
Pagi hari tiba, Asya membuka matanya. Ia mendapati suaminya tepat dihadapannya, sedang tertidur pulas. Asya mengelus pipi suaminya, ia menatap setiap inci wajah El.
"Mas El tahu, dulu aku sering berkata pada Papa jika aku tidak akan pernah mencintai pria lain selain Papa. Tetapi, rupanya cinta itu datang dengan sendirinya"
"Kamu menyesal mencintaiku?"
Asya terkejut karena El menjawab gumamannya. Ternyata pemuda itu terbangun karena elusan tangan Asya. El mendekap istrinya, tangan nakalnya bahkan berani masuk kedalam baju Asya pagi itu. Padahal mereka tengah tidur di sofa diruang tamu, tetapi tingkah El masih saja tak bisa berubah.
"Kenapa kalian tidur disini?" Tanya Nenek.
El merasa sangat kesal, karena ada yang mengganggu dirinya. Padahal dirinya tengah asik bermain dengan tubuh istrinya. Belum sempat Asya menjawab pertanyaan Nenek, El lebih dulu bangun dan menggendong istrinya kembali menuju kamar mereka.
Asya sekali lagi mengomel pada El, padahal ia meminta kesempatan tetapi masih saja mengulang kesalahan yang sama. Asya tak ingin jika El menjaga jarak dengan keluarganya, apapun alasannya, sebagai seorang anak, orangtua adalah yang utama.
"Mas, gak boleh gitu sama Nenek. Lebih baik Mas El sekarang minta maaf deh"
El tak peduli apapun yang Asya katakan. Ia membaringkan istrinya ditempat tidur dan kembali tidur bersamanya. Pemuda itu masih mengantuk, sebab tak bisa tidur semalaman karena harus menjaga Asya.
Itu hanya alasan El saja, ia menarik selimut, lalu mulai melucuti pakaian istrinya. Asya sudah menolak, tapi El terus memaksa keinginannya. Pemuda itu tak akan melewatkan satu hari pun tanpa bermain dengan istrinya.
Asya harap mereka akan segera memiliki anak, melihat betapa El senang sekali menyentuhnya. Kemungkinan besar efek pil KB itu akan kalah bukan, begitulah pikir Asya.
El terus bermain dengan tubuh istrinya dipagi hari, meremas dan sesekali menggigit puti ng nya. Tetapi Asya juga menikmati sentuhan suaminya. Suara desa han sang istri semakin membuat hasrat El memuncak.
"Sayang, main lagi yuk" pinta El.
Istrinya menggeleng dan tidur memunggungi El, Asya sangat kelelahan. Bahkan El memintanya untuk bertukar posisi, tetapi yang terjadi, ia malah tertawa melihat wajah Asya yang berusaha memuaskannya.
Walau istrinya tak mau, El tak habis akal, ia kembali menyentuh tubuh mulus istrinya. Memainkan setiap hal yang ada pada tubuh Asya, sembari sesekali meremasnya lembut.
"Mas El, kenapa Mas berpikir mengenai Nando saat kita bertengkar kemarin?"
"Tentu saja karena Nando mencintaimu, aku pikir dia menyatakan cintanya padamu"
"Apa?"
Sekali lagi El keceplosan mengenai Nando, padahal pemuda itu sudah mewanti-wanti El agar tak mengatakannya pada Asya.
__ADS_1
Asya mencoba memahami, jika Nando mencintainya, dan Jihan mencintai Nando, pasti sahabatnya itu sangat terluka. Asya berbalik dan menatap El, ia mendekap suaminya dan mengomel menyalahkan dirinya sendiri.
Andai saja Asya tahu, tetapi ia tak akan bisa melakukan apapun.
"Mas, apa Jihan tahu kalau Nando mencintaiku?"
"Semua orang tahu Asya, bahkan keluargamu pun tahu, hanya kamu yang tak ingin mempercayainya"
Bak disambar petir, hati Asya merasakan perih. Kenikmatan yang El berikan bahkan sudah tak gadis itu rasakan lagi. Sekarang yang tertinggal hanyalah duka atas kenyataan pahit.
Namun Asya tidak mengerti satu hal, mengapa El membiarkan dirinya dekat dengan Nando. Padahal El tahu jika Nando memiliki perasaan pada istrinya, bisa saja bukan Asya luluh pada sikap Nando nantinya.
"Awalnya takut sayang, tapi kan sekarang yang kamu cintai aku" bisik El sembari menggigit pipi istrinya.
