
Pukul 04:00....
Alarm ponsel Asya berbunyi, ia meraba-raba meja untuk meraih ponselnya. Setelah mematikan alarm, perlahan ia mengalihkan tangan El dari tubuhnya.
"Kamu mau kemana?" Celetuk El ketika merasakan ada pergerakan dari Asya.
"Mas El sudah bangun?" Tanya Asya.
"Alarm kamu berisik, ini masih jam berapa? Kenapa bangun sepagi ini?" Oceh El yang masih setengah sadar.
"Aku mau bersih-bersih terus masak Mas" jawab Asya sembari mencoba pergi dari dekapan El.
El kembali mengomel, ia sangat tidak mengerti kenapa Papa meminta Ipah dan Agus untuk tidak bekerja dirumah El. Pada akhirnya Ipah dan Agus akan bekerja kembali dirumah kedua orang tua El. El terpaksa menyetujuinya dengan catatan Agus masih akan tetap mengantar kemanapun Asya pergi.
"Tidak apa-apa Mas El, aku bisa mengurus rumah sebelum berangkat kuliah. Mas El tidur saja, nanti aku bangunkan" ucap Asya lembut. El yang memang masih mengantuk, membiarkan Asya pergi darinya.
Asya mulai menyapu setiap lantai, lalu mengepelnya. Setiap sudut rumah ia pastikan tak luput darinya. Mengelap meja dan perabotan yang dipajang disana.
Setelah bersih-bersih, Asya melihat kulkas, masih ada beberapa bahan makanan disana. Dengan telaten Asya mengeluarkan semua bahan makanan dan memotongnya. Menciptakan sandwich sederhana untuk sarapan sang suami.
Belum selesai ia dengan masakannya, ia segera menghampiri El untuk membangunkannya dari tidur.
"Mas, bangun Mas" ujar Asya seraya menggoyangkan tubuh sang suami. Bukannya bangun El malah menarik Asya dalam dekapannya.
"Mas El, kan ada meeting pagi ini, ayo bangun" ucap Asya lagi. Ia berusaha lepas dari dekapan El, mendorong tubuh El menjauh darinya.
"Asya kamu udah mandi?" Tanya El yang sudah mulai membuka matanya. Asya menggeleng. "Mau mandi bareng?" Imbuh El.
Blush, pipi Asya memerah. Ia tak pernah membayangkan jika ajakan seperti ini bisa membuatnya begitu tersipu malu karenanya. Ia kembali berpikir, El tak pernah menunjukkan reaksi apapun saat ia mengatakan hal yang sama.
El bangun dari tidurnya, lalu menggendong Asya.
"Kenapa? Kau tidak mau?" Tanya El heran. Sebab biasanya Asya selalu mengatakan hal-hal seperti ini padanya.
"Anu Mas, aa..aku kan harus nyiapin sarapan buat Mas El" lirih Asya diselingi rona merah dipipi.
__ADS_1
Dengan alasan itu El menurunkan Asya dan membiarkannya pergi.
"Kau sering menggodaku dengan permintaan aneh, sekarang kau tersipu karenanya? Gadis aneh" gumam El. Ia pun segera naik ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
Asya kembali berkutat dengan masakannya. Menata sandwich di kotak makan dan mengemas kopi hangat di botol minum untuk El. Karena El pasti tidak memiliki waktu untuk sarapan dirumah.
"Sya, leptopku dimana ya? Dikamar gak ada" Tanya El yang baru saja turun dengan baju berantakan.
"Ada dikamar bawah Mas" jawab Asya. Ia membantu mengancingkan kemeja sang suami. Memakaikan dasi pada El dengan sangat rapi.
Setelah memastikan pakaian El tertata rapi, Asya mengendus-endus bau mulut El. El mantap Asya dengan aneh, ia lalu meniupkan udara ke wajah istrinya.
"Ehm, masih bau alkohol, Mas El minum berapa banyak sih? Massa mau meeting mulutnya bau alkohol" omel Asya kesal. El lalu mencium sendiri napasnya, rupanya aroma itu masih tertinggal disana.
Asya mengambil permen mentol dan memasukkannya pada mulut El. Lalu pergi ke kamar untuk mengambil leptop suaminya. Asya menyiapkan tas suaminya, dan membawanya hingga ke mobil.
