
"Kamu sakit Sya? Kok muka kamu pucat?" Tanya Nando seraya memegang dahi Asya. Ia terkejut karena suhu badan Asya yang panas.
Jihan dan Gita juga ikut memeriksa setelah melihat ekspresi Nando.
"Sya, loe sakit. Kita kerumah sakit yuk" ajak Jihan sembari membantu Asya berdiri.
Perlahan Asya berdiri dengan bantuan teman-teman. Ia sudah berusaha untuk ceria menutupi sakitnya, tapi penyakit itu lebih kuat dari kebohongan Asya.
"Asya" teriak ketiganya ketika melihat Asya pingsan. Nando dengan sigap menggendong Asya dan membawanya keluar kantin. Mereka berniat untuk membawa Asya ke rumah sakit terdekat.
"Tunggu-tunggu, biar aku aja yang gendong" teriak Zio yang tiba-tiba saja menghampiri ketiga teman Asya. Zio meminta untuk mengambil alih menggendong Asya, tetapi Nando tak membiarkannya bahkan hanya untuk sekedar menyentuh Asya.
"Loe siapa? Kita gak kenal sama loe, kenapa loe mau gendong dia" Tanya Nando yang kesal karena panik. Zio mencoba menjelaskan jika dia adalah teman suami Asya, tetapi ketiga teman Asya tak ada yang percaya. Sebab tak pernah ada diantara mereka yang melihat Zio dan Asya sebelumnya.
"Oke gini aja, naik mobilku, itu dekat, ayo" pinta Zio mengajak mereka semua.
Nando, Jihan dan Gita menerima tawaran itu, mereka harus bergegas membawa Asya kerumah sakit. Didalam mobil, Nando terus saja memanggil nama Asya, ia bahkan membiarkan Asya jatuh dalam dekapannya.
Sesekali Zio menatap spion, ia tak menyukai pemandangan ini. Zio tahu, hanya dengan melihat ia bisa mengerti jika perbuatan baik Nando itu karena dirinya mencintai Asya. Tidak, ini tidak boleh berlanjut, Zio harus memberitahu El tentang ini.
Sesampainya dirumah sakit, Asya segera diperiksa dan Zio menelepon El untuk memberitahu keadaan Asya.
Walau dokter sudah mengatakan jika Asya baik-baik saja dan hanya kelelahan, Nando tak pernah sekalipun beranjak dari sisi Asya. Ia terus menggenggam tangan Asya sambil memanggil namanya. Jihan dan Gita juga melakukan hal yang sama.
"Ka...kalian, aku pingsan ya? Aku gak apa-apa kok, aku mau pulang aja" lirih Asya setelah ia membuka mata. Nando senang melihat wanita yang ia cintai telah membuka matanya, tangannya mulai mengelus kepala Asya dengan lembut.
"Zio" Panggil El yang baru saja tiba. Zio menunjuk Asya yang sedang dikerumuni oleh teman-temannya. Hampir saja Zio kehilangan kendali dan menghajar Nando yang begitu dekat dengan Asya. Untungnya El datang dan membuatnya sedikit tenang.
__ADS_1
"Waaah, Kakak Ipar lihat, suamimu membawa bunga untukmu" seru Zio bersemangat.
Gita dan Jihan menepi, memberikan Asya ruang agar bisa menatap suaminya. El menatap Zio dengan bingung, karena Zio yang menyuruhnya untuk membeli buket bunga ini.
"Waaahh, so sweet, uhuk-uhuk" balas Asya tak kalah heboh. Asya mencoba untuk duduk, Nando yang dekat dengannya membantu tubuhnya yang masih lemah.
Asya menjulurkan kedua tangannya ke arah El. El berjalan mendekat, memberikan buket ketangan Asya. Tapi Asya menggeleng, tangannya terus menyuruh El untuk mendekat.
Begitu El berada didekatnya, Asya memeluk El dengan erat. Mendongakkan kepalanya sambil berkata, "Mas El, ninggalin pekerjaan demi aku?"
Dielusnya rambut panjang Asya, seraya duduk dihadapannya. El memeriksa dahinya, suhu tubuh Asya masih tinggi. "Mas El, pulang yukkk. Gak mau disini" rengek Asya kembali memeluk suaminya erat.
