
Setelah pesanan mereka tiba, semuanya menikmati makanan dengan lahap. Para anak-anak begitu senang melihat king crab yang mereka tunggu-tunggu.
"Bunda, aaaaa, hm.... enak Bunda"
Tingkah lucu Key membuat semua orang tertawa. Asya begitu telaten menyuapi anak-anaknya. Tapi terkadang pikirannya teralihkan pada sang suami yang sibuk dengan ponselnya.
"Mas, makan dulu sayang" panggil Asya pada suaminya.
El menutup teleponnya dan berjalan mendekati sang istri. Ia masih fokus pada ponselnya, tapi Asya dengan perhatian menyuapi El.
Selepas makan, El dan keluarga kecilnya berpisah dari keluarga besar. Mereka memutuskan untuk pulang kerumah lebih dulu sebelum menitipkan si kembar pada Kakek Neneknya.
"Mas, Papa aneh deh Mas"
"Aneh kenapa sayang?"
"Aku mau titipin anak-anak ke mereka biar gantian. Tapi Papa gak mau, dia minta aku buat titip anak-anak ke Ayah aja. Mama juga menolak Mas"
El hanya mengangguk dan terus fokus pada jalanan. Sesekali ia mengelus tangan istrinya yang tampak khawatir. Ini yang El takutkan, ia tak ingin sang istri memiliki banyak pikiran. Asya selalu khawatir setiap kali ada hal sekecil apapun yang berubah. Ia begitu detail memperhatikan setiap hal, dan rasa ingin tahu Asya terkadang membuat El takut.
Di rumah El...
Asya tengah menyelimuti si kembar yang telah tertidur pulas. Kini langkahnya menuju kamar untuk mengurus suaminya. Dilihatnya El yang tengah berbaring sambil menonton televisi. Asya mendekatinya, dan menidurkan El dipangkuannya. Ia mengelus rambut El dan sesekali memijatnya kecil.
"Sayang, jika aku menerima tawaran Ayah, apa itu artinya aku tak bisa diandalkan?"
"Mas, saat Ayah memberi pertolongan, terimalah. Saat Ayah tak memberi pertolongan pun, mintalah padanya. Terkadang, orang tua akan sangat bahagia sebab anak-anak mereka ingat pada mereka. Tak hanya kebahagiaan Mas, mereka juga bahagia kala dianggap sebagai sandaran kesedihan sang anak"
"Aku tidak ingin mereka meremehkan ku Sya. Aku bisa melakukan semuanya sendiri, bahkan tanpa mereka aku...."
"Tanpa mereka Mas El tak akan ada disini. Tanpa mereka Mas El tidak akan sebesar ini. Tanpa mereka Mas El dan aku tidak akan bertemu"
El menghela napasnya panjang, apa yang Asya katakan adalah kebenaran dan fakta. Tapi, sebagai seorang laki-laki, pantang baginya mengemis pada laki-laki lain.
"Sya, laki-laki itu harus bisa diandalkan. Jika aku mengemis pertolongan pada mereka, bagaimana kamu bisa percaya jika aku mampu melindungi kalian kedepannya"
"Mas, meminta pertolongan itu juga sebuah usaha sayang"
"Itu sama artinya dengan laki-laki lain yang melindungi mu. Bukan aku"
__ADS_1
"Itu hanya pemikiran Mas El. Sayang dengar ya, kita tidak akan bisa berdiri sendiri apapun situasi nya. Akan selalu ada seseorang yang membantu kita bagaimana pun caranya"
El tertawa melihat wajah istrinya yang begitu serius. Astaga, ia tak menyadari jika istri kecilnya kini telah tumbuh dewasa. El bangun dari tidurnya dan melepas pakaiannya. Hal itu sontak membuat Asya terkejut dan gelapan. Ah, wajah polos itu masih sama, El kembali tertawa melihat istrinya yang panik.
"Nanti malam temani aku ke reuni SMA ku ya"
"Kenapa? Katanya mantan kamu banyak? Biasanya kan cowok kalau mau datang ke reuni bertemu teman lama pasti gak mau ajak istrinya lah"
"Kenapa gitu?"
"Karena mereka mencari kesenangan di masalalu yang mungkin bisa terulang"
Sekali lagi tawa El pecah, istrinya terlihat menggemaskan saat cemburu. Ia pikir Asya tak mendengarkan ceritanya semalam. Tapi sepertinya sang istri memikirkan hal lain yang mungkin akan terjadi.
El merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, diikuti oleh Asya yang tidur sambil menatapnya. Mereka tersenyum lalu saling bergandengan tangan.
"Kau pikir aku seperti Zio? Dia sedang bertengkar dengan Jihan karena masalah ini"
"Kalian sama saja"
"Aku mengajakmu sayang, bagiku tidak pendamping terbaik selain dirimu"
Setelah mengatakan kalimat ajaibnya, tangan nakal El mulai bergerilya di tubuh sang istri. Ia menyingkap pakaian Asya dan melepaskannya satu persatu. Ia menarik turunkan alisnya menatap sang istri.
"Eh, kok digigit?"
"Hehehe, kamu gak berubah ya Mas. Masih sama kuatnya"
"Nakal kamu ya, kamu pikir aku udah tua? Hm.... sini aku buat kamu kecapekan"
El mengeluarkan tenaganya, ia begitu bersemangat menikmati hari bersama Asya.
"Mas, aah,, mhm... tunggu Mas"
Tak ada lagi kata ampun, Asya yang menantangnya maka El pun menjawab tantangan itu. El bisa melihat istrinya yang kuwalahan hingga mengigit bibir bawahnya. Ia kembali memulai ciuman dengan sang istri. Darah Asya semakin mendesir tak karuan, ia sudah berada di puncak kenikmatan. Suami nakalnya itu, ah ia selalu kalah di depan El kala mereka beradu diatas ranjang.
"Eh, capek Mas?" Goda Asya kala El terjatuh di pelukannya.
"Kamu mau lagi? Aku masih kuat kok"
__ADS_1
"Aku capek, nanti lanjut lagi ya. Kalau gini aja kamu semangat, dasar cowok mesum"
El kembali memainkan dada istrinya sambil berbaring di samping Asya.
Beberapa jam berlalu, El terlihat tengah tertidur pulas di samping sang istri. Sedangkan Asya masih asik menonton drama Korea kesukaannya.
"Bundaa" suara HT terdengar.
"Iya sayang, ada apa?" Jawab Asya membalas .
"Bunda, aku boleh tidur di kamar Bunda? Aku ingin tidur bersama Ayah dan Bunda"
"Apa Key sudah bangun juga?"
"Iya Bunda, aku juga mau tidur di kamar Bunda" sahut Key.
Asya mengijinkan dan meminta kedua putranya pergi ke kamarnya. Sebelum mereka sampai, Asya bergegas memakai pakaiannya dan membiarkan El yang telanjang bulat tertidur lelap. Suara ketukan pintu terdengar, Kai dan Key masuk dengan wajah yang masih mengantuk.
Keduanya langsung berjalan ke arah tempat tidur. Asya membantu keduanya untuk naik dan tidur di samping El yang masih terlelap.
"Bunda, boleh aku tidur dipelukan Bunda?" Tanya Key.
"Boleh sayang, sini" ucap Asya lalu menggendong Key dipangkuannya. Ia mengelus-elus rambut putranya agar merasa nyaman. Sedangkan Kai tidur sembari menggenggam tangan sang Bunda.
"Anak Bunda kenapa sih? Kenapa jadi manja gini?" Tanya Asya keheranan.
"Aku takut kehilangan Bunda, jangan pergi ya" jawab Key dengan mata terpejam.
"Aku juga takut Bunda pergi" imbuh Kai.
Asya menatap ke arah El yang masih tertidur, ia pikir kedua putranya merasakan apa yang Ayah mereka takutkan. Benar-benar Ayah dan anak yang sangat mirip.
Setelah Key tertidur, Asya membaringkannya di samping Kai. Ia pun berpindah tempat di samping suaminya dan kembali mengelus rambut El dengan penuh kasih sayang. Bahkan dalam tidur pun tangan nakal El begitu sibuk mencari-cari Asya.
"Mas, Kai baru saja tidur, jangan dipegang-pegang" bisik Asya yang sukses membuat El membuka matanya.
"Kenapa anak-anak disini?" Tanya El. Ia langsung membalik posisi tubuhnya memeluk sang istri.
"Anak-anak bilang, mereka takut kehilangan aku. Jangan terlalu memikirkan aku Mas, anak-anak memikirkan apa yang Ayahnya pikirkan. Kamu harus selalu sehat agar bisa menjagaku dan kedua putra kita"
__ADS_1
"Iya aku tau, tapi kan kita mau ronde dua" rengek El seraya memanyunkan bibirnya.
Asya hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap suaminya yang menyebalkan ini.