Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 72


__ADS_3

Seperti biasanya, pagi menjelang dan Asya bangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu, ia hendak turun ke bawah. Tapi, suara pintu kamar yang terbuka menghentikan langkahnya.


Farel dan Adelia terlihat keluar dari kamar. Keduanya berjalan bersama masuk kedalam kamar mandi.


"Oh ayolah Asya, ini sudah beberapa tahun. Pasti sudah ada cinta diantara mereka berdua" gumam Asya sambil cekikikan.


Setelah keduanya masuk kedalam kamar mandi, Asya langsung turun kebawah. Ia mulai membersihkan rumah. Sesekali ia mengintip pintu kamar mandi yang masih tak kunjung terbuka.


Bukannya melihat Farel dan Adelia, Asya malah bertemu dengan El yang terbangun dari tidurnya. Pemuda itu berjalan mendekati Asya dan bermanja-manja pada sang istri.


"Mas, nanti ada yang lihat"


"Gak bakal, mereka pasti masih tidur. Kamu tuh, aku masih pingin nih" rengek El kesal. Ia mendudukkan istrinya diatas meja dapur. El membenamkan wajahnya dipundak Asya. Aroma wangi istrinya kembali membangkitkan hasrat El.


Asya sudah mencoba mendorong El menjauh, tapi pemuda itu malah memeluk Asya dengan sangat erat.


"Sedang apa mereka berdua di kamar mandi?" Gumam El penasaran. Ia tak sengaja menatap Farel dan Adelia yang baru saja keluar kamar mandi sambil tertawa.


"Mas El ih, aku mau masak" teriak Asya kesal.


Sontak saja saja Farel dan Adelia menoleh. Menatap El yang juga melihat ke arah mereka. Adelia bergegas masuk kedalam kamar, sedangkan Farel berjalan ke ruang tamu.


"Mereka ngapain?"


"Siapa?"


"Kamu tahu kan kalau mereka berdua ada dikamar mandi?"


"Ap..apa sih aku gak tahu apa-apa" jawab Asya terbata-bata.


El masih memandangi Asya, ia tahu jika istrinya sedang berbohong. Karena wajah gugup Asya terlihat sangat jelas. Tak mau basa-basi lagi, El menggendong istrinya menuju kamar. Ini memang sudah biasa, tapi Asya sangat terkejut kala mendapati Farel yang sudah duduk diruang tamu. Menatapnya dan El dengan senyuman.


El baringkan tubuh Asya diatas kasur, ia pun ikut berbaring disamping istrinya. Memeluk Asya dengan sangat erat.


"Mas, kita harus bantuin Mas Farel dan Mbak Adel" pinta Asya.


"Tidak"


"Mereka saling mencintai Mas, kita bisa melupakan masalalu"


"Sya, aku tidak menyukai sikapnya. Dia mengkhianati Mas Farel, dia tidak pantas untuk Mas Farel"


Asya menepis tangan El dari tubuhnya. Menghembuskan napasnya kasar, dan duduk sambil menatap suaminya.

__ADS_1


"Mas El mau membahas masalalu denganku?"


"Bukan begitu sayang"


"Jika Mas El tidak bisa menerimanya, aku juga tidak mau menerima Mas El"


"Nyonya El"


"Tuan El"


El merasa sangat kesal, ia pikir istrinya sangat kekanakan. Ia memilih berbaring dan memunggungi Asya. Sedangkan Asya juga tidak peduli, ia pergi keluar kamar dan kembali sibuk di dapur.


Asya mulai memasak, ditemani oleh Farel yang sedang mengerjakan pekerjaannya diruang tamu. Adelia dan Aqilla tak kunjung terlihat kehadirannya.


Setelah selesai memasak dan menata semuanya di meja makan. Asya meminta Farel dan keluarganya duduk dimeja makan untuk sarapan. Tak berselang lama, El turun dan langsung pergi begitu saja tanpa menatap Asya ataupun yang lainnya.


"Sya, El kenapa?"


"Biarkan saja Mas, dia memang keras kepala. Kita makan saja, Imo sudah memasak makanan kesukaan Aqilla. Dicoba ya"


Asya menyiapkan makanan untuk Aqilla. Ia merasa senang bisa melihat keponakan kecilnya dipagi hari.


