
Asya dan si kembar tengah perjalanan menuju kantor El. Selama perjalanan itu, si kembar hanya diam dan memanyunkan bibirnya. Mereka tak suka pergi kesana, menemui banyak orang yang selalu mencubit pipi mereka. Itu sakit, sungguh, tapi orang dewasa itu tak pernah mau mengerti.
"Ayaahhhh" teriak si kembar saat memasuki kantor Ayahnya.
El terlihat tengah berbincang dengan seseorang di lobby kantor. Ia menjulurkan tangannya kepada si kembar yang mendekat, meminta kedua putranya untuk berhenti di tempat. Ia kembali melanjutkan pembicaraannya, sedangkan Zio yang baru saja keluar dari lift langsung menghampiri kedua ponakannya.
"Peluk paman sini" ucap Zio merentangkan kedua tangan. Ini adalah reaksi berbeda yang membuat si kembar kesal.
Kai dan Key memeluk Zio lalu pergi menghampiri Asya. Asya menghela napasnya, jelas sekali terlihat jika suaminya begitu menyebalkan. Harusnya bukan seperti itu caranya, pasti putra mereka sedih.
"Adik ipar, berikan ini pada Mas El. Aku dan anak-anak pulang dulu ya" ucap Asya.
"Sayang mau kemana?" Teriak El. Ia meminta maaf pada lawan bicaranya dan menghampiri Asya yang hendak pergi.
"Itu cara yang buruk, anak-anak merindukan Ayahnya" jelas Asya kesal.
"Iya iya maaf. Maafkan Ayah ya sayang, kalian ke ruangan Ayah, Ayah punya hadiah untuk kalian"
Kai dan Key kembali ceria, mereka menggandeng tangan Zio dan pergi menuju lift dengan semangat. Asya masih kesal dengan perlakuan suaminya, ia memeluk El dan mencium pipinya sebelum mengikuti kedua putranya.
El menahan tangan Asya yang hendak pergi, bisa ia cium aroma wangi dari sang istri.
"Kau ingin menggoda ku sayang?"
"Tau ah, males ngomong sama Mas. Aku mau nyusul anak-anak" ucap Asya kemudian pergi.
El menatap istrinya dengan senyuman, pasti Asya menginginkannya malam ini. El kembali melanjutkan mengobrol dengan koleganya sebelum menemui sang istri. Pembahasan cukup serius yang memerlukan waktu yang lama. Usai mengobrol barulah ia masuk kedalam ruangannya.
"Ayaahhh" teriak Kai dan Key kala El membuka pintu ruangan. Kedua putranya langsung memeluk El dan menangis. Mereka menceritakan pada El jika semua orang sangat jahat, mencubit pipi mereka terus menerus.
Asya sudah mencoba menjelaskan jika semua orang sangat menyayangi si kembar. Tapi Asya tak tau rasa sakit yang ditimbulkan oleh cubitan penuh kasih sayang itu. Untungnya tumpukan mainan di dalam ruangan El bisa membuat si kembar terdiam.
"Zio, buat pengumuman, siapapun yang berani mencubit putraku akan kena SP"
"Siap El, aku akan menghubungi HRD"
"Apa yang kalian lakukan? Ini hanya masalah kecil kenapa di besar-besarkan?"
Walau Asya sudah mencoba menjelaskan semuanya, El juga tak mau memahami. Ia tentu akan marah jika putranya di buat terluka oleh orang lain. El mengedipkan matanya pada Zio, agar membawa kedua putranya makan di kantin. Sedangkan dirinya bisa menikmati waktu bersama dengan sang istri.
__ADS_1
Asya tengah menyiapkan makanan untuk suaminya, ia akan memastikan El makan teratur dan tidak lagi mengganggu para karyawan nya yang tengah istirahat.
"Adik ipar kau mau kemana?" Teriak Asya kala melihat Zio yang hendak pergi bersama si kembar.
"Aku akan membelikan si kembar camilan dan es krim di kantin" jawab Zio kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Setelah memastikan keadaan aman dan sepi, El mengunci ruangannya. Mematikan beberapa lampu dan menghampiri sang istri tercinta.
"Kau sedang rindu aku ya sayang?"
"Gak tuh, ge'er banget"
"Bohong, kita titipkan anak-anak malam ini. Aku sudah membelikan mereka mainan, pasti mereka mau menginap di rumah Kakeknya"
"Aku tadi telepon kamu gak diangkat, hm..."
"Makanya kamu kesini mau godain aku kan? Aku lagi sibuk banget sayang banyak kerjaan"
Asya memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal sebab El berubah kala dirinya dan sang anak sudah berada di negara yang sama. Padahal dulu El selalu menelepon Asya setiap dua jam sekali. Tapi sekarang ia kembali sibuk dengan pekerjaannya, kini Asya bukan prioritas lagi.
