
2 hari sebelumnya.......
Supir taksi kembali lagi ke tempatnya menurunkan Asya. Sebab ponsel Asya tertinggal dan terus berdering. Ia tak menemukan Asya di tempat itu, namun beliau berinisiatif untuk mengikuti jalanan berharap bertemu dengan Asya.
"Oh, Nona itu pingsan dijalan" gumam supir taksi ketika melihat Asya pingsan dijalanan yang sepi.
Tanpa pikir panjang, beliau segera keluar mobil dan mengangkat Asya masuk kedalam. Melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tak ada luka pada tubuh Asya, ia yakin mungkin karena daya tahan tubuh Asya mulai menurun.
Ponsel Asya terus berdering, tertera nama Nando disana.
"Halo Pak, maaf, ini Nona pingsan dijalanan. Sekarang kami sedang ada dirumah sakit, tolong segera kesini" ujar supir taksi tersebut.
Tak butuh waktu lama, setelah telepon itu berakhir, Nando datang dengan raut wajah khawatir. Ia segera menghampiri Asya yang masih terlelap, menemui supir taksi untuk berterimakasih dan mengambil semua barang-barang Asya.
"Pak, kenapa dia bisa pingsan ya?" Tanya Nando mencari kejelasan.
Supir taksi menceritakan bagaimana mulanya beliau bertemu Asya yang sedang menangis keluar dari salah satu perusahaan, lalu beliau mengantarnya ke perusahaan lain dan pada akhirnya berakhir dijalanan sepi itu. Setiap detail yang beliau alami, diceritakan pada Nando tanpa menutupi dan dibumbui apapun.
Sekali lagi Nando berterimakasih pada supir taksi. Nando lalu menghampiri ruangan dokter yang menangani Asya, menanyakan lebih lanjut tentang keadaan gadis itu.
"Pemicunya adalah stres dan ketakutan. Ada trauma yang mengganggu Nona Asya, sebaiknya jangan memberikan tekanan atau tuntutan ekstra padanya, atau hal lebih buruk mungkin akan terjadi" jelas dokter mewanti-wanti. Nando mengangguk mengerti, ia kemudian kembali menemui gadis yang ia cintai.
"Sya, harusnya kau bisa hidup bahagia bersamaku. Aku akan menjagamu hingga akhir napas ku" lirih Nando. Ia duduk disamping ranjang Asya. Menggenggam tangan mungil gadis lugu itu. Sesekali ia menciumnya, berharap Asya segera sadar.
"Nando, Asya kenapa?" Tanya Jihan yang baru saja tiba bersama Gita. Nando hanya menggeleng, ia pun tak tahu ada apa dibalik tumbangnya gadis ceria ini.
"Loe udah hubungi keluarganya?" Ucap Gita. Nando menggeleng, ia yakin jika semua ini terjadi karena keluarga Asya.
"Biarkan saja, gue yakin mereka yang bikin Asya kayak gini. Kenapa Asya gak jadi milik gue aja, suaminya bahkan tak tahu apapun tentangnya. Pria itu, aku yakin dia yang membuat Asya terluka" ujar Nando dengan amarah menggebu.
Asya yang malang, dia masih sangat muda tapi harus merasakan begitu banyak luka. Nando mengutuk keluarga Asya, ia bahkan mematikan ponsel gadis itu. Biarkan saja keluarganya mencari Asya kemanapun mereka inginkan.
Nando tak pernah sekalipun pergi dari sisi Asya. Walau dokter mengatakan Asya baik-baik saja, tapi mata gadis itu tak kunjung terbuka. Ia masih betah terlelap dalam tidurnya.
"Nando, ini sudah satu hari, keluarga Asya pasti mencarinya. Beritahu mereka, aku sudah tidak bisa berbohong lagi" pinta Gita pada Nando.
__ADS_1
Mama Asya terdengar sangat khawatir, beliau terus menelepon Gita dan Jihan mencari keberadaan Asya.
Disisi lain, di rumah El....
"Anak tidak tahu diri ini. Sekarang apa lagi ulahnya, dia selalu saja berulah" gusar Papa. Ia menyalahkan Asya atas semua yang terjadi. Berpikir jika Asya akan bertindak diluar batas dan membuat malu keluarga.
"Mas, apa Asya menemuimu? Apa yang kau katakan padanya? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada putriku?" Ucap Mama khawatir. Mama dan Bunda tak henti-hentinya menangis, mereka mengingkari putri mereka kembali.
"Ini salahku, harusnya aku tak memberitahu Asya apapun" lirih Zio.
