
Asya sudah menitipkan si kembar pada mertuanya. Ia berdandan begitu cantik untuk menghabiskan malam bersama sang suami. Bahkan Asya sendiri yang memasak malam ini, ia meminta para pelayan untuk pulang lebih dulu setelah bersih-bersih. Jantung Asya berdebar kencang menunggu kehadiran sang suami tercinta. Ia tak bisa menahan diri dan beberapa kali menelepon El.
"Sebentar lagi, sebentar lagi, Mas El sebenarnya ada dimana sih? Ini udah jam delapan, harusnya kan dia udah pulang" gerutu Asya kesal. Setiap kali ia menelepon El berkata akan pulang namun tak kunjung datang.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Asya yang mengantuk pun tertidur di sofa ruang keluarga dengan televisi yang menyala. Terdengar suara langkah kaki menggema di dalam rumah itu.
"Sayang, kamu kok tidur disini? Bangun!!"
Asya mengerjapkan matanya kala merasa ada seseorang yang menyentuh pipinya. Ia menatap El yang memandangi dirinya dengan senyuman.
"Ini jam berapa? Kenapa baru pulang?"
"Ah maaf, tadi aku habis minum-minum sama teman-teman SMA. Kita membahas acara reuni yang akan......"
Belum sempat El selesai menjelaskan, Asya bangkit dari duduknya. Ia hanya mengangguk lalu mengambil alih tas El dan membawanya masuk kedalam kamar. El yang masih tak menyadari kesalahannya pun menceritakan bagaimana serunya tadi bertemu teman SMA nya. Ia begitu bersemangat menceritakan semua itu pada Asya, membicarakan masalalu yang membuat El mengenangnya.
Pemuda itu bahkan menyombongkan diri pada Asya jika dulu ia memiliki banyak kekasih. Karena terkenal tampan, El mudah sekali jatuh cinta pada wanita. Saat sampai di kamar, Asya langsung membaringkan tubuhnya dan kembali tidur. Sedangkan El mandi lebih dulu sebelum tertidur.
Selepas mandi, El turun kebawah untuk mengambil minuman. Ia memandangi meja makan yang penuh dengan makanan. El pun mencicipi makanan kesukaannya, dan membuatnya teringat sesuatu.
"Ini masakan Asya? Hari ini dia memasak sendiri?" Gumam El heran. Sebab biasanya Asya akan memberitahu nya saat dia memasak agar El pulang lebih awal. Samar memori El terbuka, ia sepertinya memiliki janji dengan seseorang.
Tanpa pikir panjang El langsung mendial nomor Zio. Langkahnya berjalan menuju kamar si kembar, tak ada siapapun disana.
"Kau yakin hari ini aku tidak ada jadwal Zio?"
Zio yang ada diseberang sana membenarkan hal itu, bahkan tertulis jika El akan pulang lebih awal hari ini. Setelah menutup telepon dari Zio, El kembali masuk kedalam kamarnya. Ia menatap sang istri yang tengah tertidur pulas, perlahan tangannya menarik selimut Asya.
"Kau berdandan untukku? Apa hari ini aku membuat janji denganmu Asya? Astaga, kenapa aku tidak bisa mengingatnya. El, kau bodoh" gumam El kemudian menyelimuti kembali istrinya.
Pikiran El menjadi kacau, ia sekali lagi mengecewakan istrinya. Padahal El yang membuat janji tapi malah ia ingkari. Asya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjamu El malam ini.
Pemuda itu duduk di sofa ruang keluarga, dengan leptop yang menyala di hadapannya. Ia kembali mendial nomor Zio dan menceritakan semuanya. Zio tak tahu jika El memiliki janji dengan Asya, karena itu ia pun tak bisa mengingatkan El akan hal ini.
Zio : "Apa Kakak Ipar marah El?"
__ADS_1
El : "Tidak, dia tak mengatakan apapun dan hanya diam menyambut ku seperti biasanya"
Zio : "Ini menakutkan, dia biasanya akan marah dan terus mengomel saat kita tidak menepati janji El"
El : "Aku juga merasa begitu Zio, aku takut sekali dia marah. Ya sudah, maaf aku mengganggumu"
El menutup teleponnya dan kembali berkutat dengan leptop. Tak ada hari libur bagi El, ia harus mengembangkan bisnisnya agar nanti kelak saat ia pergi lebih dulu, istri dan anaknya tak pusing memikirkan tentang kelanjutan hidup mereka. Pikiran dewasa El sungguh mengesankan.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi menjelang...
Seperti biasa, pukul empat pagi Asya sudah terbangun dari tidurnya. Ia hanya diam walau mendapati El tak ada disampingnya. Gadis itu langsung membersihkan diri dan merapikan kamar tidur. Kemudian keluar rumah untuk menyirami tanaman di pagi hari.
