
Asya dan Zio sudah sampai didepan rumah Jihan. Tapi gadis itu masih gugup, ia tak sanggup menceritakan semuanya.
"Asya, ada apa? Tumben malam-malam kesini?" Tanya Jihan dari balkon kamarnya. Ia bergegas turun membukakan pintu untuk Asya.
Pintu terbuka, Jihan antusias menyambut kedatangan Zio dan Asya. Keduanya sedikit canggung dan bingung. Sejenak berbasa-basi menanyakan kabar, hingga Zio memutuskan untuk menunggu diluar.
Asya memberikan ponsel Zio, membiarkan Jihan melihat video yang direkam oleh adik iparnya itu.
"Huuh, ini bukan salahmu Asya" ujar Jihan seraya mengembalikan ponselnya. Ia tahu benar apa yang sahabatnya pikirkan. Asya selalu menyalahkan dirinya atas segala hal.
Jihan juga sudah menduga ada yang aneh antara keduanya. Beberapa hari terakhir, ia sering melihat Nando dan Gita mengobrol berdua ditempat sepi. Namun, ia tak pernah menyangka jika kejadiannya separah ini.
"Jihan"
"Boleh gue nangis sambil meluk loe Sya?"
Asya langsung menarik Jihan dalam pelukannya. Keduanya sama-sama wanita kuat, air mata yang jatuh bukan karena ketidakberdayaan. Hanya saja rasa kecewa sebelum mereka menyadari jika ini yang terbaik. Semakin mereka dewasa, sifat asli orang-orang disekitar terlihat semakin jelas. Walau akan semakin banyak rasa kecewa yang datang.
"Udah, jangan nangis lagi. Nando tidak pernah menyentuhmu kan?"
"Tentu tidak, gue selalu ingat perkataan loe. Gue hanya akan memberikan semuanya pada suami gue"
"Tenang Jihan, aku akan mencarikanmu seseorang yang jauh lebih baik daripada pria brengsek itu"
"Hahaha, untuk pertama kalinya loe menyebut Nando brengsek. Apa loe tidak pernah sedikit pun?"
"Mungkin pernah, tapi aku menyangkal nya. Yang kupikirkan hanya pertemanan kita"
Asya mendorong tubuh Jihan menjauh dari tubuhnya. Ia usap air mata Jihan yang menetes, sambil menghibur sahabat kesayangannya itu. Ia tak ingin memisahkan Jihan dan Gita, sebab Jihan pasti tahu dirinya harus berbuat apa.
Dan saat Asya mengatakan akan mencarikan pria baik untuk Jihan. Tiba-tiba sosok Zio muncul masuk kedalam rumah. Entah darimana cahaya itu datang, Asya menatap Zio yang terlihat begitu bersinar.
"Kakak Ipar, ini sudah pukul dua, tidak enak bertamu jam segini. Ayo kita pulang"
"Eh, gak sadar ya, kita kalau ketemu gak pernah ingat waktu deh hahah. Loe gak mau nginep Sya?"
"Maunya gitu, tapi nanti suamiku tidak bisa tidur tanpaku"
"Eeeww, sialan loe Sya"
Asya dan Zio pun memutuskan pergi setelah itu. Gadis itu merasa lega, setidaknya Jihan belum pernah tersentuh oleh Nando. Ia tak habis pikir, walau Nando terlihat begitu perhatian tapi rupanya semua yang good looking belum tentu good attitude.
__ADS_1
"Citra El yang suka bermain-main dengan perempuan sudah terkenal dimana-mana. Tapi para perempuan itu tetap datang dan menggoda El"
"Hm..."
"Mungkin El terlihat buruk, tapi ia tak pernah menyangkal apapun yang orang katakan tentangnya"
"Mas El memang menawan. Setidaknya, ia menyentuhku setelah pernikahan kami dan atas ijinku"
"Kau menyesal?"
"Aku akan lebih menyesal jika menuruti perasaan ku dan bukannya pilihan Papa"
Zio melirik Asya sejenak, lalu kembali fokus pada jalanan. Ia tersenyum miring, akhirnya wajah asli Nando terungkap. Sesama lelaki mereka bisa saling menilai. Walau hanya dengan melihat oleh mata, mereka bisa menentukan sifat sejenisnya.
Sampai dirumah sakit, Asya berlari menuju ruangan Farel dirawat. Para keluarga sudah berkumpul disana. Farel juga sudah sadarkan diri dan berbincang dengan keluarganya. Adelia tampak sangat senang berada dipelukan sang suami.
