
Malam hari tiba, Asya tengah memandangi si kembar yang tertidur. Ia sudah bertemu dengan baby sister yang El katakan. Melihat mereka merawat si kembar dengan cukup baik, membuat Asya tak keberatan. Kai dan Key juga senang karena memiliki teman bermain selain Ipah dan Agus.
Asya duduk di sofa menunggu suaminya. Ini sudah jam sepuluh malam namun El masih belum pulang. Walau Asya mencoba menelepon pun El malah mengabaikan panggilan itu. Tapi Asya merasa tak was-was sebab Zio bersama dengan suaminya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka, langkah kaki terdengar mendekat.
"Kenapa disini? Aku sudah bilang tak usah menungguku kan?"
"Aku tidak bisa tidur jika Mas El tidak ada disampingku. Mau aku siapkan makanan? Aku masakin makanan kesukaan kamu"
"Aku sudah makan malam"
Asya mengangguk, ia mengikuti suaminya berjalan menuju kamar. El tengah mandi, dan Asya menyiapkan pakaian untuk suaminya. Selepas mandi dan mengenakan pakaian, El langsung berbaring begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada Asya.
Perih sekali hati Asya dibuatnya. Tapi gadis itu berjalan mendekati suaminya, mencium kening El dan mengatakan bertapa ia sangat mencintai pemuda itu.
Asya berjalan perlahan keluar kamar, ia tak ingin membangunkan suaminya. Berjalan menuju dapur yang penuh dengan masakannya. Ia memandangi semua makanan itu, sedih sekali karena El tak mau memakannya.
"Tidak apa-apa, aku akan memakannya sendiri" gumam Asya. Ia mulai mengambil makanan dan memakannya.
Walau jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Asya sedari tadi menahan lapar agar bisa makan malam bersama suaminya. Ia makan seorang diri dalam keheningan malam yang sunyi.
Setelah makan, Asya pergi ke kamar mandi, ia merasakan tanda-tanda dirinya sedang haid. Benar saja, ia menghela napasnya perlahan, jika seperti ini akan sulit membuat El kembali dekat. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Asya bergegas untuk tidur karena sebentar lagi pagi menjelang.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi tiba...
Asya bangun lebih dulu, ia membersihkan dirinya lalu turun kebawah untuk memasak. Kini ia tak perlu khawatir tentang si kembar yang sudah memiliki baby sister. Ia membangunkan El dan menyiapkan pakaian sang suami.
"Pagi sayang" ucap Asya seraya mencium bibir suaminya.
__ADS_1
El hanya memandangi Asya sebelum masuk kedalam kamar mandi. Usai mandi, ia terkejut melihat istrinya yang ada dikamar. Asya membantu suaminya memakai pakaian dan menyiapkan tas untuk El. Setelah itu merekapun turun kelantai bawah. Terlihat si kembar yang tengah makan bersama para baby sister mereka.
"Sarapan dulu Mas"
"Tidak, aku ada meeting sangat penting. Aku harus segera pergi" ucap El seraya berbincang di telepon.
Sekali lagi Asya hanya mengangguk dan mengikuti suaminya. Ia mengantar El dan memastikan tak ada satu barang pun tertinggal. El langsung melajukan mobilnya tanpa kata apapun.
Mobil El tak mengarah ke kantor, tapi ke sebuah kafe. Disana teman-teman SMA El sudah menunggu. Mereka memang tengah membuat janji untuk sarapan bersama, begitu juga dengan Zio yang sudah berada disana.
"Elvin, kau sudah sarapan?" Tanya teman El.
El menggeleng.
"Tumben, apa Kakak ipar tidak memasak?" Sahut Zio penasaran.
"Oh ayolah Zio, wanita memang seperti itu. Mereka pasti akan bangun siang setelah ada seseorang yang menjaga anak-anak mereka" jawab salah seorang pria.
