
"Pernah" jawab El singkat.
"Oh, saat aku pergi ke kantor Mas El, resepsionisnya bilang kalau aku mainan baru. Emang ceweknya Mas El ada banyak ya?" Pertanyaan polos Asya sekali lagi membuat sang suami terkejut.
El merubah posisinya, kini ia berhadapan dengan sang istri. Mata lugu itu, begitu banyak hal yang ingin Asya ketahui tentang suaminya. Semua hal tanpa terkecuali.
"Banyak, tapi kan istri ku cuma kamu" balas El.
Ada rasa kecewa dalam hati Asya, ia tidak mengerti kenapa rasa itu datang. Ia menatap El, berusaha memahami apa yang suaminya katakan.
"Boleh aku tahu, kenapa Papa...." El tak melanjutkan perkataannya, sebab Asya menatap matanya dengan tajam.
"Apa kau melakukan kesalahan?" Sambung El setelah Asya memalingkan pandangannya. Asya berbalik memunggungi El, ia menghembuskan napasnya perlahan.
"Kesalahan terbesar yang aku lakukan, karena lahir sebagai seorang perempuan. Papa hanya ingin anak laki-laki. Saat dihadapan Papa, aku merasa tak ada seorangpun yang menginginkan aku didunia ini. Bahkan Mama, Mas Syam dan Mas Galen tidak pernah bisa membelaku, mereka hanya bisa melihat dan diam" jawab Asya mencoba menahan tangisnya.
"Aku tidak pernah membenci siapapun Mas, aku hanya kecewa" sambung Asya. Air matanya kembali tumpah mengingat semua yang terjadi. Kenangan pahit itu akan selalu membekas dalam benak Asya.
El mendekatkan tubuhnya, ia memeluk Asya dari belakang. "Kamu memiliki aku sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, termasuk Papa" hibur El. Ia mengelus lembut tangan Asya, mencoba menenangkan sang istri.
"Asya, kau bisa melakukan apapun semaumu, apapun, tapi kau harus memberitahu ku. Aku tidak akan melarang, tapi aku harus tau apapun yang kau lakukan" bisik El.
Asya memalingkan posisinya, "Kenapa?"
"Karena kau milikku" jawab El seraya mengelus pipi Asya. Ia menarik Asya dalam dekapannya, membuat mereka berdua saling berpelukan dalam tidurnya.
Apapun itu, Asya menyukainya, walau tak sepenuhnya mengerti perkataan El. Ia menyukai semua hal tentang El.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa meraba perutku?" Tanya El. Ia mencoba menarik tangan Asya keluar dari dalam kaosnya. El menarik kepala Asya, menghadapkan wajahnya agar menatap El.
"Tadi katanya boleh ngapain aja. Pingin pegang, habisnya badan Mas El bagus, bentar aku lihatin nih ya" jelas Asya. Ia lalu bangun dari tidurnya, mulai mengotak-atik televisi. Ia menunjukkan pada sang suami tubuh kekar Kim Jong Kook, salah satu pemain Running Man, acara favoritnya.
__ADS_1
"Pingin pegang dia tapi gak bisa" keluh Asya sedih. Ia kembali menatap suaminya yang masih berbaring. El menggeleng lalu berbaring memunggungi Asya.
"Aaaaahhhh pelit" ujar Asya sinis. Ia kemudian beranjak pergi menuju dapur. Karena menunggu El yang tak kunjung pulang, Asya jadi lupa makan malam. Sekarang ia sangat lapar dan ingin makan.
Setiap laci ia buka, tak ada makanan. Ipah pulang terlalu cepat dan dia belum sempat memasak. Asya kembali berjalan menuju kamar, ia menatap El yang sedang menonton Running Man tanpa ekspresi.
Tanpa kata-kata, Asya segera menjatuhkan dirinya diatas kasur. "Mas El, laperr" rengek Asya manja. "Kebanyakan nangis" sahut El ketus.
Asya kembali berdiri dan membuka lemarinya, ia mengambil sebuah jaket. Berniat pergi ke mini market didepan kompleks untuk membeli mie instan.
"Mau kemana?" Tanya El setelah melihat Asya mengenakan jaket. "Mau beli mie, Mas El mau? Di mini market depan" jawab Asya seraya membenarkan jaketnya.
El ikut berdiri setelah mematikan televisi, ia mengatakan akan ikut dengan Asya. Awalnya Asya menolak, karena ia ingin jalan kaki sebab jaraknya tak terlalu jauh. Tetapi El mulai menakutinya jika jalanan sangat gelap. Hal itu membuat gadis penakut ini memperbolehkan suaminya ikut dengannya.
