Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 75


__ADS_3

Asya dan El turun kebawah, Farel tampak sangat bahagia memeluk istrinya. Disaat seperti ini, saran konyol Asya tiba-tiba saja muncul. Ia menyarankan agar Farel dan Adelia menghabiskan waktu bersama. Dengan itu, Aqilla akan tidur bersama El dan Asya.


"Tapi Sya, El tidak akan menyukainya. Dia..."


"Mas El gak mau?"


"Hahaha, aku tidak punya pilihan kan Nyonya El?"


Asya mengangguk dengan sangat yakin, El hanya bisa menatap Kakaknya pasrah. Sebagai permintaan maaf, El membiarkan untuk kali ini saja. Asya sangat bersemangat dan menggendong Aqilla ke kamarnya. Ia baringkan tubuh mungil itu diatas kasur, lalu bermain dengannya.


Saat memasuki kamar, El tak langsung berbaring ditempat tidur. Ia malah pergi menuju meja kerjanya. Karena Asya ingin mereka semua pergi kerumah Adhitama besok, El harus menyelesaikan pekerjaannya malam ini. Agar Zio tak mengacaukan meeting penting esok hari.


Jam menunjukkan pukul 2 pagi. El baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan mendekati istrinya yang tidur dengan memeluk Aqilla.


"Sayang" bisik El ditelinga Asya. Beberapa detik berlalu, namun tak ada respon dari Asya.


"Aku tahu kamu belum tidur" imbuh El yang sudah berbaring disamping istrinya.


"Eheheh, ada apa sayang? Mm.." sahut Asya. Ia memalingkan tubuhnya memeluk sang suami.


"Sayang, Ayah dan Bunda pasti akan kecewa. Mereka pasti butuh waktu untuk memahami, jadi Mas Farel bakal tinggal disini berapa lama?"


"Sampai mereka punya rumah lagi Mas"


El berdehem membalas perkataan istrinya. Tangannya sudah menjelajah masuk kedalam kaos Asya. Walau sudah diperingatkan, El terus saja mencoba membuka kaitan pakaian d*lam istrinya.


"Mas, ada Aqilla loh"


"Gak apa-apa, kita mainnya pelan-pelan" jawab El yang langsung melu mat habis bibir mungil Asya.


Beberapakali Asya mencoba lepas, tapi El semakin mendekapnya erat. Asya yang gemas, menggigit bibir suaminya hingga berdarah. Akhirnya El menghentikan permainannya.


"Kasar ya sekarang mainnya, hm.. jadi gitu"


"Salah Mas El, ingat ya, aku gak mau melayani Mas El kalau Mas gak bantuin suaminya Mbak Kinan"


"Sya, aku gak suka kalau ada orang yang nyakitin kamu. Lagian, biar dia sadar kalau dia bermain dengan orang yang salah"


"Mas El mau berubah kan? Kita mulai dengan memaafkan Mas"


El tak ingin mendengar apapun perkataan istrinya. Ia lebih memilih tidur memunggungi Asya karena kesal. Sangat sulit bagi El untuk mengabulkan permintaan Asya yang satu ini.


Asya tampak terkejut karena El memunggungi dirinya. Ia merasa tak enak karena terus memaksa El.

__ADS_1


"Mas, maaf ya, aku cuma... Maaf, tidurnya hadap sini dong, gak mau peluk aku nih?" Rengek Asya seraya menggoyangkan tubuh suaminya.


Pemuda itu secepat kilat berbalik dan mendekap Asya dalam peluknya. Mencium kening istrinya dan mengatakan betapa El sangat mencintai Asya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Esok hari tiba..


Asya yang sudah selesai bersih-bersih, berjalan menuju kamar untuk membangun kan El dan Aqilla. Ia terkejut kala mendapati pemandangan indah ini. El yang sedang tidur berpelukan dengan keponakannya.


Tak ingin kehilangan momen indah ini, Asya mengambil ponselnya dan memfoto kejadian itu. Ia tertawa kecil, keduanya sangat lucu saat tidur.


Asya beralih ke samping El, mengelus pipi suaminya perlahan.


"Sayang, kamu, loh eh..." El terkejut kala mengetahui Aqilla tidur sambil memeluknya.


Asya mencoba menahan El agar bergerak perlahan, ia tak ingin keponakan kecilnya terbangun.


"Makasih ya Mas, em... kamu tuh emang suami the best deh. Calon Papa idaman, hehehe" goda Asya.


"Kalau ada maunya aja kamu manis gini"


"Kan aku belajar dari Mas El" ucap Asya seraya mengedipkan sebelah matanya.


El tersenyum dan menarik Asya dalam pelukannya. Ia tahu, dibandingkan siapapun yang ada dirumah saat ini. Asya merasa sangat khawatir lebih dari siapapun. Terbukti dari Asya yang tak nyenyak dalam tidurnya, bergerak kesana-kemari karena tak nyaman.


