
Setelah mengantarkan Asya dan kedua putranya, El kembali menuju kantor.
Usai memastikan si kembar bermain dengan baby sisternya, Asya mengajak Airin untuk pergi ke kamar Asya. Ia memeluk sang Mama dengan sangat erat.
"Aku kangen Mama"
"Anak Mama sudah besar ya, sudah jadi Bunda sekarang"
Air mata Asya perlahan menetes. Ia tahu kini dirinya adalah seorang Ibu, tapi tak bisa Asya pungkiri jika ia masih selalu merindukan Mamanya. Tangis Asya terdengar begitu pilu, seolah ada sesuatu yang menyakiti hatinya dan membuatnya merasa sesak.
"Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Ma, aku tau mungkin menurut Mama aku masih seperti anak kecil. Tapi aku adalah seorang Ibu, aku sudah dewasa Ma"
"Iya Mama tau sayang"
"Apa Mama tidak bisa membagi masalah Mama denganku? Apa aku terlihat tak bisa diandalkan? Ma, aku adalah istri Mas El. Tapi aku masih tetap anak Mama"
Airin mengelus rambut panjang putrinya. Ia mencium pucuk kepala Asya dan mengatakan tak ada masalah apapun di rumahnya. Semua berjalan dengan baik dan harmonis, bahkan istri serta anak kedua Kakak Asya sering bermain kesana. Menemani Airin yang berada dirumah sendiri karena Dirga masih mengurus perusahaannya.
"Harusnya Mama yang bilang gitu ke kamu. Maafkan Mama ya, masa mudamu malah kau habiskan untuk mengurus dua orang anak"
Asya tak bisa menahan tangisnya, jika ia boleh berkata jujur. Ia lelah, melakukan semua hal ini sendirian tanpa bimbingan sang Mama. Pergi jauh dari keluarga di usia muda dan harus mempelajari hal baru dalam rumah tangganya. Terkadang, Asya terbersit penyesalan, memiliki anak secepat ini menyita waktunya untuk bersenang-senang seperti teman-teman seumurannya.
Namun setelah melihat kedua putranya, Asya melupakan penyesalan itu. Ia bahagia memiliki dua buah hati yang lucu dan pintar. Karena tidak ada yang tau, mungkin jika Asya tak memiliki mereka hari ini, ia tak akan pernah memiliki mereka esok nanti. Ini adalah takdir yang harus Asya percayai dan terima.
"Ma, aku mengikuti semua perkataan Mama. Tidak memulai perdebatan dengan suamiku, dan selalu menerima semuanya. Tapi kenapa Ma? Ini sudah lima tahun dan rasa sakit itu masih tak bisa aku atasi?"
"Ada apa Asya? Apa El bermain dengan wanita lain lagi? Apa dia benar-benar selingkuh? Atau dia memukulmu?"
__ADS_1
"Jika Mas El melakukan semua itu, apakah Mama masih akan memintaku untuk menerimanya? Kenapa hanya aku yang terluka Ma? Kenapa seolah tak ada yang menginginkan aku didunia ini?"
"Sya, berapa umurmu sekarang?"
"Dua puluh lima tahun"
Airin tersenyum, ia berjalan menggandeng Asya menuju kamarnya. Mencari sesuatu di dalam brankas milik Dirga. Sebuah kamera lama. Sebelum memutar isi kamera itu, Airin meminta baby sister dan kedua cucunya untuk ikut menonton.
Sebuah video tentang masa kecil Asya. Dirga mengabadikan kelahiran putri kecilnya kedunia ini. Asya tak pernah melihat video ini sebelumnya, ia hanya melihat milik Syam dan Gallen. Ini juga salah satu alasan Asya mengira Dirga sangat membencinya.
Adegan pertama menampilkan Asya kecil yang baru saja lahir. Dirga menyorot si kecil Asya sambil memanggilnya Tuan Putri. Ini adalah rekaman pertumbuhan Asya, Dirga terlihat menggendong Tuan Putrinya dengan senyuman lebar.
Ada banyak video perjalanan Asya dan Dirga ke berbagai tempat. Dirga begitu telaten merawat Asya dengan penuh kasih sayang. Membelikan semua mainan yang Asya inginkan, juga gaun-gaun seorang putri. Dirga selalu berpikir jika suatu hari nanti, putri bungsunya akan menjadi Tuan Putri di Istana. Itu adalah harapan yang Dirga ceritakan pada Asya kecil. Karena itulah Asya mengingat jika dirinya selalu ingin menjadi seorang putri.
