Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 68


__ADS_3

Selepas kepergian Zio, El masuk kedalam kamar dan berbaring di samping istrinya.


"Sya, aku akan melakukan apapun untuk menjagamu. Aku sayang kamu"


"Aku juga sayang Mas El, hihihi"


El terkejut mendengar jawaban istrinya, rupanya Asya masih belum tidur. Ia menggelitik tubuh Asya karena berani berpura-pura tidur.


"Sayang, lagi pingin nih, mandi bareng yuk"


"Sekarang? Kan Mas El baru aja mandi. Udah ah ayo tidur aja, ngantuk"


Pemuda itu harus menahan keinginannya sekali lagi. Asya memeluk El dan tidur dalam pelukannya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Seperti biasa, pagi-pagi sekali Asya sudah memulai aktivitasnya. Ia membersihkan rumah dan membuat sarapan untuk suaminya. Sesekali Asya menatap keluar jendela, berharap bisa melihat Kinan disana. Tapi yang ia temui malah suami Kinan, Dimas.


Ttokkkk... Ttokkkk....


"Permisi"


Mata Asya terbuka lebar kala mendapati Dimas tengah mengetuk pintu rumahnya. Ia secepat kilat berlari menuju kamar menghampiri El.


"Mas El, bangun, ada Mas Dimas"


"Apa? Mau ngapain dia?"


El yang baru saja bangun tidur, langsung pergi menghampiri Dimas yang masih mengetuk pintu rumahnya. Asya juga mengikuti El dibelakang pemuda itu.


"Mau apa?" Sentak El tak bisa menahan emosinya. Asya menarik pakaian El, meminta suaminya agar tak terlalu terbawa emosi.


"Maaf Pak, saya minta maaf. Tolong jangan bawa-bawa masalah ini ke pekerjaan saya" pinta Dimas menunduk dihadapan El.


El mendorong Asya masuk kedalam rumah, lalu menutup pintu rumahnya. Kini ia berada diluar bersama dengan Dimas. Ia diam mendengarkan semua perkataan Dimas, permintaan maaf dan penyesalan itu. El jijik melihat pria dihadapannya ini, semua hanya kebohongan, yang dikatakan hanyalah sekedar ucapan.


Asya mencoba mendengarkan dari dalam rumah, menempelkan telinganya di pintu. Ia tidak mengerti mengapa El melarangnya untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Semua sudah Dimas katakan, keinginannya dan permintaan maaf itu. "Itu bukan urusan saya" ucap El kemudian masuk kedalam rumahnya. Ia tak ingin ikut campur lagi urusan Dimas. Pembalasan telah dilakukan, ini bahkan tidak akan cukup untuk membalas perlakuan kasar Dimas pada istri El.


"Mas El jahat banget sih, jangan gitu dong Mas. Mereka baru punya anak, pasti tanggungan mereka lebih besar"


"Biarkan saja, aku tidak peduli"


"Mas, kasihan kan Mbak Kinan dan anaknya"


"Cukup Asya, jangan membuatku marah" sentak El kasar lalu kembali ke kamarnya untuk bersiap.


Asya menatap suaminya dengan kesal, apapun alasan dibalik perlakuan El ini, semuanya tidak benar. Mengambil pekerjaan orang lain, Asya tak menyukainya. Mood Asya menjadi buruk karena sikap El yang menyebalkan. Padahal El melakukan semua ini untuk Asya.


Setelah bersiap El turun dari kamarnya, masih sama seperti biasanya, Asya merapikan pakaian suaminya dan menyiapkan sarapan untuk El. Tapi kali ini, tak ada senyuman di wajah gadis itu.


"Sayang, jangan cemberut gini dong"


"Hm, nanti mau makan siang apa? Atau mau makan diluar?"


"Sayang hei"


Asya tak menggubris panggilan El, ia kembali sibuk membersihkan dapur. El menatap istrinya yang masih tak tersenyum, Asya terlihat benar-benar marah kali ini. Ia bahkan tak menemani El sarapan.


"Dimas sialan" umpat El kesal. Ia melajukan mobilnya menuju kantor dengan penuh amarah.


"Kalian ini mau kerja atau mau gosip?" Sentak El pada para karyawan nya.