Gadis itu mengangguk mengerti, ia berdiri dan hendak berjalan pergi. Namun El menariknya dalam pelukan. Ia mengelus pipi istrinya dengan lembut, lalu memulai ciuman manis dengannya. Seperti dugaan, El tau istrinya sedang merindukan dirinya. Asya tampak bersemangat hari itu, membuat El lepas kendali.
"Udah ah aku mau pulang" ucap Asya sembari mencium singkat bibir suaminya. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.
"Ha? Apa? Kok gitu dong? Kamu ngerjain aku ya?"
"Gak kok, tadi aku habis lihat drakor. Jadi pingin cium Mas El, kan ini dikantor, jangan macam-macam deh" jawab Asya kemudian pergi keluar ruangan setelah membenarkan riasannya.
El juga mengikuti dirinya, padahal makanan yang Asya siapkan masih belum tersentuh.
"Mas mau kemana?"
"Antar kamu pulang"
"Gak perlu, aku sama supir. Sana makan makanannya!!"
"Gak mau, mau antar kamu aja"
"Ya udah, kalau gak dimakan aku gak mau masakin kamu lagi. Dasar nyebelin" ucap Asya kesal lalu pergi berlalu.
__ADS_1
El terdiam di tempat, ia bimbang harus pergi atau kembali. Di tengah kebimbangan itu, ia menatap para karyawannya yang sedang tertunduk mencoba mengabaikan apa yang terjadi antara El dan istrinya.
"Kasih saya ide, nanti saya transfer satu juta" celetuk El.
Awalnya mereka semua hening, walau nyatanya mereka juga mencari cara untuk mendapatkan hadiah itu.
"Pak, makanannya di kemas lagi aja, terus susul Ibu Asya" saran salah seorang karyawan.
"Wah, pintar juga kamu. Telepon bagian keuangan, minta transfer satu juta ke kamu ya" ujar El. Ia langsung berlari masuk ke ruangan nya. Menata kembali makanan yang Asya berikan kemudian berlari dengan cepat menghampiri sang istri.
Untungnya Asya masih berada di kantin bersama dengan Zio dan anak-anak. El berjalan dengan percaya diri mendekat istrinya.
"Kok Mas disini? Sudah dimakan makan siangnya?" Tanya Asya dengan mata melotot.
"Nih aku bawa, kita makan bareng yuk dirumah. Zio kau jaga anak-anak ya, yuk sayang"
Asya mencubit perut suaminya, beraninya ia berkata begitu di depan banyak orang. Asya meminta si kembar untuk menyudahi makan mereka dan pergi pulang. Ia juga menyuruh Zio untuk makan siang, juga meminta maaf karena merepotkan nya di jam makan siang.
El mendengus kesal, tapi ia menggendong si kembar dengan wajah sumringah. Setidaknya ia akan pulang bersama keluarga kecilnya.
Selama perjalanan pulang, si kembar terus saja berbincang dengan El. Membicarakan mainan ini dan itu, walau El tak terlalu mengerti. Ia tetap menjawab pertanyaan dari kedua putranya. Sampai di rumah, si kembar langsung membawa mainan mereka menuju ruang bermain. Di temani Ipah dan Agus seperti biasanya.
"Yuk sayang, mereka lagi sibuk tuh" bisik El di telinga istrinya.
"Masih aja nakal, mending kamu makan dulu sana, terus balik ke kantor"
"Iya tapi main dulu sama kamu, ayo sayang" rengek El sambil mendorong Asya masuk ke kamar mereka.
"Nanti malam aja, kita titipkan anak-anak. Sekarang kamu makan terus balik ke kantor" tawar Asya.
Pada akhirnya El menyerah, tapi ia cukup senang dengan tawaran itu. Jika mereka berdua malam hari akan ada banyak waktu untuk bersama. El pun melanjutkan makan siangnya ditemani oleh Asya. Sambil berbincang ringan, Asya mengatakan sesuatu pada El yang membuat pemuda itu terdiam.
"Papa kamu keterlaluan, bilang pada Mama untuk tinggal disini saja"
"Tapi Mas, Mama pasti gak mau kalau aku yang bujuk. Bagi Mama, seorang suami adalah segalanya"
"Sayang, aku yang akan membujuk Mama. Kenapa kamu baru bilang sekarang?"
"Aku juga baru tau Mas, aku lihat bekas merah di tangan dan leher Mama. Pasti Mama takut banget Mas, apalagi kedua Kakakku telah menikah dan tinggal jauh dari rumah"
__ADS_1
El menyeka air mata istrinya. Dirga semakin keterlaluan, ia tak menyangka jika mertuanya akan bertindak seperti ini pada istri yang selalu menemaninya.