Asya menenggelamkan wajahnya pada tubuh El, seraya membuang napasnya kasar. Ia tak tahu harus bagaimana saat bertemu Jihan nanti. Walau El sudah memberi saran untuk bersikap biasa saja, tapi Asya tentu tak bisa, sebab ia sudah mengetahui semuanya.
Dalam kesedihannya itu, ia pun tertidur karena lelah fisik dan berpikir dengan keras.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Mas"
"Sayangku sudah bangun" ujar El lalu mengecup singkat bibir istrinya. Asya masih tak mengenakan pakaian, sedangkan El sudah selesai mandi sedari tadi.
Melihat El yang sudah rapi, Asya mulai mengumpulkan kesadarannya dan pergi secepat mungkin menuju kamar mandi. Tubuh polosnya membuat El ingin mendekap istrinya sekali lagi.
El masih sibuk mengerjakan pekerjaannya, hingga Asya selesai mandi pun ia masih tetap ditempat yang sama. Asya meminta ijin suaminya untuk pergi keluar kamar, walau tak rela, El tetap memberinya ijin.
Sudah saatnya jam makan siang, Laura dan para Iparnya tengah memasak didapur. Asya pun juga ikut bergabung, walau Laura sudah melarangnya.
"Suamimu mana Sya? Ayah El bilang semalam ada orang masuk ke kamar kalian" kata Bunda membuka perbincangan.
"Mas El sedang kerja dikamar. Semalam memang ada orang masuk ke kamar kita Bund, makanya aku dan Mas El tidur di ruang tamu"
Nenek yang mendengar penjelasan Asya, juga ikut terkejut karenanya. Sebab tak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Adhitama dan Ayahnya tengah memeriksa cctv dan mengabari perangkat desa mengenai hal yang menimpa keluarganya.
"Udah Sya temenin aja suami kamu, pasti kalian habis ehem" goda Laura seraya menyikut menantunya.
__ADS_1
Asya tertunduk dan tersenyum malu, ia memang tak pandai menyembunyikan perasaan bahagianya itu. Selalu saja ia kalah jika ada yang mengungkitnya.
"Sya, ada cake di kulkas, kamu bawa ke kamar gih. Kalian belum makan apapun loh dari semalam, biar makin bertenaga"
"Ih Bunda apa'an sih, gak gitu Bund"
Laura tertawa kecil melihat menantunya yang malu-malu. Asya pun pergi kembali ke kamar dengan dua potong cake ditangannya.
Ceklek....
Asya membuka pintu, tetapi El bahkan tak bergeming. Ia masih saja fokus pada pekerjaannya. Gadis itu berjalan mendekat, lalu mengalihkan leptop dari hadapan suaminya.
"Sekarang apa lagi?"
"Mas El kan belum makan dari semalam" jawab Asya seraya menyuapi cake pada suaminya. El menarik Asya agar duduk dipangkuannya.
Baru sebentar mereka saling menyuapi, tiba-tiba saja ada panggilan masuk di leptop El dari Zio. Asya hendak pergi duduk disamping El, tetapi pemuda itu menahannya. El menerima video call dari Zio.
"El, oh, halo Kakak Ipar. Aku ganggu kalian?"
"Kau tidak lihat kami sedang apa Zio?"
"Maafkan aku, Kakak ipar"
Asya kembali mencoba pergi, tapi sekali lagi El menahannya agar tetap duduk dipangkuannya. Sembari berbincang dengan Zio, El meminta Asya untuk terus menyuapinya karena ia sangat lapar. Itu hanya alasan El, ia sebenarnya tak ingin jauh dari istrinya.
"Kakak Ipar, apakah kau sudah mendapatkan hadiah dari El? Dia memesannya khusus untukmu"
"Hadiah apa?"
"Kau merusak kejutannya Zio, kita sambung lagi nanti" sela El kemudian menutup leptopnya.
Kini Asya dan El tengah berpandangan, tanpa kata apapun, El tahu arti pandangan istrinya. El berdiri dari duduknya, lalu membongkar koper, mengambil sebuah kotak hadiah.
"Pakai ini nanti malam ya, aku mau lihat kamu pakai ini saat pergantian tahun" ucap El. Ia memberikan hadiah itu pada Asya.
Asya yang penasaran ingin segera membukanya, tetapi El melarang, ia ingin istrinya membuka hadiah itu nanti malam, tepat setelah jam dua belas malam.
__ADS_1