Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 31


__ADS_3

Setelah kelas usai....


Asya telah mendapatkan ijin dari El untuk pergi bersama teman-temannya. Ketiga wanita itu menunggu para pria yang sedang mengambil sepeda motor mereka.


"Asya, ayo" panggil Nando seraya memberikan helm pada Asya.


Gadis itu mengambil helm yang Nando berikan. Memakainya lalu naik ke atas sepeda motor Nando.


"Pegangan Sya, nanti jatuh loh" pinta Nando.


Alih-alih melingkarkan tangannya pada pinggang Nando, Asya lebih memilih mencengkram pakaian Nando. Hal itu sangat membuat Nando kecewa. Merekapun pergi menuju tempat yang hendak mereka datangi.


Rumah singgah, tempat anak-anak jalanan berkumpul. Mereka tak memiliki orang tua ataupun sanak keluarga yang lain. Hidup terluntang- lantung dijalanan yang berbahaya.


Beberapa mahasiswa di kampus Asya kerap kali berkunjung kesana. Memberi bantuan berupa uang ataupun tenaga untuk membantu mereka. Tak jarang juga mereka memberikan pendidikan dasar untuk para anak kecil disana.


"Kakak Assyaaa" teriak salah seorang gadis kecil yang berlari menghampiri Asya.


Asya menggendong gadis kecil itu, ia jadi merindukan keponakannya, Aqilla. Asya membawa gadis itu bersamanya untuk masuk kedalam rumah menyusul temannya yang sudah masuk lebih dulu.


"Gadis cantik, kamu mau makan sesuatu? Kakak masakin pancake mau?" Ucap Asya sembari menggelitik leher gadis itu dengan wajahnya.


"Ahahah, Kakak Asya geli tau" jawab si gadis kecil.


Langkah Asya terhenti, kala melihat teman-temannya yang sedang berdiri diam di ruang tamu. Ia perhatikan wajah satu persatu teman Asya yang nampak terkejut.


"Kalian kenapa?" Tanya Asya tak mengerti.


"Asya" panggil seseorang.


Asya mengalihkan pandangannya, menatap asal suara. "Mas El, Adik Ipar" ujarnya dengan terkejut.


Asya berjalan mendekat, ini adalah kejutan yang sukses. Ia benar-benar terkejut dengan kehadiran kedua pemuda itu dihadapannya. El berjalan mendekati Asya, lalu mengecup keningnya singkat.


"Mas ngapain disini? Kok gak kasih tahu aku sih?" Tanya Asya.


"Kamu bilang mau kesini, Zio ingin ikut katanya" jawab El mencari alasan.

__ADS_1


"Loh kok aku El? Kamu yang mau kesini, kamu bilang..." pembelaan Zio terhenti ketika El membungkam mulutnya.


"Nak Asya, dia suami kamu? Wah kalian memang cocok, sama-sama baik" puji Ibu pengurus rumah singgah.


Asya tersipu mendengar pujian itu, ia lalu menatap suaminya dengan senyuman. Pemuda tampan itu memang baik, tapi sayangnya ekspresi wajah El tak mencerminkan sikap baik.


"Kakak Asya, turunkan aku, aku ingin bermain" pinta gadis kecil yang ada di gendongan Asya.


Asya menurunkan gadis itu, membiarkannya pergi berlari menuju luar rumah. Asya dan teman-temannya juga melanjutkan tujuan mereka datang kesana.


Asya, Jihan dan Gita membantu membersihkan rumah juga memasak untuk anak-anak rumah singgah. Sedangkan Nando, Surya dan Angga mengajak mereka bermain juga belajar di halaman depan rumah. El dan Zio masih berbincang dengan para pengurus rumah singgah.


"Asya, kita harus beli buku tulis" teriak Nando.


Asya keluar dengan tergesa, wajahnya belepotan dengan tepung.


"Sekarang? Bentar aku bersih-bersih dulu ya" sahut Asya.


"Tunggu, kalian tidak perlu pergi, sebentar lagi peralatan tulis untuk anak-anak akan datang. El memesan semuanya, jadi tunggulah disini" sela Zio.


