
Asya tengah menggendong Aqilla, karena keponakan kecilnya itu terus saja mengeluh sakit perut. Ia sudah mengoleskan minya angin diperut Aqilla, tetapi gadis kecil itu masih mengeluh kesakitan.
"Imo, sakit" rengek Aqilla sembari memeluk Asya.
"Mas Farel, kenapa harus istriku yang merawatnya? Dia juga harus memperhatikan aku" teriak El kesal.
Asya mencubit lengan suaminya, sebab teriakan El membuat Aqilla terkejut. Dengan cepat ia berjalan menjauh dari El sembari terus menepuk-nepuk tubuh keponakannya agar tertidur.
El masih saja mengomel di ruang tamu, ia terus memanggil-manggil nama Kakaknya. Hingga sang Kakak turun bersama istrinya.
"Ada apa El?" Tanya Farel.
"Lihat, putrimu mengambil perhatian istriku" jawab El kesal. Ia benar-benar seperti anak kecil, dengan keponakannya sendiri pun El merasa cemburu. Seolah Aqilla hendak mengambil Asya darinya.
Farel meminta Adelia untuk mengambil alih putri mereka dari tangan Asya. Tetapi Adelia malah marah dan pergi kembali ke kamarnya. Farel menatap Aqilla yang tertidur digendongan Asya, ia terlihat begitu pulas.
Sebenarnya Farel tak tega jika harus membangunkan putri kecilnya, tetapi ia juga tak ingin terlibat masalah dengan El.
"Biarkan saja" celetuk El ketika Farel hendak pergi menghampiri Asya.
Sejenak El berpikir, mungkin itu lebih baik daripada Asya terus meminta anak pada El. Setidaknya El tidak perlu mendengar permintaan konyol dari mulut istrinya.
"Maaf El, aku tidak bermaksud mengganggu waktu kalian, tapi putriku sangat menyukai Asya" ujar Farel.
El hanya berdehem, ia tak peduli akan hal itu. Berada di satu ruangan hanya dengan Kakaknya, hanya akan membuat emosinya kembali naik. El pun pergi menuju kamarnya untuk kembali mengerjakan pekerjaan kantor.
Waktu berlalu dengan cepat, mereka semua disibukkan dengan urusan masing-masing. Padahal tujuan mereka berkumpul adalah menghabiskan waktu bersama diakhir tahun. Tetapi para pria di rumah itu tak bisa lepas dari pekerjaan mereka. Bahkan para menantu juga sibuk bermain ponsel mereka.
Sedangkan Asya, ia menjadi menantu paling sibuk karena tak berhenti melakukan ini dan itu. Menjaga keponakannya, membuatkan mereka makan dan juga membersihkan rumah. Ia juga pergi keluar bersama Nenek El, membeli makanan untuk disantap saat menikmati pergantian tahun
__ADS_1
Asya kembali berkeliling desa, ia dan Nenek El menghampiri para pekerja yang masih bekerja dihari libur besar.
"Beginilah perbedaan orang desa dan kota" ucap Nenek El.
Baru saja Asya dan Nenek El berbincang sejenak, El sudah berteriak dari kejauhan. Ia berlari menghampiri istrinya.
"Asya, sepertinya cucuku terobsesi denganmu" ujar Nenek El lagi.
Asya menatap El yang berlari mendekat kearahnya. Lagi-lagi ada amarah dalam tatapan suaminya. Ia tidak mengerti, apa yang sebenarnya El khawatirkan. Padahal istrinya sedang berada didekat keluarga El. Asya ingin dekat dengan keluarga suaminya, tetapi El seolah menjadi dinding diantara mereka.
Tanpa kata apapun, El langsung menarik istrinya dengan kasar. Membawa Asya pulang kerumah, El tampak sangat kesal.
"Bundaa, Bunda" teriak El saat sampai dirumah.
Laura dan yang lainnya keluar menghampiri El yang sedang membuat keributan.
"Bunda, perintahkan pada menantumu ini, untuk diam dan tidak melakukan apapun"
"Memangnya Asya melakukan apa nak?" Sela Adhitama.
El kembali mengomel tanpa henti, ia sudah lelah memperingatkan istrinya. Ia ingin menjadikan Asya layaknya seorang Ratu, jauh dari kegiatan rumah tangga. El hanya ingin istrinya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan berbelanja seperti Iparnya yang lain.
