
"Nyonya, kita akan pergi kemana?" Tanya Agus memastikan.
"Kita jalan-jalan keliling kota"
Bodyguard Asya hendak menolak ide itu, tapi Asya sudah memutuskan keinginannya. Ia ingin pergi jalan-jalan menghabiskan waktunya.
Agus dan ke empat bodyguard Asya menuruti permintaan Nyonya nya. Mereka berkeliling dan sesekali singgah di tempat yang Asya inginkan. Seperti layaknya anak remaja, Asya menikmati waktu luangnya berjalan-jalan dan berbelanja.
Setelah cukup lama mereka berkeliling, Asya memutuskan untuk makan sebelum mereka pulang. Di sebuah kafe yang lumayan terkenal dikalangan anak seusia Asya.
"Enak kan makanan disini?" Tanya Asya melahap makanannya.
Para pria itu mengangguk, mereka memakan makanannya tapi sesekali juga memantau sekitar. Asya pikir, suaminya terlalu berlebihan. Walau ia merasa keberatan, El tak akan mendengarkan perkataan Asya.
Di kafe itu, Asya bahkan bertemu beberapa teman kuliahnya. Ada yang menggoda Asya, dan ada yang menatapnya dengan aneh. Yang jelas, mereka menjadikan Asya topik pembicaraan pastinya. Namun hal itu tak mengusik Asya sama sekali, itu sudah biasa terjadi.
Bahkan hingga Asya meninggalkan kafe pun mata beberapa orang masih terus memandangi dirinya.
"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya Agus memastikan.
"Tidak apa-apa Pak, mau bagaimana lagi. Apapun yang Mas El katakan adalah perintah"
Ketika hendak menuju parkiran mobil mereka, langkah Asya terhenti kala menatap istri Kakak Ipar nya. Adelia tengah berbincang dengan seorang pria disana. Perbincangan keduanya tampak sangat serius, ditambah lagi dengan para anak buah yang ada dibelakang sang pria.
"Kalian ngapain?" Teriak Asya saat melihat pria itu mulai mencengkram dagu Adelia dengan kasar.
Adelia dan para pria itu menoleh menatap Asya. Mereka tampak memandang remeh Asya dan para bodyguard nya. Walau Adelia meminta Asya untuk pergi, tapi gadis itu tentu tak bisa pergi setelah melihat semuanya.
"Banyak bacot kalian" teriak pria tersebut berusaha melayangkan tangannya pada Asya.
Tap...
Bukan bodyguard, ataupun Agus yang menahan tangan tersebut. Namun Asya sendiri yang menahan datangnya bahaya. Mata Asya berubah menatap tajam pria yang hendak memukulnya itu. Dengan sekejap mata, Asya membantingnya ke tanah.
Melihat bos mereka terlempar, para anak buah itu mulai memasang badan. Para bodyguard Asya juga dengan sigap menarik gadis itu ke belakang sang menghadang. Perkelahian singkat terjadi, sebelum para security datang dengan peluit yang mereka tiupkan. Membubarkan para kerumunan tersebut.
"Mbak Adel gak apa-apa?"
__ADS_1
"Diem kamu, jangan ikut campur urusanku" sentak Adel kemudian pergi meninggalkan Asya.
Asya merasa, ada hal besar yang sedang Adelia sembunyikan. Jelas terlihat dari raut wajah Adelia yang marah dan kesal saat Asya bertanya. Tak sempat mengejar, para bodyguard Asya menuntun Nyonya nya itu untuk masuk kedalam mobil dan pulang kerumah. Karena sebentar lagi El akan pulang dari kantor.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Di rumah ....
Asya duduk termenung di depan ruang tamu. Menatap televisi yang menyala tetapi pikirannya pergi entah kemana. Ia tengah menunggu El yang masih belum terlihat batang hidungnya.
"Sayang, udah siap belum?"
"Mas El, ah aku lupa. Aku mandi dulu ya"
"Bareng aja kalau gitu, ayo" ajak El seraya menggendong istrinya menuju kamar. Merekapun mandi bersama-sama.
Selepas mandi, Asya hanya mengenakan balutan handuk ditubuhnya. Menunggu El yang memilihkan baju untuk ia kenakan. Sangat lama El memilih pakaian untuk Asya, hingga gadis itu telah selesai memakai make up pun El masih sibuk memilih gaun.
