Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 47


__ADS_3

"Kau mau kita berpisah Asya? Kenapa? Karena Nando? Cih, aku sudah menduganya"


"Apa hubungannya dengan Nando Mas? Ini memang kesalahan Mas El yang terus saja membohongi aku"


"Apa Nando menyatakan cintanya padamu? Karena itu kau ingin pergi dariku, aku melihat banyak panggilan masuk darinya di ponselmu"


Asya tertegun, ia menatap El dengan banyak pertanyaan. Kerutan didahi Asya terlihat jelas, kini giliran El yang terdiam. Asya terus meminta penjelasan mengenai apa yang suaminya katakan, tetapi El tak ingin membuka mulutnya.


"Beri aku satu kesempatan lagi Asya" pinta El setelah menyadari jika ini bukan karena Nando.


Asya tampak berpikir sejenak, ia ragu untuk menyetujuinya, apalagi mengakhiri pernikahan mereka. Ia meminta waktu pada El untuk berpikir, lalu pergi keluar kamar dan menghampiri keluarga yang lain.


El terduduk diatas ranjang seorang diri, ia tak pernah menyangka jika dirinya akan setakut ini bila Asya pergi. Ada perasaan tak rela dan tak ingin melepaskan dalam hatinya.


"Tidak mungkin aku mencintai gadis itu. Dia adalah pembawa keberuntungan, semua pekerjaan ku berjalan lancar setelah pernikahan kami. Dan, aku menyukai tubuhnya, dia seperti tambang emas untukku. Aku tak boleh membiarkannya pergi" gumam El seorang diri.


Asya menghampiri Nenek El dan memberitahu semuanya pada beliau. Gadis itu sudah melakukan seperti yang disarankan, tetapi hatinya masih ragu, takut bila hubungannya dengan El akan memburuk.


Nenek El mengelus lembut rambut Asya, ia yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Hal ini memang diperlukan, sebab El harus diberi pelajaran sesekali agar tak semena-mena pada istrinya.


Semuanya sudah selesai sarapan, dan El masih tak kunjung keluar kamarnya. Asya yang khawatir, menghampiri El walau Nenek telah melarangnya.


Seperti dugaan, El sedang duduk dihadapan leptopnya. Sedang melakukan panggilan video dengan Zio.


"Kakak Ipar, halo" sapa Zio. Asya membalas sapaan Zio, ia kembali menanyakan beberapa hal padanya.


El menatap istrinya yang sedang berbincang dengan Zio, matanya hanya fokus pada bibir Asya. Gadis itu menyelipkan rambutnya ke telinga, membuat El bisa melihat leher Asya dengan leluasa.


Tiba-tiba saja El menutup leptopnya, pasal Asya sedang berbincang dengan Zio. Gadis itu terkejut dan menoleh ke arah suaminya.


El menarik Asya dan langsung melu mat bibir tipis gadis itu. Tetapi Asya mendorong suaminya menjauh, ia sedang tak ingin melakukannya. Asya mencoba keluar kamar, tetapi El lebih dulu menutup pintu dan mengunci kamar.


Dengan kasar El menarik istrinya untuk berbaring diatas tempat tidur. Ia sudah berada diatas Asya dan menahannya.

__ADS_1


"Mas El lepasin aku" pinta Asya yang memberontak.


"Aku akan melepaskan mu setelah kita bermain sayang" bisik El pada telinga Asya.


"Aku belum menjawab permintaan Mas El, apa Mas El pikir aku akan memberikan kesempatan lagi?"


"Tentu, karena kau mencintaiku bukan"


Asya terdiam setelah mendengar perkataan El, ia juga tak lagi memberontak. Seolah tenaganya telah hilang dan tak lagi memiliki kekuatan. Melihat Asya yang pasrah, El melepaskan cengkramannya. Ia tak lagi ingin melakukannya, karena hasrat itu hilang seiring dengan tenaga istrinya.


El menarik Asya agar bangun dari tempat tidur, ia ingin mengajak istrinya untuk berkeliling desa.