Asya kecil tumbuh semakin besar, melihat Asya berbicara dengan anak laki-laki menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dalam diri Dirga. Ia tak ingin putrinya bertemu lelaki sembarang, apalagi seperti Dirga dulu.
Karena itulah, Dirga mendidik keras Asya seperti ia mendidik Syam dan Gallen. Ia tak ingin putrinya terlihat lemah dan didekati oleh para pemuda. Dirga sangat protektif akan pergaulan Asya, ia sangat menjaga putri kesayangannya.
Kai dan Key memeluk sang Bunda, mereka ikut menangis melihat Asya seperti ini. Airin menghujani putrinya dengan ciuman, ia ingin mengatakan pada Asya. Jika Dirga sangat menyayangi nya, hanya saja Dirga tidak tau cara mendidik seorang anak perempuan. Sedangkan Airin, terlalu takut menentang Dirga yang sangat ringan tangan itu.
"Tapi kenapa Papa suka mukul Mama?"
"Kamu kan tau sendiri Papamu kasar. Lagian setelah Papamu mukul Mama, dia akan menangis dan menyakiti dirinya sendiri sebagai permintaan maaf"
Airin tertawa dan menyeka air mata kedua cucunya. Ia menatap Asya dengan senyuman bangga. Walau awalnya sedikit khawatir, tapi didikan Dirga tidak mengecewakan. Ia membentuk Asya yang seperti sekarang ini.
Dirga sempat takut jika Asya akan membencinya suatu hari nanti. Tapi, keyakinan seorang Papa membuat Dirga membulatkan tekadnya. Ia percaya jika kebencian Asya hari ini padanya, akan berguna untuk sang anak dimasa depan. Ia pikir, Asya harus takut pada dirinya agar sang putri tak bisa menentang perintahnya. Karena antara anak laki-laki dan perempuan, anak perempuan yang sebenarnya paling sulit diatur ketika mereka telah salah pergaulan.
"Ma, aku merasa bersalah pada Papa"
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Papamu mungkin terlihat keras, tapi sebenarnya ia berusaha untuk tidak melemah padamu Asya. Kau adalah kesayangan Papamu"
"Mamaaa, terus kenapa Papa nikahkan aku secepat ini? Aku bisa belajar dan mendapatkan gelar, menjadi wanita berpendidikan yang bisa Papa banggakan"
"Nak, Papamu sudah semakin tua. Ia harus mencarikan pria yang benar-benar bisa menjagamu sebelum beliau meninggalkan dunia ini. Itu adalah impian para Papa untuk putrinya"
Asya kembali merengek seperti anak kecil dalam pelukan Airin. Kai dan Key sangat heran melihat Bunda mereka yang biasa terlihat garang.
"Kau tidak lihat Papamu sangat menyayangi Aqilla? Dia mirip seperti Asya kecilnya"
"Aaaah Mama, udah ah, malu tau di depan anak-anak ku massa aku nangis"
"Bunda kalian kalau nangis cantik gak?"
"Cantik Nek. Tapi lebih cantik kalau tersenyum" jawab Kai.
"Kata Ayah, Bunda terlihat seksi saat marah. Ayah sangat aneh" timpal Key.
Airin membelalakkan matanya dan terbatuk-batuk. Ia tidak mengira El mengajar kan hal seperti ini pada putranya.
"Suamimu mengajari mereka banyak hal ya Sya?"
"Ih Mama, tau tuh Mas El nyebelin banget. Papa pulangnya kapan Ma?"
"Nanti malam lah, kalian jangan nginep disini. Nanti siang kamu pulang aja ya, pokoknya jangan sering-sering ke rumah Papa. Kalau kamu kangen Mama atau Papa, biar kami yang kesana"
"Emang kenapa sih Ma?"
"Gak apa-apa, ini perintah Papa kamu. Udah yuk masak makan siang buat suamimu sana. El pasti senang dimasakin sama istrinya yang cengeng"
__ADS_1
"Hihihihi" terdengar suara tawa Kai dan Key. Mereka tampak senang karena Airin mengejek Bunda mereka cengeng.