Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 95


__ADS_3

Esok menjelang....


El dan Asya tak pulang larut malam, El ingin menghabiskan waktu bersama sang istri tercinta.


Alarm berbunyi nyaring pukul empat pagi, seperti biasanya. Asya meraih ponselnya dan mematikan alarm tersebut. Ia kemudian kembali memeluk tubuh polos suaminya. Seperti biasa, menghabiskan malam dengan penuh cinta.


"Hm... sekarang aku akan sering bangun pagi karenamu" bisik El kemudian mencium kening istrinya.


"Mas El sudah bangun? Maaf ya, tidur lagi gih masih pagi. Aku mau bersih-bersih rumah dulu terus masak"


Bukannya melepaskan pelukan, El malah semakin mendekap istrinya. Ia mulai melu mat bibir Asya dan kembali memulai permainan manis di pagi hari. Suara musik yang El rindukan.


"Sayang, sebenarnya kamar di bawah itu aku jadikan mess karyawan. Itu bukan kamar anak-anak"


"Loh? Mas tapi, ih Mas El gimana sih?"


"Aku bangun rumah baru buat kamu, nanti kita kesana ya. Rumah ini aku jadiin mess biar aku gak kesepian karena gak ada kamu"


"Mm... kasihan banget suamiku kesepian" goda Asya melingkarkan tangannya pada leher sang suami.


El menggosokkan wajahnya pada leher Asya, gemas sekali melihat istrinya seperti ini. Mereka memutuskan untuk mandi bersama dan bersiap menjemput si kembar.


El sudah menunggu dibawah sambil berbincang dengan beberapa karyawan nya. Mereka mulai berpikir nakal mengenai El yang pertama kalinya membawa perempuan ke rumah.


Lima tahun adalah waktu yang singkat juga lama. El sudah berhasil membeli seluruh rumah yang ada di kompleks perumahan nya. Ia menjadikan kompleks itu sebagai mess bagi para karyawan nya. Karyawan yang bekerja di bidang ekspedisi pengiriman barang.


El memulai usahanya setahun setelah putra kembarnya lahir. Karena melihat sang istri yang suka sekali berbelanja online sebab mengurus si kembar. Hal itu menjadikan ide untuk El mulai membangun usaha tersebut. Dan alhasil, semuanya berjalan lancar dan usahanya sudah memiliki beberapa cabang diluar kota hanya dalam beberapa tahun saja.


"Sudah saya bilang, saya sudah menikah" jelas El pada karyawan nya. Sebab mereka tak pernah melihat Asya, karena itulah mereka berpikir jika El masih melajang. Terlebih rumor mengenai masalalu El yang suka bermain wanita masih samar sering terdengar.


"Pak Elvin, itu candaan lama" sahut salah seorang karyawan.


"Hei, dia yang memberiku ide membangun usaha ini. Dia memang pembawa keberuntungan" jelas El sekali lagi.


Tapi para karyawan nya tak kunjung percaya, ia masih tak yakin jika sang bos telah menikah.


Brrm....


Suara mobil samar terdengar, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah El. Tak berselang lama, si kembar turun dengan raut wajah kesalnya. Mereka menatap El dan mengomel sebab sang Ayah tak menepati janji untuk menjemput mereka di pagi hari.


Karyawan El kembali terkejut, melihat si kembar yang wajahnya sangat mirip dengan El tentunya.

__ADS_1


"Ayah, Ayah berjanji akan menjemput kami di pagi hari. Tapi ini sudah jam tujuh pagi, Ayah berbohong" rengek Key kesal.


"Ini kan masih pagi sayang" bela El.


"Tidak, kami sudah bangun sejak pukul empat pagi. Ini sudah siang, Bunda yang mengajarkannya" imbuh Kai menjelaskan.


El tertawa getir mendengar ucapan si kembar. Ia pikir Asya sedikit berlebihan mengajari kedisplinan pada kedua putra mereka.


"Sayang, kalian sudah ada disini?" Seru Asya yang baru saja keluar rumah.


Kai dan Key berlari memeluk Bunda mereka. Mencium pipi Asya berkali-kali dan bermanja dalam pelukan sang Bunda. Laura dan Airin yang mengantarkan cucunya hanya bisa menatap dari kejauhan. Mereka merasa jika Kau dan Key sangat sulit di dekati.


"Asya, mereka memarahiku"


"Apa? Kenapa? Kalian memarahi Ayah kalian? Itu tidak baik, minta maaf"


Kai dan Key menoleh menatap Ayahnya. Mereka berjalan mendekati El dan meminta maaf padanya.


"Ayah maafkan aku" ujar Kai lebih dulu.


"Aku juga minta maaf Ayah" sambung Key.


El berjongkok dan memeluk kedua putranya, serta mencium pipi mereka. Ia tak ambil pusing, ini hanya tingkah konyol anak-anak. Aqilla dulu juga sama seperti mereka, lucu dan menggemaskan.


"Gimana kalau kita pergi ke rumah baru?" Usul Asya seraya mengambil alih kedua putranya. Ia membuka mobil El dan menaikkan si kembar masuk kedalam.


"Bisakah kita menitipkan mereka lagi? Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama mu" rengek El.