Asya terus mengoceh disepanjang jalan, untuk menyibukkan dirinya agar tak takut. El berkata benar, sepi dan gelap. Asya tidak mengerti mengapa El tidak memiliki motor, jangankan motor, sepeda saja ia tak punya. Hanya dua mobil yang terparkir dirumahnya.
"Mas El bisa naik motor?" Tanya Asya membuka pembicaraan. El mengangguk, tentu saja ia bisa menaiki motor. Hanya saja ia lebih suka naik mobil daripada motor.
"Mas El beli motor dong, terus ajarin aku naik motor" pinta Asya.
"Ajarin aku naik mobil?" Tanya Asya sekali lagi.
"Gak boleh. Ada Agus kan, kamu gak boleh naik kendaraan sendiri, itu perintah" jawab El tegas.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Sahut Asya begitu bersemangat.
"Aku tidak akan membiarkan istriku pergi kemanapun seorang diri. Sudah ku katakan tak akan memberikan mu terluka bukan" jawab El begitu keren.
"Aaaaaaahhh" Asya teriak kegirangan. Ia merasa jika perkataan suaminya sangatlah manis, membuat dirinya salah tingkah tak karuan. Hingga El harus memegangi Asya dengan kedua tangannya. Karena sang istri tak bisa diam dengan tenang.
Setelah sampai didepan mini market, El memilih untuk duduk didepan dan membiarkan Asya berbelanja. Ia duduk sembari sesekali memeriksa ponselnya, jika saja ada kerjaan yang harus segera ia selesaikan.
__ADS_1
"Pak Elvin" Sapa seorang pria paruh baya. Elvin menoleh dan langsung berdiri, menjabat tangan pria tersebut.
"Saya dengar dari istri saya, Pak Elvin mencari saya, ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya pria tersebut.
"Iya Pak RT, saya mau minta surat pengantar. Saya baru saja menikah" jelas El pada Pak RT.
"Wah, selamat atas pernikahannya ya, semoga langgeng dan cepat diberi momongan. Saya buatkan segera, nanti Pak Elvin bisa meminta Agus atau Ipah untuk mengambilnya" ucap Pak RT.
"Mas El, aku gak bawa dompet, minta uangnya" sela Asya tiba-tiba hadir diantara mereka.
El mengenalkan Asya pada Pak RT, begitu juga sebaliknya. Setelah perkenalan singkat, Asya kembali masuk kedalam mini market.
"Dia putrinya Pak Dirga kan?" Tanya Pak RT memastikan. El mengangguk dan kembali bertanya bagaimana bisa Pak RT mengenal istrinya.
Rupanya Asya adalah teman anak Pak RT. Dan beliau juga kerap kali melihat Asya yang suka dipukul dan dimarahi oleh Papanya. Walau Asya dan anak Pak RT tak terlalu dekat, tapi beliau tahu mengenai Asya, sebab anaknya sangat menyukai Asya. Gadis baik hati dan suka menolong orang lain. Bahkan Asya juga yang menolong anaknya saat dirundung, ketika mereka duduk di bangku SMA.
"Dia gadis yang baik, anak saya pasti senang bertemu dengan Asya" ujar Pak RT dengan senyum megah.
"Oh, eh, anak saya perempuan kok Pak El" imbuh Pak RT setelah melihat tatapan El. Beliau tertawa canggung, mendapati El yang sepertinya cemburu.
"Iya Pak, dia memang gadis yang baik. Terimakasih Pak sekali lagi atas bantuannya" ucap El seraya menyalami Pak RT. Pak RT menerima salaman itu kemudian pamit pergi.
El menatap Asya yang baru saja keluar dengan kantong kecil ditangannya. Sepertinya tak membeli banyak hal, tetapi ia begitu lama berada didalam.
"Es kriiim" celetuk Asya riang. Ia mengeluarkan dua buah es krim dari kantongnya.
"Tidak" sahut El merampas kedua es krim dari tangan Asya. "Mas ini, baru beli kok" ucap El seraya memberikannya pada tukang parkir. Asya merengek meminta es krimnya kembali, tetapi El segera menarik istrinya untuk pulang kerumah.
"Kamu itu lagi sakit, gak boleh makan es krim" nasihat El ketus. Asya hanya bisa menatap El dengan sedih, sedih karena kehilangan es krim kesukaannya.
"Naik" pinta El sembari menurunkan tubuhnya. Ia meminta Asya untuk naik ke punggungnya. Ia tak ingin jika sang istri sakit lagi karena kelelahan.
__ADS_1
Bukannya langsung naik, Asya malah kembali kegirangan. Lagi-lagi ia dibuat jatuh hati dengan sikap manis sang suami. "Gak naik aku tinggal" ancam El mulai lelah menunggu.
Asya dengan senang hati tentu menuruti permintaan El. Ia sangat senang, satu lagi adegan dalam drama yang sering ia tonton.