Asya memandangi Zio, seolah ia nampak ragu dengan apa yang pemuda itu katakan. Ia tak mempercayai perkataan Zio begitu saja, sebab El yang ia kenal sedikit berhati dingin pada orang lain.


"Secepat ini? Kalian kan belum makan" ujar Asya kemudian berlari keluar rumah.


Asya berlari menghampiri El yang sedang duduk didalam mobil sambil menelepon seseorang. Saat ia hendak membuka pintu mobil, sebuah mobil lain datang, membuat Asya terhenti sejenak.


Para pengurus terlihat mendekati mobil tersebut, lalu mereka mengeluarkan banyak peralatan tulis juga barang-barang baru untuk anak-anak dirumah singgah. Asya tertegun melihat semua itu, rupanya yang Zio katakan adalah kebenaran.


El membuka pintu mobilnya, lalu menarik Asya untuk duduk dalam pangkuannya.


"Mas El, nanti ada yang lihat" lirih Asya. El lalu menggeser duduknya dan menutup pintu mobil.


"Aman" bisik El. Ia memandangi wajah istrinya yang penuh dengan tepung. Terlihat sangat lucu dimata El.


Asya membalas tatapan El, hingga mereka saling pandang sejenak. Sebelum Asya memberanikan diri mencium singkat bibir suaminya.


"Apa itu? Itu terlalu singkat Nyonya El" ucap El sembari menggelitik leher Asya dengan wajahnya.

__ADS_1


"Mas El ih, aku mau lanjut masak. Nanti Mas El mau dimasakin apa?" Tanya Asya seraya menahan kepala El agar tak mendekat lagi.


"Aku lembur, pulang malam" jawab El singkat.


Asya mencoba untuk mengerti, ia lalu membuka pintu dan pergi. Karena Zio terlihat mendekati mobil El. Setelah berpamitan pada El dan Zio, Asya kembali masuk kedalam rumah singgah. Membantu mengangkat barang-barang yang datang.


Zio menatap El, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa?" Celetuk El mengagetkan pemuda itu.


"Kalian habis ngapain? Gak modal banget si El, pakai mesra-mesraan di dalam mobil" jawab Zio ketus. Ia lalu melajukan mobil meninggalkan rumah singgah.


"Kita gak ngapa-ngapain" sahut El tak kalah dingin.


Zio tak membalas perkataan El, ia menurunkan spion dalam mobil dan memberikan isyarat pada El untuk mengaca.


El menarik naik ujung bibirnya setelah mendapati wajahnya yang penuh dengan tepung seperti wajah Asya.


"Zio, aku berani bertaruh jika istriku lebih nakal daripada semua wanita yang pernah aku temui" gumam El.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Zio.


"Dia masih sangat muda, pikirannya masih begitu fresh, dan yang dia lakukan malah menonton drama yang penuh adegan romantis. Aku hanya perlu memberinya sedikit kepercayaan diri, ia akan menjadi wanita nakalku nantinya" jawab El dengan kekehan kecil.


El yakin bisa memberikan Asya rasa percaya diri dan keberanian itu. Sekali saja istrinya keluar dari batasan itu, Asya akan menjadi wanita yang El inginkan. Terlebih, bayangan Asya mengenai kehidupan yang manis akan membuat El merasa lebih bergairah.


"Baiklah terserah kau El. Tapi apa yang akan kau lakukan terhadap Nando? Ia masih saja berusaha mendekati Asya" sahut Zio.


"Lupakan pemuda itu, lagipula Asya tak tertarik padanya. Pesankan aku tempat untuk minum malam ini, juga wanitanya. Aku masih belum bisa menyentuh Asya" pinta El.


"El, jika Asya tahu dia akan pergi lagi darimu"


"Jika dia tahu, itu karena kau memberitahunya. Jangan usik dia dan biarkan aku bersenang-senang"


"El, kau bilang ingin merubah sikap dan memperbaiki hubungan"


"Itu sangat melelahkan, biarkan aku bermain sejenak. Aku juga ingin dimanjakan oleh para wanita nakal ku Zio. Diam dan turuti saja apa perintahku"

__ADS_1


Zio hanya bisa diam dan menuruti semua kemauan El. Ia tak lagi memiliki hak untuk melawan jika sudah menyangkut masalah pribadi bosnya itu.


__ADS_2