
Hari ini sangat melelahkan, si kembar sangat aktif kesana-kemari. Asya lelah mengikuti kedua putranya yang senang sekali bermain. Karena tak ingin merepotkan Zio dan Jihan, Asya memutuskan untuk membawa kedua putranya pulang. Sebab tak ada El, mereka tak mendengarkan Asya dengan baik.
Agus menjemput Asya dan kedua putranya, saat di dalam mobil pun, si kembar masih asik mengoceh bersama. Menceritakan pada Agus ada banyak sekali hal yang indah dan ingin mereka mainkan.
Asya hanya diam menikmati jalanan, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Sampai di rumah, hari sudah sore, Asya memandikan si kembar dan membiarkan mereka bermain bersama dengan Ipah. Sedangkan dirinya, memandangi foto pernikahan nya dengan El.
Malam tiba...
Pukul 22:00...
Si kembar sudah tertidur, hari ini El harus lembur. Asya masih menunggu suaminya di ruang keluarga. Sembari menonton drama Korea yang saat ini membuatnya tak tertarik sama sekali.
"Sayang, belum tidur?" Tanya El yang baru saja masuk kedalam rumah.
"Sayang, kangeeen"
"Eh, tumben manja gini. Ada apa?"
"Kangen Mas, kangen suamiku tercinta ini"
El tertawa kecil melihat tingkah manja sang istri. Ia duduk di samping Asya dan memeluknya erat. Gadis kecilnya masih bisa manja juga rupanya. El mengelus rambut panjang istrinya, menghujaninya dengan banyak ciuman.
"Sayang, aku pingin anak cewek, boleh ya?"
"Hmm, kau sudah punya dua putra dan mau lagi?"
"Tambah satu aja Mas, aku bisa ngurus mereka"
"Kalau cowok lagi gimana?"
"Ya udah gak apa-apa, aku gak minta lagi"
El terdiam sejenak, ia seperti mempertimbangkan permintaan Asya. Namun El masih menolak, ia tak ingin menambah anak lagi. Ia bahkan berkata pada Asya akan meminta Zio untuk memiliki anak perempuan, agar Asya bisa merawatnya. Menyebalkan, hanya kata itu yang terlintas dalam benak Asya.
Asya membawa tas suaminya ke kamar, dan meminta El untuk segera mandi.
"Laper sayang"
"Mas belum makan malam?"
El menggeleng.
"Tumben, biasanya kan makan diluar"
__ADS_1
"Mana ada, masakin dong, kita makan bareng"
Asya tertawa kecil dan mengangguk. Ia meminta sang suami untuk mandi lebih dulu dan ia menyiapkan makan malam untuk El. Sebelum menyiapkan makan malam untuk El, ia mengganti pakaiannya dan berdandan sedikit untuk sang suami.
Setelah pukul delapan malam, para pekerja di rumah El sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, atau pergi ke mes karyawan. El tak ingin malam hari ada yang masih bekerja di dalam rumah kecuali jika dirinya yang memanggil. Tapi para penjaga masih terus berjaga di sekitar rumahnya selama 24 jam penuh.
"Hai sayang" bisik El seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Ih Mas El, geli tau. Cukur aja nih jenggotnya, jelek"
"Massa sih? Ganteng gini kok"
"Sekalian bulu kakinya biar mulus kayak oppa"
El menggigit pipi istrinya gemas, masih saja Asya menyukai Oppa-Oppanya padahal jelas sang suami lebih dari segalanya. Asya tertawa dan mulai menghidangkan makanan di piring El. Ia terua menatap El yang sedang menikmati makanannya.
"Mas, tadi aku ketemu Nando"
"Udah tau, Zio sudah cerita. Kenapa? Seneng ya kamu? Berdebar-debar ketemu dia?"
"Iih apa sih, Mas alay banget tau gak. Mana ada, aku takut Mas El marah. Kamu kan cemburuan wleee"
El hanya melirik sekilas Asya, ia kembali melanjutkan makannya. Memang benar ia sedikit kesal dan cemburu. Jika saja bisa, El tak pernah ingin Asya dan Nando bertemu. Bahkan siapapun akan menyadari jika Nando sangat mencintai Asya sampai saat ini. Hanya saja Asya dengan pemikiran bodohnya, tak bisa mengerti itu.
