Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
S2 - 110


__ADS_3

El kembali mendekati Asya dan menariknya menjauh dari anak-anak. Mereka duduk di ayunan sudut sudut taman, menikmati bunga-bunga mawar yang bermekaran. Setelah di rasa aman, El langsung melu mat bibir istrinya dengan penuh cinta.


"Bundaaaa" teriakan Key membuat suami istri itu terkejut.


Asya hanya bisa tertawa, sedangkan El menyenderkan kepalanya pada bahu sang istri.


"Ada apa sayang?"


"Ayah, aku mau sosis besar" ucap Key. Ia membuat Asya bingung karena memanggil dirinya tapi meminta sesuatu pada El.


"Ayah kalian cuma punya sosis kecil" sela Asya.


"Biarin kecil, tapi bisa bikin kamu ketagihan tuh" bisik El lalu mencium pipi istrinya.


Key yang melihat ikut mendekat dan mencium pipi Asya. Ia memeluk Bundanya dengan sangat manja. Mata Asya tak sengaja menatap Dirga yang terus memperhatikan mereka. Asya pun bergerak mendekati Papanya yang tengah menggambar bersama dengan Kai.


"Pa, Papa kenapa?"


"Tidak Papa sayang, lihatlah Key memanggilmu"


"Pergilah Asya, biar aku temani Papa" sela El yang sudah duduk di samping Dirga.


Kedua pria itu awalnya terdiam, lalu El mengajak Papa mertuanya untuk berjalan-jalan di sekitar halaman depan. Memberikan mereka waktu berdua untuk mengobrol layaknya seorang teman.


El memulai perbincangan itu, menanyakan keadaan sang mertua dan hal basa-basi lainnya. Lalu barulah ia mulai menyinggung tentang luka di tubuh Airin. Dirga tak mengelak jika itu perbuatannya, ia menghela napasnya panjang.


"El, jaga putriku dengan baik. Aku sangat menyayangi nya"


"Apa Papa yakin menyayangi Asya?"


Dirga tertawa mendengar hal itu, tak hanya El namun semua orang pasti akan menanyakan hal yang sama. Mana mungkin Dirga yang selalu kejam pada putrinya, menyayangi Asya seperti yang ia katakan.

__ADS_1


Hal ini tak pernah Dirga ceritakan pada siapapun, tapi kali ini ia pikir harus menceritakannya pada sang menantu. Dirga yang begitu ringan tangan adalah didikan keluarganya yang keras. Karena dalam keluarga Dirga, seorang pria adalah pemimpin sejati. Mereka harus bisa mengendalikan wanitanya bagaimanapun caranya.


Dalam keluarga Dirga, tak ada keturunan perempuan satu pun. Karena bagi mereka, anak perempuan adalah pembawa sial. Setiap kali ada anak perempuan yang lahir, tak segan bagi mereka untuk menghabisi nya ataupun membuangnya. Menyembunyikan keberadaan anak perempuan itu dari keluarga besar.


Dirga pun melakukan hal yang sama, ia hendak membuang Asya saat itu sebab Airin terus menangis tak ingin kehilangan putrinya. Malam itu Dirga sudah berada di depan panti asuhan. Namun langkahnya terhenti kala melihat Asya kecil yang tertawa. Hatinya luluh begitu saja, tak tega bila harus membuang putri kecilnya.


"El, aku juga seorang Papa. Sebesar apapun niatku, tapi tawa putriku melelehkan hati yang membeku"


Niat Dirga untuk membuang Asya pun tak jadi ia lakukan. Mobilnya kembali melaju pulang kerumah. Airin tampak bahagia melihat suaminya datang bersama putri bungsu mereka. Saat itu pula Dirga berniat meminta kelonggaran pada keluarga besarnya. Namun sayangnya mereka semua tak setuju, sebab bagi mereka, keturunan perempuan adalah pembawa sial.


"Mereka memakiku, menghina ku dan mengambil semua hal yang mereka berikan padaku. Aku bimbang, aku masih punya dua orang putra dan seorang istri"


Keluarga besar memberikan Dirga waktu untuk memikirkan semua itu. Melepaskan putrinya atau menghancurkan masa depan kedua putranya. Di tengah kebimbangan itu, keluarga Airin di timpa musibah. Kedua orang tua Airin kecelakaan dan meninggal, mereka menyalahkan Asya yang terlahir ke dunia ini. Tapi Airin, tetap mempertahankan putrinya. Harta peninggalan orang tua Airin yang merupakan anak tunggal pun jatuh kepada wanita itu.