Ketika matahari sedikit terlihat, para pelayan kembali ke rumah untuk memasak sarapan dan membersihkan rumah. Asya yang baru saja masuk kerumah menatap suaminya yang masih tertidur di sofa.
"Mas, bangun, sudah pagi" ucap Asya seraya menggoyang tubuh suaminya.
"Pagi sayang"
"Tunggu, aku ikut Sya"
Asya hanya berdehem dan mengangguk, ia membereskan barang-barang suaminya lalu membawanya menuju kamar. Sambil menunggu El, Asya mengemas beberapa makanan kesukaan si kembar. Ia juga melahap sedikit makanan untuk sarapan.
Tak lama El turun, ia menyambar sandwich dan berjalan keluar rumah mengikuti Asya. Ia tahu istrinya pasti sangat kecewa, tapi El tak tau harus bagaimana memulai agar istrinya kembali tertawa lepas. Selama perjalanan pun mereka hanya diam, Asya hanya menjawab singkat kala El bertanya.
"Kenapa berhenti?" Tanya Asya saat El menghentikan mobilnya di salah satu kafe.
"Ketemu temanku dulu ya, sebentar aja kok"
Asya pun turun mengikuti suaminya, benar saja teman-teman El sudah berkumpul di lantai atas. Hanya Zio dan teman-teman akrab El saja yang Asya kenal, lainnya tampak asing baginya.
"Asya sini!!!" Panggil seorang wanita melambaikan tangannya. Ia menggendong seorang anak kecil. Itu adalah istri teman-teman akrab El yang Asya kenali, gadis itu tampak sedikit tersenyum melihat banyak anak kecil disana.
Sedangkan El dan para lelaki tengah berbincang tentang acara reuni yang akan mereka adakan nanti malam. Menyiapkan tempat dan beberapa hal lain lagi.
__ADS_1
Para wanita itu tengah asik berbincang memperkenalkan anak mereka. Membicarakan pertumbuhan sang anak adalah kesenangan bagi para Ibu. Tidak seperti para Ayah yang malah sibuk dengan pesta mereka.
"Sya El, lihat deh" celetuk salah seorang wanita.
Asya dan yang lainnya pun ikut menoleh. Seorang wanita seksi mendekati para lelaki itu, pasti dia adalah teman lama mereka. Tapi hal ini adalah pemandangan yang tak disukai para wanita. Terlebih jika ada wanita penggoda mendekati suami mereka.
Gaya sapaan itu, membuat para istri memanas. Harusnya para lelaki itu memahami tak boleh ada sentuhan fisik berlebihan hanya untuk bertegur sapa pada wanita lain. Apalagi saat ada para istri yang berada di dekat mereka.
"Hai El, kau semakin tampan saja" puji wanita itu dengan centilnya. Bukan lagi rahasia jika El dikelilingi banyak wanita penggoda. Sebab ia yang paling mudah untuk di goda. Terlebih jika wanita cantik dan seksi yang mendekatinya lebih dulu.
"Hai, kau juga makin bagus aja badanmu. Operasi ya itu, jadi montok gini" ucap El memujinya.
Asya hanya menatap suaminya dengan datar. Ia bahkan tak peduli lagi jika saat ini El akan bertindak berlebihan. Hati Asya sudah terlanjur kecewa sebab El tak menjelaskan apapun padanya tentang semalam.
"El, jaga sikapmu" bisik Zio.
"Kenapa sih Zio, kangen tau gak sama sentuhan Tuan Elvin ini" sahut wanita itu yang mulai meraba paha El. Tangan nakalnya begitu berani menari di area sensitif El. Namun sayangnya, tak ada reaksi dari milik El, bahkan tangan nakal El yang menyentuh ****** wanita itupun tak bisa membuat miliknya terbangun.
Asya memalingkan wajahnya menatap arah lain. El melihat hal itu, ia tersenyum istrinya mulai cemburu. Ah, El memiliki niat lain, tapi caranya sangat nakal.
"Asya" panggil seseorang yang sukses membuat Asya dan para wanita serta El juga kawan-kawannya menoleh.
"Nando, hai"
"Suamimu masih saja tidak berubah, menjijikkan" ucap Nando seraya menatap El dengan amarahnya.
Asya diam memandangi Nando.
"Sya, jika suamimu tak bisa membahagiakan mu, datanglah padaku. Aku masih menunggumu, aku tak masalah dengan kedua putramu"
Asya masih diam tak mengatakan apapun.
"Aku tidak bercanda Asya, aku siap menggantikannya"
El terlihat geram dengan apa yang Nando katakan, ia hampir saja lepas kendali jika teman-teman nya tidak menahan El tepat waktu. Nando tersenyum miring kemudian pergi setelah teman-teman nya memanggil.
__ADS_1
Asya berdiri menatap suaminya, ia juga mengalihkan pandangan pada wanita yang berdiri di samping El.