"Imo, Om El masih berdiri disana"


Sebagai seorang istri yang baik, Asya pun berjalan mendekati sang suami. El terlihat diam dan bersikap jika dirinya sedang marah.


"Mas El gak mau makan dulu?"


"Gak lapar"


"Oh, ya udah, aku tutup pintunya. Hati-hati"


"Massa aku dibiarin pergi gitu aja? Tahan dong"


"Kan Mas El yang minta, aku mah nurut aja"


El menatap istrinya dengan malas, Asya tidak peka sama sekali. Padahal El berharap Asya akan menahannya dan meminta maaf. Kemudian mereka kembali seperti dulu lagi, El merasa jika istrinya sangat keras kepala.


Pada akhirnya El memutuskan untuk pergi ke kantor. Sekali lagi dalam keadaan marah dan gelisah. Jika mood El seperti ini, pasti korbannya adalah para karyawan di kantor.


Selesai sarapan, Farel pun berangkat ke kantor. Menitipkan anak dan istrinya pada Asya.


Aqilla sangat bahagia, ia tak pernah kehilangan senyumannya dipangkuan Asya. Mereka bahkan terlihat sangat akrab, sedangkan Adelia. Ia sibuk bermain ponselnya, walau sesekali melirik ke arah Asya dan putrinya.

__ADS_1


"Asya, maaf merepotkan kalian"


"Tidak apa-apa Mbak Adel, aku senang memiliki teman. Aku juga ingin segera memiliki anak"


"Tidak semua orang yang memiliki anak pasti bahagia"


"Itu hanya persepsi, semua tergantung dari bagaimana kita berpikir. Tetangga sebelahku juga baru melahirkan Mbak, nanti kita kesana ya"


"Tapi kan, aku tidak mengenalnya"


"Ayo lah Mbak, Mas El pasti marah jika aku pergi sendiri. Dia tidak suka jika aku berteman dengan para tetangga"


Adelia bisa mengerti, sebab dirinya juga tidak suka bertetangga. Mereka terlalu ikut campur dan mengusik hidupnya. Saat kita butuh pertolongan, mereka tak pernah bisa membantu. Tapi saat mereka membutuhkan pertolongan, selalu memaksa dengan segala cara.


Para bodyguard Asya sudah mulai berjaga, kini bertambah dua orang lagi. Sepertinya El sangat khawatir, terlebih kini ada dua wanita lagi yang ada dirumahnya.


"Kau memiliki banyak bodyguard"


"Aku tidak mengerti dengan jalan pemikiran suamiku. Ia sangat menjagaku, walau kadang aku merasa risih"


"Asya, kau sangat menyayangi Aqilla. Apa kau tahu jika dia...."


"Mbak, dia tidak salah. Kenapa kita harus menghukumnya? Ia masih sangat kecil, masih membutuhkan banyak kasih sayang"


"Tapi dia adalah alasanku disini hari ini Sya. Aku benci padanya, harusnya aku tak pernah melahirkan dia. Dia pembawa sial"


Perkataan Adelia begitu kejam, Asya sampai menutup telinga Aqilla dan mendekapnya erat. Hati Asya ikut terluka karenanya, diusia sekecil ini, Aqilla mendapatkan banyak kebencian padahal ini bukan kesalahannya.


Harusnya orang tua Aqilla yang merasa malu, marah pada dirinya sendiri. Bukan menyalahkan kehadiran Aqilla yang tidak tahu apapun. Air mata Asya kembali jatuh, ia tak bisa membendung rasa sakit itu.


Walau tak ada hubungan darah, Aqilla sudah menjadi bagian dari keluarganya.


"Apa orang tua Mbak Adel pernah berkata seperti itu padamu?"


"Tentu saja tidak, karena aku anak mereka. Jika anak ini...."


"Aku anak Papa dan Mama ku, Papaku sering mengatakan hal seperti itu. Rasanya sangat sakit, hatiku terluka. Kenapa Mbak Adel sangat kasar"


"Aa... Asya, maaf aku tidak bermaksud untuk...."


"Aku akan membawa Aqilla ke kamarku, jika Mbak Adel butuh sesuatu, panggil saja aku"


Asya menggendong Aqilla menuju kamarnya. Ia tak tahan berada disana. Entah apa yang akan terjadi jika Adelia dan Aqilla ditinggalkan berdua saja. Bahkan memikirkannya pun membuat Asya kembali menitihkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2