
El membawa keluarganya di salah satu rumah makan untuk makan burger. Selagi El dan Kai memesan, Asya dan Key duduk menunggu keduanya. Key tampak tak ingin lepas dari gendongan Asya. Ia terus memeluk sang Bunda dengan erat.
"Asya?" Panggil seseorang.
Asya yang merasa namanya dipanggil, menoleh mencari keberadaan orang tersebut. Terlihat beberapa teman Asya sedang berkumpul disana, teman-teman lamanya. Angga dan Surya juga terlihat disana.
Sembari menggendong Key, Asya berjalan menghampiri meja teman-temannya. Ia duduk di kursi paling ujung untuk sekedar berbincang singkat.
"Anak loe Sya? Ganteng banget, mirip banget sama suami loe" ujar salah seorang teman wanita.
"Hahaha, ya gimana gak mirip, kan anaknya. Kamu tuh bisa aja"
Angga dan Surya tampak memperhatikan Asya, seakan ada rasa bersalah yang menyelimuti hati kedua pria itu. Mereka juga kecewa atas apa yang Nando lakukan, namun mereka tak sempat bertemu Asya.
"Bunda, kenapa Ayah lama sekali?" Rengek Key.
"Sayang, sabar ya. Kenalan dulu sama teman Bunda"
Key menyapa satu persatu teman Asya, ia ingin lari darisana karena merasa sangat lapar. Sama seperti El yang tak menyukai keramaian, Key juga sama seperti itu. Ia terlihat begitu manja dalam pelukan Asya.
Tak berselang lama setelah perkenalan itu, Kai datang seorang diri menghampiri Bundanya. Para teman-teman Asya tampak terkejut sebab Kai sangat mirip dengan Key. Mereka merasa iri Asya memiliki anak kembar yang tampan. Kai juga melakukan hal yang sama, ia menyapa teman Asya dengan sopan.
"Bunda, apa si kecil berulah lagi? Turunkan dia Bunda"
"Kau tau adikmu sangat manja kan? Biarkan saja, atau dia akan menangis. Dimana Ayahmu?"
Kai tak bicara, ia hanya memperagakan jika Ayahnya tengah menelepon. Asya berpamitan pada teman-teman. dan kembali ke tempat duduknya. Key masih tak ingin lepas dari Asya, sedang Kai sudah duduk dengan manis di kursi lainnya.
Si kembar memang terlihat mirip, mereka juga terkadang bersikap sangat dingin. Tapi saat bersama Asya, mereka bisa sangat manja, apalagi si bungsu Key. Ia begitu manja, namun saat marah, kamarahan nya bisa melebihi amarah Kai.
__ADS_1
"Key, biarkan Ayah menggendong mu, kasihan Bunda pasti lelah" ujar El yang baru selesai menelepon. Key tentu saja menolak, ia tak ingin lepas dari Bundanya.
"Mas El, apakah ada hal penting? Maaf aku datang tiba-tiba dan membuat Mas meninggalkan pekerjaan"
"Tidak sayang, kalian yang utama. Kai tidak mau duduk dipangkuan Ayah?"
"Tidak, aku tidak semanja si kecil"
El mengelus rambut putra sulungnya, Kai tampak lebih dewasa dan pemberani. Makanan pun tiba, barulah Key mau beralih dari pangkuan Asya. Si kembar sangat bersemangat melihat berbagai macam burger di hadapan mereka. El lagi lagi memanjakan si kembar.
Asya mencubit paha suaminya, dengan mata melotot menatap El tentunya.
"Hm... enak. Aku suka jalan-jalan dengan Ayah" ucap Kai.
"Iya aku juga, Ayah membelikan semuanya. Banyak hal, tidak seperti Bunda yang melarang ini dan itu. Tapi aku sayang Bunda" imbuh Key.
Asya membersihkan wajah kedua putranya yang belepotan karena makanan. Ia mencium keningnya dengan sayang. El kembali cemburu, ia pun melakukan hal yang sama. Membiarkan wajahnya belepotan karena makanan.
"Mas El, ih, banyak orang loh. Masih aja cemburu sama anaknya" oceh Asya seraya membersihkan wajah suaminya.