"Benar, para istri selalu saja bermalas-malasan. Mereka akan beralasan lelah mengurus rumah seharian, tapi selalu menuntut banyak hal. Jarang sekali memasak dan hanya berbelanja saja"
Zio yang belum menikah hanya diam mendengarkan. Ia tak terusik sama sekali, karena kenyataan yang ia tahu, selalu ada wanita yang berbeda. Benar, ia memiliki Kakak iparnya yang bisa dibanggakan.
"El, apa istrimu mulai malas bangun pagi? Pasti dia tak menyiapkan pakaian mu kan?"
"Dia juga pasti tak memasak untuk sarapan? Huh, mereka benar-benar, aku lelah mengingatkan yang berujung perdebatan"
"Biasalah, pria selalu salah dimata wanita"
Sesekali El memang menjawab pertanyaan mereka. Tapi tak semua yang teman-temannya katakan El setujui. Namun tak bisa dipungkiri jika El adalah bagian dari mereka yang mencoba mencari kesalahan para istri.
Selesai sarapan, mereka berpisah dan kembali menuju kantor masing-masing. Zio menatap El dengan aneh, ia takut akan sesuatu yang ada dalam pikirannya.
"Zio, menyenangkan ya sarapan bersama teman lama. Kita bisa berbincang banyak hal, suasana kafe itu juga bagus"
__ADS_1
"El, jangan percaya kata-kata mereka"
"Kenapa? Bukankah semua istri selalu begitu setelah memiliki anak? Asya juga jarang memperhatikan aku"
"Coba kau ingat lagi El, tidak mungkin Kakak ipar tidak memperhatikanmu"
"Sudahlah Zio jangan membelanya. Semoga saja istrimu nanti tidak berubah. Aku kesal sekali melihat dia hanya memperhatikan anak kami"
Keduanya berdebat kecil di dalam ruangan El. Mereka menghalangi pintu masuk dan masih terus membahasnya. Selama beberapa menit perdebatan itu, El terus mengeluhkan tentang istrinya. Walau Zio mencoba membela Asya tentunya.
"Kakak Ipar" ucap Zio terkejut melihat Asya yang duduk di sofa diruangan El.
Gadis itu berjalan mendekat dengan sebuah file dan bekal makanan ditangannya. Asya berjalan mendekat dengan kaki yang sedikit pincang.
"Mas, tadi file nya ketinggalan. Aku coba telepon kamu tapi gak diangkat, aku telepon Adik Ipar juga gak diangkat" ucap Asya dengan nada yang bergetar. Ia memberikan file dan bekal untuk El.
"Kakak ipar, kenapa dengan kakimu?"
"Aku tidak apa-apa. Boleh aku minta uang seratus ribu?"
El membuka dompetnya dan memberikan uang itu pada Asya.
"Bu Asya, oh, maaf Pak" ucap seorang OB. Ia membawa sepasang sandal baru untuk diberikan pada Asya.
"Maaf saya merepotkan, terimakasih. Ini uangmu yang saya pinjam, dan untuk membayar sandal ini juga" ucap Asya lalu memberikan uangnya.
OB itu berterimakasih lalu pergi meninggalkan ruangan. Asya melepas sepatu hak tingginya, terlihat kakinya yang terluka. Alasan mengapa jalan Asya sedikit pincang. El langsung mengendong istrinya dan ia dudukkan di kembali disofa. Ia meminta Zio untuk mengambil P3K.
"Kenapa bisa gini? Kamu habis ngapain?" Tanya El khawatir. Ia menatap kaki istrinya yang terlihat memar dan mengelupas.
Asya menitihkan air mata karena rasa sakitnya. Namun, entah darimana rasa sakit ini, hati atau kakinya.
"Sakit ya?"
__ADS_1
"Sakit Mas, sakit sekali. Sangat sakit" ucap Asya yang sudah tak bisa membendung tangisnya. Ia mencoba mengingat kembali, kesalahan apa yang ia lakukan hingga suaminya begitu marah padanya.
Zio baru saja kembali dengan kotak P3K. Ia menatap Asya dengan rasa bersalah. Terlebih kini ia kembali melihat iparnya menangis seperti ini. Pasti hati Asya terluka, bagaimana El bisa menyembuhkan luka ini?