
Asya sedang duduk di meja makan, memandangi El dan Zio yang tengah berbincang tentang pekerjaan.
Kedua pemuda itu tampak sangat serius, terlihat jelas dari raut wajah keduanya yang tak memiliki senyuman disana.
2 Jam berlalu ......
"Sayang, hei" bisik El seraya membangunkan istrinya yang tertidur.
Asya merasa bosan menunggu kedua pemuda itu, hingga ia tak dapat menahan rasa kantuknya. Ia membuka mata, menatap El yang sedang tersenyum ke arahnya. Bahagia itu memang sederhana, suaminya terlihat sangat tampan hingga membuatnya tersenyum tanpa sadar.
"Mas El ganteng banget sih" gumam Asya.
"Kamu baru sadar?" Sahut El seraya membentur kan keningnya ke kening Asya.
"Ap..apa sih, udah ah aku panasin dulu makanannya" ujar Asya yang salah tingkah.
Gadis itu membawa semua lauk ke dapur, dan mulai memanaskannya di microwave. Memberi waktu luang agar El dan Zio dapat berbincang. Tetapi harga diri kedua pemuda itu sangat tinggi, tak ada yang mencoba memulai pembicaraan diantara mereka.
Asya mulai kesal dengan keheningan mereka, ia mencoba memancing dengan menceritakan bagaimana Zio datang pagi-pagi sekali hanya untuk memeriksa keadaan El. Bahkan Zio juga yang memapah El ke kamar tamu disaat Asya membersihkan semua pecahan gelas.
Zio masih tertunduk, ia merasa bersalah karena meninggalkan El begitu saja dalam amarahnya semalam. Ia juga sangat menyesal setelah melihat luka bekas cakaran di wajah Kakak Iparnya.
El terus menatap Asya yang mengoceh tentang Zio. Amarahnya mulai mendidih kembali, seolah Asya begitu mengagumi sosok Zio.
"Mas El, tidak ada yang bisa membuat aku jauh dari Mas El. Kecuali Mas El sendiri yang mendorong ku menjauh" ujar Asya. Ia mengelus rambut suaminya, sembari menatap kedua bola mata hitam itu.
"Apa kamu yakin? Tidak akan ada yang bisa merebut mu dariku?"
Asya mengangguk pasti, ia menarik El dalam pelukannya. Hidup Asya memang sudah terikat dengan El, terlebih saat ia diberitahu oleh Papa nya. Jika pernikahan mereka, semua karena hutang sang Papa.
Kebenaran itu membuat Asya terluka, tapi Papa kembali meyakinkan putrinya. Sebuah perjanjian antara Papa dan keluarga El. Jika Asya pergi dari El atas kemauannya sendiri, keluarga Adhitama akan menghancurkan seluruh keluarga Dirga. Tanpa terkecuali.
Entah apalagi yang akan Asya ketahui seiring berjalannya waktu. Semakin hari, ia merasa dirinya hanyalah wanita pelunas hutang keluarga. Walau begitu, ia tak bisa memungkiri jika hatinya telah jatuh cinta pada suaminya.
"Kalian jangan bertengkar lagi dong. Aku sedih lihatnya, kalian mau lihat aku nangis lagi?" celetuk Asya dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
El mencubit gemas pipi sang istri, lalu meminta Asya untuk segera menghidangkan makanan sebab ia sudah sangat lapar.
Asya membuatkan makanan kesukaan El dan Zio, salad sayur. Ia tak habis pikir kenapa kedua pemuda tampan itu menyukai makanan yang di benci kaum wanita. Padahal ada begitu banyak makanan yang lebih enak dan mengenyangkan.
Awalnya Asya tak percaya saat Bunda mengatakan jika salad sayur adalah makanan kesukaan El dan Zio. Tapi nyatanya, mereka memang sering makan itu saat kuliah diluar negeri dulu.
"Aku buatin makanan kesukaan kalian. Tapi aku mau lihat kalian salaman dan baikan dulu" pinta Asya. Ia masih menyembunyikan salad sayur di dapur.
"Maaf El" ujar Zio. Ia selalu saja menjadi orang pertama yang meminta maaf disetiap masalah antara dirinya dan El.
"Aku juga minta maaf Zio, selalu saja pikiran burukku datang dan membuat masalah diantara kita" sahut El sembari mengulurkan tangannya. Zio menerima uluran tangan itu, mereka melakukannya hanya karena Asya yang meminta.
Padahal Zio dan El sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil mereka. Sebab mereka pasti akan kembali akur lagi walau tanpa diminta. Hanya saja hati wanita tak dapat memahami pertemanan para pria.
