Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 22


__ADS_3

Flashback off.....


El berjalan menghampiri Asya. "Asya, kita pulang? Kau tidak suka berada disini kan? Pulang bersamaku" pinta El dengan sedih.


"Tidak, jangan Asya. Pulanglah bersamaku" sela Nando.


Asya menatap ke arah Papanya, beliau bahkan tak menatap Asya. Sibuk dengan ponsel ditangannya. Asya tak ingin kembali pada El, tapi ia juga tak bisa pergi bersama Nando. Gadis polos ini kembali menitihkan air matanya. Kenapa takdir selalu menarik dirinya kembali? Ke tempat yang paling ia benci dan tak ingin ia datangi.


"Imo" Teriak Aqilla yang baru saja datang bersama kedua orangtuanya.


Aqilla berlari menuju ranjang Asya, El mengangkatnya untuk duduk diranjang.


"Atit? Napa? Imo angan atit ya" ucap Aqilla dengan bahasa lucunya.


"Imo gak apa-apa kok. Aqilla makin cantik aja, gemes deh" balas Asya seraya mencium kedua pipi ponakannya.


Asya memeluk Aqilla erat, sembari menatap Mamanya. Ia yakin, kehadiran Aqilla untuk membujuk Asya pulang. Karena Asya sangat menyayangi anak kecil, terlebih kini Aqilla adalah keponakannya.


Aqilla duduk dipangkuan Asya, menyenderkan tubuhnya pada tubuh Asya. "Imo, ayo ita ain agi ya, oneka anyak, aku cuka" oceh Aqilla.


"Asya, dengarkan aku. Kumohon jangan" pinta Nando memelas. Ia tahu apa yang Asya pikirkan, kelemahan Asya.


"Nando, terimakasih ya, kamu selalu menemaniku disaat aku sedih ataupun terluka. Tapi mereka adalah keluargaku, aku harus kembali" ucap Asya.


"Asya, tapi kamu..." ucapan Nando terputus karena Jihan menyela, "Ndo, ini keputusan Asya".


"Asya, berjanjilah padaku, jika mereka membuatmu seperti ini lagi, aku benar-benar akan membawamu pergi denganku. Dengan atau tanpa seijinmu" kata Nando yang sudah tak mengerti harus bagaimana. Ia sungguh tak ingin Asya kembali pada keluarga yang hanya akan membuatnya terluka.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan mu membawanya pergi" sela El ketus.


Nando menghembuskan napasnya kasar, ia berdiri, menatap El sejenak lalu pergi meninggalkan ruangan.


"Sya, kalau ada apa-apa hubungi kita ya. Nando gak pernah pergi sedetikpun dari loe, dia yang jagain loe dari kemarin" ucap Gita lalu pergi bersama Jihan.


Setelah semua teman Asya pergi, kedua keluarga mulai berkumpul mendekati Asya.


"Tunggu, jangan mendekati aku. Aku sedang tidak ingin berada didekat kalian, termasuk Mas Syam dan Mas Galen" lirih Asya menghentikan langkah mereka.


"Asya" panggil Syam. Asya tetap menggeleng, ia benar-benar tak ingin mereka ada disekitarnya.


El meminta semua keluarganya untuk pergi keluar. Meninggalkan ia, Asya dan Aqilla didalam ruangan. Aqilla merasa sangat nyaman dalam dekapan Asya. Bahkan ia tak ingin lepas dari pelukan tersebut.


"Asya" panggil El lirih. El mengelus rambut istrinya, "Maafkan aku"


"Ini balasan untuk suami yang membuat istrinya menangis" jawab El. Asya benar-benar sudah jatuh dalam perangkap sang suami. Sebenci apapun dia, tetap saja El terlihat begitu menawan. El mengecup kening Asya, seraya mengikrarkan janji untuk berubah.


"Tidak Mas El, kita dijodohkan. Mungkin Mas El juga terpaksa untuk menikahiku. Pernikahan ini, semua karena mereka. Aku tidak ingin melihat mereka, tolong jauhkan mereka dariku. Dan Mas El tidak perlu berubah, kita bisa hidup sebagai orang asing dalam satu rumah. Terimakasih, Papa benar, harusnya aku menerima semuanya, karena Mas El juga sudah memenuhi kebutuhanku. Maafkan aku" ucap Asya lirih.