"Nenek, tapi Papa bilang, tugas seorang istri memang mengurus rumah bukan?" Bisik Asya pada Nenek El.
Kau masih tidak menyadari El? Jika kini kau telah jatuh cinta pada istrimu, batin Nenek El.
Apapun yang Asya lakukan, El harus tahu semuanya. Namun saat gadis itu melakukan pekerjaan yang melelahkan menurut El, ia akan marah. Sebab El hanya ingin istrinya hidup bahagia layaknya seorang ratu. Ia memiliki banyak uang, ia bisa memerintah siapapun.
"Itu tugas seorang istri sayang" sahut Laura mencoba membuat putranya mengerti.
__ADS_1
"Kenapa Bunda memberiku istri seperti dia? Sebelum menikah aku sudah belajar, jika wanita hanya ingin dimanjakan tanpa mau bekerja ini dan itu. Tetapi Bunda malah memberiku sebaliknya" omel El.
El melihat semua Iparnya, mereka selalu saja berdebat dengan suami mereka hanya karena tak ingin melakukan pekerjaan rumah dan tugas lainnya. Para wanita itu berpikir jika mereka bukanlah pembantu yang harus mengerjakan ini itu.
Lalu El mulai merubah pola pikirnya, saat ia menikah nanti, pantang baginya untuk membuat sang istri bekerja. Sebab ia tak ingin rumah tangganya penuh dengan lika-liku amarah karena hal sepele.
Tetapi yang terjadi malah ia menikah dengan Asya. Wanita yang sudah di didik keras oleh Dirga untuk menjadi istri sempurna. Apapun bisa Asya lakukan tanpa mengeluh. Bukan ini yang El bayangkan selama ini.
Mungkin istrinya memang bukan wanita idaman El, tetapi setidaknya ia berharap jika Asya akan memiliki sifat seperti para Iparnya yang suka foya-foya. El bekerja siang dan malam memang untuk istrinya kelak. Ia ingin istrinya memandang dirinya sebagai suami yang diidamkan oleh para wanita.
"Berhenti bersikap konyol El, kau hanya terkejut sebab istrimu jauh dari yang kau bayangkan. Dia lebih baik dari ekspektasi konyolmu" sentak Adhitama. Beliau lalu pergi meninggalkan kerumunan itu, diikuti oleh Laura dan keluarga lainnya.
Kini kembali tinggal El, Asya dan juga Nenek El disana. Nenek kembali mendekati cucunya, menepuk pundak El dan berbisik, "Jadi kau mencintainya sekarang?"
"Tidak mungkin, itu omong kosong" jawab El. Ia memalingkan wajahnya menatap Asya yang sedang memandangi dirinya. Ia masih tak percaya jika sebenarnya hati El telah memilih Asya sebagai tempat pemberhentian terakhir.
Selama ini El pikir, sikapnya seperti ini karena tak ingin Asya pergi. Karena gadis itu adalah pembawa keberuntungan untuknya. El harus menjaga keberuntungan itu.
"Anak konyol, Nenek ingin kau segera sadar. Ada berlian berkilau yang kau acuhkan didekatmu"
"Nenek berusaha memisahkan aku dan Asya"
"Karena kau bodoh El. Nenek bisa menjamin ada banyak pria yang menunggu kau berpisah dengannya diluar sana"
Jleb, bak di tusuk pisau paling tajam. Hati El merasakan perih, apa yang Neneknya katakan memanglah benar. El tahu benar, setiap pria brengsek yang menatap istrinya saat mereka jalan berdua. Ingin rasanya El memukul setiap pria yang mencoba mencuri pandang pada istrinya.
Nenek El mencubit lengan cucunya, dan kembali mewanti-wanti El. Memberinya peringatan untuk berhenti bermain dengan wanita lain karena itu hanya akan menyakiti Asya. Nenek tahu segalanya, ia memiliki banyak informan. Bahkan saat El menikah, beliau dan Kakek El pun hadir. Hanya saja, Laura dan Adhitama menyembunyikan kehadiran keduanya dari El.
"El, mungkin sekarang dia mendengarkan mu, menerima semua tentang mu. Tapi hati wanita juga memiliki batas kesabaran. Jika kau tak bisa berubah, bersiaplah kehilangan dirinya"
__ADS_1