Sontak saja karyawan El membubarkan diri dan kembali ke tempat duduk mereka. Setiap karyawan yang El temui, ia memarahinya tanpa alasan. Bahkan Zio yang fokus dengan pekerjaannya pun dimarahi oleh El.


"El kenapa ya?" Gumam Zio heran. Ia mencoba mengintip ke dalam ruangan, tapi yang ia dapatkan malah amarah El lagi.


Disisi lain, Asya sedang duduk di depan leptopnya. Mengerjakan tugas kuliah karena sebentar lagi liburan telah usai. Beberapa kali teleponnya berdering, namun Asya masih tak peduli, karena ia tahu telepon itu dari El.


Selesai mengerjakan tugasnya, Asya bersiap untuk pergi. Tak lupa ia mewanti-wanti Agus dan ke empat bodyguard nya untuk tidak mengatakan apapun pada El. Melarang mereka untuk mengangkat telepon dari El.


"Tapi Nyonya, nanti Tuan El akan memecat kami"


"Tidak akan, kalian kan menjaga saya, dan kita pergi bersama bukan. Ayo pergi sekarang"

__ADS_1


Asya menuntun Agus untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingin membeli pakaian bayi untuk anak Kinan. Masih saja gadis itu memikirkan Kinan dan bayinya. Agus juga ikut pergi kedalam mall bersama dengan Asya, jadilah gadis itu dikawal oleh lima orang pria. Itu yang Asya ketahui, ia tak tahu jika masih ada bodyguard lain yang El sewa untuk menjaganya secara sembunyi-sembunyi.


Kembali lagi pada El yang masih mencoba menghubungi Asya. Ia terus mengoceh tak karuan didalam ruangannya.


"Apa yang dia lakukan? Aku sudah melarangnya, masih saja ia memedulikan tetangganya itu" oceh El kesal. Ia sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Asya dari para bodyguard lain.


"Zio, Zio"


"Ada apa El?"


"Apa-apaan ini, kenapa semua pekerjaan belum selsai, cepat beritahu kepala bagian, jika laporan tidak ada di mejaku dalam waktu dua jam, aku pecat mereka semua"


"El, apa.."


"Sekarang"


Zio bergegas keluar dari ruangan El, ia langsung menghampiri para kepala bagian dan mengadakan briefing dadakan saat itu juga. Setelah pemberitahuan singkat Zio, para karyawan bekerja dengan cepat seolah dunia akan segera kiamat. Mereka tengah berlomba dengan waktu, Zio masih tak tahu apa yang membuat El begitu marah. Padahal urusan mengenai Dimas telah selesai, juga masalah Papa mertuanya juga usai.


Zio : "Halo, Kakak Ipar"


Asya : "Ada apa Adik Ipar? Apa Mas El menyuruhmu menelepon ku?"


Zio : "Tidak, aku hanya ingin tahu, El memarahi semua orang tanpa alasan. Apa terjadi sesuatu padanya?"


Zio menceritakan apa saja yang El lakukan dikantor. Selain memarahi dan membentak semua orang, ia juga bersikap kasar pada beberapa karyawannya. Membuang semua makanan yang ia pesan tepat didepan OB. Emosi El benar-benar tak bisa dikendalikan lagi.


Setelah mendengarkan penjelasan Zio, kini giliran Asya menceritakan semua yang terjadi di rumah. Asya tak mau berbicara dengan El karena suaminya itu sangat kejam.


Zio : "Kakak Ipar, kau tahu benar jika El sekejam itu. Lalu kenapa kau masih melanggar perintahnya?"


Asya : "Dia marah tanpa alasan, sudah biarkan saja. Aku tidak mau berbicara dengannya"


Zio : "Tapi Kaka Ipar, kau tidak kasihan dengan para karyawan disini? Mereka akan segera mengikuti perawatan mental jika El terus marah-marah"


Semua yang Zio katakan benar, Asya tampak kembali berpikir. Jika ia terus mengikuti amarahnya, orang lain yang akan merasakan imbasnya.


Asya : "Aku akan kesana saat makan siang"

__ADS_1


Zio : "Ide yang bagus, ajak dia makan siang diluar. Sampai nanti Kakak Ipar"


Zio menutup teleponnya. Asya masih melanjutkan belanjanya, sudah sampai disini tanggung jika tak menyelesaikan tujuannya.


__ADS_2