Airin meyakinkan suaminya, pada akhirnya mereka memutus hubungan dengan keluarga Dirga.


"Sejak Asya kecil, aku selalu membawanya kemanapun aku pergi El. Memperkenalkan nya pada semua teman dan kolegaku, aku membanggakan putri kecilku yang sangat pandai"


"Tapi Papa menjodohkan Asya dengan banyak pria"


"Aku harus mencari pemuda terbaik yang bisa melindungi putriku El"


"Bahkan setelah aku dan Asya menikah?"


"Itu karena, aku menyesal menikahkannya denganmu. Sebab kau membuatnya menangis sepanjang malam. Hanya dengan melihat, aku bisa tau kesedihan putriku"


Bagi Dirga, mungkin dimata orang Asya hanyalah seorang anak. Tapi yang sebenarnya, Dirga sangat takut kala Asya tumbuh menjadi gadis remaja lalu dewasa. Ia begitu khawatir akan pergaulan di luar sana. Takut bila putrinya yang polos harus ternodai oleh pikiran kotor akan keadaan. Karena itulah, Dirga mengajarkan beberapa teknik beladiri pada Asya.


"Kau tau Nando, El?"


"Iya, dia sangat mencintai Asya. Kenapa Papa tidak merestui nya?"

__ADS_1


"Hahaha, orang tua mana yang tak suka memiliki menantu seperti dia. Ia sangat mencintai putriku dan menjaganya dengan baik. Tapi El, Nando tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan untuk melindungi Asya. Putriku tak boleh kekurangan apapun"


"Karena itu Papa menjualnya pada keluargaku?"


"Menjual? Tuan Winarso yang mengatakannya?"


Dirga memutar memorinya, mengingat kejadian dimana yang membuatnya merasa sangat canggung. Winarso datang menemuinya bersama dengan Adhitama. Mereka memohon untuk menjadikan Asya menantu dan dinikahkan dengan El.


"Papamu ini tidak gila El, mana mungkin aku mau menikahkan Asya dengan lelaki seperti mu. Yang terkenal suka bermain wanita, sebab aku dulu pun sepertimu"


"Lalu Pa, kenapa Papa setuju?"


Winarso mengutarakan janji-janji yang menjanjikan untuk Dirga dengar. Beliau tau Dirga telah di ancam oleh keluarga nya karena telah membesarkan Asya. Sebagai seorang pebisnis, mencari kelemahan lawan adalah cara terbaik untuk menang.


Winarso menjanjikan keselamatan Asya dan jaminan hidup yang tak akan kekurangan. Beliau sendiri yang akan mengatur semuanya, akan menganggap Asya sebagai cucunya sendiri.


"Aku meminta harta warisanmu untuk di berikan atas nama Asya. Aku mau mereka memastikan keselamatan Asya selama 24 jam sehari. Dan, jika Asya tak bahagia, mereka harus memulangkannya padaku"


"Papa meminta semua itu? Aku bisa memberikan semua hartaku, tak perlu mengemis pada Kakek"


"Dulu kau belum mencintai Asya, El. Aku juga memberi syarat, jika kau berani mengkhianati pernikahan ini, Kakekmu sendiri yang akan mengurus surat cerai kalian. Dan beliau pun berjanji, akan mencarikan Asya pemuda terbaik jika kau tak berubah"


"Kalian sudah menyiapkan semuanya ya. Pantas saja Kakek langsung menelpon begitu dengar kesalahpahaman sekecil apapun itu antara aku dan Asya"


"Sudah kukatakan, dia putri yang paling aku sayang El. Tapi, jangan katakan ini pada siapapun termasuk Asya"


"Kenapa Pa?"


"Kakeknya Asya sedang menggila karena bisnisnya bangkrut. Dan kau tau kan siapa yang ia salahkan? Aku menyerahkan semuanya pada Kakekmu, tapi aku tetap masih khawatir"


"Istriku pasti senang jika mengetahui Papanya sangat menyayangi dirinya"

__ADS_1


"Dia akan lebih terluka saat semua keluarga besarnya tak mengharapkan kehadirannya. El, dia tidak tau jika masih memiliki Kakek dan Nenek dari orang tuaku. Bahkan Syam dan Gallen pun tak ingat tentang mereka, anggap saja keluarga itu sudah mati"


__ADS_2