Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 88


__ADS_3

Zio dan Jihan terlihat saling berpandangan. Keduanya menunggu Asya dan El yang belum keluar dari hotel.


"Apa mereka baik-baik saja?" Lirih Jihan khawatir.


"Aku rasa, mereka sedang bertengkar" jawab Zio.


Jihan mengangguk setuju, tentu El akan marah karena Asya membatalkan rencana mereka hanya untuk menemui Gita. Akhirnya suami istri itu keluar hotel, namun keduanya mengenakan pakaian santai.


"Kalian pulanglah, kami akan berlibur" ujar El yang sukses membuat Zio dan Jihan membuka mulutnya lebar.


"Kalian gak jadi pulang bareng kami?" Tanya Zio memastikan.


"Kakak ipar mu berubah pikiran, dia memang menyebalkan"


Asya yang mendengar hal itu, langsung menendang kaki El karena kesal. Ia segera masuk kedalam taksi pesanan mereka, tak lupa ia berpamitan pada Jihan dan juga Zio. Asya memeluk Jihan dengan sangat erat, seraya berbisik agar Jihan melihat video yang Asya kirimkan saat pulang nanti.


Sebuah video yang membuat Asya berubah pikiran dalam beberapa menit.


Pasangan suami istri itu pergi menuju hotel lainnya. Hotel yang sudah dipersiapkan oleh El untuk honeymoon bersama sang istri tercinta.


Hotel dengan kolam renang pribadi yang langsung menyuguhkan pemandangan laut. Dan kamar mandi besar dengan bathtub, kaca bening yang memiliki view langsung menghadap bangunan tinggi di kota. Mata Asya berkilau melihat betapa indahnya hotel ini. Ia berlari memeluk El yang tengah berbaring diatas tempat tidur.


"Suka?"


"Suka banget Mas, suamiku yang terbaik"


"Habis dari sini, mau liburan kemana lagi sayang?"


"Emangnya Mas El gak kerja? Aku gak mau ya disalahin kalau tiba-tiba uangnya Mas El habis atau ada apa-apa sama perusahaannya Mas"


"Sayang, aku itu kerja keras biar bisa liburan sama kamu. Kerja kerasnya kan sudah, sekarang tinggal liburan sama kamu"


Asya mengecup pipi suaminya beberapa kali. Ia bermanja-manja dalam dekapan El. Serasa dunia hanya milik mereka berdua. Kemudian tangan nya kembali bergerak, mengambil telepon hotel untuk memesan beberapa makanan.


El membongkar koper mereka, dan meminta Asya untuk mengganti pakaiannya. Ia ingin mengajari sang istri untuk berenang. Padahal Asya sudah menolak, ia benar-benar ketakutan bila harus disuruh berenang.


"Seksinya istri ku" puji El seraya meraba tubuh istrinya dari belakang. Tangannya tak luput dari dua buah gundukan itu, ia remas perlahan beberapakali seraya tersenyum kecil. Wajah Asya yang ketakutan terlihat jelas di cermin.


El menarik istrinya menuju kolam renang, pesanan mereka sudah datang saat Asya berada di kamar mandi.


"Sayang ayo" ajak El yang sudah berada di dalam kolam renang.

__ADS_1


"Mas, berendam aja ya, aku takut beneran"


"Iya cuma berendam, sini sayang"


Asya menghampiri El, ia turunkan kakinya perlahan kedalam kolam renang. Ia sangat terkejut kala kakinya tak bisa menyentuh lantai. Bagaimana tidak, jika kedalaman kolam renang itu setinggi dada El. Asya segera memeluk suaminya dengan napas yang naik turun. El tak henti-hentinya tertawa melihat wajah Asya.


"Mas, tenggelem nih aku" rengek Asya ketakutan. Kakinya refleks melingkar ke tubuh suaminya, dengan wajah cemberut dan kesal.


Perlahan, El berjalan ke tepi kolam, ke arah pemandangan lautan lepas. Ia duduk di bagian kolam yang lebih dangkal sembari memangku istrinya. Lautan yang indah, Asya mengambil beberapa foto untuk ia simpan.


Asya masih menikmati pemandangan, sedangkan El lebih menyukai sang istri. Tangannya tak pernah pergi sedetikpun dari tubuh Asya. Mengelus setiap inci tubuh istrinya dengan penuh cinta. Sesekali ia mengecup pipi istrinya, hingga memulai ciuman singkat.


"Mas, kenapa ya teman-teman aku berubah? Kenapa mereka jadi jahat sih?"


"Sayang, mereka tidak pernah berubah. Hanya kamu yang selalu menganggap mereka sama sepertimu"


"Tapi kan Mas El....."


