
Asya menggesekkan wajahnya pada dagu El yang mulai ditumbuhi bulu-bulu. Geli, itu sangat menyenangkan. Asya terus melakukannya hingga El tak kuasa melihat tingkah konyol istrinya.
"Sayang, kalian masih lama ya didalam?" Teriak Laura.
El dan Asya yang sedang berada dikamar mandi, saling berpandangan. Padahal mereka sudah mengunci kamar, tapi bagaimana bisa Bunda masuk kedalam kamar dan mendapati mereka berdua berada dikamar mandi.
"Bunda ngapain sih? Gak baik Bund, ini kan kamar pengantin baru" jawab El.
"Iya maaf deh, cepetan turun, ditunggu Kakek"
Setelah menyampaikan pesan, Laura keluar dari kamar El sambil terus tertawa. Ia bahkan tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya dihadapan keluarga besar.
Seluruh keluarga telah berkumpul, Winarso memang sengaja melakukannya. Beliau ingin membagi harta warisan untuk para cucunya. Karena El sang cucu bungsu telah menikah, sudah saatnya harta warisan dibagikan.
"Dimana El dan istrinya?" Tanya Nenek El.
"Biasa Bund, pengantin baru" jawab Laura dengan tawa kecil.
Adhitama mengeluh, putranya itu benar-benar tak bisa menahan nafsu. Walau pada nyatanya, beliau berharap bisa segera memiliki cucu lagi.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya El dan Asya turun dan bergabung bersama yang lain. El sebenarnya tak ingin bergabung, karena ia tahu pembahasan apa yang akan dilakukan. Ia sama sekali tak tertarik pada harta sang Kakek.
Disaat Winarso menjelaskan pun, yang El lakukan hanyalah memeluk dan memainkan tangan istrinya, persis seperti anak kecil. Saat ditegur pun, El tak peduli, seolah dunia hanya ada dirinya dan Asya.
Asya sudah mencoba menghentikan suaminya, tapi saat dipaksa berhenti, El malah menjadi-jadi. Ia bahkan membuat Asya risih karena terus meniup-niup leher istrinya.
"El, dengarkan Kakek" sentak Winarso.
"Aku tidak butuh warisan Kakek, aku sudah mendapatkan lebih dari yang aku harapkan"
El bangkit dari duduknya dan mengajak sang istri pergi. Namun perkataan Winarso menghentikan langkahnya.
"Asya berhak mendengarkan kebenarannya"
Sontak saja, Nenek El, Adhitama dan Laura terkejut bukan main. Mereka mencoba mengehentikan Winarso, tetapi beliau bersikukuh untuk memberitahu Asya kebenaran dibalik pernikahannya dengan El.
__ADS_1
Winarso tahu benar, jika kekayaannya tidak akan habis begitu saja. Mengingat semua usaha dan sahamnya tersebar luas dipenjuru negeri. Harta adalah kebutuhan utama setiap manusia. Setelah semuanya terpenuhi, yang beliau butuhkan adalah wanita terbaik untuk para cucunya.
Winarso ingin setiap cucunya memiliki seorang istri seperti istrinya dan para menantu. Tetapi sayangnya, jaman telah berubah. Winarso sendirilah yang menjodohkan semua cucunya, dengan wanita pilihannya. Walau ternyata pilihan Winarso tak pernah memuaskan.
Hingga saat dirinya bertemu kembali dengan Dirga. Disebuah acara para pengusaha, hubungan lama kembali terjalin. Beliau mengingat jika Dirga memiliki seorang putri. Setelah mendengar mengenai putrinya, Winarso mulai mencari tahu mengenai Asya.
Beliau awalnya tak tega melihat Asya yang menerima didikan keras dari Dirga. Tetapi tak bisa beliau pungkiri jika didikan itu sangat berguna nantinya. Tak ada satupun kelemahan yang Winarso temukan, selain umur Asya yang masih sangat muda.
Satu bulan setelah pengamatan, Winarso memanggil Dirga ke rumah Adhitama. Disana, beliau, kedua orangtua El dan Dirga mulai membicarakan tentang pernikahan. Winarso meminta Dirga untuk memberikan putrinya pada cucu bungsunya, El.
Awalnya Dirga menolak, reputasi El sudah tersebar dikalangan para pebisnis. El yang suka bermain perempuan dan minum-minum. Walau sering kejam, tapi Dirga selalu memperingatkan Asya untuk menjauhi lelaki yang memiliki sifat buruk.
"Dirga, El tidak tertarik dengan warisannya. Setelah mereka menikah, aku akan memberikan bagian El padamu"
Penawaran itu membuat Dirga tergiur, ia berpikir sejenak sebelum menerima tawaran Winarso. Jadi apa yang Dirga katakan pada Asya adalah kebohongan, kebenaranya adalah ada perjanjian diantara Winarso dan Dirga.