Asya melepaskan pelukannya pada El dan beralih menghampiri Aqilla kecil yang terbangun dari tidurnya. Ia mengelus rambut Aqilla dan menggosok perutnya. Ia meminta El untuk mandi, lalu turun kebawah bersama Aqilla.


Selepas bersiap dan sarapan, Asya berdiri didepan gerbang sambil menggendong Aqilla. Ia tengah berbincang bersama Kinan dan beberapa Ibu-Ibu lainnya. Mereka memuji betapa lucunya anak Kinan dan cantiknya keponakan Asya.


"Istrimu menjadi kesayangan semua orang El" celetuk Farel.


"Mas Farel orang kesekian yang mengatakannya. Aku tidak menyukai Asya membagi waktunya dengan orang lain"


"Kau masih saja posesif El, istrimu juga butuh kebebasan"


"Tidak, itu hanya akan memberinya kesempatan untuk bertemu dengan pria lain"


Farel menepuk punggung adiknya, El masih tak bisa melapangkan dad menerima kenyataan. Berbeda dengan pikiran dewasa Farel, El memang terkenal kekanakan dan suka membuat ulah.


Setelah Adelia siap, mereka semua akhirnya pergi menuju rumah Ayah dan Bunda. Walau tak saling mengatakan, mereka semua cemas memikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Asya bahkan memeluk Aqilla dengan sangat erat, sembari menatap jalanan yang ramai. Ia tak ingin jika Aqilla pergi nantinya, gadis kecil yang malang.


Sebelum kerumah Adhitama, Asya meminta untuk mampir sebentar di pusat perbelanjaan. Ia ingin membeli beberapa buah-buahan untuk mertuanya.

__ADS_1


"Tunggu, aku aja yang beli, kamu disini" celetuk El saat Asya hendak turun dari mobil.


"Suamimu kenapa Sya?" Tanya Farel menoleh kebelakang.


"Itu, cemburu Mas, padahal aku cuma ngobrol sama pegawai disini"


"So sweet dong kalau cemburuan" sela Adelia seraya melirik ke arah Farel.


Asya tertawa sambil memukul pelan kaki Adelia. Sepertinya Farel sangat mempercayai Adel, dan tidak seromantis El tentunya. Aqilla juga ikut cekikikan bersama dengan Asya. Sampai El kembali pun keduanya masih tertawa tanpa sebab.


"Sya, aku ketemu Nando sama Jihan didalam. Dia nanyain kamu"


"Mmh.. Padahal tadi pagi aku baru teleponan sama Jihan"


"Bukan Jihan, tapi Nando"


"Oh, yuk jalan Mas. Let's go" ujar Asya mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin membahas lebih lama, jelas sekali jika El tengah cemburu.


Adelia yang awalnya cemberut, tiba-tiba menoel-noel Asya dan ikut cekikikan. Jadilah para perempuan itu cekikikan di bangku belakang. Farel hanya bisa berdehem, sedangkan El masih tak memahami situasinya. Tetapi perasaan cemburunya membuat mood El sangat buruk saat ini.


Bahkan sampai dirumah Adhitama pun, suasana hati El masih buruk.


"Mas Farel, Mbak Adel sama Aqilla masuk dulu deh. Aku mau bicara sama Mas El"


Setelah keluarga kecil Farel turun dan masuk kedalam rumah. Asya keluar mobil dan menghampiri suaminya yang masih duduk di kursi depan. Ia duduk dipangkuan El dan melingkarkan tangannya pada leher sang suami.


"Coba lihat siapa yang cemburu?"


"Hm, kamu sama Nando, masih hubungan?"


Asya mengeluarkan ponsel dan memberikannya pada El. Meminta sang suami memeriksa dengan seksama. Jangankan berhubungan, Asya bahkan tak pernah membaca satu pesan pun dari Nando. Kecuali jika Nando membahas hal lain di grup, barulah Asya menanggapi.


"Aku berhenti kuliah, Mas"


"Kenapa? Papa yang suruh?"


"Iya, aku juga gak mau menghabiskan waktu lebih banyak diluar rumah. Aku gak mau Mas El berpikir yang tidak-tidak"


"Sayang, tapi kan kamu..."


"Aku udah bicara sama dosen pembimbing aku Mas. Tinggal kasih surat pengunduran diri aja, aku harap Mas El mau menerima keputusanku ini"


"Gak, gak boleh. Aku udah bilang gak bakal membatasi impian kamu"

__ADS_1


"Impian aku, jadi anak kebanggaan Papa. Dan itu sudah terwujud, semua karena Mas El. Makasih Mas, love you" jelas Asya kemudian memeluk suaminya.


Impian apa yang kau bicarakan? Papa mu tidak lebih dari laki-laki brengsek, pikir El dalam benaknya.


__ADS_2