"Mas, cek lagi apa ada yang tertinggal?" Tanya Asya memastikan. El memeriksa bawaannya, tas, dompet, ponsel semua sudah ada didalam mobil dan sakunya. Asya mengangguk setelah mendengar semua itu.
"Ini jangan lupa dimakan dan minum ya Mas. Mas El juga harus banyak minum air. Nanti siang mau aku bawakan makanan ke kantor? Mas mau makan apa?" Ujar Asya.
El mencium kening Asya dan masuk kedalam mobilnya. Begitu El pergi, Asya mendatangi tukang sayur keliling yang berada tak jauh dari rumahnya.
"Silahkan Non, masih segar sayurannya" tawar pedagang sayur tersebut.
Beberapa mata menatap Asya, dan gadis itu memberikan senyuman ramah. Para asisten rumah tangga itu berbisik, membuat Asya merasa sedikit tak nyaman karenanya. Dengan segera Asya mengambil bungkusan daging dan beberapa sayuran lainnya.
"Makasih ya Pak, mari Mbak" ujar Asya dengan ramah.
Asya menyimpan semua belanjaannya di kulkas dan segera bersiap untuk berangkat ke kampus. Tak lupa ia menghubungi Agus untuk menjemputnya. Asya mengenakan baju kasual seperti biasanya, seperti kesehariannya di kampus.
"Pak, nanti jemput jam sepuluh ya. Saya masuk dulu, Pak Agus hati-hati" pamit Asya lalu berjalan masuk kedalam kampus.
"Cantik" panggil seseorang. Asya tak menggubrisnya, ia merasa bukan dirinya yang dipanggil.
"He, telinga loe kemana?" Teriak Jihan kesal. Rupanya Jihan yang memanggil Asya cantik, karena tak merasa dirinya secantik itu, Asya jadi mengabaikan panggilan Jihan.
__ADS_1
"Jihan, Gita, aku gak tahu kalau itu kalian. Maaf ya, hehehe" ujar Asya ceria.
"Loe udah baik-baik aja kan Sya?" Tanya Gita seraya menatap Asya dari atas hingga bawah.
Asya mengangguk dan tersenyum ceria seolah tak ada beban dalam hidupnya. Dengan riang mereka bertiga berjalan menuju kelas, sambil berbincang mengenai beberapa hal.
"Asya, kau sudah baik-baik saja?" Ucap Nando ditengah perjalanan mereka. Rupanya Nando sudah menunggu lama didepan kelas Asya. Hanya demi mengetahui keadaan gadis yang ia cintai.
"Nando, aku tidak apa-apa. Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Asya.
"Ah, baguslah. Aku hanya kebetulan lewat sini karena ingin bertemu dengan temanku. Aku duluan ya, Han, Git, gue duluan" pamit Nando seraya menepuk pucuk kepala Asya.
Asya, Jihan dan Gita masuk kedalam kelas dan mengikuti kelas dengan tertib seperti biasanya.
Kelas selesai.....
"Sya, loe mau kemana?" Tanya Jihan setelah melihat Asya membereskan semua barangnya.
"Mau pulang, Mas El mau makan pasta katanya, gue harus masak, tadi pagi dia juga cuma sarapan sandwich karena ada meeting penting" jelas Asya panjang lebar.
Jihan dan Gita saling berpandangan, mereka tidak mengerti kenapa hubungan Asya dan suaminya seolah baik-baik saja. Lalu apa penyebab Asya jatuh sakit, hal itu mengganggu mereka namun mereka tak ingin bertanya pada Asya karena mungkin itu akan menyakiti hatinya.
"Manis banget sih, naik taksi atau dijemput nih" goda Gita.
"Di jemput supir lah, Mas El pasti lagi kerja. Aku duluan ya, byee" pamit Asya melambaikan tangannya dan pergi.
"Gue harap pernikahan Asya emang baik-baik aja" gumam Jihan lirih.
"Gue juga berharap Asya beneran bahagia. Cewek baik kayak dia, hm... harusnya dia jadi adik gue hiks" timpal Gita.
.........***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Because I'm Ratu............
...Terimakasih sudah membaca......
...lope lope Kakak...🥰🥰***...
__ADS_1