Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
S2 - 118


__ADS_3

El meminta semua pelayan pergi keluar rumah. Ia memandangi kedua putranya yang tak ingin menatapnya.


"Sekarang apa? Kenapa kalian berdua sangat nakal?"


"Mas, jangan marahi mereka. Ini salah kamu, kamu yang berjanji akan mengajak mereka membeli mainan kemarin. Tapi kamu malah tak pulang hingga larut malam" jelas Asya. Ia memeluk kedua putranya yang terisak karena ucapan El.


Pemuda itu menaruh kepalanya di pangkuan sang istri. Selalu saja El lupa tentang hal sepenting ini. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri. Asya menegakkan kepala suaminya, mengelus pipi El dan menciumnya.


"Tidak perlu bersedih, lain waktu kita bisa pergi. Anak-anak pasti mengerti"


"Kenapa harus lain waktu? Hari ini kita berangkat. Ayo"


"Ayah tidak bohong? Ayah tidak kerja?" Tanya Kai.


"Tidak, hari ini waktu Ayah untuk kalian. Kita pergi?"


Kai dan Key mengangguk bersamaan. Keduanya langsung melompat ke pelukan El. Semarah apapun seorang anak, mereka takkan bisa membenci Ayahnya. El menatap istrinya, Asya masih saja tersenyum manis setelah ia mengetahui semuanya. Sebelum pergi, El mengajak istrinya berbincang berdua di dalam kamar.


"Kenapa kemarin tidak mengingat kan aku Asya?"


"Maaf Mas, aku tidak ingin merusak hari liburmu"


"Kau membiarkan aku berlibur disaat kau sibuk mengurus si kembar yang menangis. Itu tidak adil, tak pernah ada hari libur untukmu"


"Aku sudah terbiasa mengurus putra kita, itu seperti hariku tak lengkap tanpa mereka"


El menarik istrinya dalam pelukan, mendekap Asya dengan begitu erat.


"Ih, Mas El kalau manis gini pasti ada maunya. Tapi maaf ya, aku lagi haid. Tunggu ya, yuk kita pergi, anak-anak sudah menunggu"


"Iya aku tau kok, I love you Sya"


"Kok kamu tau?"


"Aku kan suamimu, udah yuk berangkat"


El dan Asya turun kebawah, si kembar sudah siap untuk pergi ke tokok mainan. El meminta kedua baby sister anaknya untuk ikut dengan mobil bodyguard mereka. Ia tak suka jika satu mobil bersama orang lain selain keluarganya.


Si kembar sangat antusias, mereka terus menyanyi selama perjalanan. Asya tertawa begitu lebar melihat kedua putranya.


Di toko mainan..

__ADS_1


El meminta baby sister dan pengawalnya mengikuti kedua anaknya. Sedangkan Asya tak perlu dijaga jika sedang bersama dengannya. El menggandeng tangan istrinya, mereka melihat-lihat mainan sambil berbincang ringan.


"Gimana sekolah anak-anak sayang?"


"Kata Bunda, mereka akan satu sekolah dengan Felia. Pendaftaran nya masih tahun depan Mas, tahun depan kan mereka umur lima tahun"


"Tuh kan, kamu tuh yang terlalu cepat mengajari mereka segala hal. Bahkan bangun pagi pun harus jam empat, kamu keterlaluan Sya"


"Hahaha, mereka akan jadi orang hebat seperti Ayahnya"


El mencium samping kepala istrinya. Mereka kembali melihat-lihat sambil menunggu si kembar yang menikmati perjalanan disana. Seolah tengah melakukan wisata di taman bermain.


"Pak Elvin, selamat pagi" sapa seseorang menghadang jalan suami istri itu.


"Pak Wijaya, selamat pagi. Anda masih mengurusi toko sendiri?"


"Ah tidak, saya baru saja selesai meeting dengan karyawan. Lalu melihat dua orang anak kembar yang sangat mirip dengan anda. Jadi saya pun mencari anda, Kai dan Key, dan ini Ibu Asya. Saya benar?"


"Selamat pagi Pak" sapa Asya dengan ramah.


