melihatku sakit?"


"Tapi Sya, aku mau hidup bersama mu lebih lama lagi. Aku ingin kamu dan aku, hanya kita berdua. Aku tidak mau kamu mengabaikan ku karena ada..."


"Mas cukup, aku tidak akan mengabaikan suamiku ini. Sekarang itu giliran Mas El yang manjain aku, rawat aku dengan penuh cinta"


El masih terdiam dengan wajah cemberutnya. Asya tertawa kecil, ia menggelitik tubuh suaminya.


Asya terkekeh kemudian menjatuhkan diri dipelukan sang suami. Laura yang melihat tersenyum bangga, ia senang rumah tangga putra bungsunya baik-baik saja.


"Dulu Bunda juga manja banget waktu hamil Farel dan El. Setelah kalian berduaan, cepat turun ya, Bunda sudah telepon Airin"


Laura pergi keluar kamar, tak lupa ia menutup pintunya. Dengan harapan besar Asya akan terus bahagia sampai mereka tua nanti. Didalam kamar, Asya masih ingin tidur dalam dekapan El. El juga sama, ia tak ingin melepaskan Asya. Ada banyak kekhawatiran yang El pikirkan, kini ia tak hanya harus melindungi sang istri. Tapi juga calon anaknya.


El menatap mata istrinya, ia elus pipi Asya dengan lembut. Bagaimanapun, anak yang ada dalam kandungan Asya adalah penerusnya. Walau El tak merasa begitu bahagia sebab kehadiran baby El.


"Mas El, jangan marah" rengek Asya manja.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak sayang, ayo kita turun, semua pasti sudah menunggu"


"Mas, berjanjilah tidak akan nakal lagi. Mas El bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhku selama seminggu"


"Kau benar, mungkin aku akan mencari..."

__ADS_1


"Maaaaass, Mas El ih, tau ah"


El tersenyum kecil menatap istrinya, ia menidurkan Asya disampingnya. Hanya sesaat, sebelum Laura dan Airin masuk tanpa mengetuk pintu.


"Bunda, Mama, ayolah, kita akan pergi. Biarkan kami menghabiskan waktu sesaat" ucap El kesal. Ia bangkit dari atas kasur dan berjalan pergi keluar kamar.


Asya hanya bisa tertawa memandangi Laura dan Airin yang terdiam dengan canggung. Kedua ibu itu sangat penasaran rupanya.


"El marah? Kalian bertengkar?" Tanya Laura penasaran.


"Mana mungkin, Mbak gak lihat mereka sedang ehem.." goda Airin.


"Aaahh kalian ganggu aja ih, kan lagi pingin" rengek Asya seraya memanyunkan bibirnya.


"Asya, kau sudah mulai naka"


"Anak ini, jaga sikapmu"


Asya tertawa geli, ia lalu pergi menyusul suaminya. Meninggalkan Airin dan Laura yang masih tak percaya dengan apa yang Asya ucapkan.


Gadis itu berjalan riang turun kebawah, memanggil nama Dirga dan memeluknya erat. Wajah Dirga tampak berseri senang, begitu juga dengan Syam dan Galen. Kedua Kakak Asya juga tampak sedikit kecewa sama seperti El. Mereka memiliki pemikiran yang sama, tak ingin adik bungsunya memiliki anak di usia semuda ini.


"Apakah El sekarang harus merelakan mu seperti kami?" Celetuk Syam.


"Tentu Mas, El akan menjadi nomor dua setelah anak mereka lahir" imbuh Galen.


"Hm... itu sangat menyebalkan" sahut El.


"Mas Syam dan Mas Galen jangan mencoba menghasut suamiku. Dia sangat mudah terhasut" bisik Asya seraya memeluk kedua Kakaknya.


Laura dan Airin datang dengan heboh, makanan dan minuman mereka bawa untuk menjamu keluarga baru. Asya tampak sedikit canggung dengan semua itu, terlebih Adelia juga tengah mengandung. Ia lebih memilih duduk disamping suaminya daripadanya harus dimanjakan oleh para orang tua.


"Mas, aku gak enak sama Mbak Adel" bisik Asya lirih.


"Tidak apa sayang, dulu saat Mbak Adel hamil untuk pertama kali juga diperlakukan seperti ini. Jadi kau tenang saja" hibur El. Ia memainkan pipi istrinya dengan gemas.

__ADS_1


"El, jangan seperti itu, jaga sikapmu" ujar Adhitama. Setelah itu beberapa nasihat keluar lagi dari para orang tua. El hanya bisa diam dengan pasrah, sedangkan Asya memeluk suaminya erat.


__ADS_2