
El dan Asya akhirnya masuk kedalam rumah Adhitama. Adhitama dan Laura sangat antusias melihat kedua putranya berkunjung bersama.
"Om El, nanti aku tidur sama Om El dan Imo lagi ya. Aku suka tidur sama Om, gak berisik kayak Ayah" pinta Aqilla yang berjalan mendekati El. Ia hendak duduk disamping El, tapi pemuda itu menghentikannya. Bukan karena marah, ia malah mendudukkan Aqilla dipangkuannya.
Asya tersenyum, dan yang lainnya hanya bisa memasang wajah terkejut. Aqilla terlihat senang, memeluk El dengan senyuman lebar. Mereka begitu bahagia menyambut keluarga baru yang ada dalam kandungan Adelia.
"Ayah, Bunda, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" ucap Farel serius.
"Sya, ajak Aqilla main diluar" sela El.
Awalnya Asya menolak, ia inginkan ikut andil dalam pembahasan ini. Tapi El dengan tegas melarang dan memintanya untuk pergi bersama Aqilla.
Setelah Asya dan Aqilla pergi, Farel terduduk dihadapan kedua orangtuanya. Menggenggam tangan mereka sambil menitihkan air mata. Bibirnya sangat berat ingin menjelaskan kebenaran. Ia melarang Adelia maupun El ikut campur, sebab sebagai suami, ini adalah tanggung jawab Farel.
Dengan terbata-bata, Farel mencoba menjelaskan pada orangtuanya. Suasana tegang seketika hadir tanpa permintaan.
Seperti dugaan, ini sangat sulit diterima. Laura bahkan sangat kesal dan menampar Adelia. Ia tak bisa menerima semua ini. Adelia sudah sangat menyesali, Farel dan El mencoba menjelaskan jika semuanya telah terjadi. Farel sudah memulai kembali keluarga kecilnya.
Disisi lain, Asya mengajak Aqilla bermain ditaman kompleks. Sangat luas dan indah, banyak sekali anak-anak bermain disana. Dengan riang Aqilla berlari dan menaiki setiap wahana disana.
"Mbak, warga baru ya? Adiknya lucu ya, mirip cucunya Pak Adhitama" Tanya seorang Ibu-ibu.
"Iya, saya menantu bungsunya keluarga Adhitama"
"Menantu bungsu? Istrinya Elvin?"
Asya mengangguk dengan senyuman. Apakah ia semuda itu hingga mereka menyangka jika Aqilla adalah adiknya? Sebenarnya Asya juga senang jika dirinya masih terlihat muda.
Para Ibu-ibu itu tiba-tiba berbisik dihadapan Asya, itu sangat menyakitkan. Sesekali mereka memandangi Asya sambil berbisik.
"Nak, keluarga kamu punya hutang ke Elvin?"
"Eh, tidak kok Bu. Saya dan Mas El, memang dijodohkan, tapi bukan karena hutang"
"Kamu tahu semua tentang El?"
"Tentu, saya istrinya. Semua masalalunya, saya tahu"
__ADS_1
Para Ibu-ibu itu mengangguk mendengar jawaban Asya. Suami Asya memang terkenal dimana-mana. Walau begitu, El sudah berubah, dan itu yang ingin Asya percayai. Hanya itu.
Hanya dalam waktu singkat, Asya begitu akrab dengan para wanita disana. Ia memang kesayangan semua orang. Bahkan Aqilla juga memiliki banyak teman disana. Keduanya menjadi akrab dengan para tetangga.
"Asya" panggil El yang berdiri tak jauh dari kerumunan para wanita.
"Om Elll" teriak Aqilla yang berlari dari kejauhan.
El memeluk dan menggendong ponakan kecilnya itu. Asya pun berjalan menghampiri El dengan senyuman.
Setelah Aqilla pergi untuk bermain lagi, Asya dan El mencari tempat duduk yang teduh. Asya menggenggam tangan suaminya, menepuk punggung tangan El perlahan.
"Ayah dan Bunda sangat marah, sama sepertiku dulu. Mungkin mereka butuh waktu"
"Semua orang selalu membutuhkan waktu untuk menerima keadaan"
"Tapi tidak akan selama aku tentunya, karena kau ada disini. Istriku pasti bisa menjelaskan pada Ayah dan Bunda" ucap El seraya memainkan rambut Asya.