"Tidak, harusnya aku menghentikan Asya. Aku pikir dia akan pulang kerumah, kita harus pergi Zio. Aku tidak mau Asya terluka" sahut El.
Drrrttt..... Drrtt.....
Ponsel Mama Asya berdering, ada panggilan masuk dari Gita.
Mama : "Halo, Gita. Ada kabar tentang Asya?"
Nando : "Tante, ini Nando. Teman Asya."
Nando : "Dia bersamaku"
Mama : "Bersamamu?"
Semua mata menatap ke arah Mama Asya. El mengambil alih ponsel nya, ia ingin berbicara dengan Nando.
El : "Dimana istriku?"
Nando : "Cih, istri, kau bahkan tak tahu apapun tentangnya. Datanglah ke rumah sakit"
Nando memutus teleponnya sepihak, ia tak ingin berbincang terlalu lama dengan pria yang ia benci.
Segera kedua keluarga itu pergi kerumah sakit yang diberitahu oleh Nando. Rasa khawatir mereka masih terasa, walau sudah mengetahui keberadaan Asya.
"Nando? Pria yang menggendong Kakak Ipar kan?" Tanya Zio. El mengangguk, ia yakin Asya pernah memanggil namanya.
__ADS_1
"Zio, pria itu menyukai Asya. Bagaimana bisa istriku bersamanya? Apa yang pemuda brengsek itu lakukan?" Ucap El diselingi amarah. Tanpa sadar emosinya meluap hanya dengan mendengar nama Nando.
Saat tiba dirumah sakit, mereka mencari ruangan Asya. Mama dan Bunda masih tak henti-hentinya menangis.
"Asya" panggil Mama pada putrinya yang tertidur. Nando tidak mengijinkan mereka mendekat, dengan dalih dokter melarang siapapun untuk mendekati Asya.
Mereka semua hanya bisa melihat Asya dari jauh. Nando tidak peduli bahkan jika Mama Asya memohon untuk mendekati putrinya. Ia begitu tegas dengan keputusan yang ia buat.
"Kenapa kau melarang Mamanya untuk dekat? Dia yang melahirkan Asya, dia yang membawa Asya ke dunia ini" ucap El kesal.
"Dan? Kalian yang membuat Asya seperti ini. Lepaskan ikatan kalian, itu hanya menyiksa Asya, aku akan menjaga Asya" balas Nando dingin.
El sudah tak bisa menahan emosinya. Ia menarik Nando menjauh dari ruangan Asya. Ditempat yang luas jauh dari kerumunan. El bertanya mengapa Nando bisa bersama istrinya, dan dengan yakin ia menuduh Nando yang menyembunyikan istrinya.
"Benar, aku tidak akan memberikan Asya pada kalian" ucap Nando ketus.
"Dia istriku" balas El.
"Kau bahkan tak tahu apapun tentangnya. Cih suami macam apa kau ini? Biarkan aku yang menggantikan posisimu" perkataan Nando mulai memancing amarah El.
El menarik kerah baju Nando, menatapnya dengan penuh kebencian. Mereka berdua saling membenci, ada dinding kokoh diantara mereka. Memisahkan pikiran dan membatasi jarak untuk kedua pemuda ini dekat.
Nando melepas cengkraman El, ia memukul wajah El dengan sangat keras.
"Katakan padaku, jika kau bukan alasan Asya menjadi seperti ini, aku akan mundur" tantang Nando. Ia terus menghujani El dengan tinjunya, sedangkan El, ia memilih diam. Diam karena semua yang dikatakan Nando adalah kebenaran.
El adalah alasan Asya menjadi seperti ini. El adalah alasan Asya menangis hingga jatuh sakit.
"KENAPA KAU DIAM? KATAKAN BRENGSEK" Bentak Nando dengan amarahnya.
Zio menarik Nando menjauh, El sudah tak bisa berkata-kata. Ia bahkan menerima semua pukulan itu karena rasa bersalahnya.
"Nando, ini hanya salah paham. Kami akan menjaga Asya sebaik mungkin. Hentikan, Asya akan sedih melihat kalian seperti ini" pinta Zio.
Nando kembali berjalan menuju ruangan Asya, meninggalkan Zio yang sedang mengurus luka El. Zio merasa lebih bersalah melihat sahabatnya menerima semua pukulan itu. Padahal ini semua salahnya, ia yang membuka rahasia buruk tentang El.
__ADS_1
"Tidak Zio, cepat atau lambat, Asya akan tahu semuanya" ucap El berusaha menenangkan Zio yang menyalahkan dirinya.