Asya menghidangkan makanan untuk kedua jagoannya. Salad sayur dan masakan Korea, tteokgalbi.
"Apa ini sayang?" Tanya El seraya mencoba mencicipi tteokgalbi.
"Enak Kakak Ipar" sela Zio yang sudah mencicipinya. El mengangguk, ia menyetujui pendapat Zio.
Selesai makan, Zio berpamitan untuk kembali ke kantor. Asya tentu membuat bekal untuk Zio agar tidak lupa makan. Sebab kedua pria itu akan lupa segalanya jika sudah berada di kursi kerja mereka.
Kini hanya tinggal El dan Asya yang berada didalam rumah. Asya sedang mencuci piring, sedangkan El tentu saja menemani istrinya sambil memeluknya dari belakang.
"Sayang" bisik El.
Asya mendongak ke samping, menatap suaminya yang sedang melihatnya. El mendaratkan kecupan singkat dibibir Asya.
"Mas El, apa kau mencintaiku?"
"Tidak. Aku hanya tak suka jika orang lain mencoba menyentuh milikku"
Gadis itu tertawa mendengar jawaban suaminya. Mungkin benar jika ia tidak bisa melihat cinta dimata orang seperti El. Tetapi Asya bisa merasakannya, ia yakin El mencintainya, hanya saja suaminya itu terlalu naif untuk mengakui perasaannya.
Kini giliran El yang berbalik menanyakan hal yang sama pada Asya.
__ADS_1
"Tentu, aku sangat mencintai Mas El. Sangat" jawab Asya lalu memeluk suaminya.
El sudah tahu akan perasaan Asya, jelas terlihat cinta dimatanya. Namun, masih ada keterpaksaan yang belum bisa Asya terima. Karena itulah El merasakan jarak yang jauh diantara mereka.
Setelah perbincangan singkat, El dan Asya mulai mengemasi barang mereka ke dalam mobil. Mereka harus segera berangkat agar tak sampai dirumah Kakek Nenek saat malam hari.
El memilih menyetir seorang diri, sembari menghabiskan waktu berdua dengan sang istri. Cukup lama perjalanan mereka, selama beberapa jam lamanya.
Hingga disebuah desa yang masih banyak kebun teh. Rumah paling ujung yang megah dibandingkan rumah-rumah lainnya disana.
Matahari masih terlihat sore itu, kala mobil El memasuki kebun teh yang luas. Beberapa pekerja masih terlihat memetik daun teh. Mereka menatap mobil El yang melaju menuju rumah nenek.
"Wah, pasti disini udaranya sejuk ya Mas" puji Asya memandangi tempat sekitar.
"Sya, nanti kalau mereka bicara apapun yang akan menyakitimu. Biarkan saja ya" nasihat El. Ia masih khawatir tentang apa yang akan keluarganya katakan mengenai Asya. Terlebih saat mereka mencoba mengungkit masalalu El, pasti itu akan membuat Asya terluka.
Saat sampai di rumah Kakek Nenek, El menurunkan semua koper mereka. Sedangkan Asya sedang menatap rumah megah yang ada ditengah desa itu. Sangat indah dan terlihat begitu nyaman.
"El?" panggil seseorang yang membukakan pintu untuk Asya dan El.
Kakek memeluk El dengan sangat erat, beliau sudah menunggu cucu kesayangannya itu. Semenjak Ayah dan Bunda berkata jika El akan datang bersama istrinya.
"Ini istri kamu? Cantik sekali, ayo masuk" pinta Kakek seraya menggandeng Asya untuk masuk.
Di ruang keluarga telah berkumpul beberapa orang, termasuk kedua orang tua El juga keluarga kecil Farel.
"Imooo" teriak Aqilla berlari menghampiri Asya.
Gadis kecil itu memeluk Asya dan mencium kedua pipi nya. Lalu Asya menggendong nya dan duduk di samping Ibu mertua. El dengan malas mengikuti istrinya, sembari menatap Nenek dan juga para Iparnya yang sedang melihat Asya dengan seksama.
Pastilah mereka tengah mencari sesuatu untuk bisa mengatakan hal yang pedas pada istrinya.
"Istrimu, terlihat sangat muda El. Berapa usianya?" Tanya Nenek.
"Dua puluh tahun Nek" jawab Asya dengan senyuman.
__ADS_1
"Wah muda sekali, dia juga terlihat cantik. Pasti dari keluarga berada, memang dia bisa apa? Jika Nenek perhatikan, dia tak akan berbeda jauh dengan istri Farel yang hanya bisa foya-foya dan berdandan saja" oceh Nenek memulai peperangan.