Wijaya adalah pemilik toko mainan langganan El. Ia selalu membawa anaknya kemari saat ingin membeli mainan. El juga kerap memesan banyak mainan terbaru untuk anak-anaknya. Karena El adalah konsumen yang besar, pemilik toko jadi mengenali dirinya. Terlebih saat datang El selalu membawa bodyguard nya.


"Hahah, baiklah terimakasih Pak Wijaya"


"Sampai jumpa Ibu Asya, anak kalian sangat tampan"


Asya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia menatap El dengan senyuman lebar, mana mungkin kedua putranya tak tampan jika sang Ayah begitu menawan.


"Kenapa kamu lihatin aku?"


"Semua orang bilang kalau anak kita tampan. Harusnya mereka puji kamu dong, Kai dan Key benar-benar mirip Ayahnya. Astaga, suamiku sangat tampan"


"Kau baru menyadari itu?"


"Begitulah" jawab Asya cuek lalu pergi mencari kedua putranya.


Kai dan Key membuat para bodyguard kerepotan membawa semua mainan pilihan mereka. Asya menatap El yang tersenyum lebar memandangi kedua putranya.


"Mas El harus tetap sehat ya"


"Kenapa? Takut banget ya kehilangan aku?"

__ADS_1


"Lihatlah mereka sangat boros, kamu harus ekstra kerjanya buat mereka"


Apakah tidak ada jawaban lain? Ayolah Asya, katakan kau tidak mau kehilangan aku.


Asya melengos pergi mengehentikan kedua putranya yang masih ingin mengambil mainan lagi. Sudah cukup, ini terlalu berlebihan. Lagipula sebentar lagi si kembar tumbuh besar, pasti tidak akan memainkan semua mainan ini lagi.


"Sudah, ini terlalu banyak anak-anak" ucap Asya.


Kai dan Key menghentikan aksinya, mereka cukup puas dengan semua mainan ini. El meminta para karyawan nya untuk membawa semua mainan pilihan putranya ke kasir. Sambil menunggu El yang membayar, Asya menceramahi kedua putranya. Kai dan Key hanya tertunduk mendengarkan Omelan Asya.


Selesai membayar, El menggendong kedua putranya menuju mobil. Ia bertanya apakah kedua putranya merasa senang. Tentu saja Kai dan Key merasa sangat senang tak tertahankan. Mendapatkan mainan sebanyak ini hingga membuat Bunda mereka marah.


"Jangan nakal ya, nanti Ayah belikan apapun. Tapi turuti perkataan Bunda, kalian mengerti?"


"Baik Ayah, aku sayang Ayah" ucap si kembar bersamaan sambil memeluk El.


Di dalam mobil..


Asya hanya diam mendengarkan kedua putranya yang bahagia menerima mainan baru.


"Mas, aku mau pulang kerumah Mama. Bisa antar aku kesana?"


Ciiitttt....


El langsung menepikan mobilnya saat itu juga. Asya menatapnya dengan aneh, El tampak sangat khawatir.


"A.. Asya, aku tau aku salah. Tapi bukankah kita sudah membicarakan nya? Kenapa kamu mau pulang ke rumah Mama? Begini, kita bahas sekali lagi dan mencari solusi ya. Kalau kamu pergi ...."


"Aku kangen Mama Mas, kamu mikirin apa sih?"


"Bu...bukan karena marah sama aku kan?"


"Nanti kamu pulang kantor, pulang aja kerumah Mama. Kita kan udah lama gak pernah menginap disana"


"Aku, aku mau ketemu Kakek dan Nenek" sahut Kai.


El masih tak tenang dengan permintaan ini. Ia takut Asya tak kembali padanya lagi. Ketakutan ini pernah El rasakan lima tahun yang lalu. Ia masih menatap mata istrinya yang begitu yakin dan tak ada kebohongan disana.


"Apa sih Mas? Udah ah, aku cuma mau nginep disana. Nanti kamu pulang kerja pulang aja kesana ya. Udah ayo anterin ke rumah Mama" rengek Asya seperti anak kecil.


Kai dan Key tertawa melihat Bunda mereka seperti anak kecil. Akhirnya El pun setuju dan mengantar Asya serta kedua putranya ke rumah Dirga. Ia juga meminta baby sister dan para bodyguard Asya untuk ikut kesana menjaganya.

__ADS_1


__ADS_2