Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 94


__ADS_3

Malam hari tiba...


Si kembar ingin menangis ketika harus berpisah dengan Asya. Terutama si bungsu Key, Airin harus terus menggendongnya agar cucunya itu tak menangis.


"Besok Ayah dan Bunda jemput kamu ya, jangan nakal"


"Bunda, janji ya, jangan lama-lama" rengek Key.


El tertawa melihat wajah putranya yang menggemaskan, ia berbisik pada Key akan membelikan banyak mainan jika Key tidak nakal. Sebanyak apapun mainan yang El janjikan, tetap saja Key lebih suka bersama dengan sang Bunda.


Setelah menitipkan kedua putranya, El dan Asya pulang kerumah. Asya sangat merindukan rumahnya, terutama kamar yang dipenuhi oleh para poster idolanya. Ia khawatir akan usang sebab El pasti tak menjaganya dengan baik.


"Hm.. rindu rumah" gumam Asya kala membuka pintu rumahnya. Langkahnya segera menuntun dirinya masuk kedalam kamar tamu. Ia terkejut karena semua barang idolanya tak ada lagi disana. Kamar itu sudah direnovasi oleh El, menjadi kamar putra mereka dengan dua tempat tidur yang berjejer.


El memeluk istrinya dari belakang, seraya memejamkan matanya.


"Ada apa Mas? Kau terlihat gelisah"


"Sayang, bersiaplah, kita akan pergi"


Asya membalikkan tubuhnya, memeluk sang suami sembari menepuk-nepuk punggung El. Entah apa yang sedang El cemaskan, Asya ikut gelisah karenanya. El menggendong sang istri masuk kedalam kamar mandi dikamar mereka. Asya terkejut melihat bathtub besar disana, rupanya El mewujudkan permintaan sang istri.


Asya bergegas melepaskan pakaiannya dan berendam di bathtub, El juga mengikuti istrinya. Ia berbaring manja dalam dekapan Asya.


"Ada apa Mas? Cerita dong"


"Zio akan menikah, aku akan mengajakmu ke pesta lajangnya"


"Menikah? Apa, tapi dengan siapa? Kenapa tiba-tiba adik ipar akan menikah?"


"Dengan sahabat mu, Jihan. Sudah ku bilang kan, mereka bisa mengatasinya sendiri. Lihat, bahkan tanpa bantuan konyolmu, mereka bisa memutuskan"


Asya memutar bola matanya malas, itu bukan bantuan konyol, tapi cara agar Zio dan Jihan bisa dekat. Sedih rasanya sebab melewatkan banyak hal, tapi Asya juga bahagia sebab semuanya baik-baik saja. Ia segera membersihkan diri, tak sabar ingin memarahi adik iparnya.


Selama perjalanan menuju tempat pesta, El masih saja diam. Asya pikir, semua hal sudah El ceritakan, tapi sepertinya masih ada yang pemuda itu sembunyikan.

__ADS_1


Zio menyewa private room sebuah hotel untuk mengadakan pesta. Ia hanya mengundang teman dekatnya saja, juga istri-istri temannya. Zio ingin tahu lebih banyak mengenai pernikahan, dan inilah salah satu ke khawatiran El.


Sebab pernikahan teman El dan Zio tampak tak baik-baik saja, El takut bila apa yang mereka katakan nantinya akan merusak ekspektasi Zio tentang pernikahan. Dan merubah pola pikir Zio untuk menunda pernikahannya. Harusnya El tak perlu khawatir, sebab Asya kini ada bersamanya.


"Kakak Ipar, aku merindukanmu" seru Zio kala melihat Asya yang datang. Ia langsung saja memeluk Asya dengan erat.


"Kau tidak memberitahu ku akan menikah? Menyebalkan"


"Jangan salahkan aku Nyonya, Tuan El yang mengirimmu jauh dariku. Aku ingin menyampaikan kabar ini secara langsung"


"Adik Ipar, keputusan mu sangat tepat. Kau sudah harus memiliki seseorang yang bisa menjagamu. Dengarkan aku, saat kau memanjakan istrimu, apapun akan kau dapatkan, hihihi" bisik Asya dengan nada nakal.


Zio terlihat tersipu malu, El juga penasaran karenanya. Tapi keduanya langsung menghentikan pembicaraan mereka kala El mendekat.