Itu semua Winarso lakukan, sebab ada banyak sekali keluarga yang mengantri untuk meminta Asya pada Dirga. Tak ingin ada yang mendahului, Winarso membuat penawaran licik. Karena tak ada yang akan menolak harta sebanyak itu.
"Mas El, apa artinya Papa menjualku?" Tanya Asya.
"Tapi, Papa bilang, pernikahan kita karena Papa memiliki banyak hutang pada keluarga Mas"
"Asya hei, sayang, Asya" teriak El. Asya tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Selalu saja seperti ini, saat kebahagiaan datang, seolah tak bersahabat dengannya. Karena kesedihan akan datang setelahnya.
El menatap sang Kakek, ia tak percaya Winarso begitu tega memberitahu semuanya dihadapan Asya. Padahal beliau sangat marah ketika El mencoba menyakiti Asya.
"Kakek hanya ingin kau tahu, jika Asya adalah warisan Kakek. Sekeras apapun kau menolak, kau sudah menerimanya El"
"Cukup, Kakek keterlaluan. Aku akan pergi sekarang juga"
El meninggalkan keluarganya, bergegas menuju kamar dan mengemasi semua pakaiannya. Asya tengah menangis diatas tempat tidur, pemandangan yang El benci. Ingin sekali El menatap istrinya tanpa air mata. Tapi semesta selalu saja memberikan gadis itu duka dan luka.
"Sayang kita pergi, ayo" ajak El menarik istrinya.
"Mas tunggu, apa semuanya benar?"
__ADS_1
"Biarkan saja Asya, tak usah kau pikirkan"
"Kenapa Papa membenciku Mas? Apakah aku seburuk itu dimata Papa"
Kalimat apa yang harus El keluarkan, ia tak memiliki jawaban atas pertanyaan istrinya. El mendekap sang istri, tangis Asya terdengar begitu pilu. Luka apa lagi yang harus gadis ini terima.
Adhitama dan Laura menghampiri menantu bungsunya. Mereka meminta maaf pada Asya atas semua yang terjadi. Tetapi kehadiran Asya dalam keluarga mereka membawa kebahagiaan tersendiri.
"Sayang, tidak apa-apa. Kamu punya kita sekarang, kita akan menjagamu Asya" ujar Laura. Beliau mendekap menantunya, mengelus lembut rambut panjangnya.
Tangis Asya masih tak kunjung henti, bahkan isakkannya semakin keras. Seolah dunia Asya kini benar-benar hancur. Kebenaran yang membangun dinding besar diantara Asya dan Dirga. Kali ini Asya tak bisa lagi, tak bisa tak membenci sang Papa. Ini adalah amarah dan kekecewaan.
"Aku benci Papa, aku benci Papa. Aku gak mau lihat Papa lagi, Bund. Aku benci Papa" ucap Asya dalam tangisnya.
"Asya, kamu sekarang punya Ayah kan. Dirga mungkin hanya..."
"Tidak Yah, cukup. Jangan sebut nama Papa, aku tidak memiliki Papa lagi"
Adhitama menghentikan perkataannya, sepertinya Asya masih kalut dalam emosi. Beliau membantu El untuk menurunkan semua koper dan memasukkannya kedalam mobil El.
Sedangkan Laura, membantu Asya untuk berjalan masuk kedalam mobil. Sebelum itu, Asya berpamitan dan meminta maaf pada semua keluarga besar. Ia juga meminta maaf pada keponakannya karena tak bisa tinggal lebih lama.
Setelah mendapat pelukan dari para keponakannya, Asya memeluk Kakek dan Nenek.
"Maafkan Kakek Asya, Kakek akan pastikan kamu bahagia" janji Winarso.
Mungkin benar jika ia menukarkan warisan El untuk mendapatkan Asya. Tapi setelah mengetahui Asya juga terluka karena cucunya, penyesalan menyelimuti hati Winarso. Gadis yang tak tahu apapun, harus terluka dari berbagai sisi. Beliau tak ingin nantinya Asya nekat dan mengambil jalan yang salah.
"Nenek tunggu baby El nya ya" bisik Nenek El.
Asya mengangguk dengan air mata yang masih mengalir. Ia juga berharap hal yang sama.
Setelah itu, ia berpamitan pada kedua mertuanya. Sulit sekali melepaskan Bunda dalam keadaan seperti ini. Asya masih membutuhkan sosok Bunda didekatnya. Tetapi keputusan El sudah bulat, ia akan mengajak Asya pergi. Pergi jauh dari tempat yang membuat istrinya terluka.
"Mas El, apakah dunia selalu sekejam ini?"
__ADS_1
Iya Asya, ini hanya sebagian kecil. Kau belum melihat semuanya, dunia kejam yang tak bisa kau bayangkan, jawab El dalam pikirannya.