"Tidak, sudah sana kamu istirahat lagi, pulangnya besok. Aku harus ke kantor lagi, disini banyak teman-teman kamu kan" bujuk El. Ia menjauhkan Asya darinya, raut wajah Asya terlihat sedih.
"El, aku yang akan urus semuanya di kantor. Kau temani Kakak Ipar saja disini, dan mereka semua, aku akan mengantar kalian kembali ke kampus" sahut Zio dengan senyum lebarnya.
Jihan dan Gita tertawa canggung, keduanya segera mengajak Nando untuk pergi dari sana. "Asya, kita duluan ya, loe cepet sembuh" pamit Gita. Asya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada teman-temannya.
Walau Nando kekeh tak ingin pergi, Jihan dan Gita sekuat tenaga membawanya untuk keluar ruangan. Memberikan Asya waktu berdua bersama suaminya. Zio merasa sangat puas dengan ide hebatnya ini.
"Mas El, aku mau pulang, aku gak mau dirumah sakit. Takut ada hantunya, ayo kita pulang aja mas" rengek Asya sekali lagi. Gadis ini memang penakut, apalagi jika berhubungan dengan hal yang tak kasat mata.
El tak peduli apapun alasan istrinya, ia tidak akan membiarkan Asya pulang sebelum suhu badannya normal.
"Mas El, kalau Asya dirumah, kan Mas El bisa ke kantor lagi. Ada Mbak Ipah yang jagain Asya, ada Bunda dan Mama juga kan. Mereka tadi telepon Asya katanya mau nginep sehari, mau lihat-lihat taman baru dirumah" sekali lagi Asya mencoba meyakinkan suaminya.
"Ya udah, aku urus administrasinya dulu" El begitu mudah terbujuk dengan berbagai alasan yang Asya lontarkan. Ia pun pergi untuk mengurus kepulangan Asya.
__ADS_1
Dirumah El......
Bunda dan Mama sedang sibuk memperhatikan kamar pengantin baru. Kembali ide licik kedua ibu ini bermunculan. Mereka menghias kamar El dan Asya agar terlihat lebih romantis. Tak lupa kado gaun malam untuk Asya.
"Bundaa, Mamaa" teriak El yang baru tiba.
Keduanya segera keluar kamar dan turun, mereka tidak menyangka El akan pulang secepat ini.
"A..ada apa? Kok udah pulang?" Tanya Bunda.
"Loh Asya kenapa?" Teriak Mama yang melihat El menggendong Asya.
El menjelaskan jika suhu badan Asya kembali naik, dan ia hendak menidurkan Asya di kamar.
""E eh jangan, disini aja, biar kami yang urus, kamu mau balik kantor kan?" Tahan Bunda. El mengangguk dan menuruti Bunda untuk menidurkan Asya diruang tamu.
"Yaudah kamu berangkat gih, hati-hati ya" ucap Mama seraya mendorong El untuk pergi keluar. Pemuda itu tak berpikir yang aneh-aneh, ia hanya mengikuti perintah.
"Untung Mbak" gumam Mama. Bunda dan Mama saling berpandangan dan tertawa. Mereka lalu mengambil selimut dan bantal untuk Asya. Gadis itu tertidur pulas rupanya. Mereka meminta Ipah untuk menjaga Asya dan melanjutkan mendekor kamar pengantin baru itu.
"Mbak, tapi Asya kan lagi sakit. Massa kita biarin mereka main lagi?" Tanya Mama.
"Kamu kayak gak pernah muda aja Rin. Obatnya kan disayang suami" jawab Bunda dengan santai. Mama menyetujui pendapat Bunda, mereka berdua memang sedang dimabuk asmara.
Mama dan Bunda kembali menata lilin aroma, tak lupa taburan kelopak mawar diatas tempat tidur. Sentuhan terakhir mereka hanyalah mendadani Asya. Menjadikannya wanita nakal untuk sang suami tercinta.
"Rin, panasnya udah turun. Ayo kita mandiin" seru Bunda antusias.
__ADS_1
"Tau aja nih anak kalau lagi mau he'em he'em" imbuh Mama tak kalah antusiasnya. Kedua ibu ini segera membangunkan Asya dan mendadaninya secantik mungkin sebelum El pulang kerumah.