Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
S2 - 113


__ADS_3

El tengah asik memainkan dada istrinya yang tertidur.


"Ayah ngapain?" Celetuk Kai yang terbangun dari tidurnya.


Pemuda itu langsung membenarkan pakaian istrinya dan berbalik menatap kedua putranya yang memandangi dirinya.


"A.. Ayah sedang minum" jawab El terbata-bata.


"Minum susu Bunda?" Sahut Key penasaran.


"Kenapa minum susu Bunda? Sudah besar tidak boleh Ayah" imbuh Kai.


Glek...


El menelan ludahnya, pertanyaan menjebak ini membuatnya gugup. Bahkan saat meeting dengan klien tak membuatnya segugup ini.


"Aa... Ayah suka susunya, kalian udah besar gak boleh cuma Ayah yang boleh. Kalian mau mandi? Mandi bareng Ayah yuk!" Ajak El mengalihkan perhatian.


Si kembar mengangguk dan langsung turun dari tempat tidur. Helaan panjang napas El, untung saja kedua putranya tak bertanya lebih jauh. El pun menyibak selimutnya dan menghampiri si kembar. Sontak saja kedua putranya tertawa lebar melihat El yang tak mengenakan sehelai benang pun di badannya.


"Ayah tidur gak pakai baju?" Tanya Kai yang tengah bermain di bathtub. Ia memandangi El yang tengah menggosok punggung adiknya.


"Iya gerah"


"Kata Bunda gak boleh, nanti masuk angin" sahut Key. Ia berbalik menatap Ayahnya, lalu sekali lagi tertawa.


"Ada apa Key?"


"Itunya Ayah besar, kayak sosis ya"


Cobaan apalagi ini?, batin El.


"Punyaku besok juga besar kayak Ayah" timpal Kai.


El semakin menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Anak-anaknya memiliki banyak pertanyaan yang tak bisa ia jawab dengan mudah. Ia penasaran bagaimana Asya akan menjelaskan jika putranya menanyakan hal seperti ini.


"Dengarkan Ayah ya, kalau kalian mau cepat besar. Jangan tunjukkan milik kalian pada siapapun. Itu tidak boleh, kalian mengerti?"


"Tapi kita kan mandi bersama, pasti terlihat" jawab Kai.

__ADS_1


Asya benar, Kau sangat pintar. Hm, aku harus apa?


"Iya kalau mandi bersama Ayah tidak apa-apa. Tapi kalau orang lain tidak boleh ya. Jangan kasih tau Bunda juga, kalau Bunda mandikan kalian suruh gosok punggung saja. Anak Ayah kan sudah besar sekarang, iya kan?"


Kai dan Key mengangguk, mereka bergantian menggosok punggung El sambil bermain-main. Ketiganya begitu asik bermain air hingga lupa jika hari semakin sore.


Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka, El dan si kembar terdiam memandangi ke arah pintu. Asya masuk menghampiri ketiga prianya. Ia mencium satu persatu kemudian kembali keluar kamar untuk menyiapkan pakaian mereka.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Di rumah Adhitama....


"Ayah, besok janji mau belikan kereta kan?" Ucap Key kala hendak berpisah dengan Ayah dan Bundanya.


"Iya sayang, semua yang anak Ayah inginkan pasti Ayah belikan. Jangan nakal ya"


"Iya, aku sayang Ayah" ujar Key lalu mencium pipi El kemudian diikuti oleh Kai.


Mereka berlanjut memeluk Asya dengan erat. Cukup lama mereka memeluk sang Bunda, seolah begitu takut bila Asya pergi. Setelah si kembar masuk kedalam rumah, El dan Asya pun pergi meninggalkan rumah Adhitama.


Selama perjalanan, tangan El tak pernah melepaskan genggaman dari istrinya. Ia terus mencuri-curi pandang pada Asya. Padahal malam ini pakaian sang istri sangat sederhana. Dengan dress lengan panjang berwarna hitam yang terlihat sangat anggun saat Asya kenakan. El sudah mewanti-wanti sang istri agar tak memakai dress selutut atau diatasnya dan tidak mengenakan pakaian tanpa lengan. Begitu banyak aturan, El ingin melindungi tubuh istrinya dari mata laki-laki lain.


