Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
S2 - 120


__ADS_3

Asya sibuk memasak di dapur, ia rindu sekali bisa memasak dirumah sang Mama. Sebenarnya Asya sedikit merasa aneh, sebab beberapakali Airin terus melihat ke jendela. Asya pikir Mamanya terganggu dengan para bodyguard yang berjaga diluar.


"Mama gak suka ada bodyguard? Maaf ya, ini perintah Mas El"


"Tidak Asya, El benar. Kau dan kedua putramu harus dijaga oleh bodyguard. Karena kalian sangat nakal" canda Airin.


Selesai memasak, Asya berpamitan pada Airin untuk pergi ke kantor suaminya. Ia juga ingin mengajak si kembar sebab tak bisa meninggalkan kedua putranya tanpa pengawasan keluarga. Tapi Kau dan Key malah bersikeras untuk pulang karena ingin bermain.


Asya yang bimbang pun, akhirnya mengantar kan kedua putranya untuk pulang lebih dulu sebelum pergi ke kantor suaminya. Setelah memastikan Kai dan Key bertemu Ipah, Asya berangkat ke kantor bersama dengan Agus.


"Pak Agus, udah berapa tahun kerja sama Mas El?"


"Mm... saya bekerja sebagai supirnya Tuan Muda Elvin sudah sekitar delapan tahun"


"Pasti bertahan karena Kakek Winarso ya Pak? Mas El kan galak, judes, nyebelin"


"Iya Nya, keluarga saya berhutang banyak pada beliau. Tapi Tuan Muda Elvin banyak berubah setelah menikah. Beliau punya alasan untuk pulang kerumah"


"Emangnya Mas El gak pernah pulang Pak?"


Agus tertawa, ia mengingat kembali kenangan lama bersama Tuan Mudanya. Dulu, Agus akan sibuk mengantarkan pakaian El ke kantor. Sebab pemuda itu bisa berhari-hari berada disana tanpa pulang kerumah. Bahkan mengunjungi rumah Adhitama hanya El lakukan setiap tahun baru. Bagi El dulu, keluarga adalah nomor dua apapun alasannya pekerjaan yang utama.


Asya masuk kedalam kantor suaminya. Suasana kembali terasa suram, ia rasa El tengah marah-marah sekarang.


"Kakak ipar kau kembali?"


"Hai, kau mau kemana?"


"Aku mau makan siang dengan Jihan. Kebetulan sekali kau datang, El sedang marah-marah tidak jelas. Di ada di lantai tujuh, tempat pemasaran"


"Baiklah, hati-hati ya"


Zio melambaikan tangannya pergi, ia langsung keluar ruangan begitu melihat El dengan wajah masam. Tak ingin ikut campur dan mengganggu waktu istirahat nya, Zio memilih pergi lebih dulu.


Asya masuk kedalam lift dan menekan tombol ke lantai tujuh. Para karyawan yang ada didalam lift tampak sibuk menelepon mengejar deadline. Asya akhirnya sampai di lantai tujuh, Barus saja ia keluar dari lift. Suara El terdengar begitu lantang memarahi para karyawan nya.


"Ini masih jam istirahat, Mas El masih saja" gumam Asya. Ia melanjutkan jalannya menuju asal suara. Perlahan mengintip ke ruangan tempat El berada. Para karyawan berjejer sambil menunduk mendengarkan omelan sang Presdir.


Asya juga berdiri jauh memandangi suaminya yang sangat serius saat bekerja. El sangat berambisi, pantas saja usahanya semakin maju dan besar.


"Ingat ya, hari ini saya mau semua laporan di meja saya. Mulai sekarang, saya mau laporan harian penjualan di serahkan pada saya bukan Kepala Departemen. Saya akan memantau pekerjaan kalian secara langsung"

__ADS_1


"Baik Pak" ucap para karyawan serempak.


"Dan, siapapun yang tidak masuk kantor di hari kerja. Dengan alasan serta urusan apapun, harap hubungi HRD. Tidak ada diskriminasi antara karyawan lama, baru, penjualan sedikit maupun banyak. Kalian bekerja dibawah perintah saya, maka semuanya sama rata. Paham!!!"


"Paham Pak"


"Satu lagi...."


"Kalian boleh makan siang" sela Asya.


El dan para karyawannya memalingkan wajah menatap ke asal suara. Asya tengah berdiri tak jauh dari mereka.


"Kamu disini? Ada apa mencariku?"


"Mau makan siang bersama" jawab Asya seraya menunjukkan kotak bekalnya.


"Oh iya, kalian sudah makan siang?" Tanya Asya berlanjut.