El menatap istrinya, ia merasa jika luka Asya kali ini tidak akan cepat pulih. Mungkin akan sulit membuatnya lupa, walau Asya tertawa pasti luka itu masih menyayat hatinya.


"Imo, napa angis? angan cedih" sahut Aqilla. Gadis kecil itu menyeka air mata Asya. Dengan senyum kecilnya, mengecup pipi Asya dengan penuh kasih sayang.


"Gimana Imo bisa sedih kalau punya kamu sayang, gumus deh sama Aqilla. Main ke rumah Imo yuk, Imo bosen disini" ajak Asya. Gadis itu menatap suaminya, memberikan isyarat pada El.


"Iya, aku urus administrasinya dulu ya, kalian berdua jangan nakal disini" ujar El lalu pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Ceklek......


Begitu El membuka pintu, semua mata menatapnya penuh harap. Mereka hanya ingin mendengar kabar yang baik dari El.


"Dia ingin pulang, biarkan Asya bersamaku, dia tidak ingin bertemu kalian untuk saat ini. Aku menjelaskan perlahan pada Asya, kita jangan menekannya, atau hal seperti ini akan terjadi lagi. Zio urus administrasinya" jelas El panjang lebar.


Bunda mencoba menenangkan Mama yang masih sesenggukan. Beliau merasa begitu bersalah karena menyembunyikan hal besar pada Asya. Mama tidak pernah menyangka jika kemarahan Asya akan mengakibatkan dirinya terluka.


El kembali masuk kedalam ruangan Asya, setelah meyakinkan para keluarga lainnya untuk pulang. Sayangnya Aqilla juga harus ikut pulang bersama kedua orangtuanya.


Kini El dan Asya hanya berdua, saling berhadapan dalam diam. Asya hanya tertunduk sambil memainkan kedua tangannya. Sedang El, memperhatikan setiap gerak-gerik sang istri.


"Asya, beri aku kesempatan, aku akan mencoba berubah. Kau tahu kan, berubah itu bukan hal yang mudah, kebiasaan itu sulit dihilangkan" pinta El sembari menggenggam tangan istrinya.


"Mas, tidak perlu berubah. Aku sadar dimana posisiku, terimakasih sudah memenuhi semua kebutuhanku. Aku akan menerima semuanya Mas, Mas El boleh melakukan apapun padaku. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan Mas" balas Asya seraya menarik tangannya dari genggaman El.


"Kamu hanya perlu menjadi istriku" sahut El. Ia menarik dagu Asya, menatap kedua mata yang basah karena air mata. Lagi dan lagi, El harus melihat air mata jatuh disana.


El mendekatkan jarak mereka, perlahan ia sentuh bibir istrinya dengan lembut, sebelum mengecup singkat bibir itu.


Asya tertegun, ini pertama kalinya seseorang mengecup bibirnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Namun pikiran buruk itu kembali terlintas dalam benak Asya, Apakah Mas El menganggap ku sebagai kupu-kupu malam?


Sentuhan hangat sang suami, yang selalu Asya impikan. Perlakuan manis dari orang yang ia cintai, kini Asya tak menginginkannya lagi. Ia merasa jijik dan kotor. Kala El memandangnya, merasa terhina seakan dirinya hanyalah bagian dari permainan El. Pikiran negatif memenuhi ruang di otak Asya, ia hanyalah wanita penghibur untuk sang suami.


Mungkin kini El tak perlu keluar mencari wanita malam karena ada satu wanita yang akan selalu patuh pada perintahnya. Mungkin El tidak perlu berpura-pura dingin untuk menarik Asya agar dekat dengannya. Kini El bisa menunjukkan sifat nakalnya, karena sang istri telah mengetahui semua tentangnya. Terlebih Asya kini telah jatuh cinta pada El.


Aku membenci setiap malam yang akan datang. Didepan suamiku aku merasa sangat hina, seakan aku bukanlah bagian dari hidupnya dan aku hanyalah mainan kecil untuk mengisi waktu luangnya, batin Asya.

__ADS_1


__ADS_2