El mengajak Asya untuk duduk bersama teman-teman dekatnya yang kini telah menikah. Mereka tampak terkejut melihat kehadiran Asya disana, terlebih pujian kembali terdengar karena Asya tak berubah sedikitpun. Masih cantik seperti terakhir kali mereka bertemu dulu.


Melihat Asya yang tak berubah, mereka mulai mencurahkan isi hati mengenai pernikahan. Penyesalan demi penyesalan mulai terdengar, mereka mengatakan hal buruk mengenai istri masing-masing. Tak lagi pandai berdandan, menjadi gemuk setelah memiliki anak dan sebagainya. Mereka sekali lagi salut pada Asya yang masih saja mempesona.


El menyenderkan kepalanya pada bahu sang istri, ia memeluk pinggang Asya dan menenggelamkan wajahnya pada tubuh sang istri. Asya mulai menyelidik, sepertinya sang suami gelisah karena hal ini.


"Aku takut mereka mempengaruhi Zio, bagaimana jika Zio berubah pikiran?"


Asya tersenyum kecil menatap teman-teman suaminya.


"Kakak ipar, bagaimana caranya kau masih terlihat sama padahal kalian memiliki dua anak. Pernikahan kalian juga lebih lama dari kami, lihatlah El bahkan masih tak ingin lepas darimu" celetuk salah seorang teman El.


"Itu hal yang mudah, suamiku memberiku banyak uang. Aku bisa mengurus diri dan anak kami, apa kalian pernah mencoba menjadi istri kalian sehari saja?" Tanya Asya dengan tawa kecil.


Mereka semua menggeleng, El kemudian menyela dan mengatakan jika dirinya pernah mencoba menjadi sang istri selama sehari. Ia mengeluh betapa lelahnya mengurus rumah dan anak-anak. Karena itulah El memberikan semuanya, asisten rumah tangga, perawat anak dan hal lain. Ia ingin Asya mengurangi waktu untuk bekerja dan hanya merawat diri untuknya. Sebab itulah, El tak pernah mau pergi dari pelukan sang istri.


Wajah para lelaki itu tampak gelisah, mereka mulai memikirkan perkataan Asya dan El. Mungkin benar, uang adalah jawaban atas segala hal yang mereka pusingkan.


"Kalian sudah menemukan jawaban? Jika ada masalah, jangan mencari pelampiasan, tapi selesaikan" nasihat Asya begitu bijak.


El terkekeh mendengar Asya memberikan petuah pada teman-temannya. Padahal Asya jauh lebih mudah dari para teman El. Tetapi jika mengenai rumah tangga, tentu Asya lebih berpengalaman.

__ADS_1


"Sayang, besok masakin kepiting telur ya" pinta El dengan manja.


"Gak boleh, Mas itu..."


Drrrtttt...


Ponsel Asya berdering, ada panggilan masuk dari Laura.


Asya : "Halo, ada apa Bund?"


Kai : "Bundaaa, aku kangen Bunda"


Asya : "Sayang, besok kan ketemu. Ada apa? Jangan nakal loh ya"


Kai : "Bunda, aku mau kepiting telur ya besok"


Asya terdiam, ia menatap El yang juga sibuk dengan ponselnya. Pemikiran Ayah dan anak-anak ini membuatnya terkesan. Asya menyetujui permintaan itu dan menutup teleponnya.


Baru saja ia selesai bicara dengan Kai, El memberikan ponselnya sebab Key menelepon.


Asya : "Iya sayang, ada apa?"


Key : "Bunda, mau kepiting telur. Buatin yang banyak ya"


Sekali lagi Asya tertegun, ia mengira jika El merencanakan semua ini. Tapi kebetulan seperti ini tak sekali dua kali ia alami. Asya mengiyakannya dan menutup telepon.


"Mas El bilang ke anak-anak ya kalau mau kepiting telur?"


"Apa sih? Gak kok, dari tadi kan aku gak main hp sayang. Emangnya kenapa?"


"Anak-anak minta kepiting telur"


"Mereka memang anakmu El" celetuk salah seorang teman El.


El menjitak kepala tamannya dengan geram, tentu saja mereka anak El. Dilihat dari wajah Kai dan Key sudah jelas sekali jika mereka adalah putra El.

__ADS_1


__ADS_2