"Mas El lama banget sih, dingin tauu" rengek Asya kesal.
Asya mengenakan dress panjang tanpa lengan yang memiliki belahan rok cukup panjang. Ia pikir ini terlalu seksi untuknya. Asya menatap suaminya dengan ragu, tapi El malah tersenyum lebar. Ia menarik pinggang istrinya, mendekatkan jarak mereka. Sayang sekali malam ini ia tidak bisa menyalurkan hasratnya, padahal ia sudah menunggu lama.
Ttin.... Ttin.....
Suara klakson mobil terdengar, pasti Zio sudah sampai. Sebelum pergi, El meminta Asya untuk memakai sumpelan bra. Untuk kedua kalinya Asya harus memakai itu, padahal itu membuatnya merasa tak nyaman. Tapi karena El yang meminta, Asya menuruti permintaan suaminya.
Suami istri itu kemudian turun menghampiri Zio yang lagi-lagi merasa kesal karena menunggu lama. Zio tahu pasti El berulah lagi, sahabatnya itu memang sudah jatuh dalam pelukan Asya. Hingga sedetik saja tak pernah tak terbesit untuk tidak menyentuh Asya.
"Adik Ipar, kau tidak ingin menikah? Apa kau akan terus mengikuti kemana pun suamiku pergi? Menikahlah dan berbahagia, agar Mas El tak lagi merepotkanmu"
"Aku akan menikah, setelah mendapat keponakan dari kalian"
"Diamlah sayang, jangan ganggu Zio. Sekarang katakan padaku, kau bisa berkelahi?"
"Tidak Mas, itu hanya, mmh... Papa mengajari aku untuk berjaga-jaga"
"Sejauh mana Papa mengajari mu?"
__ADS_1
"Hanya cara membanting dan menendang bagian vital"
Zio lalu tertawa mendengar jawaban Asya, ia tak mengira jika Dirga akan mengajarkan hal baik seperti ini pada putrinya. Sedangkan El baru menyadari sesuatu, pantas saja saat itu miliknya terasa sangat sakit karena Asya tak sengaja menendangnya.
Sampai di tempat acara.....
El merangkul pinggang istrinya dan berjalan memasuki gedung diadakannya acara tersebut. Zio berjalan dibelakang El dan Asya seraya menebarkan senyuman pada tamu lainnya.
"Tuan Elvin, anda terlihat sangat tampan hari ini" puji salah seorang pria. Beberapa mata tampak memandangi El yang baru saja tiba. Juga mata mereka tak lepas dari seorang wanita yang berada di samping El.
Ada sedikit keterkejutan disana, biasanya El akan datang hanya bersama Zio. Tapi kini, wanita yang bersamanya menjadi tanda tanya besar. Memang benar saat pernikahan, hanya kolega bisnis El yang diundang. Tapi tak semuanya diundang, karena ini adalah permintaan Adhitama. Sebenarnya secara tak langsung, ini adalah permintaan Kakek El.
Beliau tak ingin pernikahan cucunya malah dijadikan tempat untuk membahas bisnis. Walau nyatanya hal itu masih tetap terjadi.
"Presdir, tumben sekali anda membawa wanita ke acara seperti ini. Gadis yang manis" timpal pria lainnya.
"Dia istri ku"
Pengakuan singkat El itu sontak membuat siapapun yang mendengarnya terkejut bukan main. Setelah perkenalan singkat, El mengajak Asya untuk menghampiri pemilik acara tersebut. Meninggalkan para tamu lain yang masih ragu akan pernyataan El.
"Tuan Elvin, terimakasih telah datang di pernikahan saya" ucap mempelai pria sembari memeluk El dan Zio bergantian.
"Selamat atas pernikahanmu" ucap El.
"Tuan, aku sudah menyiapkan pesta dengan sangat baik. Ada ruang VIP tentunya, jika anda tertarik...."
"Tidak, aku datang kemari bersama istriku"
Bahkan sang mempelai pria pun terkejut dengan pernyataan El. Ia tidak mengerti harus bereaksi seperti apa. Tapi matanya sudah menatap Asya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ah, maaf atas kelancangan saya Nyonya El"
"Tidak apa, suamiku memang terkenal nakal"
"Sayang, itu kan dulu, jangan cemberut dong"
Asya menyalami kedua mempelai dan mengucapkan selamat.
__ADS_1