
"Nyonya El, kau mau kemana?" Ujar El saat mendapati Asya berjalan melewati ruang tamu.
"Dapur, Mas El mau makan? Aku siapin ya, mau makan disini atau di meja makan?" Jawab Asya dengan berbagai pertanyaan.
El berdiri dari duduknya dan mengikuti sang istri pergi ke dapur. Ada banyak makanan diatas meja, Asya menyuruh suaminya untuk duduk. Tetapi El malah menolak.
"Ke kamar yuk" bisik El sembari memeluk Asya dari belakang.
"No" jawab Asya singkat lalu pergi menuju dapur. Ia memasak air untuk membuat kopi, karena El belum minum kopi sama sekali hari ini.
El kembali mengikuti istrinya, memeluk Asya dari belakang sekali lagi. Walau Asya tak menggubrisnya, El masih terus saja menempel pada Asya. Bahkan tangan nakalnya mulai masuk kedalam baju Asya. Ia *******-***** dada istrinya dengan sedikit kasar.
"Mas El sakit" celetuk Asya sembari menjauhkan tangan El dari tubuhnya. El tidak memedulikan perkataan Asya, ia kembali memasukkan tangannya dan memainkan dada istrinya.
Asya sekali lagi menarik tangan suaminya, memposisikan kedua tangan El di perutnya. "Mari kita memiliki anak" pinta Asya. El menolak, ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Asya. Tetapi gadis itu, tak membiarkan suaminya pergi.
"Aku tidak mau" ucap El dengan tegas.
"Jika kita memiliki anak, aku akan berhenti kuliah dan hanya melayani Mas El saja"
"Tidak, dan jangan harap. Berhenti mengatakan ini Asya"
"Tapi Mas El selalu mencoba menyentuhku, bukankah peluangnya akan lebih besar? Mas El menyukainya kan? Menghabiskan setiap malam bersamaku"
Asya melepaskan genggamannya, ia berbalik menatap El yang juga menatapnya. Gadis itu menatap suaminya dengan wajah sedih, sembari memainkan tangan El.
El merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisikan obat. Ia lalu mengambil air dan meminta Asya menelan obat tersebut.
"Aku gak lagi sakit" ujar Asya menolak meminumnya.
"Biar kamu gak hamil" jawab El ketus. Ia memasukkan obat tersebut ke mulut Asya, memaksa Asya untuk menelannya.
Kenapa sikap Mas El selalu berubah? Terkadang begitu manis dan perhatian, sekarang dia sangat kasar, batin Asya.
Asya menatap suaminya yang menatap tajam ke arahnya. Ia pun menenggak obat itu dengan terpaksa.
"Kenapa Mas El gak mau punya anak dari aku? Apa Mas El punya wanita lain? Ap..apa Mas El ingin memiliki anak dari wanita lain?" Tanya Asya. Ia berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.
__ADS_1
"Sssttt, kamu itu ngomong apa sih? Aku kan udah bilang, cuma kamu yang akan dikenal sebagai Nyonya El. Kita akan punya anak Asya, tapi nanti, tidak sekarang" jawab El. Ia menarik Asya dalam pelukannya, mendekap sang istri dan membujuknya dengan kata-kata manis.
"Apa aku bisa mempercayai Mas El?"
"Tentu, aku adalah satu-satunya orang yang harus kau percayai. Dan ya, jangan terlalu percaya pada Zio, atau dia akan mengajarimu hal yang tidak-tidak. Itu akan membuatku marah"
El perlahan menaikkan dagu istrinya, mendongakkan wajah Asya yang tertunduk agar menatap matanya. Ia lalu menangkup pipi istrinya, memulai ciuman mesra dengan Asya. Asya pun ikut terbawa suasana, ia menikmati berciuman dengan sang suami, hingga tanpa sadar mencengkram erat pakaian suaminya.
"Rin, mereka udah dekat banget" bisik Bunda.
"Iya Mbak, bisa cepat punya cucu kita mbak" sahut Mama.
Bunda dan Mama sedang bersembunyi dibalik dinding, memperhatikan El dan Asya yang sedang memadu kasih. Mereka menjadi teringat kenangan masalalu, ketika masih hangatnya pernikahan mereka.