Para karyawan hanya diam menunduk sebab El masih ada disekitar mereka. Tak ada yang berani menjawab, mereka tak mau membuat El semakin marah.


"Mas" panggil Asya setelah menunggu jawaban yang tak kunjung terdengar.


"Baiklah Nyonya, pesan makanan saya yang traktir" ucap El kemudian berjalan pergi menjauh.


"Penjualan kita sudah melebihi target bulan lalu. Terimakasih atas kerja keras kalian" ujar El. Ia masih saja mempertahankan wajah datarnya.


Asya menggandeng tangan suaminya untuk pergi ke kantor El. Ia tak bisa menahan tawa pada sikap dingin El. Caranya berbuat baik selalu saja mengesankan, membuat banyak orang salah menilai dirinya.


Di kantor El...


Asya menyiapkan makanan untuk suaminya, ia juga membawakan sebotol air putih agar El tak lupa minum.


"Kamu tuh lucu banget sih Mas, bilang aja mau traktir mereka pakai segala marah-marah"


"Karena mereka harus tetap takut padaku Asya. Sebagai seorang pemimpin, harus ditakuti agar sistemnya berjalan baik. Jika terlalu lunak, karyawan hanya akan semena-mena"


"Iya deh, Tuan Muda Elvin memang mengagumkan"


"Kau? Agus yang bilang ya? Dia dulu terus memanggilku seperti itu, aku sangat tidak menyukainya"


Asya mengangguk dan menyuapi suaminya yang manja ini. Jika tidak diperhatikan lebih, El pasti akan melupakan segalanya kecuali pekerjaan tercintanya ini. El terus memandangi Asya yang menyuapi dirinya. Bodoh sekali pikirannya, karena mengira Asya tak lagi peduli padanya. Padahal istrinya lebih menyayangi El.

__ADS_1


Selesai makan, Asya mengemas kembali bekal makanan nya. Ia harus pulang karena si kembar sudah mencari dirinya.


"Oh iya Mas, jangan lupa minum air putih yang banyak. Minum kopinya dibatasi hanya dua kali sehari. Dan, kalau bisa makan salad buah ya buat cemilan"


"Males ah repot banget sih kamu. Banyak aturan"


"Kamu berbicara aturan didepan karyawanmu? Tidak tahu malu kamu Mas. Sudah aku mau pulang, nanti malam mau dimasakin apa?"


"Gak jadi nginap dirumah Mama?"


"Gak dibolehin Mama Mas. Mau aku masakin atau kamu pulang lembur? Aku gak mau ya masak sia-sia dan kamu lembur gak bilang aku"


"Mau susu aja" jawab El seraya memandangi dada Asya.


Mata Asya terbelalak lebar, ia menyentil bibir El dengan kesal. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu di depan karyawan nya. Asya langsung bergegas pergi dan tak memedulikan El yang terus merengek menahannya. Hanya di depan Asya, para karyawan bisa melihat El seperti anak kecil.


Sampai di lantai dasar, El menarik tangan Asya. Membawanya masuk ketempat istirahat karyawan. Ia mengunci pintu ruangan, dan menutup jendela.


"Mas, nanti ada yang lihat. Kamu mau apa sih?"


El menyudutkan Asya dan mendudukkan nya diatas meja.


"Kamu sayang aku kan Sya?"


"Iya sayang banget Mas"


"Terus kenapa kamu nolak bulan madu?"


"Bukan menolak, tapi menunda. Aku tentu memikirkan anak-anak nanti tidak ada yang menjaga mereka. Tapi karena sekarang kita punya baby sister, mm..."


"Mm.. apa?"


"Aku mau liburan sama kamu. Tapi, boleh gak kita punya anak lagi? Aku pingin cewek Mas"


"Baiklah akan aku jadwalkan. Aku tidak bisa memberikan anak perempuan untukmu Asya. Sudah cukup, dua anak saja, kini giliran kamu yang bahagia menikmati waktu"


El menatap setiap inchi wajah istrinya. Ia mengecup bibir Asya singkat. Satu kali, dua kali, yang ketiga memulai ciuman singkat bersama istrinya. Tangannya merem as dada Asya dengan penuh gairah. Astaga, El sudah hilang kendali di dekat istrinya.


"Nakal banget sih Tuan Muda ini" oceh Asya mendorong suaminya menjauh.


"Belum selesai, dikit lagi"

__ADS_1


"Jangan pulang terlalu malam. Aku akan berdandan cantik untukmu sayang. Love you" bisik Asya seraya mencium pipi suaminya. Ia membuka kunci pintu ruangan dan pergi setelah merapikan pakaiannya.


El masih mengikuti Asya hingga istrinya masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan kantornya.


__ADS_2