"Sayang, rambut kamu cantik banget sih" puji El basa basi.


"Rambut? Bukan aku nya yang cantik?"


"Ka.. kamu juga cantik kok" jawab El gelapan. Jantungnya berdebar sangat kencang, hingga wajahnya pun memerah karena malu.


Asya hanya tertawa kecil, suaminya seperti anak muda yang baru saja jatuh cinta. Mereka telah sampai di rumah teman El, banyak sekali mobil terparkir disana. Asya mulai menduga sepertinya teman-teman sang suami berasal dari keluarga menengah ke atas. Asya menggandeng tangan El dan masuk kedalam.


Sebenarnya Asya sedikit terkejut, pakaian para wanita ini begitu terbuka. Tapi Asya tak heran jika ini teman-teman suaminya. Rumah ini seperti tempat club malam. El langsung menghampiri kedua temannya yang tengah merayakan ulang tahun pernikahan. Hanya untuk sekedar mengucapkan selamat.


"Elvin, jadi nona manis ini istrimu? Dia terlihat sangat muda" ucap teman pria El.


"Istrimu cantik sekali El, hai, aku Najwa. Kami berdua teman SMA Tuan Elvin Adhitama" sela sang wanita seraya menjulurkan tangannya.


"Aku Asya, anda juga sangat cantik dan tampan. Terimakasih pujiannya"

__ADS_1


"Manisnya" seru Najwa seraya mencubit pipi Asya.


El langsung menepis tangan temannya itu, ia menggeleng sambil tersenyum dengan wajah datarnya.


"Nona Asyaaa" seru para wanita yang langsung menarik Asya agar ikut bersama mereka. Mereka adalah istri dari teman-teman dekat El yang sudah mengenal Asya. Para wanita yang Asya temui tadi pagi di kafe.


"Hei, hei, tunggu..." ucap El terpotong sebab para suami menepuk pundaknya. Meminta El untuk bersabar sebab dijauhkan dari sang istri tercinta.


El dan para suami pergi ke sudut lain berdekatan dengan minuman. Menikmati pesta sambil kembali bertukar cerita lama. Terlihat dari kejauhan Zio yang baru saja tiba bersama Jihan. Setelah mereka menemui bintang utama, sama seperti El dan Asya, mereka juga dipisahkan.


"El, lihat tuh mantan mu, seksi bener, mon tok" celetuk salah seorang teman El.


"Astaga, dia cantik banget" sahut El.


"El, ingat ada Asya" timpal Zio.


Wanita yang mereka bicarakan perlahan berjalan mendekat. Lenggak-lenggok tubuhnya yang seksi di balik pakaian ketat itu menggoda setiap mata pria. Ia tak berjalan sendiri, di samping kanan dan kirinya juga sama menggodanya. Tujuan mereka tentu tak lain dan tak bukan adalah keberadaan El dan kawan-kawan nya.


"Ah, sial bikin nafsu aja nih cewek-cewek. Gak berubah sama sekali" ujar salah seorang pria.


"Aku juga jadi gak tahan kalau gini. Dia cantik sekali saat tersenyum" ucap El yang sudah seperti orang terhipnotis. Matanya terus memandang lurus kedepan.


"Hai Elvin, kamu makin oke aja" goda wanita yang merupakan sang mantan kekasih. Ia berdiri tepat di depan El, berdiri begitu dekat hingga menempelkan dadanya yang menonjol pada tubuh El.


"Makasih" jawab El.


"Gak kangen main sama aku ya? Boleh lah semalam kita bersama"


"Apa? Cuma semalam?"


"Baiklah, Asala aku harus tau berapa banyak yang bisa kau berikan Tuan Elvin" bisik wanita itu di telinga El.


Zio terus mencolek-colek lengan El, tapi pemuda itu malah meladeni mantan pacarnya itu.


"Tapi jika ku lihat lagi, kau kurang menarik"


"Apa? Bohong banget sih kamu? Dari tadi kamu lihatin aku kan?" Pancing wanita itu sekali lagi. Ia menggerakkan pahanya mencoba membangunkan milik El.


"Ash, sial, aku tidak tahan melihatnya" umpat El seraya menutup matanya dengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2