"Asya, darimana aja kamu?" Tanya Airin dan Laura bersamaan.
Dengan napas yang naik turun, Asya masuk kedalam ruangan dan mengedarkan pandangannya. Mencari sang suami yang menghilang selama beberapa waktu. El terlihat tengah duduk di sofa dan berbincang dengan Dirga, Adhitama, Syam dan juga Galen.
"Mas Ellll" teriak Asya berlari menghampiri El.
"Mas El kemana aja sih, kangen tauu" jawab Asya manja. Ia memeluk El dengan sangat erat.
"Zio, kau beri dia minuman?"
"Ha? Apa? Tidak"
El meminta Asya agar berbaring di sofa, ini sudah hampir pagi tapi istri tercintanya masih belum tidur. Sedangkan dirinya, memilih duduk dilantai untuk menjaga sang istri. Setelah perbincangan singkat, para orang tua dan Galen juga Syam akhirnya memutuskan pulang kerumah. Zio, El dan Asya yang akan menjaga Farel juga Adelia.
"Mas, apakah anak pembawa sial itu ada?"
"Tentu tidak sayang, semua anak yang lahir adalah keberuntungan"
"Jelaskan pada Bunda, Mas. Itu sangat menyakitkan, sungguh"
El mengelus pipi istrinya, walau berkali-kali dipaksakan, Asya masih tak bisa tidur. Pikirannya masih ingin terjaga.
"Maaf ya, gara-gara aku kalian gak jadi honeymoon" celetukan Farel terdengar begitu bersalah.
"Ini bukan masalah besar Mas, besok kita harus menghadapi masalah sesungguhnya"
__ADS_1
"Masalah apa El?"
"Kakek dan Nenek akan datang kerumah. Kau tahu benar alasannya bukan?"
"Kau ada dipihakku kan El?"
"Jangan libatkan aku, aku benci berurusan dengan mereka"
Asya menyela obrolan Kakak beradik itu, dengan yakin ia mengatakan jika El pasti akan berada dipihak Farel. Ia akan memastikan jika El mendukung Farel sampai akhir.
"Kenapa kalian bingung? Kakak Ipar ku ini kan kesayangan semua orang. Dia bisa mengubah pikiran siapapun, aku sangat yakin" ucap Zio.
"Kau benar, Zio. Sayang kamu bisa membujuk Kakek dan Nenek, mereka sangat menyayangi dirimu Asya"
"Ehm...." Asya berdehem dan bertingkah seperti anak kecil yang sedang marah.
"Sial, aku tidak tahan jika melihatnya seperti ini. Asya ayo kita ke hotel terdekat" pinta El. Ia menarik tangan Asya, namun Zio menahannya. Masih saja pikiran kotor pemuda nakal itu disaat genting seperti ini.
Farel cekikikan melihat kelakuan adiknya yang masih tak berubah. Asya yang malang, El pasti sering memaksakan kehendaknya.
Sebenarnya El ingin melawan Zio, namun setelah melihat Asya yang mengantuk, ia pun memilih mengalah dan membiarkan istrinya tidur lagi.
"Adik Ipar, apa kau punya pacar?" Celetuk Asya dengan mata terpejam.
"Apa dia memimpikan dirimu Zio? Apa yang sebenarnya kalian lakukan, hingga dia memimpikan mu?"
"Aku belum tidur Mas, Mas El sangat konyol"
Sontak saja pernyataan Asya membuat mereka semua terbahak-bahak. Satu-satunya wanita yang berani berkata kasar pada El, hanya istrinya tercinta.
"Adik Ipar, jika aku menjodohkan mu dengan sahabat terbaikku, apa kau akan menolak?"
"Maksudmu Jihan? Kakak Ipar, aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan kencan"
"Aku yang akan mengatur kencan kalian, dan aku akan meminta bos mu untuk mengerjakan semua pekerjaan mu saat kalian kencan"
"Tunggu, apa yang sedang kalian bicarakan" sela El penasaran.
Zio memberikan ponselnya pada El, memintanya untuk melihat video yang sama. Saat pemuda itu tengah fokus menonton, tiba-tiba saja Asya berkomentar, "Dia pria brengsek, cih"
Hal itu membuat El tersenyum senang, kini ia tak perlu khawatir lagi akan Nando. Sebenarnya El juga memikirkan Nando akhir-akhir ini, karena pemuda itu kerap terlihat melintas didepan rumahnya. Ia yakin jika Nando tengah mencoba menemui Asya.
__ADS_1