El tersenyum kecil dan menunggu Asya menciumnya. Ia menyodorkan pipinya ke arah Asya, memberikan kode untuk kecupan kecil. Sekali lagi Asya dibuah geram dengan tingkah suaminya. Ia pun mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi El, tapi pemuda itu malah berbalik dan akhirnya bibir mereka saling bersentuhan.
Kai dan Key semakin terbahak-bahak karena berpikir El berhasil mengerjai Bunda mereka. Keluarga kecil El sejenak menjadi tontonan beberapa pelanggan. Ikatan keluarga memang sangat kuat, walau tak sering bersama, mereka tampak sangat bahagia.
"Bunda, aku mau pipis" ucap Kai.
"Ayah akan mengantarmu, ayo" sahut El.
Kai turun dari tempat duduknya, begitu juga dengan Key yang juga ingin buang air kecil. Si kembar dan El berjalan beriringan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Tak berselang lama, mereka kembali, dengan El yang tampak sangat terkejut. Bagaimana tidak, kedua putranya sangat pandai. El tak perlu membantu mereka untuk buang air kecil, si kembar sudah mengerti bagaimana caranya.
"Putraku sangat pandai, Asya, mereka bisa melakukannya sendiri, membersihkan milik mereka dan juga menyiram kamar mandi. Kau mendidik mereka dengan sangat baik" puji El pada istrinya.
"Kalian sudah cuci tangan sayang?" Tanya Asya.
Si kembar mengangguk dan melanjutkan makan mereka. El juga melanjutkan makannya, walau sambil memperhatikan ponsel. Asya bisa mengerti jika pekerjaan El tak bisa menunggu, tapi itu menjadi contoh yang buruk untuk si kembar.
Beberapakali Asya menegur El agar tak terus memperhatikan ponselnya, tapi seolah pekerjaan adalah nomor satu bagi El.
"Sayang, kita jadi menitipkan mereka di rumah Ayah dan Papa kan?" Bisik El.
"Kenapa?"
"Aku ada pekerjaan nanti malam, kau temani aku"
"Yakin kerjaan? Mas, jangan main hp terus di depan anak-anak. Perhatikan dan ajak bicara mereka, Mas"
El hanya berdehem dan mencium pipi istrinya. Ia sebenarnya juga tak ingin fokus pada ponsel, tapi pekerjaan begitu sering mengganggu dirinya.
Selepas mereka makan, El kembali kerumah Adhitama, hanya sekedar mengantar Asya dan si kembar. Sebab dirinya harus kembali lagi ke kekantor karena ada pekerjaan penting. Asya sedikit kecewa, padahal dulu El bahkan rela tak masuk kantor hanya demi menemani Asya. Tapi sekarang, pemuda itu kembali lagi seperti dulu, mencintai pekerjaannya.
Si kembar tertidur pulas sesampainya dirumah. Asya menemui Bunda untuk berbincang mengenai rumah, tak lupa El juga menjadi topik utama dalam pembicaraan itu. Asya merasa suaminya kembali seperti dulu, pekerjaan lebih utama. Walau terkadang, El juga menjadikan Asya prioritas, tapi tetap saja, tidak seperti dulu.
"Semenjak jauh darimu, El memang kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan nya nak. Tapi sayang, yakinlah, dia melakukan itu karena tak ingin menyakitimu. Ia mengalihkan segalanya hanya pada pekerjaan"
"Tapi Bund, Mas El akan menyakiti dirinya sendiri"
"Kenapa kau khawatir Asya? Kau ada disini sekarang, rubah dia kembali agar lebih menyukai bersama keluarga daripada pekerjaan"
__ADS_1
Tak hanya itu, Laura juga penasaran kenapa si kembar terkadang terlihat cuek bersama El. Seolah mereka tak menyukai kehadiran El, padahal mereka adalah Ayah dan anak.
Untuk masalah ini, apa yang bisa Asya katakan? Jika nyatanya, mereka masih tak akrab sebab kurangnya waktu bersama sang Ayah. Si kembar sebenarnya sangat menyayangi El, hanya saja mereka sama seperti Ayahnya yang bergengsi tinggi dan tak tahu cara mengungkapkan perasaan.