"Mas"
"Marah ya? Maaf"
"Mana bisa aku marah sama kamu. Ada apa sih? Kamu hari ini manja banget, serius deh"
Asya memanyunkan bibirnya, entah ada perasaan apa, tapi memang hari ini Asya sedang ingin di manja oleh suaminya. Selesai makan, El kembali ke kamar lebih dulu. Asya membereskan peralatan makan dan mengambil segelas air putih untuk sang suami.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka, Asya mengedarkan pandangannya. Sayangnya ia tak mendapati suaminya diatas tempat tidur. Pintu kamar tiba-tiba saja tertutup, El sudah berdiri bertelanjang dada disana.
Asya spontan tertawa dan menghentakkan kakinya gemas. El mengambil gelas yang ada ditangan sang istri, menaruhnya diatas meja, menjauh dari mereka sejenak. Kemudian ditariknya Asya untuk mendekati dirinya. Ditatapnya mata sang istri seraya mengelus lembut pipinya.
El menggendong Asya dan mendudukkan nya diatas meja kerjanya. Ia melingkarkan tangan Asya di bahunya. Ini, ini sama persis seperti apa yang mereka lakukan dulu.
"Lakukanlah yang tidak bisa kau lakukan dulu" ucap El menggoda.
Asya sejenak tertawa kecil, ia menarik leher El untuk mendekat. Menatap mata suaminya lekat, dan mengelus setiap inci wajah El. Ia dekatkan hidungnya pada hidung El, jarak terdekat membuat darah Asya mendesir. Di usapnya bibir El dengan lembut, sebelum mulai menciumnya.
__ADS_1
Asya mengunci tubuh El dengan kakinya, sedangkan El sudah mulai menjelajahi tubuh sang istri dengan tangan nakalnya. Satu demi satu pakaian tidur Asya terlepas, El semakin menikmati malam itu. Terlebih hujan mulai turun menemani malam indah mereka.
"Mas, gendong ke kasur" pinta Asya.
El tertawa sambil menggendong istrinya menuju tempat tidur mereka.
"Mas El gak capek? Kan baru pulang kerja"
"Aku kan laki-laki, masih kuat kok. Mau berapa ronde kamu?"
"Iiih sayang nakal banget sih"
El kembali melu mat bibir istrinya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Keduanya semakin tak bisa menahan keinginan untuk menciptakan malam indah bersama.
Asya bisa merasakan perasaan nikmat itu, ia menjambak pelan rambut suaminya. Permainan El tak pernah mengecewakan, selalu bisa memuaskan istrinya.
"Masih kuat sayang?"
"Masih Mas, masih pingin juga, hehe"
"Lihat, sekarang siapa yang nakal? Hm... dasar gadis kecilku. Kamu mau coba lewat mulut gak?"
"Iiih Mas El mah"
"Iya-iya bercanda. Tahan ya, aku mulai nih"
Malam pun terasa panjang dan berkesan untuk keduanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi menjelang...
Seperti biasa alarm Asya berbunyi pukul empat pagi. Ia terbangun, begitu juga dengan El.
"Masih kuat gak?" Lirih El.
"Mas, kamu masih pingin? Gimana kalau kita program hamil lagi?"
"Gak jadi deh, ngantuk" ucap El kemudian memunggungi Asya.
Asya terkekeh melihat suaminya marah. Ia mendekap El dari belakang, meraba tubuh indah suaminya. Hingga berakhir di sesuatu yang telah menegang karena sentuhan kecil Asya.
"Kamu nolak aku tapi sekarang bangunin yang bawah. Mau jadi cewek nakal ya?"
__ADS_1
"Mas El kan suamiku"
"Kau benar, kau istriku. Jadi mari kita main sekali lagi sayang. Aku tak bisa menahannya lagi, Asya kau memang nakal"