Asya mencubit gemas pipi suaminya, ia tersipu oleh pujian El. Keduanya sejenak bertatapan, sebelum El mengecup singkat bibir Asya sambil berbisik, " I love you"
Pipi Asya kembali merona, El sangat nakal dan tidak tahu tempat. Asya memanggil Aqilla dan berpamitan pada para Ibu. Mereka harus pulang, untuk mencairkan suasana dirumah.
"Kalian membuatku tersipu, suamiku yang terbaik" ujar Asya kemudian pergi bersama Aqilla.
El mengajak istri dan keponakannya pulang kerumah. Masih dalam suasana canggung dan tegang, El juga ikut bersiteru melawan kedua orangtuanya demi membela Farel.
"Mas El, kita tinggal disini selama beberapa hari" saran Asya.
"Ha? Apa? Sya, rumah ini jauh dari kantor. Lagipula, aku hanya ingin tinggal bersamamu saja"
Asya menghentikan langkahnya, ia mencoba membuat El mengerti. Jika mereka tinggal dirumah Adhitama beberapa hari, mereka memiliki banyak waktu untuk meyakinkan Adhitama dan Laura. Akan bagus jika Adhitama dan Laura menerima keluarga Farel seperti sediakala.
El akan diuntungkan dengan hal itu, sebab dirinya tak suka jika tinggal dirumah dengan banyak orang.
"Mas, jika Ayah dan Bunda sudah bisa menerima. Keluarga Mas Farel bisa tinggal disini, apalagi Mbak Adel lagi hamil"
"Terus?"
__ADS_1
"Mas El ih, Mas mau tinggal beberapa hari disini, atau keluarga Mas Farel tinggal bareng kita sampai mereka punya rumah lagi?"
"Mm... pinter banget sih istriku, oke oke kita tinggal beberapa hari disini. Setelah itu, hanya ada kamu dan aku"
Aqilla yang berada digendongan El, tiba-tiba saja tertawa. Sepertinya ia juga gemas melihat tingkah Om nya yang seperti anak kecil.
Saat masuk kerumah, Adhitama terlihat sedang duduk diruang tamu bersama dengan Farel. Laura terlihat berjalan menghampiri Asya dengan senyuman megah. Ia menggiring Asya untuk duduk dan mengelus rambut panjangnya.
"Sya, kamu udah makan sayang? Laper gak?"
"Aqilla lapar nih Bund, mau makan, iya kan?"
Wajah Laura tiba-tiba berubah, ia enggan menatap Aqilla. Ia terus berusaha menghindar dan hanya bertanya mengenai Asya.
"Bunda, Aqilla tidak tahu apapun, jangan libatkan dia"
"Hati Bunda tidak sekuat kamu. El beruntung mendapatkan kamu, begitu juga Bunda. Maaf Asya, Bunda pergi dulu"
Laura bangkit dan pergi masuk kedalam kamarnya. Wajah lesuh dan mata sembab, Bunda pasti sangat terluka. Asya menatap kearah El, pemuda itu tiba-tiba saja berdiri dan masuk kedalam kamarnya.
Farel mengambil alih Aqilla dan meminta Asya untuk menemani El.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka, El terlihat sedang duduk diatas ranjang. Ia menatap Asya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
"Sya, maafin aku ya"
"Ada apa Mas?"
"Aku membuatmu menangis setiap saat, luka yang sangat menyakitkan. Harusnya aku sadar, aku melihat Mas Farel dikhianati, rasa sakit yang tak bisa aku terima. Tapi aku, malah nyakitin kamu lebih dari yang Mas Farel alami"
"Mm.. Bukankah kita berjanji untuk melupakan masalalu?"
"Makasih Sya, makasih untuk tetap tinggal. Dan terimakasih karena mau berjuang membuatku berubah"
Asya tersenyum, ia menarik El dalam pelukannya. Ia tepuk perlahan belakang kepala suaminya. Sulit memang, beberapa kali Asya ingin menyerah. Setiap malam hanya tangis yang ia lakukan.
__ADS_1
Sekali lagi, Asya berterimakasih pada sosok Dirga. Beliau selalu keras dan membuat Asya merasakan sakit sedari kecil. Hingga tak ada luka lagi, tak ada rasa sakit lagi yang tak bisa Asya hadapi.
"Papa yang mengajari aku. Papa yang mendidik ku hingga sekuat ini Mas. Dan Papa, yang meyakinkan aku, untuk menjadi seorang pemenang bukan pecundang"