"Asya, kau hanya ingin meyakini jika semua orang itu baik. Sudahlah, lagipula, kita fokus saja pada rumah tangga kita"


El menarik istrinya untuk keluar dari kolam renang, berjemur menikmati sinar matahari yang menghangatkan kulit. Sembari minum-minum seorang diri. Sedangkan Asya menikmati makanannya, sedari tadi ia ingin sekali makan kimchi.


"Sya, apa kau mencintaiku?"


"Jika aku menyuruhmu memilih antara aku dan Papa?"


" Ada apa sih Mas? Papa bikin Mas El marah?"


"Papa mengancam ku akan mengambilmu dariku jika aku tidak menurutinya. Sya, aku tidak masalah dengan uang, tapi dia selalu mengancam ku menggunakan mu. Jika dia bukan Papamu, aku.. ah maafkan aku"


"Aku akan memilih Mas El, jangan turuti lagi permintaan Papa Mas. Papa selalu semaunya"


"Asya, Papa mu lebih kejam dari apa yang kau bayangkan. Aku akan menceritakan nya lain kali"


Asya duduk disamping suaminya, ia meninju perut El lalu memeluknya. Bagaimanapun Dirga, dia tetaplah Papa Asya, mertua El. Tidak baik membicarakan mertuanya seperti itu.


El tersenyum nakal setelah melihat tubuh istrinya, gadis pembawa keberuntungan nya. Ia harus menjaga Asya dengan baik, agar istrinya tak pernah pergi. Ia sudah tak bisa menahannya lagi, El menggendong istrinya masuk kedalam kamar dan memulai adegan cinta itu.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Beberapa hari berlalu sudah, mereka menghabiskan waktu bersama-sama dengan penuh cinta. Kepulangan Asya dan El disambut ceria oleh keluarga besarnya.

__ADS_1


"El, tinggallah disini bersama Asya" pinta Kakek El.


"Kenapa? Kakek tau kan aku tidak menyukainya"


"Kakek dan Nenek juga akan tinggal disini"


"Apa? Kenapa? Tidak bisakah kalian menjauh dariku? Aku lelah karena kalian terus mengusik rumah tanggaku"


El berjalan masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal. Ia yakin ada sesuatu yang Kakeknya sembunyikan. Selalu seperti itu, El tak pernah menyukai rencana Kakeknya. Kecuali pernikahan nya dengan Asya.


"Mas, kenapa marah-marah?"


Pemuda itu menarik istrinya dalam dekapan. El hanya takut jika apapun yang Kakeknya lakukan akan melukai Asya nantinya. El takut tak bisa melindungi istrinya dari kejamnya dunia bisnis.


"Sya, kita pulang yuk"


"Kita kan sudah dirumah Mas"


"Rumah kita Sya, cuma ada kamu dan aku. Tidak dengan yang lain"


"Mas El, aku juga mau dekat dengan keluarga suamiku"


"Itu tidak perlu, aku bahkan tak ingin menjadi bagian dari mereka"


"Kenapa Mas El selalu seperti itu? Jika tidak ada Ayah dan Bunda, Mas El juga tidak akan ada" ujar Asya kesal. Suaminya masih saja kekanakan. Ia lebih memilih pergi daripada harus berdebat dengan El karena hal sepele. Lebih baik ia bermain dengan ponakan kecilnya.


Asya tengah mengajari Aqilla membaca, ia begitu telaten mengajar. Sebenarnya Asya sangat cocok menjadi seorang guru untuk anak kecil, baik dan ramah. Pasti banyak anak kecil yang menyukai dirinya.


Tak lama El juga keluar dari kamar, menghampiri Laura yang sedang menonton televisi. Ia tidur dipangkuan sang Bunda, seraya memejamkan matanya.


"Bunda, apa aku berbuat salah pada Bunda?"


"Ada apa El? Tumben sekali kau manja seperti ini" ucap Laura seraya mengelus rambut putra bungsunya.


"Bunda, lihatlah istriku. Dia menantu dan Bibi yang baik, tapi tidak sebagai istri"


Asya mulai melirik suaminya, ia ingin tahu apa yang hendak El katakan selanjutnya.


"Asya membuat mu sedih sayang?"


"Ini lebih dari sedih, aku sangat kecewa. Dia, mengabaikan ku dan membuatku menjadi nomor dua. Bunda, bukankah bagi seorang istri, suaminya adalah prioritas?"

__ADS_1


Laura menjewer telinga anaknya, ia mendorong El bangun dari pangkuan. Dengan tatapan super tajam, ia berkata, "Suami seperti apa dulu yang kau bicarakan El. Apa kau suami yang baik?"


__ADS_2