"Para karyawan Mas melihat, jangan seperti anak kecil. Cepat masuk" ucap Asya kemudian masuk kedalam mobil.


El mendengus kesal, tak cukup rasanya hanya semalam bersama sang istri. Ia rindu mereka yang dulu, hanya berdua dan penuh cinta. El berpamitan pada karyawannya dan pergi meninggalkan kompleks. Melajukan mobilnya menuju perumahan elite dengan pengamanan ketat. Ia tak ingin ambil resiko, El membangun rumah setelah memastikan penjagaan terbaik di lingkungan rumahnya.


Deretan rumah mewah nan megah menghiasi perjalanan mereka. Tapi si kembar tampak tak tertarik sama sekali. Keduanya hanya fokus pada buku yang mereka pegang. Memperhatikan setiap gambar dan belajar mengejanya.


"Sayang, anak-anak akan tidur sendiri. Aku sudah menyiapkan masing-masing satu kamar untuk mereka"


"Tidak Ayah, aku mau tidur bersama Bunda" sela Key.


"Aku juga"


"Mas, anak-anak masih terlalu kecil untuk tidur sendirian"

__ADS_1


"Tapi Sya, aku juga mau waktu kamu bersamaku. Kau berjanji tidak akan..."


Asya menggenggam tangan suaminya, ia mencium tangan El dan memandang nya dengan senyuman. Akhirnya El memberhentikan mobilnya di sebuah rumah yang memiliki halaman luas dengan banyak mobil didalamnya. Beberapa orang juga telah berjejer, seolah menyambut kedatangan mereka.


Seorang pria paruh baya berjalan mendekat dan membukakan pintu untuk Asya juga si kembar. Asya bisa melihat bangunan rumah di ujung, tapi ia tak mengerti kenapa halamannya begitu luas dengan banyak mobil dan sepeda motor disini.


"Ini semua milik Mas El? Sebanyak ini tanpa memberitahu ku?" Oceh Asya saat melihat sekelilingnya.


"Jika memberitahu mu, kau akan mengomel seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk membeli lebih dulu dan minta maaf nanti padamu"


Kalimat menakjubkan itu sukses membuat Asya menganga tak percaya. Tapi si kembar sepertinya sangat menyukai pemandangan itu, mereka terkagum melihat berbagai mobil disana. Bahkan mereka sudah mulai memilih mobil mana yang akan menjadi milik mereka nantinya.


"Ayah, aku mau mobil itu" celetuk Key dengan manisnya.


"Aku juga mau, itu, itu dan itu" sahut Kai tak kalah hebohnya.


"Lihat kan? Selera kami memang sama. Perkenalkan ini istri saya, Asya, dan anak-anak kami, Kai, ini Key" jelas El pada para pekerjanya.


Ada tiga orang yang berjejer di barisan depan, Ketua Keamanan, Ketua bagian dapur dan Ketua bagian membersihkan rumah. Asya setidaknya harus mengenal mereka bertiga. Sebab dibelakangnya masih banyak anggota yang membantu, tapi Asya tak perlu mengetahui nama ataupun yang lainnya lebih jauh.


"Apa rumah kita jadi tempat penjualan kendaraan?"


"Tidak sayang, ini bukan rumah kita. Ini mess karyawan dan garasi. Rumah kita ada di seberang sana, ayo anak-anak"


El menggiring langkah keluarganya menuju rumah yang sesungguhnya. Betapa terkejutnya Asya melihat rumah yang menjulang tinggi dan besar, mirip seperti istana. Dengan pagar tinggi yang menutupi area depan, namun kemegahan rumah itu jelas terlihat adanya.


"Ini... rumah kita Mas? Besar sekali, Mas El serius?"


"Tentu sayang, kau bukanlah seorang putri di rumah ini, tapi kau ratunya, Asya. Ini kerajaan mu"


"Mas El, terimakasih" ucap Asya memeluk suaminya erat. Ia tak bisa berkata-kata lagi, ini hadiah yang sangat indah dan istimewa. El tak lupa jika istrinya selalu ingin menjadi seorang putri. Tapi El, menjadikan sang istri lebih dari yang diharapkan.


"Ini hadiah dari Ayah untuk Bunda?" Tanya Kai. Ia juga mengagumi betapa megahnya rumah mereka. El mengangguk pasti, ia dengan bangga mengatakan jika ini adalah kerajaan milik Asya, Bunda mereka.


"Saat besar nanti, aku mau menjadi seperti Ayah. Aku mau membuat Bunda bahagia dan membangun kerajaan lain untuk Bunda" seru Key. Ia begitu bersemangat dan berlari memasuki rumah besar mereka.


Pagar tinggi itu terbuka, para pekerja di rumah megah itu berjejer menyambut kedatangan El. Baru saja memasuki halaman depan, sebuah taman dengan kolam koi dan jembatan kecil sudah memanjakan mata mereka. Dengan pohon sakura yang cantik dan indah. Nuansa Jepang sungguh terasa disana.


Kau dan Key tak sabar, mereka berlari dan menaiki jembatan kecil itu. Melangkah kesana kemari sembari memberi makan ikan koi.


"Aku mencintaimu Mas El, aku mencintaimu"

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu sayang" jawab El sembari mengecup singkat bibir istrinya.


__ADS_2