"Mas, sarapan dulu, Mas El kan belum makan"


"Gak lapar"


Asya menatap ke arah Nenek dan Bunda, mereka mengangguk dan menggerakkan tangan agar Asya mengikuti permintaan El. Ia pun pergi bersama El dengan perut kosong.


"Mas El yakin bisa naik motor?" Tanya Asya yang nampak ragu.


"Naik" ujar El seraya menarik istrinya agar segera menaiki sepeda motor itu.


El melajukan motornya perlahan, memperlihatkan desa yang masih asri pada istrinya. Gadis itu sangat senang, ia melingkarkan lengannya pada pinggang El dan menatap sekitar.


Beberapa pekerja menyapa El, tak sedikit juga yang membicarakan pemuda itu. Sebab El sudah lama tak terlihat berkunjung ke desa itu lagi. Dan saat ia berkunjung kembali, ia tak sendiri, melainkan bersama istrinya.


"Waaah, danau, cantik" puji Asya kala El membawanya ke sebuah danau yang indah.


Danau itu terletak tak jauh dari rumah Kakek, hanya saja El ingin mengajak istrinya berkeliling sebelum pergi ke danau. El membawa istrinya menaiki perahu ke tengah danau itu. Lagi-lagi sikap romantis El membuat Asya terlena pada harapan.


"Aku benar-benar gak ngerti, Mas El itu pria seperti apa. Kadang membuatku menangis, tapi kadang, Mas El membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung dan bahagia"


"Kau tidak perlu tahu pria seperti apa aku, yang perlu kamu tahu hanyalah aku suamimu"

__ADS_1


El mengajak Asya berkeliling danau yang tenang itu. Ia mendayung, mengerahkan semua tenaganya agar Asya bisa menikmati keindahan yang tak akan ia temukan di kota tempat tinggal mereka.


"Sayang, ku mohon jangan pergi dariku. Apa yang akan aku lakukan tanpamu?"


"Iya oke, aku kasih Mas El satu kesempatan lagi. Tapi kalau Mas El buat aku kecewa lagi, aku benar-benar akan pulang ke rumah Papa. Dengan atau tanpa persetujuan Mas El"


El melepaskan dayungnya dan memeluk istrinya dari belakang. Ia mengecup pipi istrinya berkali-kali, sembari kembali mengucapkan janji untuk kesekian kalinya.


Grooorrr....


Pemuda itu tertawa lepas, mendengar perut istrinya yang berbunyi sangat nyaring. Asya menutup wajahnya karena malu, ia tak mengira kencan romantisnya akan berubah menjadi hal yang memalukan.


El kembali mendayung perahu itu ke tepi, lalu melajukan motornya ke tempat dimana banyak sekali penjual makanan. Tempat itu terletak di luar desa, dekat dengan jalan raya. Biasanya tempat itu disinggahi oleh para pemudik atau wisatawan yang berpergian.


"Sayang, aku sudah merubah semua nama kepemilikan harta milikku menjadi namamu, kecuali perusahaan"


"Apa? Tapi kenapa Mas?"


"Agar kamu percaya, aku benar-benar akan mempertahankan hubungan kita"


"Mas El, aku tidak menginginkan harta Mas"


El mengecup kening istrinya, ia hanya ingin Asya tahu, jika harta itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kehadiran Asya didekat El. Pemuda itu ingin istrinya sadar, jika hubungan mereka bukan hanya sekedar diatas kertas.


Sembari mengelus rambut Asya, El menyuapi istrinya dengan penuh cinta.


Asya juga perempuan biasa, hatinya akan luluh begitu mudah dengan sikap manis suaminya. Walau sudah berusaha untuk marah, El selalu tahu cara meluluhkan hati wanita. Seakan El bisa membaca pikiran para wanita itu. Sama halnya yang terjadi pada Asya, El dengan mudah meluluhkan hati istrinya.


"Kamu akan menyesal jika meninggalkan pria seromantis dan setampan aku sayang" bisik El lalu mencium pipi istrinya.


"Iih, Mas El percaya diri banget sih, wlee"


"Aku sayang kamu Sya"

__ADS_1


__ADS_2