"Maaa, bau apa ini? Bau gosong" teriak Papa begitu kencang. Teriakan itu menyadarkan Asya, ia lalu mendorong suaminya dan berbalik mendapati panci yang gosong di sampingnya.
"Yahh, Mas El sih, kan lagi masak air" gerutu Asya kesal. Gadis itu segera mematikan kompor dan memindahkan panci gosong itu ke tempat lain.
Papa dan Ayah menghampiri mereka semua yang berkumpul di dapur. Seperti biasa, Papa marah-marah dan menyalahkan Asya. Ini memang salah Asya, tapi tidak sepenuhnya salah dia.
"Bukan Pa, ini salahku. Aku tadi mau bantu Asya, eh malah jadi gini. Susah ya masak, istriku memang hebat" ujar El.
El menatap Bunda dan Mama yang sedang menatap dirinya. Lalu mengedipkan sebelah matanya kemudian pergi menyusul Papa dan Ayah ke ruang tamu.
"Ehem"
Asya tertunduk malu setelah melihat Mama dan Bundanya. Ia kembali memasak air untuk membuat kopi.
"Sya, makin lengket aja nih" goda Mama.
"Ap..apa sih Ma, gak gitu kok"
"Gak gitu gimana? Barusan ngapain hayoo" timpal Bunda.
"Cu..cuma ngobrol kok"
Asya lalu pergi secepat mungkin membawa kopi untuk El ditangannya. Ia tidak akan bisa mengelak lagi jika Mama dan Bunda terus menggodanya seperti itu.
__ADS_1
Asya memberikan kopi pada El, lalu duduk disampingnya. Diikuti oleh Mama dan Bunda yang juga duduk disamping suami mereka.
"Asya, kuliah kamu udah mulai libur?" Tanya Ayah membuka pembicaraan. Gadis itu mengangguk, mulai hari ini hingga akhir bulan depan ia libur semester.
Kesempatan yang bagus, Ayah meminta Asya untuk membujuk El agar mau pergi menemui Kakek dan Neneknya.
"Kakek dan Nenek Mas El? Kok aku gak tahu sih? Mas El gak mau kenalin aku ke mereka ya?" Ujar Asya pada sang suami.
"Bukannya gitu Sya.." Ucapan El terpotong karena Bunda menyela.
"Malu mungkin Sya" sela Bunda.
Asya mengangguk mengerti, mungkin yang dikatakan oleh Bunda memang benar. Tetapi El segera menyangkal perkataan Bunda, ia tidak pernah merasa seperti itu, bahkan berpikir pun tidak.
El merangkul pundak istrinya, lalu menyetujui untuk pergi ke rumah Kakek dan Neneknya. Ia hanya takut jika nanti Asya harus menerima perkataan buruk dari para Iparnya yang sedikit menyebalkan itu.
Bunda dan Mama mengajak Asya untuk menonton televisi di ruang keluarga. Karena ini sudah jam tayangnya sinetron favorit mereka.
"Penasaran aku Rin, jadi gimana itu pelakor" ujar Bunda yang sudah siap menghujat si antagonis.
"Sama Mbak, istrinya itu juga, harusnya lebih garang kan" timpal Mama.
"Menurut kamu gimana Sya?"
"Jangan tanya Asya Mbak, dia mah hatinya gak terketuk. Massa katanya istrinya lemah, harusnya bisa menerima jika suaminya mendua"
"Wah, ya jangan gitu Sya. Sakit loh beneran"
"Iya Bunda, Mama. Aku tahu kok, aku pikir gak akan sesakit itu, tapi ternyata nyesek banget ya" jelas Asya sedih.
Mereka kembali tenang saat sinetron kesayangan mereka baru dimulai. Awalnya berjalan dengan lancar, sebelum pelakor itu kembali berulah.
"Nyonya El, lihat apa sih serius bener" celetuk El yang ikut bergabung dengan mereka. El duduk dilantai dan menyandarkan tubuhnya pada kaki Asya. Meminta istrinya untuk memijat kepalanya.
"Tuh lihat, ganjen banget cewek kayak gini tuh, ih gemes deh" oceh Bunda tak karuan.
"Iya, padahal cowok kan banyak, tuh lewat dibelakangnya. Kenapa harus deketin suami orang sih" imbuh Mama yang juga geram.
__ADS_1
"Kalau aku jadi istrinya, udah aku penggal kepala suamiku" sela Asya dengan begitu kejam.